← Zero Thread

Chapter Thirty Seven

Tawaran

[POV: Kanzaki Rei]

Adipati Valdrein datang pada hari kelima belas setelah aula.

Aku sudah membayangkan orang seperti ini sejak tiga tahun lalu, sejak lantai empat perpustakaan, dan bayanganku selalu sama: seseorang yang besar, dingin, dan jelas berbahaya. Seseorang yang datang dengan pengawal dan surat bersegel dan tidak menawarkan apa pun karena tidak perlu menawarkan.

Yang datang adalah pria berumur sekitar lima puluh dengan mantel abu-abu sederhana, tanpa lambang, membawa satu map.

Dia berdiri waktu aku masuk ruangan.

Itu hal pertama yang membuatku tidak nyaman. Adipati tidak berdiri untuk siswa.

“Kanzaki Rei.” Dia mengulurkan tangan. “Valdrein. Terima kasih sudah datang.”

“Saya dipanggil, Tuan.”

“Ya,” katanya. “Tapi kamu tetap datang, dan itu tidak sama. Silakan duduk.”


Ruangannya ruang tamu kepala akademi. Kepala akademi sendiri tidak ada. Kirisawa berdiri di sudut dekat pintu dan tidak diminta keluar, yang menurutku disengaja oleh salah satu dari mereka dan aku tidak pernah tahu yang mana.

Valdrein membuka mapnya.

“Saya akan menghemat waktu kita berdua. Saya sudah membaca laporan Tuan Sarel, laporan Instruktur Kirisawa tentang Vellmoor dan pelabuhan, serta catatan arsip di lantai empat perpustakaan ini.” Dia menatapku. “Termasuk empat berkas yang saya duga sudah kamu baca.”

Aku tidak menjawab.

“Saya juga akan menghemat sesuatu yang lain,” katanya. “Saya tidak akan berpura-pura bahwa keempat pendahulumu diperlakukan dengan baik.”

Ruangan itu jadi sangat sunyi.

“Aldric Venn mati pada usia tiga puluh satu dan penyebabnya ditulis sebagai kelelahan mana, yang merupakan cara sopan untuk mengatakan bahwa kami memakainya sampai habis,” katanya. “Pemegang kedua ditempatkan di menara selama dua puluh dua tahun dan permintaannya untuk membuka jendela ditolak sebanyak — saya tidak tahu, catatannya tidak lengkap, tapi lebih dari seribu kali. Pemegang ketiga tidak punya nama di berkas mana pun. Pemegang keempat dibedah, dan laporannya enam puluh halaman, dan saya sudah membaca semuanya.”

Dia menutup mapnya.

“Kamu sudah tahu semua itu. Kalau saya mencoba menutupinya, kamu akan tahu saya berbohong dalam tiga puluh detik, dan setelah itu tidak ada gunanya kita bicara.”


Aku sudah menyiapkan diri untuk ancaman.

Aku punya jawaban untuk ancaman. Aku sudah menyusunnya selama tiga tahun dan sebagian di antaranya cukup bagus.

Aku tidak punya apa-apa untuk kejujuran.

“Jadi apa yang Tuan tawarkan?” tanyaku.

“Pertama, fakta.” Dia mengeluarkan selembar kertas. “Ini frekuensi retakan di wilayah Astel selama sepuluh tahun terakhir.”

Grafik lagi. Aku mulai membenci grafik.

Garisnya naik. Tidak setajam grafik akademi, tapi jelas.

“Tahun lalu ada seratus empat puluh tujuh retakan kecil tercatat di seluruh wilayah,” katanya. “Delapan tahun lalu ada tujuh puluh dua. Korban jiwa tahun lalu: enam ratus dua puluh sembilan orang.”

Dia meletakkan kertas itu di meja, menghadapku.

“Retakan Besar terakhir terjadi tujuh puluh empat tahun lalu. Rata-rata jaraknya enam puluh sampai delapan puluh tahun. Kita sudah lewat dari rata-rata.”

“Tuan tidak tahu kapan.”

“Tidak. Tidak ada yang tahu.” Dia mengangguk. “Tapi saya tahu bahwa waktu itu datang, dan saya tahu bahwa yang membunuh sepertiga populasi Astel tujuh puluh empat tahun lalu bukan kekuatan monsternya.”

“Terus apa?”

“Koordinasi,” katanya.


Aku tidak bergerak.

“Kami punya empat puluh ribu prajurit,” lanjutnya. “Kami punya empat belas orang tier S di seluruh benua, dua di antaranya ada di akademi ini. Kami punya senjata, benteng, dan mana yang cukup.”

Dia menatapku.

“Yang tidak kami punya adalah cara membuat empat puluh ribu orang bergerak pada detik yang sama.”

Aku merasakan sesuatu turun di perutku.

Karena dia baru saja mengucapkan, dengan kalimatnya sendiri, hal yang persis kupikirkan sambil berdiri di depan kios buah di Distrik Selatan selama empat belas menit.

“Tuan sudah tahu apa yang saya bisa.”

“Saya tahu apa yang tercatat,” katanya. “Genkai Kaijo — kami menamainya sendiri, kami tidak tahu namamu untuk itu — efeknya terukur di grafik akademi. Yang kedua saya duga dari laporan Vellmoor. Yang ketiga saya duga dari pelabuhan, dan dari fakta bahwa kamu tidak sadarkan diri dua puluh sembilan jam sesudahnya.”

Dia mengangkat bahu sedikit.

“Selebihnya saya tidak tahu. Dan saya tidak akan bertanya hari ini.”


Lalu dia menyampaikan tawarannya, dan tawarannya jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan, karena tawarannya bagus.

Satu. Gelar. Bukan gelar kehormatan kosong — jabatan resmi di bawah Biro, dengan wewenang, dengan anggaran, dengan hak menolak perintah dari siapa pun kecuali Mahkota.

Dua. Tabib. Bukan satu; tim. “Kelasmu belum pernah dipelajari oleh orang yang berniat menjaga pemegangnya tetap hidup,” katanya. “Empat kali sebelumnya kami mempelajarinya setelah mereka mati. Saya ingin mengubah urutannya.”

Tiga. Perlindungan hukum. Sebuah dokumen yang menyatakan bahwa aku bukan aset, bukan inventaris, dan tidak dapat dialihkan.

“Saya sudah menyiapkan draftnya,” katanya. “Kamu boleh membawanya ke pengacara mana pun yang kamu mau. Saya sarankan kamu melakukannya.”

Empat. Sumber daya untuk mencari tahu apakah biayanya bisa dikurangi.

Dan di poin keempat itulah aku hampir kehilangan pegangan.

Karena ada satu orang di dunia ini yang sudah menulis cari caranya di buku catatan hitam dan menggarisbawahinya sampai kertasnya robek, dan orang itu punya buku catatan dan mata yang bisa melihat mana dan tidak punya apa-apa lagi.

Dan pria ini baru saja menawarkan seluruh perbendaharaan kerajaan untuk masalah yang sama.


“Dan syaratnya?” tanyaku.

“Kamu tinggal di ibu kota.”

“Selama?”

“Selamanya,” katanya. “Saya tidak akan memperhalusnya.”

Dia melipat tangannya di meja.

“Kamu boleh keluar dari istana. Kamu boleh punya rumah, teman, keluarga kalau kamu mau. Kamu tidak akan dirantai dan tidak akan dikurung, dan saya akan menulis itu dalam dokumen.”

“Tapi.”

“Tapi kamu tidak akan pernah lebih dari empat jam dari ibu kota,” katanya. “Karena kalau Retakan Besar terjadi dan kamu sedang berada sepuluh hari perjalanan dari sini, semua yang saya tawarkan tadi tidak ada gunanya bagi siapa pun.”


Aku duduk di ruangan itu dan tidak menjawab selama mungkin dua puluh detik.

Dan aku akan menuliskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepalaku selama dua puluh detik itu, karena kalau tidak, seluruh bab ini bohong.

Aku menginginkannya.

Bukan sebagian kecil. Bukan godaan yang bisa kulawan sambil tersenyum. Aku menginginkannya dengan cara yang membuatku malu sampai sekarang.

Aku ingin menjelaskan kenapa, dengan urutan yang benar.

Pertama: dia menawarkan pekerjaan.

Selama tiga tahun aku bangun pukul empat pagi dan mengelap meja orang mati dan berdiri di pinggir lapangan sambil menghitung, dan tidak satu pun dari itu adalah pekerjaan. Itu penebusan. Itu beda.

Valdrein menawarkan sesuatu yang punya nama, jam kerja, dan atasan.

Kedua: dia menawarkan kepastian.

Selama tiga tahun aku memutuskan sendiri setiap hari siapa yang kutolong dan siapa yang tidak. Setiap retakan kecil di kota adalah keputusanku. Setiap angka di buku cokelat adalah keputusanku. Dua puluh tujuh orang adalah keputusanku, satu per satu, sendirian, tanpa satu pun orang untuk diajak berunding.

Valdrein menawarkan struktur. Perintah. Seseorang di atasku yang akan berkata tolong yang ini, jangan yang itu, dan tanggung jawabnya bukan lagi milikku sepenuhnya.

Aku tidak tahu ada bagian dari diriku yang menginginkan itu sampai dia menawarkannya.

Ketiga, dan ini yang paling memalukan:

Dia berguna.

Bukan aku berguna — itu sudah kuputuskan sejak lama dan itu bukan hal baru.

Berguna secara resmi. Tercatat. Dengan gelar dan anggaran dan dokumen yang menyatakan bahwa aku ada.

Dan aku duduk di ruang tamu kepala akademi dengan angka nol masih tertulis di baris paling atas berkasku, di kolom yang tidak pernah diperbarui selama tiga tahun, dan aku menyadari bahwa aku menginginkan itu jauh lebih besar daripada yang pernah kuizinkan diriku sendiri untuk tahu.


“Kamu tidak perlu menjawab hari ini,” kata Valdrein.

“Berapa lama?”

“Tiga puluh hari.”

“Dan kalau saya menolak?”

Dia menutup mapnya dan berdiri.

“Maka kamu menolak,” katanya.

Aku menatapnya.

“Tuan tidak akan memaksa?”

“Saya bisa,” katanya. “Terus terang, saya bisa. Ada tujuh jalur hukum yang tersedia dan tiga di antaranya akan berhasil.”

“Terus kenapa tidak?”

Dan Valdrein — yang sopan, yang rapi, yang tidak pernah meninggikan suara sekali pun sepanjang empat puluh menit — memberikan jawaban yang membuatku tidak bisa tidur selama tiga malam.

“Karena kelasmu tidak bekerja pada orang yang terpaksa,” katanya. “Saya sudah membaca berkas pemegang kedua. Dua puluh dua tahun di menara. Efisiensinya menurun setiap tahun sampai akhirnya menjadi nol, dan tidak ada satu pun tabib yang bisa menjelaskan kenapa.”

Dia mengambil mantelnya.

“Saya punya teori,” katanya. “Teori saya adalah bahwa kelasmu membutuhkan sesuatu yang tidak bisa diambil dengan paksa. Dan kalau teori saya benar, maka memaksamu bukan cuma jahat. Bodoh.”

Dia berhenti di pintu.

“Tiga puluh hari, Kanzaki Rei. Kalau kamu menolak, saya akan pulang dan mencari cara lain, dan saya kemungkinan besar tidak akan menemukannya, dan itu bukan tanggung jawabmu.”

Dia mengangguk pada Kirisawa dan keluar.


Kirisawa tidak bergerak dari sudut ruangan selama beberapa saat.

“Pak.”

“Ya.”

“Dia benar?”

“Soal yang mana?”

“Soal semuanya.”

Kirisawa berjalan ke jendela dan berdiri di sana dengan punggung ke arahku, seperti biasa.

“Iya,” katanya. “Itu masalahnya.”

Dia mengetuk kusen sekali dengan tangan buatannya.

“Murid saya yang dua puluh tahun lalu itu,” katanya. “Yang laporannya sampai ke meja yang salah. Dia pergi dengan sukarela, Kanzaki. Tidak ada yang memaksa. Dia yang memutuskan sendiri, dan alasannya bagus, dan semua orang setuju itu keputusan yang benar.”

“Terus apa yang terjadi?”

“Keputusan yang benar,” katanya. “Itu yang terjadi. Terus dia tidak pernah pulang.”


Aku menulis di buku cokelat malam itu, dan aku menulis lebih banyak daripada malam mana pun dalam tiga tahun.

Hari ke-1.236. Tawaran Valdrein. 30 hari.

Gelar. Tim tabib. Dokumen perlindungan. Anggaran riset untuk mengurangi biaya.

Syarat: tidak lebih dari 4 jam dari ibu kota. Seumur hidup.

Dia jujur soal keempat pendahulu. Dia tidak memaksa. Alasannya masuk akal.

Lalu aku berhenti cukup lama.

Lalu:

Aku mau.

Aku menulisnya supaya besok pagi aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak mau.

Aku mau karena dia menawarkan tempat, dan aku tidak pernah punya tempat. Aku mau karena kalau ada yang memerintah, aku tidak perlu memutuskan sendiri siapa yang mati. Aku mau karena “nol” itu masih tertulis di berkasku dan dia menawarkan tulisan yang lain.

Semua alasan itu tentang aku.

Tidak satu pun tentang orang yang akan kutolong.

Itu yang paling kutakutkan dari seluruh hari ini.


[Bersambung — Bab 38: Tangga Asrama]