← Chapters Ch. 2 / 50

Chapter Two

Rutinitas Tak Terlihat

Pukul empat pagi, asrama Akademi Astel masih gelap total.

Aku bangun tanpa alarm. Sudah tiga tahun begini, jadi tubuhku hafal sendiri. Kadang aku iri pada orang yang bisa tidur sampai matahari naik, tapi tidak terlalu lama, karena iri itu melelahkan dan aku sudah cukup lelah tanpa tambahan.

Aku turun lewat tangga samping. Anak tangga keenam dari bawah berdecit kalau diinjak di tengah, jadi aku menginjak pinggirnya. Pintu belakang asrama tidak pernah dikunci karena tidak ada yang merasa perlu — siapa juga yang mau keluar jam segini.

Udara di luar dingin dan sedikit basah. Koridor menuju gedung kelas panjang sekali, dan lampunya cuma menyala satu dari empat. Aku hafal di bagian mana lantainya retak, di bagian mana harus menunduk karena pilar yang menonjol. Tiga tahun berjalan di jalur yang sama akan mengajarkan hal-hal seperti itu, mau tidak mau.

Kelas 2-C kosong dan bau kapur.

Aku menyalakan lampu paling ujung saja, yang paling redup, supaya kalau ada penjaga lewat dia tidak curiga. Lalu aku mengambil lap dari laci mejaku sendiri, membasahinya di keran koridor, memerasnya, dan berjalan ke baris ketiga dari belakang.

Bangku itu di sana. Seperti biasa.

Aku mengelap permukaannya dari kiri ke kanan, dua kali. Lalu sandarannya. Lalu kaki-kakinya, yang sebenarnya tidak perlu, tapi kalau tidak dilakukan rasanya belum selesai.

Lacinya tidak pernah kubuka. Aku tahu isinya. Semua orang tahu isinya, walaupun tidak ada yang membicarakannya: satu bungkus permen yang tinggal setengah, merek dari duniaku sendiri, yang seharusnya tidak mungkin ada di sini tapi tetap ada karena dibawa di saku seragam.

Tidak ada yang membuangnya. Tidak ada yang memindahkan bangkunya.

Kadang aku berpikir mereka sudah lupa itu bangku siapa. Kadang aku berpikir mereka ingat betul, hanya tidak ada yang mau jadi orang pertama yang memindahkan.

Selesai. Aku mencuci lap itu, mengembalikannya ke laciku, dan duduk di kursiku sendiri di pojok belakang dekat jendela.

Lalu aku menunggu matahari naik, seperti tiga tahun terakhir.


Kelas mulai terisi sekitar pukul tujuh.

Tidak ada yang menyapaku waktu masuk, dan itu bukan keluhan. Itu cuma laporan. Kalau kamu duduk di pojok belakang cukup lama, orang berhenti mendaftarkan kamu sebagai bagian dari ruangan. Aku sudah jadi semacam tiang.

“—serius, aku lari delapan lap kemarin dan nggak ngos-ngosan sama sekali.”

Tsukumo, tentu saja. Suaranya sampai duluan sebelum badannya.

“Bohong.”

“Nggak bohong! Tanya Kuroba, dia juga. Katanya rekor angkatan pecah tiga kali bulan ini.”

“Ya karena kita memang latihan terus.”

“Latihan terus juga ada batasnya, kali.”

Sakuraba masuk sambil mengibaskan poni. “Itu namanya kondisi puncak. Tubuh manusia punya siklus. Kalau kalian belajar teori dasar mana sedikit saja—”

“Kemarin kamu membakar tirai.”

“Itu variabel eksternal.”

Aku menunduk ke bukuku dan tidak ikut bicara.

Ada satu hal yang tidak akan mereka sadari sampai bertahun-tahun kemudian, dan aku bermaksud memastikan mereka tidak akan menyadarinya sama sekali: rekor angkatan memang pecah tiga kali bulan ini. Juga bulan lalu. Juga bulan sebelumnya.

