← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Nine

Wawancara Pihak

POV: Renata


Aku menerima undangannya pada hari Jumat pukul 09.14.

Perihal: Undangan Klarifikasi — Penugasan WP-1147 Kepada: Renata Claudya Larasati, Manajer Program Waktu: Senin, 13.00–14.30 Tempat: Ruang Rapat Kecil, Lantai 21

Di bagian bawah, dalam huruf kecil:

Yang bersangkutan tercantum dalam ruang lingkup pemeriksaan sebagai pihak dengan akses data.

Aku membacanya empat kali.

Kemudian aku membuka daftar ruang lingkup yang dikirim ke divisi kami pekan lalu, yang telah aku baca sekilas pada hari Rabu dan tidak kuperiksa dengan cermat karena aku sedang tidak dalam kondisi memeriksa apa pun dengan cermat pada pekan itu.

Dua puluh tiga nama.

Nomor dua puluh tiga.


Aku menyampaikannya kepada Arya pada malam Jumat, karena beliau bertanya kenapaku diam sepanjang makan malam.

“Aku masuk daftar yang diperiksa.”

“Diperiksa gimana?”

“Wawancara klarifikasi. Sebagai pihak dengan akses data.”

Beliau meletakkan sendoknya.

“Kamu kan yang lapor.”

“Ya.”

“Terus kenapa kamu yang diperiksa?”

“Karena saya yang lapor.”

Arya menatapku beberapa detik, lalu tertawa — pendek, tidak sinis, tawa orang yang menyerah pada sesuatu yang tidak dia pahami.

“Kantor kamu aneh.”

“Ini standar.”

“Kamu nggak keberatan?”

“Tidak.”

“Serius, Ren.” Beliau mencondongkan badan. “Kalau kamu keberatan, aku bisa tanyain ke temen aku yang di Wiratama. Nggak enak juga kan pelapor malah—”

“Arya.”

“Iya?”

“Jangan.”

Dan aku mengatakannya terlalu cepat.

Setengah nada terlalu tinggi, dan kira-kira dua detik lebih cepat dari yang seharusnya, dan aku menyadarinya pada saat kalimat itu sudah berada di udara dan tidak dapat ditarik kembali.

Arya mengangkat kedua tangan.

“Oke. Nggak.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.” Beliau mengambil sendoknya lagi. “Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa.”

Dan beliau melanjutkan makan, dan beliau tidak menanyakan apa pun lagi sepanjang malam itu, dan beliau mencuci piringnya sendiri seperti biasa.

Dan aku duduk di meja makan apartemenku sendiri dan mencatat, di dalam kepala, di tempat yang sama dengan segala sesuatu yang tidak dapat kutuliskan:

Bahwa aku baru saja mencegah satu-satunya orang yang berniat melindungiku, agar tidak melindungiku.


Aku perlu menuliskan reaksiku secara jujur, karena reaksi tersebut menjelaskan sesuatu tentangku yang tidak menyenangkan.

Reaksi pertamaku bukan tersinggung.

Reaksi pertamaku, selama kira-kira dua detik, adalah lega.

Karena apabila namaku tercantum dalam ruang lingkup, maka terdapat alasan tertulis, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan bagiku untuk berada di ruangan yang sama dengan orang tersebut.

Reaksi keduaku, tiga detik kemudian, adalah malu atas reaksi pertama.

Reaksi ketiga adalah yang benar, dan datang paling lambat: aku adalah pelapor, dan pelapor yang diperiksa adalah pelapor yang kredibilitasnya sedang diamankan, dan itu adalah keputusan metodologi yang tepat yang seharusnya kuusulkan sendiri.

Aku menyusun tiga reaksi itu dalam waktu delapan detik dan aku masih memikirkannya sampai hari Senin.


Senin, pukul 13.00.

Ruang rapat kecil. Meja untuk enam orang, kami berdua di seberang. Beliau membawa satu map dan satu perekam suara dan tidak membawa apa pun lagi.

“Terima kasih sudah menyediakan waktu, Bu Renata.”

“Tentu.”

“Saya rekam ya. Standar prosedur.”

“Silakan.”

Beliau menekan tombol.

“Wawancara klarifikasi, penugasan WP-1147. Senin, pukul tiga belas nol nol. Pewawancara Andhika Pratama. Narasumber Renata Claudya Larasati, Manajer Program Keberlanjutan.”

Dan lalu beliau menyebutkan sesuatu yang membuatku harus menahan tanganku sendiri di bawah meja.

“Narasumber merupakan pelapor awal. Wawancara ini bukan pemeriksaan terhadap narasumber.”

Beliau menaruh perekam itu di tengah meja.

“Itu masuk rekaman biar jelas,” katanya. “Kalau nanti ada yang dengar, mereka tau posisi Ibu.”


Wawancaranya berlangsung satu jam dua puluh menit.

Aku akan meringkasnya, dan aku akan meringkasnya dengan jujur, termasuk bagian yang tidak inginku tuliskan.

Empat puluh menit pertama teknis. Alur persetujuan anggaran. Siapa menandatangani apa. Kapan aku pertama kali melihat selisihnya. Mengapa aku memeriksa yayasan nomor tujuh dan bukan delapan lainnya.

Aku menjawab seluruhnya dengan lengkap. Aku bagus dalam hal ini. Aku sudah enam tahun bagus dalam hal ini.

Menit keempat puluh dua, pertanyaannya berubah.

“Bu Renata mulai memeriksa yayasan nomor tujuh tanggal berapa?”

“Empat November.”

“Kenapa tanggal itu?”

“Laporan triwulan masuk tanggal tiga.”

“Delapan yayasan lain laporannya juga masuk tanggal tiga.”

“Ya.”

“Ibu buka yang nomor tujuh duluan.”

Aku berhenti.

“Ya.”

“Kenapa?”

Dan aku duduk di ruang rapat kecil lantai dua puluh satu dengan perekam suara menyala di atas meja, dan aku tidak memiliki jawaban yang benar, karena jawaban yang benar adalah bahwa aku membuka yang nomor tujuh lebih dulu setiap triwulan selama enam tahun, dan bahwa aku tidak pernah sekali pun bertanya kepada diriku sendiri mengapa.

“Urutan folder di sistem kami tidak alfabetis,” kataku. “Berdasarkan nilai kontrak. Nomor tujuh nilainya terbesar ketiga.”

Benar. Faktual. Dapat diverifikasi dalam empat menit.

“Oh,” katanya. “Baik.”

Dan beliau menuliskan sesuatu, dan tidak melanjutkan, dan aku duduk di sana selama sisa wawancara dengan satu hal yang menempel di dalam dadaku:

Beliau tidak melanjutkan.

Orang yang menyelesaikan seratus empat belas nota dalam sebelas menit tidak berhenti karena jawaban itu memuaskan.

Beliau berhenti karena beliau memutuskan untuk berhenti.


Menit ketujuh puluh, aku menyampaikan yang sebenarnya menjadi alasanku menyanggupi wawancara ini secepat itu.

“Saudara Pratama, ada satu hal yang perlu saya sampaikan sebelum kita selesai.”

“Silakan.”

“Arsip yayasan tahun kelima ke belakang tidak lengkap di sistem digital.”

Beliau berhenti menulis.

“Seberapa tidak lengkap?”

“Notulen rapat pengurus tahun pertama sampai kelima tidak ada sama sekali. Yang ada hanya ringkasan keputusan, satu halaman per tahun.”

“Dihapus?”

“Tidak.” Aku membuka mapku. “Tidak pernah didigitalkan. Yayasan baru memasang sistem tahun keenam. Sebelum itu semuanya kertas.”

“Kertasnya masih ada?”

“Menurut bagian umum, ya.”

“Di mana?”

Dan aku membaca dari catatanku, dengan suara yang stabil sepenuhnya, karena aku sudah membaca baris ini kira-kira empat puluh kali sejak hari Jumat dan aku sudah melatih suaranya:

“Gudang lama di belakang laboratorium, SMA Negeri 4.”


Terdapat jeda.

Aku mengamatinya.

Aku sudah mengamati orang ini selama sebelas tahun ditambah delapan hari, dan aku mengenal tiga jenis jedanya, dan aku sudah mencatatnya di sistem pensil sejak usia tujuh belas.

Ini bukan salah satu dari ketiganya.

Ini jenis yang keempat, yang kulihat satu kali di S1 — pada hari tabrakan di atas atap — dan yang kucatat waktu itu sebagai jeda ketika dia hampir mengatakan sesuatu dan memutuskan bahwa biayanya terlalu besar.

“Berapa lama izin aksesnya?” kata beliau.

“Sudah saya urus. Berlaku mulai besok.”

“Ibu urus sebelum saya minta.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Dan aku berkata:

“Karena saya sudah memperkirakan Anda akan memintanya, dan karena tiga puluh hari itu pendek.”

Beliau mengangguk sekali.

“Terima kasih, Bu Renata.”

“Sama-sama.”

Beliau menekan tombol perekam. Bunyi berhenti.

Dan begitu tombol itu ditekan — begitu rekamannya mati — beliau melakukan sesuatu yang berlangsung kurang dari dua detik dan yang kupikirkan sampai pukul tiga pagi.

Beliau merapikan tumpukan kertasnya dan mengetukkan sisinya ke meja. Dua kali.

Supaya rata.


Aku kembali ke ruanganku pukul 14.40.

Aku menutup pintu. Aku duduk. Aku membuka laptop dan tidak menyalakannya.

Dan aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan: aku membuka aplikasi pesan dan menggulir ke bawah, jauh ke bawah, melewati empat ratus percakapan kerja, sampai ke grup tanpa nama yang berisi tiga orang.

Pesan terakhir tanggal 4 September.

Aku mengetik.

Sekar. Tamara.

Aku menatapnya selama kira-kira dua menit.

Kemudian aku menghapusnya, sebagaimana aku menghapusnya pada hari Senin pekan lalu, dan pada hari Rabu, dan pada hari Jumat.

Dan aku menutup aplikasi itu.

Lalu aku membuka kalenderku dan memeriksa satu hal yang seharusnya tidak perlu aku periksa karena aku sudah menghafalnya.

Empat bulan enam hari.

Dan aku duduk di ruanganku di lantai dua puluh satu dan memutar cincin di jari manis kiriku dengan ibu jari — sembilan kali, aku menghitungnya — sampai telepon di meja berdering dan aku harus mengangkatnya dan mengatakan selamat siang, dengan Renata dengan suara yang benar.


Hari 12. Sisa 18.