← Chapters Ch. 10 / 50

Chapter Ten

Benang

[POV: Hoshimiya Shion]

Aku pergi ke menara latihan tujuh malam berturut-turut.

Bukan untuk berlatih. Aku bilang begitu pada penjaga asrama, dan penjaga asrama percaya karena aku peringkat satu dan peringkat satu diasumsikan melakukan hal-hal yang membosankan seperti itu.

Yang sebenarnya kulakukan adalah berdiri di lantai tiga menara, di jendela yang menghadap lapangan, dan mencoba melihat sesuatu lagi.

Enam malam pertama gagal.

Aku melihat lapangan kosong. Aku melihat asrama tahun pertama dengan jendela yang menyala satu-dua. Aku melihat udara, yang di malam hari selalu punya lapisan tipis mana alami, seperti debu yang cuma kelihatan kalau ada sinar masuk lewat celah.

Tidak ada garis.

Aku mulai berpikir aku salah lihat malam itu. Itu penjelasan paling sederhana. Aku sedang lelah, aku sedang terobsesi pada tabelku sendiri, dan otak manusia akan membuat pola dari apa pun kalau kamu memaksanya cukup lama.

Aku hampir menerima penjelasan itu.

Yang menghentikanku bukan logika. Yang menghentikanku adalah sapu tangan yang kembali padaku dua hari kemudian, sudah dicuci, dilipat rapi, diletakkan di mejaku sebelum aku datang pagi-pagi.

Orang yang tidak melakukan apa-apa tidak mimisan.


Malam ketujuh aku mengubah caranya.

Selama enam malam aku berdiri di jendela dan melihat ke luar. Salah. Kansokugan bekerja paling baik kalau aku tidak memusatkan pandangan — kalau aku melihat ke satu titik, aliran halus justru hilang. Ini sudah kuketahui sejak kecil dan entah kenapa kulupakan selama seminggu.

Jadi malam itu aku duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, dan melihat ke langit-langit.

Lalu aku menunggu.

Sekitar pukul dua belas lewat, aku merasakan sesuatu berubah di ruangan.

Bukan melihat. Merasakan. Seperti waktu ada orang masuk ke kamar tanpa suara dan kamu tahu sebelum menoleh.

Aku menggeser pandanganku ke bawah, pelan-pelan, tanpa memfokuskan.

Dan di sana.


Sepuluh.

Sepuluh garis, keluar dari sepuluh jari.

Kali ini aku tidak ragu sedikit pun, karena kali ini jaraknya dekat. Dia duduk di tangga batu pinggir lapangan, sekitar dua puluh meter dari menara, memegang buku seperti biasa dan tidak membacanya seperti biasa.

Garisnya tipis sekali. Kalau kubandingkan dengan aliran mana normal, ini seperti membandingkan rambut dengan tali tambang.

Tapi panjangnya.

Aku mengikuti satu garis dengan mata. Keluar dari jari telunjuk kanannya, melengkung ke atas sedikit, melewati pagar lapangan, melewati lapangan itu sendiri, terus, terus.

Sampai ke asrama tahun pertama.

Masuk lewat jendela lantai dua yang lampunya masih menyala.

Aku mengikuti garis yang lain. Yang ini ke gedung latihan. Yang ini ke asrama putri. Yang ini ke arah menara tempat aku berdiri, dan aku sempat mundur setengah langkah sebelum sadar bahwa itu tidak masuk akal — kalau itu berbahaya, aku sudah kena sejak tiga tahun lalu.

Sepuluh garis, menyebar ke seluruh akademi, pada pukul dua belas malam, ketika semua orang tidur.

Aku berdiri di situ dan mencoba menyusun kalimat yang masuk akal di kepalaku, dan yang keluar cuma pertanyaan yang sangat bodoh:

Kenapa sekarang?

Sekarang tidak ada latihan. Tidak ada ujian. Tidak ada yang perlu dibantu. Kalau kekuatan ini dipakai untuk sesuatu, sekarang adalah waktu paling tidak berguna untuk memakainya.

Lalu aku mengerti, dan begitu aku mengerti, aku duduk kembali ke lantai.

Bukan “kenapa sekarang”.

Tidak ada “sekarang”.

Benda itu tidak pernah dinyalakan, karena benda itu tidak pernah dimatikan.


Aku menghitung mundur.

Tiga tahun. Seribu seratus hari lebih. Setiap jam, termasuk jam tidur, termasuk hari libur, termasuk hari-hari waktu dia demam dan tetap datang ke kelas.

Selama itu, seluruh akademi ini berdiri di atas sesuatu, dan tidak satu pun dari kami tahu ada yang menopangnya.

Aku memikirkan rekor lariku sendiri. Aku memecahkannya empat kali dalam tiga tahun terakhir, dan setiap kali aku berpikir: bagus, latihanku benar.

Aku memikirkan Amamiya yang mundur nol langkah.

Aku memikirkan anak-anak tahun pertama yang jatuh dan bangun lagi dan terkejut karena bisa bangun lagi.

Aku memikirkan kalimat yang diucapkan salah satu dari mereka di ruang aman lantai dua, sambil tertawa, sambil memegang tangannya yang gemetar:

Aku tadi rasanya kuat banget, kayak lagi hoki.

Dan aku memikirkan Kanzaki Rei yang duduk di barisan paling belakang sambil bertepuk tangan untuk Kuroba Jin, dengan tangan kanan yang ditahan tangan kirinya supaya tidak kelihatan gemetar.

Aku pikir aku akan marah pada mereka semua.

Ternyata tidak. Mereka tidak salah. Mereka tidak diberi tahu.


Yang membuatku akhirnya berdiri dan turun dari menara adalah hal yang lain, dan lebih kecil.

Aku melihat garis-garis itu lagi, lebih dekat ke sumbernya kali ini, di bagian yang paling dekat dengan jarinya.

Di situ garisnya tidak mulus.

Ada bagian yang menebal, lalu menipis, lalu menebal lagi. Seperti tali yang sudah lama dipakai dan mulai berserabut di titik-titik tertentu.

Aku bukan tabib. Aku tidak tahu apa artinya secara medis, dan aku tidak punya siapa-siapa untuk ditanyai tanpa membongkar segalanya.

Tapi aku pernah melihat pedang yang dipakai terlalu lama tanpa diasah. Aku tahu bentuk logam yang sudah lelah.

Dan yang kulihat di jari anak itu bentuknya sama.


Aku turun tangga menara dan berjalan ke lapangan.

Setengah jalan, aku berhenti.

Aku berdiri di jalur setapak itu, di tengah, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah tersusun rapi di kepalaku, dan aku tidak melangkah lebih jauh.

Bukan karena takut.

Karena aku sedang menyusun ulang urutan pertanyaannya, dan aku menyadari sesuatu yang membuatku tidak enak.

Pertanyaan pertama yang ingin kuajukan adalah apa itu.

Pertanyaan kedua adalah sejak kapan.

Pertanyaan ketiga adalah berapa harganya.

Dan pertanyaan keempat — yang seharusnya jadi pertama, yang seharusnya sudah kutanyakan tiga tahun lalu kalau aku manusia yang benar — adalah:

Apakah kamu baik-baik saja?

Aku berdiri di jalur setapak itu cukup lama.

Lalu aku kembali ke asrama tanpa menghampirinya.


Aku tidak tidur malam itu. Aku duduk di meja dan menulis di buku catatan hitam, di halaman baru, tanpa tabel dan tanpa kolom.

Tiga tahun. Sepuluh benang. Tidak pernah dimatikan. Serabut di pangkal jari. Dia tidak akan mengaku kalau ditanya baik-baik.

Lalu, di baris terakhir, aku menulis kalimat yang akan kusesali persis empat hari kemudian, waktu aku benar-benar mengucapkannya di depan orangnya:

Kalau begitu jangan tanya baik-baik.


[Bersambung — Bab 11: Berapa Lama]