Astel punya catatan performa akademi sejak seratus tahun lalu. Kalau ada yang iseng membuka grafiknya, mereka akan menemukan garis yang naik mulus sejak tiga tahun yang lalu, dan mereka akan bingung kenapa.

Aku berharap tidak ada yang iseng.


Pelajaran pertama praktik lapangan. Instruktur Kirisawa Genya berdiri di tengah lapangan dengan tangan kiri buatannya yang selalu berbunyi kalau dia menggerakkannya terlalu cepat.

“Bentuk party. Empat orang. Cepat.”

Bagian ini selalu berjalan sama.

Orang-orang bergerak seperti besi ke magnet. Kuroba langsung dikelilingi. Hoshimiya berdiri di tempatnya dan tiga orang mendekat, lalu ragu, lalu berhenti dua langkah sebelum sampai — mereka tidak berani mengajak, dan dia tidak pernah menawarkan. Amamiya menarik Isuzu dan Tsukumo sekaligus dengan satu tangan.

Aku berdiri di tempatku dan menghitung dalam hati. Biasanya sekitar empat puluh detik.

Kali ini tiga puluh delapan.

“Kanzaki.” Kirisawa tidak repot-repot melihat ke arahku. “Pengamat.”

“Baik, Pak.”

Ada yang tertawa kecil, tapi tidak banyak, karena bahan lelucon yang dipakai tiga tahun akan kehilangan rasanya juga akhirnya. Sekarang kondisinya lebih seperti cuaca. Kanzaki jadi pengamat. Ya, memang begitu. Besok juga hujan.

Aku duduk di bangku pinggir lapangan, mengeluarkan buku catatan, dan mulai mencatat hal-hal yang memang harus dicatat pengamat: durasi, formasi, jumlah kesalahan.

Dan sambil melakukan itu, aku membiarkan yang lain tetap menyala.

Tidak ada gerakan. Tidak ada rapalan. Tidak ada yang perlu kulakukan, sebetulnya — benda itu memang tidak pernah kumatikan, sejak hari pertama sampai hari ini, jadi menyebutnya “membiarkan” pun sudah terlalu berlebihan.

Di lapangan, Tsukumo mengayunkan kapaknya dan berhasil menahan langkah keempat yang biasanya membuatnya kehilangan keseimbangan. Isuzu memanggil Mochi dalam empat detik, satu detik lebih cepat dari rekornya. Amamiya menahan benturan dari Kuroba dengan perisai penuh dan cuma mundur setengah langkah, padahal minggu lalu dia mundur tiga.

“Bagus,” kata Kirisawa. “Angkatan ini memang beda.”

Semua orang tampak senang mendengar itu.

Aku mencatat: durasi 12 menit 40 detik, formasi stabil, kesalahan 6.

Dan kepalaku mulai berdenyut di belakang mata, seperti biasa, sekitar pukul sepuluh pagi.


Makan siang di kantin, meja paling ujung dekat tiang.

Aku selalu datang sepuluh menit lebih lambat supaya antriannya sudah habis. Menunya sup kacang dan roti keras yang harus dicelup dulu kalau tidak mau merusak gigi.

Aku baru duduk sekitar dua menit ketika sesuatu diletakkan di depanku dengan bunyi kecil.

Kotak bekal. Kain pembungkusnya warna kuning dengan motif kelinci yang gambarnya sudah agak pudar.

“Kebanyakan,” kata Amamiya Koharu, sudah duduk di seberang sebelum aku sempat bereaksi. “Aku masak buat empat orang tapi Nono nggak makan nasi hari ini, katanya lagi pengen roti. Padahal aku sudah bangun pagi-pagi.”

“Aku sudah ambil sup.”

“Sup bukan makanan. Sup itu air yang punya cita-cita.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu, jadi aku membuka kotaknya.

Isinya nasi, telur gulung, dan ayam yang dipotong kecil-kecil. Tidak ada bagian yang gosong. Porsinya juga tidak kelihatan seperti sisa untuk empat orang. Kelihatan seperti porsi satu orang yang memang disiapkan untuk satu orang.

“Kebanyakan,” ulangnya, sambil menopang dagu dan melihat ke arah lain.

Ini sudah kejadian yang keberapa, aku sudah berhenti menghitung sejak tahun pertama.

“Terima kasih.”

“Nggak usah. Kan cuma kelebihan.”

Dia duduk di situ sampai aku selesai, mengobrol sendiri tentang hal-hal yang tidak penting sama sekali — tukang roti di gerbang timur yang naikkan harga, Mochi yang mencuri sandal orang, ujian teori minggu depan. Aku menjawab seperlunya. Dia tidak keberatan. Dia tidak pernah keberatan, dan itu justru yang membuatku tidak pernah tahu harus bagaimana.

Waktu dia pergi, dia mengambil kotak bekalnya kembali dan berkata, “Besok jangan ambil sup.”

Aku tidak menjawab.


Sore hari, latihan gabungan angkatan bawah di lapangan besar. Aku tidak ikut. Aku duduk di tangga batu di pinggir, memegang buku, dan tidak membalik halamannya selama satu jam.

Dari sini, semua orang terlihat kecil.

Anak-anak tahun pertama yang baru belajar menahan perisai. Beberapa jatuh, bangun lagi, dan terkejut sendiri karena bisa bangun lagi. Ada anak perempuan bertubuh kurus yang harusnya tidak sanggup mengangkat tombak sepanjang itu, tapi dia mengangkatnya, dan wajahnya waktu berhasil itu—

Yah.

Kadang aku berpikir apa yang akan terjadi kalau aku berdiri dan pergi dari lapangan ini. Cuma pergi. Dua ratus meter saja sudah cukup.

Aku tidak pernah mencobanya.

Bukan karena takut ketahuan, meskipun itu juga.

Aku cuma tidak mau lihat.


Hoshimiya Shion lewat di ujung lapangan sekitar pukul lima, membawa pedang latihannya sendiri, jalan sendirian seperti biasa.

Dia berhenti sebentar dan melihat ke arah lapangan, lalu ke arah tangga tempat aku duduk. Cukup lama. Mungkin tiga detik.

Aku menunduk ke bukuku.

Waktu aku mengangkat kepala lagi, dia sudah tidak ada.

Tiga tahun sekelas, dan kami belum pernah bicara satu kali pun. Aku tidak menganggap itu aneh. Yang aneh justru kalau peringkat satu akademi tiba-tiba punya urusan dengan anak yang tiernya nol.


Malamnya aku pulang paling akhir, seperti biasa.

Tangga asrama ada empat puluh dua anak tangga. Aku berhenti dua kali di tengah — satu kali di anak tangga kedelapan belas, satu lagi di ketiga puluh tujuh. Bukan karena capek berjalan. Capek berjalan itu wajar dan bisa hilang. Yang ini bukan itu.

Ini rasa lelah yang sudah tidak pernah pergi sejak tiga tahun lalu, yang menetap di belakang mata dan di persendian, yang membuat orang mengira aku pemalas atau kurang gizi atau memang begitu dari sananya.

Instruktur Kirisawa pernah bertanya sekali, tahun lalu, waktu aku hampir jatuh di koridor.

“Kamu sakit?”

“Kurang tidur, Pak.”

Dia menatapku agak lama. Terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu.

Lalu dia bilang, “Ya sudah,” dan pergi.

Aku masih memikirkan tatapan itu sampai sekarang.


Di kamar, aku duduk di lantai dan menyandarkan punggung ke ranjang, karena naik ke ranjang butuh usaha tambahan yang belum sanggup kukeluarkan.

Aku mengeluarkan buku catatan kecil dari tas. Bukan yang untuk pengamatan lapangan. Yang satunya lagi, yang sampulnya cokelat dan sudah lecek di sudut.

Aku membuka halaman terakhir yang terisi dan menambahkan satu baris:

Hari ke-1.096. Radius stabil. Tidak ada gejala baru.

Lalu aku menutupnya, memasukkannya kembali ke dasar tas, dan menaruh tas itu di tempat yang tidak akan dilihat siapa pun.

Tidak ada yang pernah membuka buku itu.

Belum.


[Bersambung — Bab 3: Lantai Empat]