Chapter Eleven
Kardus Nomor Empat Belas
POV: Andhika
Dalamnya gudang itu enam kali sembilan meter dan langit-langitnya rendah dan tidak ada jendela.
Delapan rak besi. Kardus arsip disusun dari lantai sampai setinggi dadaku. Debu di lantai membentuk lapisan yang tebalnya kira-kira dua milimeter dan yang belum diinjak siapa pun selama entah berapa lama.
Aku menghitung kardusnya. Delapan puluh tiga.
Aku menghitung waktunya. Kalau satu kardus dua puluh menit, delapan puluh tiga kardus adalah dua puluh tujuh jam empat puluh menit, dibagi enam jam kerja per hari, artinya empat setengah hari.
Aku punya tujuh belas.
Aku membuka kardus pertama jam satu lewat seperempat.
Ada satu hal yang perlu kucatat sebelum aku lanjut.
Aku tidak menyewa asisten.
Firma menyediakan dua junior untuk penugasan sebesar ini. Standar. Aku sudah memakai junior di dua puluh sembilan penugasan sebelumnya dan aku tidak pernah sekali pun menolaknya.
Kali ini aku menolaknya.
Alasan yang kutulis di berkas: efisiensi. Volume dokumen tidak sebanding dengan biaya penempatan personel tambahan di luar kota.
Alasan sebenarnya: kalau ada junior di ruangan ini, dia akan melihat kardus mana yang kubuka.
Empat jam pertama, tidak ada apa-apa.
Notulen rapat pengurus tahun pertama sampai ketiga. Fotokopi, dijepit, ditumpuk tanpa urutan. Sebagian tintanya sudah pudar sampai harus dibaca miring ke arah cahaya.
Aku memotret enam ratus delapan puluh satu halaman dengan ponsel dan menandai dua puluh sembilan.
Jam lima, listrik gudang mati.
Bukan mati total — lampunya memang cuma satu dan bohlamnya putus, dan aku baru sadar ketika langit di luar mulai gelap dan ruangan itu tiba-tiba tidak bisa dibaca.
Aku menyalakan senter ponsel.
Aku bekerja empat puluh menit lagi dengan senter, satu tangan memegang ponsel dan satu tangan memegang kertas, sampai aku menyadari bahwa aku sedang melakukan hal yang persis sama dengan yang kulakukan pada umur tujuh belas tahun di meja fotokopi Pak Har.
Aku berhenti.
Aku mengunci gudang itu dan berjalan ke gerbang.
Dan aku tidak naik.
Aku ingin mencatat itu, karena aku menghabiskan seluruh perjalanan pulang memikirkan alasannya dan aku tidak menemukan satu pun yang jujur.
Tangga besi itu ada di sisi kanan gudang, empat meter dari pintu yang baru saja kukunci, dan sekolah sudah kosong sejak jam empat, dan tidak ada satu pun orang di dunia yang akan tahu.
Aku berdiri di depannya selama — aku menghitungnya — dua puluh enam detik.
Lalu aku berjalan ke gerbang.
Dan di angkutan umum, dalam perjalanan empat puluh menit ke hotel, aku menyusun alasannya seperti aku menyusun semua hal: dari yang paling pendek.
Tidak ada gunanya. — Benar. Tidak menjelaskan apa pun. Berbahaya. — Bohong. Anak tangga kedelapan longgar di sisi kiri; aku hafal. Tidak ada waktu. — Bohong. Aku punya dua puluh enam detik dan aku memakainya untuk berdiri diam.
Alasan yang benar datang di menit ketiga puluh dua, di dekat perempatan, dan aku tidak menyukainya:
Kalau aku naik, aku akan tahu apakah goresan itu masih ada.
Dan sebelas tahun terakhir aku hidup dengan cara yang sangat spesifik, yaitu tidak pernah memeriksa satu pun hal yang jawabannya bisa membuatku ingin pulang.
Hari kedua, aku membawa bohlam.
Aku membelinya di toko kelontong dekat hotel, dua puluh dua ribu, dan aku memasangnya sendiri sambil berdiri di atas kursi plastik yang kupinjam dari Bu Ratna.
