← Chapters Ch. 32 / 50

Chapter Thirty Two

Grafik

[POV: Kanzaki Rei]

Namanya Tuan Sarel, dari Biro Aset Perang, dan dia datang ke akademi selama sebelas hari.

Aku tahu namanya karena dia memperkenalkan diri di depan kelas pada hari kedua, dengan sopan, selama kurang lebih dua puluh detik.

“Saya melakukan tinjauan rutin atas efektivitas program pelatihan. Kalian tidak perlu mengubah apa pun. Anggap saya tidak ada.”

Lalu dia duduk di belakang kelas dan mencatat.

Dan itu bagian pertama yang membuatku tidak bisa tidur: dia benar-benar tidak melihat siapa pun.


Aku sudah membayangkan bagaimana kalau suatu hari ada yang datang mencari.

Selama tiga tahun, bayanganku selalu sama: seseorang yang mengamati orang. Seseorang yang berjalan di antara barisan, memperhatikan wajah, mencari yang janggal. Kalau begitu caranya, aku menang. Aku sudah menang selama tiga tahun. Tidak ada yang lebih baik dariku dalam urusan tidak diperhatikan.

Tuan Sarel tidak melihat orang sama sekali.

Dia melihat kertas.

Hari pertama dia di ruang arsip. Hari kedua di ruang arsip. Hari ketiga dia meminta salinan catatan waktu lari seluruh angkatan sejak sepuluh tahun terakhir.

Hari keempat dia meminta catatan kelulusan ujian kualifikasi tahun pertama, sepuluh tahun terakhir.

Hari kelima, catatan cedera latihan.


Hoshimiya menemukanku di ruang latihan lantai dua di malam hari kelima.

“Kamu sudah tahu?”

“Iya.”

“Catatan cedera.”

“Iya.”

Kami berdua diam.

Karena kami berdua sudah menghitungnya, terpisah, dan sampai ke jawaban yang sama.

Catatan waktu lari bisa dijelaskan dengan latihan yang lebih baik. Kelulusan ujian bisa dijelaskan dengan seleksi masuk yang lebih ketat. Semua itu punya penjelasan lain.

Catatan cedera latihan tidak punya.

Karena kalau kamu memakai tubuhmu di seratus persen, tubuhmu tidak lagi menghancurkan dirinya sendiri karena panik atau salah tumpuan atau berhenti setengah jalan.

Angka cedera di akademi ini turun enam puluh persen dalam tiga tahun.

Enam puluh persen. Sementara jumlah jam latihan naik.

Tidak ada program pelatihan di dunia yang bisa melakukan itu.


“Kanzaki, kamu mau apa?”

“Nggak ada yang bisa kulakukan.”

“Ada.”

“Apa?”

“Matikan,” katanya.

Aku menoleh.

“Selama sebelas hari dia di sini. Kalau kamu matikan, angka-angkanya akan jatuh, dan jatuhnya akan terlihat di catatan mingguan, dan yang dia dapat bukan garis mulus tapi garis yang patah tanpa sebab. Itu akan mengacaukan analisisnya.”

Itu ide yang bagus.

Itu ide yang sangat bagus, sebenarnya, dan aku menghabiskan sekitar tiga detik untuk mengaguminya sebelum menjawab.

“Nggak bisa.”

“Kanzaki—”

“Bukan nggak mau. Nggak bisa.”

Dia berhenti.

Dan aku melihat wajahnya berubah, dan aku sadar — terlambat — bahwa dia sudah tahu.

“Kamu tidak sadar dua puluh sembilan jam,” katanya pelan. “Dan benangnya masih ada.”

“...Kamu lihat?”

“Malam pertama. Aku memakai Kansokugan waktu tabibnya keluar.” Dia tidak minta maaf soal itu dan aku tidak memintanya minta maaf. “Aku sudah tahu sejak saat itu. Aku menunggu kamu yang bilang.”

“Aku nggak berencana bilang.”

“Aku tahu.”


Aku harus menjelaskan bagian ini, karena selama ini aku sudah membiarkan orang salah paham, termasuk dia, dan pada titik itu berbohong sudah tidak ada gunanya lagi.

Delapan detik itu benar.

Malam hari ke-1.099, aku duduk di lantai kamar dan mematikannya selama delapan detik.

Yang tidak pernah kuceritakan adalah apa yang terjadi setelah delapan detik itu.

Aku tidak menyalakannya lagi.

Aku mencoba menahannya lebih lama, dan di detik kesembilan tubuhku menyalakannya sendiri, tanpa persetujuanku, seperti orang yang menahan napas sampai batas dan akhirnya paru-parunya mengambil alih.

Bukan aku yang menyalakannya lagi. Aku cuma berhenti melawan.

“Jadi tiga tahun ini,” katanya, “kamu tidak pernah punya pilihan.”

“Delapan detik.”

“Itu bukan pilihan, Kanzaki. Itu batas menahan napas.”

“Sama saja.”

“Itu sangat berbeda,” katanya, dan itu kalimat yang sama persis dengan yang dia ucapkan di kelas kosong berbulan-bulan lalu, dan kami berdua menyadarinya di saat yang sama.


