← Chapters Ch. 31 / 50

Chapter Thirty One

Festival

[POV: Kanzaki Rei]

Festival Akademi diadakan setiap akhir semester dan gerbangnya dibuka untuk umum.

Tiap kelas wajib membuka satu stan. Tidak ada pengecualian, tidak ada alasan, dan menurut Kirisawa aturan ini sudah berjalan sembilan puluh tahun karena “kalian perlu belajar melakukan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan memukul.”

Kelas 2-C mengadakan rapat selama empat puluh menit.

Usulan yang masuk:

Sakuraba Ren — pertunjukan sihir. Ditolak dengan suara bulat, termasuk oleh Sakuraba sendiri setelah seseorang mengingatkan soal bendera party.

Tsukumo Daichi — adu panco. “Biar seru.” Ditolak karena tidak ada yang mau melawan Tsukumo.

Isuzu Nono — stan sewa Mochi. “Bayar sepuluh perak, boleh peluk lima menit.” Hampir diterima.

Amamiya Koharu — stan makanan.

Diterima dalam waktu enam detik.


“Kanzaki, kamu bagian apa?”

“Apa aja.”

“Jangan ‘apa aja’. Nanti kamu dikasih yang paling berat.”

“Aku nggak keberatan.”

“Aku yang keberatan,” kata Amamiya, dan menulis namaku di kolom kasir dengan huruf besar dan digarisbawahi.

Kasir. Duduk. Menerima uang. Tidak mengangkat apa-apa.

Aku memandangi papan itu cukup lama.

“Amamiya.”

“Ya?”

“Kasir itu duduk.”

“Iya.”

“Aku bisa berdiri.”

“Iya, bisa.” Dia menutup spidolnya. “Tapi nggak usah.”

Dan dia pergi mengurus daftar bahan.


Aku sudah bangun sekitar dua minggu waktu festival itu.

Dua puluh sembilan jam tidak sadar. Setelah bangun, tiga hari tidak bisa memegang benda dengan tangan kanan. Setelah itu satu minggu di mana semua orang di kelas memperlakukanku dengan cara yang sangat aneh, yaitu normal.

Itu yang paling aneh sebenarnya.

Tidak ada yang bertanya. Tidak satu pun dari delapan orang yang ada di gang pelabuhan itu bertanya kenapa mereka tidak terluka. Mereka semua menulis laporan yang sama, mereka semua menerima penjelasan yang sama — bahwa retakan kelas rendah itu memang tidak berbahaya, bahwa formasi mereka bagus — dan mereka semua pindah ke topik berikutnya.

Aku pernah membaca sesuatu tentang ini di duniaku sendiri. Kalau kamu memberi orang penjelasan yang cukup masuk akal dan cukup nyaman, mereka akan memakainya, bahkan kalau mereka sendiri yang mengalami hal yang tidak masuk akal.

Yang tidak memakai penjelasan itu ada tiga.

Kirisawa Genya, yang datang dua kali ke ruang kesehatan dan tidak mengatakan apa-apa yang bisa dituliskan di laporan.

Hoshimiya Shion, yang tahu.

Dan Amamiya Koharu, yang sejak hari itu menulis namaku di kolom kasir dan tidak menerima pembahasan lebih lanjut.


Festivalnya berlangsung dua hari dan aku ingin menuliskannya dengan agak panjang, karena itu dua hari terakhir sebelum semuanya berubah, dan karena aku tidak tahu waktu itu.

Hari pertama, pukul sembilan pagi.

Sakuraba Ren ditugaskan memanaskan minyak. Dia berhasil. Dia terlalu berhasil. Minyaknya mencapai suhu yang menurut Amamiya “bukan minyak lagi, itu senjata”.

“Ini efisien.”

“Itu bahaya.”

“Efisiensi memang sering terlihat seperti bahaya bagi yang belum siap.”

“Ren, wajannya melengkung.”

Pukul sebelas.

Tsukumo Daichi menangis karena ada anak kecil yang bilang makanannya enak.

“Dia bilang enak.”

“Iya, Daichi.”

“Dia cuma segini.” Dia menunjukkan tinggi dengan tangan. “Terus dia bilang enak.”

“Iya.”

“KENAPA AKU NANGIS.”

Pukul satu siang.

Mochi hilang.

Pencarian berlangsung dua puluh menit dan melibatkan sembilan orang. Mochi ditemukan di stan kelas 1-A, di dalam keranjang roti, dengan wajah makhluk yang tidak merasa bersalah sedikit pun.

Kelas 1-A menolak mengembalikannya selama sepuluh menit karena “penjualan kami naik tiga kali lipat”.

Isuzu Nono, yang biasanya bicara pelan dan tidak pernah kelihatan bangun sepenuhnya, melakukan negosiasi paling agresif yang pernah kulihat di akademi itu dan pulang membawa Mochi plus dua belas roti.

Pukul empat sore.

Hoshimiya Shion ditugaskan mengantar pesanan ke stan sebelah.

Dia kembali empat puluh menit kemudian.

“Jaraknya dua puluh meter.”

“Aku tersesat.”

“Hoshimiya, jaraknya dua puluh meter.”

“Aku tahu.”

Amamiya memindahkan namanya dari kolom pengantar ke kolom potong sayur tanpa berkata apa-apa, dan Hoshimiya menerima itu tanpa berkata apa-apa juga, dan ternyata dia sangat baik dalam memotong sayur karena tentu saja dia sangat baik dalam memotong apa pun.


Hari kedua, sekitar pukul tujuh malam.

Stan sudah tutup. Uangnya sudah dihitung — olehku, karena aku kasir, dan karena ternyata aku memang cepat kalau soal angka.

Kami dapat untung yang cukup besar untuk ukuran stan kelas, dan Amamiya mengusulkan supaya sisanya dipakai untuk membeli makanan dari stan lain, yang disetujui dengan suara bulat dalam waktu dua detik.

Jadi kami duduk di rumput di belakang gedung latihan, sembilan orang, dengan makanan dari sekitar lima stan berbeda dan lampion yang digantung di sepanjang lapangan.

Dan hal berikutnya terjadi.


Tsukumo mencoba memakan tiga tusuk sekaligus untuk membuktikan sesuatu yang tidak jelas apa. Dia tersedak. Sakuraba menepuk punggungnya dengan tenaga yang sangat berlebihan dan Tsukumo terjungkal ke depan, langsung ke atas piring Isuzu.

Isuzu, yang sudah setengah tidur, cuma berkata: “Piringku.”

Mochi, yang melihat piring tumpah, langsung bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ditunjukkannya dalam tiga tahun.

Dan Sakuraba, yang panik karena Mochi berlari ke arahnya, mundur dan menginjak ember berisi air cucian, yang terbalik, dan membasahi celana Kuroba Jin — yang entah kenapa ada di situ, yang entah sejak kapan ikut duduk bersama kami, dan yang sejak Vellmoor memang jadi sering ada di tempat-tempat yang tidak ada hubungannya dengan dia.

Kuroba berdiri perlahan.

Seluruh kelompok diam.

Dan Kuroba Jin, peringkat dua akademi, Warrior tier S, calon kesatria kerajaan, berkata dengan suara yang sangat tenang:

“Aku baru beli ini.”

Dan aku tertawa.


Aku ingin menuliskan bagian ini dengan hati-hati, karena Hoshimiya kemudian bercerita bahwa dia menoleh, dan aku tidak menyadarinya waktu itu.

Aku tertawa keras.

Bukan tertawa kecil, bukan tersenyum, bukan mengeluarkan suara satu kali dari hidung yang selama tiga tahun kupakai sebagai pengganti tertawa.

Aku tertawa sampai harus menunduk dan memegang perut, dan sampai tidak bisa berhenti selama mungkin dua puluh detik, dan sampai Tsukumo — yang masih terbatuk-batuk — ikut tertawa cuma karena melihatku tertawa.

Aku tidak tahu kenapa itu yang lucu. Sampai sekarang aku tidak tahu. Kuroba Jin yang mengeluh soal celana bukan hal paling lucu yang pernah terjadi di dunia.

Yang bisa kukatakan cuma: aku sudah bangun tiga hari lalu dari tidak sadar dua puluh sembilan jam, dan sebelum itu tiga tahun tidak tidur, dan mungkin ada hal-hal yang menumpuk dan mencari jalan keluar dan kebetulan menemukan pintu yang salah.

Waktu aku akhirnya berhenti dan mengangkat kepala, semua orang sedang melihat ke arahku.

Semuanya. Sembilan orang.

Tsukumo dengan mulut masih penuh. Isuzu yang bahkan bangun sepenuhnya. Sakuraba yang lupa dia sedang dalam bahaya. Amamiya yang tangannya berhenti di tengah gerakan mengambil piring.

Dan Hoshimiya, yang duduk di seberang api, dan yang menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca sama sekali.

“...Kenapa?” tanyaku.

“Nggak,” kata Tsukumo. “Nggak apa-apa.”

Dan dia menangis lagi, yang mana normal, jadi tidak ada yang bertanya.


Kami bubar sekitar pukul sepuluh.

Hoshimiya dan aku berjalan pulang lewat jalan memutar di taman belakang, yang sudah jadi kebiasaan, dan yang sudah lama tidak ada hubungannya dengan tangga.

“Kanzaki.”

“Ya.”

“Tadi kamu tertawa.”

“Iya.”

“Aku belum pernah dengar.”

Aku tidak menjawab, karena aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Tiga tahun,” katanya. “Aku duduk di ruangan yang sama denganmu selama tiga tahun dan aku baru dengar suaranya malam ini.”

Kami berjalan beberapa langkah.

“Suaranya jelek?” tanyaku.

“Tidak.”

“Terus?”

Dia tidak menjawab selama sekitar sepuluh langkah.

“Aku cuma sedang menghitung,” katanya.

“Menghitung apa?”

“Berapa banyak lagi yang belum pernah kudengar.”


Aku menulis di buku cokelat malam itu.

Hari ke-1.203. Kondisi: stabil. Radius normal. Tangan kanan: tingkat 1.

Lalu:

Festival dua hari. Untung 340 perak. Mochi mencuri dua belas roti.

Lalu aku berhenti, dan menyadari bahwa aku baru saja menulis sesuatu di buku itu yang tidak ada hubungannya dengan pengukuran, gejala, biaya, atau angka korban.

Untuk pertama kalinya sejak hari ke-2.

Aku memandangi baris itu cukup lama.

Lalu aku menutup bukunya tanpa menghapus apa pun, dan tidur enam jam, yang merupakan rekor tiga tahun.

Dan besok paginya, di gerbang akademi, seorang pria berpakaian rapi dari Biro Aset Perang sedang menyerahkan surat permohonan akses arsip performa kepada kepala akademi.

Aku tidak tahu itu waktu itu.

Aku sedang tidur enam jam.


[Bersambung — Bab 32: Grafik]