“Wah, jangan repot-repot, Pak. Nanti saya laporkan ke bagian umum.”
“Nggak apa-apa, Bu. Sudah terpasang.”
“Ya ampun. Maaf ya, Pak.”
“Nggak apa-apa.”
Dan Bu Ratna berdiri di ambang pintu gudang itu memandangi bohlam yang menyala dan berkata sesuatu dengan nada orang yang sedang berbasa-basi:
“Dulu gudang ini dipakai buat alat olahraga, lho, Pak.”
Aku berhenti melipat kursi plastik.
“Oh ya, Bu?”
“Iya. Terus dibikin gudang baru deket lapangan, terus yang ini kosong.” Beliau tertawa. “Lama kosong. Bertahun-tahun. Baru dipakai buat arsip tahun berapa ya, saya lupa.”
“Sepuluh tahun lalu, Bu.”
Beliau menoleh.
“Kok Bapak tau?”
Dan aku berdiri di gudang itu dengan kursi plastik terlipat di tangan, dan aku memberikan jawaban yang benar, dan jawaban itu memang benar seluruhnya.
“Label kardusnya, Bu. Yang paling lama tanggalnya sepuluh tahun lalu.”
“Oh, iya ya.” Beliau tertawa lagi. “Bapak teliti banget.”
Kardus nomor empat belas kubuka pada hari ketiga, jam dua siang.
Labelnya diketik dengan mesin tik. Hurufnya rapat, hurufnya rapi, dan huruf e-nya lebih tinggi setengah milimeter dari huruf lain karena tuts itu sudah aus.
ARSIP UMUM — SURAT MASUK & KELUAR — TAHUN AJARAN [tahun ke-11]
Bukan notulen. Bukan keuangan. Tidak ada satu pun alasan profesional untuk membukanya dalam pemeriksaan alokasi dana beasiswa.
Aku membukanya.
Isinya empat map besar.
Map pertama: surat masuk dari dinas. Map kedua: surat keluar, undangan, edaran. Map ketiga: surat keterangan siswa. Pindah, mutasi, keterangan aktif. Map keempat: lampiran internal.
Aku membuka map ketiga.
Dan aku menemukannya di lembar keempat puluh satu.
SURAT KETERANGAN PINDAH Nomor: 421.3/__/SMAN4 Nama: ANDHIKA PRATAMA Kelas: XI IPA 3
Tanda tangan Kepala Sekolah. Stempel. Tanda tangan siswa yang bersangkutan, dengan pulpen biru, di kolom paling bawah.
Umur tujuh belas.
Aku menatap tanda tangan itu selama beberapa detik.
Bentuknya berbeda dengan tanda tanganku sekarang. Lebih kecil. Lebih hati-hati. Ada tarikan di ujung yang sudah hilang entah kapan.
Dan di bagian bawah lembar itu, di kolom keterangan, ada tulisan tangan yang bukan tulisanku:
Berkas lengkap. Yang bersangkutan menyampaikan akan kembali apabila kondisi memungkinkan. Arsip dipertahankan.
— R.
Aku duduk di lantai gudang itu.
Bukan karena kaget. Aku sudah tahu surat ini ada; aku yang menandatanganinya.
Aku duduk karena tiga kata di baris terakhir.
Arsip dipertahankan.
Surat keterangan pindah tidak dipertahankan. Salinannya diserahkan kepada siswa, aslinya masuk ke dinas, dan lembar ketiganya dimusnahkan dalam siklus lima tahun bersama seluruh administrasi rutin.
Ini lembar ketiga.
Sebelas tahun.
Dan seseorang menuliskan tiga kata di kolom keterangan supaya lembar ini tidak ikut dimusnahkan, dan menandatanganinya dengan satu huruf, dan tidak pernah memberi tahu siapa pun.
Aku duduk di lantai gudang itu untuk waktu yang tidak kucatat.
Aku mengembalikan lembar itu ke tempatnya.
Aku menutup map ketiga, dan map keempat yang belum kubuka, dan aku menutup kardus nomor empat belas dan menaruhnya kembali ke rak baris kedua.