Hari kedelapan, Kirisawa memanggilku setelah kelas.

Dia tidak menyuruhku duduk. Dia berdiri di depan jendela dengan punggung ke arahku, seperti biasa, memandangi lapangan.

“Kanzaki.”

“Ya, Pak.”

“Kamu tahu kenapa aku selalu menaruhmu di pengamat?”

Aku tidak menjawab.

“Bukan karena tiermu nol.” Dia mengetuk kusen dengan tangan buatannya. “Aku sudah dua puluh tahun di sini. Aku tahu bedanya anak yang tidak bisa dan anak yang tidak mau. Kamu tidak pernah kelihatan seperti anak yang tidak bisa.”

“Pak—”

“Aku tidak akan bertanya.” Dia berbalik. “Aku belum pernah bertanya dalam dua tahun dan aku tidak akan mulai sekarang. Tapi aku akan bilang satu hal, dan setelah itu kamu boleh pergi.”

Dia menatapku, dan wajahnya sama sekali tidak seperti wajah guru.

“Tuan Sarel bukan orang jahat. Dia pegawai. Dia akan menulis laporan, dan laporannya akan benar, dan dia akan pulang dengan perasaan sudah melakukan pekerjaan yang baik.”

“Terus?”

“Terus laporan itu akan sampai ke meja orang yang bukan pegawai.”

Dia berbalik ke jendela lagi.

“Aku pernah punya murid yang laporannya sampai ke meja seperti itu,” katanya. “Dua puluh tahun lalu. Namanya tidak akan kusebut karena kamu tidak akan menemukannya di arsip mana pun.”

“Kenapa nggak akan ketemu?”

“Karena orang yang sudah masuk ke inventaris tidak ditulis di arsip murid,” katanya. “Mereka ditulis di tempat lain.”


Hari kesebelas, Tuan Sarel pamit dengan sopan.

Dia berterima kasih pada kepala akademi. Dia berterima kasih pada Kirisawa. Dia berjabat tangan dengan beberapa siswa yang kebetulan lewat, termasuk denganku, dan dia tidak menahan tanganku lebih lama dari orang lain sama sekali.

Aku menghabiskan sepanjang sore itu meyakinkan diriku bahwa itu berarti dia tidak menemukan apa-apa.


Malam itu Hoshimiya berkata satu hal di ruang latihan lantai dua, dan itu yang membuatku akhirnya berhenti berpura-pura.

“Kanzaki, aku butuh tiga bulan.”

“Apa?”

“Aku butuh tiga bulan dan satu buku catatan,” katanya. “Aku bukan pegawai kerajaan. Aku tidak punya akses ke apa pun. Aku cuma murid yang duduk di kelas yang sama denganmu, dan aku mencocokkan catatan waktu lari dengan absensi, dan itu cukup.”

Dia menutup bukunya.

“Dia punya sepuluh tahun data. Dia punya seluruh arsip akademi. Dia punya orang yang kerjanya cuma menghitung.”

Aku memandangi lantai.

“Aku tidak tahu apa yang akan dia tulis,” katanya. “Tapi aku tahu berapa lama dia butuh, karena aku sudah pernah mengerjakannya sendiri.”


Sepuluh hari kemudian, di papan pengumuman gerbang utama, ditempel selembar kertas.

Pengumpulan Seluruh Siswa dan Staf. Aula Utama. Sabtu, pukul sepuluh pagi. Wajib.

Tidak ada penjelasan lain.

Tsukumo berdiri di depan papan itu sambil menggaruk kepala. “Ada apa, ya?”

“Mungkin soal jadwal ujian,” kata Sakuraba.

“Ujian nggak pakai staf.”

“Mungkin ada guru yang pensiun.”

“Mungkin,” kata Isuzu, yang tidak kelihatan tertarik sama sekali.

Amamiya tidak mengatakan apa-apa.

Aku menoleh ke arahnya dan dia sudah lebih dulu menoleh ke arahku, dan dia langsung tersenyum lebar dan berkata, “Kanzaki, besok aku bikin yang isi kacang merah ya.”

Dan aku menjawab, “Boleh.”

Dan kami berdua tahu persis apa yang sedang kami lakukan.


Aku menulis di buku cokelat malam Jumat itu.

Hari ke-1.221. Radius stabil.

Lalu aku berhenti.

Aku sudah menulis di buku itu setiap malam selama tiga tahun. Seribu dua ratus dua puluh satu baris. Radius, durasi, gejala, biaya, dan tujuh angka korban.

Aku membalik ke halaman pertama untuk pertama kalinya sejak lama.

Baris paling atas, tulisan tangan yang lebih rapi karena tanganku waktu itu belum rusak:

Hari ke-1. Jangan sampai ada yang tahu.

Aku membacanya beberapa kali.

Lalu aku kembali ke halaman terakhir, dan menulis:

Besok pukul sepuluh.

Dan aku tidak menambahkan apa-apa lagi, karena tidak ada lagi yang bisa ditulis.


[Bersambung — Bab 33: Tiga Tahun]