← Chapters Ch. 45 / 50

Chapter Forty Five

Empat Ribu Seratus

[POV: Kanzaki Rei]

Alun-alun pusat Ibu Kota Astel berukuran sekitar tiga ratus kali dua ratus meter, dan pagi itu penuh.

Empat ribu seratus dua puluh orang.

Aku tahu angkanya karena aku menghitungnya sendiri dari daftar blok, tiga kali, semalam suntuk, karena aku tidak bisa tidur dan karena menghitung adalah satu-satunya cara aku bisa berhenti memikirkan hal lain.

Empat ribu seratus dua puluh, dibagi dalam empat belas blok, diurutkan berdasarkan tinggi badan.

Blok satu: seratus empat puluh delapan sampai seratus lima puluh dua sentimeter. Blok empat belas: seratus sembilan puluh satu ke atas.

Selisih di dalam satu blok: maksimal lima sentimeter.

Bukan dua belas.


Aku berdiri di atas panggung batu di tengah alun-alun, yang biasanya dipakai untuk pengumuman kerajaan, setinggi sekitar dua meter.

Dari sana aku bisa melihat semuanya.

Empat belas blok. Empat ribu seratus dua puluh kepala. Perisai di blok depan, tombak di tengah, penyihir di belakang.

Dan di utara, sekitar delapan ratus meter, sesuatu setinggi gedung tujuh lantai bergerak ke arah kami dengan kecepatan dua ratus meter per jam.

Empat jam sampai kontak.


Kirisawa naik ke panggung dan berdiri di sebelahku.

“Kanzaki.”

“Ya, Pak.”

“Kamu perlu bicara.”

“Saya nggak bisa bicara di depan orang, Pak.”

“Aku tahu.” Dia mengangkat bahu. “Kamu tetap perlu bicara. Empat ribu orang di bawah sana baru saja mengucapkan sesuatu yang mereka sendiri tidak paham. Mereka butuh dengar suaramu sekali. Sesudah itu terserah.”

“Saya harus ngomong apa?”

“Yang benar,” katanya. “Bukan yang bagus. Kamu tidak bisa yang bagus.”

Dan dia turun.


Aku berdiri di panggung itu selama mungkin dua puluh detik sebelum bisa mengeluarkan suara.

Empat ribu seratus dua puluh orang menunggu, dan aku menghabiskan dua puluh detik itu untuk berpikir bahwa ini persis kebalikan dari seluruh hidupku, dan bahwa aku benci setiap detiknya.

Lalu aku bicara.

“Nama saya Kanzaki Rei.”

Alun-alun itu sunyi sekali. Suaraku sampai lebih jauh dari yang kukira.

“Kelas dua-C Akademi Astel. Tier saya nol.”

Ada yang bergerak di barisan depan.

“Itu benar,” kataku. “Bukan salah alat. Alatnya mengukur mana yang keluar dari tubuh, dan tidak ada apa pun yang keluar dari tubuh saya. Nol itu akurat.”

Aku menarik napas.

“Saya tidak bisa memukul. Tidak bisa menyembuhkan. Tidak bisa merapal serangan. Kalau saya sendirian di ruangan ini, nilai saya nol dan itu bukan kiasan.”

Empat ribu orang mendengarkan.

“Yang bisa saya lakukan cuma satu. Saya bisa membuat kalian bergerak pada detik yang sama.”

Aku mengangkat tangan.

“Tujuh puluh empat tahun lalu di Selat Havren, tiga ribu empat ratus serangan mendarat dalam sebelas detik, dan itu terjadi karena kebetulan. Karena satu sayap panik dan sisanya ikut.”

Aku menurunkan tangan lagi.

“Hari ini tidak ada yang kebetulan. Hari ini kalian akan bergerak karena saya menggerakkan kalian, dan kalian akan sadar penuh sepanjang waktu itu, dan kalian tidak akan bisa menolak.”

Hening.

“Kalau ada yang mau mundur, sekarang waktunya. Saya akan lepaskan benangnya dan tidak ada yang akan tahu siapa. Tidak akan ada catatan, tidak akan ada laporan, dan saya tidak akan menghitungnya.”

Aku menunggu.

Aku menunggu cukup lama — dua menit, mungkin lebih.

“Terakhir kali saya melakukan ini tanpa izin,” kataku, “ada satu orang yang tidak pulang.”

Dan aku turun dari panggung.


Tidak ada yang mundur.

Aku mau mencatat itu dengan tepat: bukan tidak ada yang mundur karena berani, dan bukan karena terharu, dan bukan karena pidatoku bagus. Pidatoku jelek sekali; aku sudah membacanya ulang dalam kepala berkali-kali dan itu pidato paling jelek yang pernah diucapkan orang di alun-alun itu.

Yang terjadi lebih sederhana.

Mereka sudah mengucapkan kalimat itu tiga jam sebelumnya. Dan orang yang sudah mengucapkan sesuatu keras-keras di depan tiga ratus orang lain tidak akan menariknya kembali di depan empat ribu.

Itu yang selalu tidak kupahami tentang manusia sampai hari itu.

Ucapan mengikat mereka lebih kuat daripada benang.


Kontak pukul sebelas lewat empat puluh.

Gran Verg tidak menyerang duluan.

Dia sampai di batas alun-alun, berhenti, dan berdiri di sana selama sekitar dua menit.

Aku bisa melihat lengannya sekarang. Delapan, kata orang. Aku tetap tidak bisa menghitungnya sampai delapan, karena begitu kamu sampai ke yang kelima, yang pertama sudah berada di tempat yang berbeda.

Dan pada menit ketiga, dia menurunkan satu lengan ke blok kedua.


Aku merapal.

“Ulurkan tangan, wahai jemari yang tak memegang pedang.
Aku tidak akan bertarung — aku akan menuntun.
Serahkan berat kalian, dan aku hitung sampai baris terakhir.
Yang jatuh akan tetap berdiri, yang habis akan tetap melangkah.
Ikuti aku. Ikuti aku. Ikuti aku.”


Aku sudah mencoba menjelaskan bagaimana rasanya empat ribu benang kepada beberapa orang selama bertahun-tahun sesudahnya dan aku selalu gagal.

Yang paling dekat adalah ini.

Bayangkan kamu berdiri di ruangan gelap dan seseorang menyalakan lampu, dan mendadak kamu bisa melihat seluruh ruangan sekaligus — bukan bagian per bagian, sekaligus, seluruhnya, dalam satu pandangan.

Sekarang bayangkan ruangan itu adalah empat ribu tubuh.

Aku tahu di mana setiap orang berdiri. Aku tahu tumpuan siapa jatuh ke kaki kiri dan siapa ke kanan. Aku tahu siapa yang napasnya pendek karena takut dan siapa yang tangannya sudah berkeringat.

Aku tahu Amamiya Koharu berdiri di blok tujuh, baris kedua dari depan, dengan berat badan condong ke kaki kanan, dan aku tahu — aku betul-betul tahu, aku merasakannya lewat benang — bahwa dia sedang menahan diri untuk tidak maju.

Aku tidak punya waktu untuk memikirkan kenapa.

Aku baru memikirkannya berbulan-bulan kemudian, dan waktu aku memikirkannya, aku harus duduk.


Lengan pertama turun ke blok dua.

Aku menggerakkan blok dua ke kiri.

Empat ratus orang, satu gerakan, satu detik. Lengan itu menghantam batu alun-alun tempat mereka berdiri setengah detik sebelumnya.

Alun-alun bergetar. Ada yang berteriak — bukan takut, kaget, karena tubuh mereka bergerak sebelum otak mereka memutuskan.

Aku menggerakkan blok sebelas dan dua belas ke sisi lengan itu, dan enam ratus tombak masuk ke satu titik pada detik yang sama.

Kali ini teriakannya beda.


Sebelas menit pertama, kami menang.

Aku mau mencatat itu karena penting: sebelas menit itu adalah sebelas menit terbaik yang pernah dicatat pasukan Astel dalam menghadapi makhluk tingkat bencana, dan tidak ada satu orang pun yang mati.

Empat ribu seratus dua puluh orang bergerak seperti satu benda.

Blok maju, blok mundur, blok berputar, semuanya dalam sepersekian detik yang sama. Tidak ada aba-aba. Tidak ada terompet. Tidak ada perwira yang berteriak.

Kirisawa Genya berdiri di dekat panggung dan menangis, dan aku baru tahu itu bertahun-tahun kemudian dari orang lain, karena aku tidak melihat apa pun selain empat ribu tubuh sepanjang sebelas menit itu.


Dan pada menit kedua belas, kami melakukannya.

Aku menyusunnya selama tiga hari. Empat belas blok, empat ribu seratus dua puluh serangan, dalam jendela sebelas detik.

Perhitungannya sederhana: yang paling jauh butuh waktu paling lama untuk sampai. Jadi yang paling jauh bergerak duluan, dan yang paling dekat bergerak terakhir, dan semuanya mendarat bersamaan.

Blok satu bergerak di detik nol. Blok empat belas bergerak di detik tujuh koma dua.

Semuanya mendarat antara detik sembilan dan detik dua puluh.

Empat ribu seratus dua puluh serangan.


Gran Verg jatuh.

Bukan mati. Jatuh — separuh tubuhnya turun ke tanah dan menghancurkan tiga blok bangunan di sisi utara alun-alun, dan salah satu lengannya berhenti bergerak sama sekali.

Empat ribu orang bersorak.

Aku mendengarnya dari tengah alun-alun, di atas panggung batu, dengan sepuluh jari terangkat dan darah yang sudah sampai ke kerah seragamku.

Dan aku tidak ikut bersorak, karena aku sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang yang sedang bersorak.


Aku bisa merasakan mereka semua.

Empat ribu seratus dua puluh tubuh, lewat empat ribu seratus dua puluh benang, sekaligus.

Dan aku tahu — sebelum siapa pun di alun-alun itu tahu — bahwa kami sudah selesai.

Bukan Gran Verg. Kami.

Empat ribu orang baru saja bergerak di seratus lima puluh persen selama dua belas menit. Seratus lima puluh persen bukan kekuatan gratis; itu tubuh yang dipakai melewati batas yang dipasang tubuh itu sendiri untuk alasan yang bagus.

Aku bisa merasakan otot yang sudah robek di enam ratus orang.

Aku bisa merasakan sendi yang sudah lepas di dua ratus lebih.

Aku bisa merasakan bahwa dari empat ribu seratus dua puluh orang, sekitar dua ribu delapan ratus tidak akan bisa mengangkat senjata mereka sendiri kalau aku melepaskan benangnya sekarang.

Mereka bersorak karena mereka tidak merasakannya.

Mereka tidak merasakannya karena benangnya masih terpasang, dan selama benangnya terpasang, aku yang menggerakkan, dan tubuh yang digerakkan tidak sempat melaporkan apa-apa.

Aku berdiri di panggung batu itu dengan empat ribu seratus dua puluh benang dan menyadari bahwa aku sedang memegang seluruh kota di posisi berdiri.

Dan bahwa kalau aku melepaskan, semuanya akan jatuh sekaligus.


Gran Verg bangun pada menit kedelapan belas.

Tujuh lengan sekarang, bukan delapan.

Dan dia berhenti melihat-lihat.

Kirisawa bilang di hari pertama bahwa makhluk itu seperti orang yang masuk ke gudang dan mencari tahu di mana barangnya.

Pada menit kedelapan belas, dia berhenti mencari.

Dia mengangkat empat lengan sekaligus — bukan ke satu blok, bukan ke satu arah.

Ke seluruh alun-alun.

Aku menghitung dalam waktu kurang dari satu detik. Aku selalu menghitung, dan itu satu-satunya hal yang selalu berguna dari diriku.

Empat lengan. Jangkauan menutupi tiga ratus meter. Waktu sampai kontak: sekitar dua detik.

Yang bisa kupindahkan dalam dua detik: sekitar delapan ratus orang.

Yang tidak bisa: tiga ribu tiga ratus dua puluh.


Ada tiga pilihan, dan aku memeriksa ketiganya dalam waktu yang lebih singkat daripada waktu yang kubutuhkan untuk menuliskannya di sini.

Pilihan pertama: pindahkan yang bisa dipindahkan. Delapan ratus selamat. Tiga ribu tiga ratus dua puluh tidak.

Pilihan kedua: lepaskan semua benang, biarkan mereka bergerak sendiri. Mereka akan bergerak lebih lambat, tapi mereka akan bergerak ke arah yang masing-masing pilih, dan sebagian akan selamat karena keberuntungan.

Aku menghitung pilihan kedua sampai selesai.

Dua ribu delapan ratus dari mereka tidak akan bisa berdiri begitu benangnya lepas.

Pilihan ketiga.

Aku sudah tahu pilihan ketiga sejak sebelum naik ke panggung ini. Aku sudah tahu sejak menara barat. Aku sudah tahu sejak hari ketiga di dunia ini, waktu aku menarik garis dengan penggaris dan menulis angka seratus lima dengan tulisan yang masih rapi.

Aku menoleh ke kiri.

Hoshimiya Shion berdiri sekitar delapan meter dari panggung, di sisi bawah, dengan pedang di tangan dan benang di tulang dadanya seperti empat ribu orang lainnya.

Dan dia sudah melihat ke arahku.

Tentu saja dia sudah melihat ke arahku. Dia selalu menoleh ke belakang. Dia selalu menghitung.

Dan aku melihat bibirnya membentuk satu kata, dan kali ini aku bisa membacanya dengan sangat jelas, karena kata itu cuma tiga suku kata dan karena aku sudah lama sekali menghafal bentuk mulutnya.

Jangan.

Aku mengangkat sepuluh jariku.


[Bersambung — Bab 46: Seratus Lima]