Dan aku melanjutkan ke kardus nomor lima belas, dan aku bekerja tiga jam lagi, dan aku menandai sebelas dokumen.
Jam enam, aku mengunci gudang.
Dan aku berjalan ke sisi kanan bangunan itu dan berdiri di depan tangga besi selama dua puluh enam detik, sebagaimana hari pertama, sebagaimana hari kedua.
Lalu aku naik.
Anak tangga kelima berbunyi di sekolah yang kosong dan bunyinya terdengar sampai ke lapangan.
Di atas, tidak ada apa-apa.
Lantai semen. Tembok pembatas tiga sisi. Langit yang di kota ini tidak pernah benar-benar gelap.
Aku tidak duduk.
Aku berjalan ke sudut barat daya dan menyalakan senter ponsel dan jongkok di depan tembok pembatas, di bagian bawah yang tertutup bayangan.
Lima baris.
Aku menghitungnya. Lima. Bukan empat.
Baris kelima ditulis dengan huruf, bukan angka, dan digores dalam-dalam berkali-kali oleh orang yang tangannya pasti perih setelahnya.
KAR
Dan di bawahnya, sebuah alamat yang tidak perlu kubaca karena aku sudah menghafalnya sejak umur enam tahun.
Aku mematikan senter.
Aku duduk di lantai semen di sudut barat daya — bukan sudutku, sudut yang selama seratus enam belas hari ditempati orang lain — dan aku menghitung.
Kalau baris kelima itu digores setelah aku pergi, artinya seseorang naik ke sini setelah bulan Februari sebelas tahun lalu. Kalau alamatnya masih sama sampai hari ini, artinya keluarganya tidak pernah pindah. Kalau tangganya masih berbunyi dan lumutnya kering di baris kedua tapi tidak di baris kelima—
Aku berhenti.
Aku berhenti karena aku sudah menyelesaikan hitungannya tanpa kuminta, dan hasilnya keluar dengan sangat cepat, dan hasilnya adalah:
Baris kelima itu dibersihkan.
Ada lumut kering di baris pertama sampai keempat.
Baris kelima bersih.
Yang artinya ada orang yang naik ke atas gudang ini bukan sebelas tahun lalu.
Yang artinya ada orang yang naik ke sini belakangan ini.
Aku turun jam tujuh kurang.
Dan di ujung koridor lab, aku berhenti dan berbalik dan melihat ke arah gudang itu sekali lagi, dan aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidupku.
Aku menghitung ke belakang.
Bukan sisa hari. Bukan sisa uang. Bukan selisih.
Aku menghitung berapa lama seseorang harus datang untuk membuat lumut tidak tumbuh di satu baris goresan sementara empat baris lainnya ditumbuhi.
Jawabannya bukan angka yang pasti. Terlalu banyak variabel — musim, arah angin, bayangan tembok.
Tapi batas bawahnya bisa dihitung.
Lumut kering di baris pertama sampai keempat menunjukkan pertumbuhan bertahun-tahun tanpa gangguan.
Baris kelima bersih menunjukkan gangguan berulang.
Berulang, bukan sekali.
Dan gangguan berulang selama bertahun-tahun di sebuah tempat yang tidak ada di denah sekolah, yang pintunya digembok, yang tangganya tidak masuk gambar kerja tahun 2009—
—adalah seseorang yang datang ke sini secara teratur selama waktu yang lama.
Aku berdiri di ujung koridor itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku turun dari pesawat lima belas hari lalu, aku merasakan sesuatu di dada yang tidak bisa kumasukkan ke dalam kategori mana pun, dan yang paling mendekati adalah:
Takut.
Bukan takut ketahuan. Bukan takut kariernya hancur.
Takut karena selama sebelas tahun aku hidup dengan satu keyakinan yang tidak pernah kuperiksa, yaitu bahwa tidak ada yang menungguku di mana pun.
Dan keyakinan itu adalah satu-satunya hal yang membuatku sanggup tidak pulang.
Hari 15. Sisa 15.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas reading
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu