Chapter Forty Two
[Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
POV: Tamara
Aku ke bagian keuangan hari Kamis pagi.
Aku sudah menyusun rencananya semalaman dan aku bangga pada rencana itu selama kira-kira sembilan menit setelah aku masuk ruangan.
Ruangannya di lantai dua, ujung koridor, dengan empat meja dan dua kipas angin dan lemari arsip yang pintunya tidak bisa ditutup penuh karena isinya terlalu penuh.
“Selamat pagi, Pak.”
“Pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu?”
Namanya Pak Dedy. Sekitar lima puluh tahun. Kemeja lengan pendek, kacamata, dan senyum orang yang sudah dua puluh tahun melayani orang yang datang ke ruangannya dengan masalah.
“Saya mau nanya soal program bantuan biaya, Pak.”
“Oh, yang di depan itu?”
“Iya.”
“Mbak mau daftar? Daftarnya di loket bawah, Mbak. Nomor tiga.”
“Bukan, Pak. Saya mau nanya soal realisasinya.”
Dan Pak Dedy berhenti tersenyum.
Bukan jadi tidak ramah. Cuma berhenti tersenyum, dan itu perbedaan yang tidak akan kusadari kalau aku tidak sudah enam hari melihat orang lelah.
“Realisasi gimana, Mbak?”
Aku mengeluarkan ponselku.
Dan aku menunjukkan foto papan pengumuman itu.
“Kuotanya tiga ratus empat puluh, Pak. Realisasinya sembilan puluh enam.”
“Ho’oh.”
“Sisanya ke mana?”
Dan Pak Dedy menatap layar ponselku selama beberapa detik, dan lalu dia menatapku, dan dia berkata:
“Maaf, Mbak ini dari mana ya?”
Dan di situlah aku kalah.
Dua menit empat puluh detik.
Aku ingin mencatat waktunya karena aku memeriksanya nanti dan karena aku ingin ingat persis berapa lama aku bertahan.
Karena aku tidak punya jawabannya.
Aku bukan wartawan. Aku bukan auditor. Aku bukan pasien. Aku bukan keluarga pasien. Aku bukan pengawas, bukan dinas, bukan siapa-siapa.
Aku aktris yang sedang riset peran, dan izin masukku ditandatangani kepala rumah sakit dengan keterangan kunjungan observasi non-medis, dan tidak ada satu pun kalimat di dalam surat itu yang memberiku hak menanyakan angka realisasi program bantuan.
“Saya—” Aku berhenti. “Saya lagi observasi di sini, Pak. Ada izinnya.”
“Izin observasi apa, Mbak?”
“Riset.”
“Riset apa?”
Dan aku berkata:
“Riset peran.”
Pak Dedy tidak tertawa.
Aku ingin mencatat itu, karena kalau dia tertawa aku bisa marah, dan aku ingin sekali punya sesuatu untuk dimarahi pagi itu.
Dia tidak tertawa.
Dia mengangguk, dan dia menyandarkan punggungnya, dan dia berkata dengan sangat sopan:
“Mbak, data realisasi itu ada di laporan tahunan. Laporannya masuk ke dinas.”
“Bisa saya liat, Pak?”
“Bisa. Lewat permohonan informasi publik. Ada formulirnya.”
“Di mana, Pak?”
“Di dinas kesehatan kabupaten. Bukan di sini.”
“Berapa lama prosesnya?”
Dan Pak Dedy berkata:
“Sepuluh hari kerja. Bisa diperpanjang tujuh hari.”
Aku berdiri di ruangan itu.
Tujuh belas hari.
Syutingnya mulai enam hari lagi.
“Pak—”
“Mbak.”
“Iya?”
Dan Pak Dedy melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan ujung kemejanya, dan dia berkata sesuatu yang membuatku berdiri di koridor lantai dua selama sepuluh menit setelah keluar dari ruangan itu:
“Saya nggak lagi nutup-nutupin, Mbak. Saya cuma nggak boleh ngasih ke orang yang nggak punya hak.”
Dia memakai kacamatanya lagi.
“Dan Mbak nggak punya hak,” katanya. “Itu bukan Mbak yang salah. Itu emang aturannya.”
Aku mencoba tiga hal lagi hari itu.
Satu. Aku menelepon Vina dan minta dia mencari kontak dinas kesehatan kabupaten.
Vina mendapatkannya dalam sebelas menit — Vina selalu mendapatkan apa pun dalam sebelas menit — dan aku menelepon, dan yang menjawab staf yang sopan, dan dia berkata bahwa permohonan informasi harus tertulis, dan bahwa pemohon harus mencantumkan identitas dan alasan penggunaan informasi.
“Alasan penggunaannya apa, Bu?”
“Ya terserah Mbak. Penelitian, jurnalistik, kepentingan pribadi.”
“Kalau riset peran film?”
Jeda di seberang.
“...Bisa, Mbak. Tapi biasanya diproses lebih lama.”
Dua. Aku menghubungi seorang wartawan yang pernah mewawancaraiku empat tahun lalu dan yang nomornya masih kusimpan.
Dia membalas dalam empat jam. Ramah. Antusias.
Dan di pesan keempat dia bertanya apakah dia boleh menulisnya sebagai berita.
Dan aku menatap layar itu selama dua menit dan mengetik jangan dulu ya, dan dia membalas oke, dan aku tahu persis bahwa itu artinya dia akan menulisnya dalam dua minggu dengan atau tanpa aku.
Dan kalau dia menulisnya, judulnya akan berisi namaku.
Dan kalau judulnya berisi namaku, tidak akan ada satu pun orang yang membaca angkanya.
Aku memblokir kontaknya malam itu. Aku menyesal, dan aku tetap melakukannya.
Tiga. Aku mencoba bertanya ke pasien.
Dan itu yang paling memalukan dari ketiganya, dan itu yang membuatku menangis di kamar penginapan jam sebelas malam.
Namanya Ibu Marta.
Enam puluh dua tahun. Menemani suaminya yang dirawat sejak hari Senin. Duduk di kursi tunggu lobi dengan map plastik di pangkuan, dan aku sudah melihatnya empat hari berturut-turut di kursi yang sama.
Aku duduk di sebelahnya.
“Bu.”
“Iya, Nak?”
“Ibu tau nggak ada program bantuan biaya di sini?”
“Tau.”
“Ibu udah daftar?”
“Udah.”
“Diterima?”
Dan Ibu Marta menggeleng.
“Kenapa nggak diterima, Bu?”
“Nggak tau.”
“Ibu nggak nanya?”
Dan perempuan berumur enam puluh dua tahun itu menoleh ke arahku dengan map plastik di pangkuannya dan berkata:
“Udah, Nak. Katanya nggak memenuhi syarat.”
“Syarat apa?”
“Nggak tau.”
“Ibu nggak minta penjelasan?”
Dan dia berkata:
“Nak, saya nunggu di sini dari jam enam pagi buat nanyain kondisi bapaknya.”
Aku duduk di kursi tunggu itu.
“Kalau saya bantu Ibu ngurusin, gimana?”
Dan Ibu Marta menoleh ke arahku.
Dan wajahnya berubah — bukan jadi senang. Berubah jadi waspada.
“Bantu gimana?”
“Saya bisa tanyain ke bagian keuangan—”
“Nggak usah, Nak.”
“Bu—”
“Nggak usah.” Dia memegang map plastiknya lebih erat. “Bapaknya masih dirawat di sini.”
Dan aku duduk di lobi RSUD kabupaten pada hari Kamis jam empat sore dan mengerti apa yang baru saja dikatakan perempuan itu kepadaku.
Dia tidak takut kepadaku.
Dia takut kalau ada orang asing bertanya-tanya atas namanya, dan suaminya masih berbaring di lantai dua, dan dia akan kehilangan hal yang jauh lebih penting daripada bantuan biaya yang sudah ditolak.
Aku pulang ke penginapan jam lima.
Dan aku duduk di lantai kamar mandi dan menangis selama kira-kira dua puluh menit, dan aku tidak menangis karena Ibu Marta.
Aku menangis karena aku hampir merusak sesuatu.
Karena aku datang ke tempat itu dengan niat baik dan tanpa satu pun hak, dan aku hampir memakai perempuan berumur enam puluh dua tahun sebagai bahan untuk sesuatu yang belum kupahami sama sekali.
Dan karena kalau aku melakukannya, aku tidak akan tahu kerusakannya, karena aku akan pulang ke Jakarta dalam empat bulan dan Ibu Marta akan tetap di sini.
Jam sepuluh malam, aku membuka buku catatanku.
Halaman dengan dua angka dan satu pertanyaan.
340 96 Kenapa? Dan siapa yang mau nyariin namanya.
Dan aku menulis di bawahnya, dengan tangan yang masih gemetar:
Aku nggak bisa.
Dan aku menatap tiga kata itu selama sepuluh menit.
Lalu aku mencoretnya, dan aku menulis ulang yang benar:
Aku nggak tau caranya.
Dan lalu aku menulis daftar, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Yang aku nggak punya:
1. Hak. Aku bukan siapa-siapa di sini secara formal. 2. Cara. Aku tidak tahu dokumen apa yang harus dilihat, dan kalau pun aku melihatnya, aku tidak tahu apa yang salah. 3. Waktu. Enam hari sampai syuting. Tujuh belas hari untuk permohonan informasi.
Tiga hal.
Dan aku duduk di lantai kamar penginapan di kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada hari Kamis jam sepuluh malam dan menyadari sesuatu yang membuatku tertawa sendirian sampai aku tersedak.
Sebelas tahun lalu, di atap gudang, ada orang yang menyerahkan tiga hal kepadaku pada suatu pagi bulan Februari.
Sudut pengambilan foto. Satu istilah yang salah. Satu balasan yang datang tiga menit terlalu cepat.
Dan dia berkata “kamu yang ngerjain.”
Dan aku mengerjakannya, dan aku menang, dan aku berdiri di depan anak kelas dua belas bernama Kevin dan berkata “aku ngitung sendiri” —
dan aku sudah sebelas tahun membawa kalimat itu seperti membawa barang curian.
Aku mengangkat ponselku jam satu pagi.
Dan aku membuka kontak, dan aku menggulir ke bawah, dan aku berhenti di satu nama.
Dan aku duduk di lantai kamar itu selama satu jam dua menit dengan ponsel di tangan tanpa mengetik apa pun.
Karena aku sudah sebelas tahun berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah lagi meminta apa pun kepada orang itu.
Dan karena aku baru saja menyadari bahwa janji itu adalah alasan paling bagus yang pernah kususun untuk tidak mengerjakan apa-apa.
Jam 02.02, aku memotret halaman buku catatanku.
Dua angka. Satu pertanyaan. Satu daftar tiga hal yang tidak aku punya.
Dan aku memotret papan pengumuman itu juga — foto yang kuambil hari Rabu, buram, diambil miring karena ada orang lewat.
Dan aku mengirim keduanya.
Dan satu baris di bawahnya, dan aku menekan kirim sebelum aku sempat membacanya ulang:
tamara: ndhik, ini bener nggak sih?
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya reading
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu