← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Twenty Four

Tidak Ada Siapa-Siapa

POV: Renata


Laporan itu masuk ke surel saya pukul 16.42 hari Senin.

LAPORAN AKHIR PEMERIKSAAN — PENUGASAN WP-1147 Status: Final. Untuk pembahasan.

Delapan puluh satu halaman.

Rapat pembahasan dijadwalkan pukul 09.00 keesokan harinya, yang berarti saya memiliki waktu enam belas jam delapan belas menit untuk membacanya.

Saya membacanya dalam empat jam dua puluh menit.

Dan kemudian saya membacanya lagi.


Saya akan meringkas temuannya, dan saya akan meringkasnya sebagaimana laporan itu meringkas dirinya sendiri, yaitu dalam empat kalimat pada halaman ringkasan eksekutif:

Tidak ditemukan indikasi penggelapan.
Seluruh pengalihan alokasi dilakukan melalui mekanisme pengambilan keputusan yang sah dan terdokumentasi.
Terdapat ketidaksesuaian antara peruntukan dana sebagaimana diatur dalam perjanjian kerja sama dengan realisasi penggunaannya.
Tidak terdapat pihak yang memperoleh keuntungan pribadi dari ketidaksesuaian tersebut.

Empat kalimat.

Sebelas tahun, satu koma empat miliar, dua ratus tujuh puluh satu orang.

Dan tidak ada siapa-siapa.


Pukul 22.40, saya sampai ke halaman lima puluh delapan.

Lampiran 6: Kronologi Rapat Pengurus, Rapat III Tahun Kesebelas.

Dan saya membaca sesuatu yang membuat saya berhenti membaca selama sembilan menit.

Beliau menuliskan seluruh agenda rapat itu.

Seluruhnya. Kesembilan agenda, berurutan, dengan durasi masing-masing.

Bukan hanya agenda nomor lima, yang merupakan satu-satunya agenda yang relevan dengan penugasan.

Agenda nomor satu sampai sembilan.

Termasuk nomor tujuh: Laporan Kondisi Administrasi Siswa. Durasi: 9 menit. Keputusan: Dilaporkan. Ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku.

Dan di bawahnya, dalam catatan kaki nomor 41:

Agenda nomor 7 tidak berkaitan langsung dengan lingkup pemeriksaan. Dicantumkan untuk melengkapi gambaran pengambilan keputusan pada rapat yang sama.

Saya membaca catatan kaki itu empat kali.

Dan lalu saya membuka lampiran 6 sepenuhnya, dan saya mencari lampiran pendukung agenda nomor tujuh, dan lampiran itu tidak disertakan.

Disebutkan. Tidak disertakan.

Lampiran C (daftar nama). Tidak dilampirkan dalam laporan ini atas pertimbangan kerahasiaan data pribadi siswa.

Saya duduk di kamar kerja saya pukul 22.49 dan menyadari apa yang baru saja saya baca.

Orang itu mencantumkan agenda yang tidak perlu dicantumkan.

Lalu menahan lampirannya.

Lalu menuliskan alasan penahanan yang benar secara profesional, yang tidak dapat dibantah siapa pun, dan yang berlaku untuk empat puluh tiga nama sekaligus.

Termasuk satu.

Dan saya duduk di sana dan memikirkan hal berikut, yang tidak akan pernah saya sampaikan kepada siapa pun:

Beliau tidak menyembunyikannya.

Beliau menaruhnya di dalam laporan resmi, di catatan kaki nomor 41, di halaman lima puluh delapan dari delapan puluh satu — di tempat yang akan dibaca oleh pengacara, oleh auditor lain, oleh siapa pun yang suatu hari nanti membuka perkara ini kembali.

Beliau meninggalkan jejaknya sendiri di dalam dokumen resmi, dengan sengaja, dan menyusunnya sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pun orang yang hidup hari ini yang akan menyadarinya.


Rapat pembahasan berlangsung pukul 09.00 sampai 10.47.

Dua belas orang. Termasuk Pak Suryadi, Ketua Yayasan.

Saya akan menuliskan bagian yang penting saja.

Pukul 09.30. Pak Dirgan bertanya apakah ada rekomendasi tindakan hukum.

“Nggak ada dasarnya, Pak.”

“Sama sekali?”

“Sama sekali.”

Pukul 09.52. Divisi hukum menanyakan potensi pengembalian dana.

“Bisa dinegosiasikan. Tapi secara hukum, yayasan nggak melanggar apa pun. Yang dilanggar itu semangat perjanjian, bukan pasalnya.”

Pukul 10.15. Pak Suryadi bicara.

Dan beliau bicara selama enam menit, dan beliau bicara dengan tulus, dan saya mengamati wajah beliau sepanjang enam menit itu dan saya tidak menemukan satu pun tanda bahwa beliau berbohong.

“Saya nggak tau, Pak Andhika,” katanya. “Saya beneran nggak tau. Saya tanda tangan ratusan notulen tiap tahun. Kalau bagian keuangan bilang boleh, ya saya tanda tangan.”

“Iya, Pak.”

“Apa saya salah?”

Dan ruangan itu diam.

Dua belas orang. Hampir lima detik.

Dan beliau — orang itu — menjawab:

“Bapak nggak melanggar aturan mana pun.”

“Ya, tapi saya nanya apa saya salah.”

Dan saya mengamati wajah beliau, karena saya selalu mengamati wajah beliau, dan saya melihat sesuatu bergerak di rahangnya, sekali, dan berhenti.

“Saya nggak bisa jawab itu, Pak,” katanya. “Saya cuma nulis apa yang terjadi.”


Pukul 10.31, Pak Suryadi menanyakan hal terakhir.

“Yang dua ratus tujuh puluh satu itu. Kita bisa lacak nggak?”

“Nggak bisa, Pak.”

“Kenapa?”

“Karena mereka nggak pernah tercatat sebagai penerima. Mereka cuma selisih antara kuota di perjanjian sama kuota yang disalurkan.”

“Terus mereka ke mana?”

Dan beliau berkata:

“Nggak tau, Pak.”

Dua kata.

Dan Pak Suryadi mengangguk, dan menutup mapnya, dan berkata, “Ya sudah. Terima kasih ya, Pak Andhika. Kerjanya bagus.”

Dan menyalami beliau dengan hangat dan lama dan tidak dibuat-buat, sebagaimana beliau menyalami setiap orang yang datang ke yayasan itu.


Rapat selesai pukul 10.47.

Berita acara ditandatangani. Laporan diterima. Penugasan WP-1147 dinyatakan selesai secara substansi.

Kontraknya berjalan sampai hari ketiga puluh, yaitu lima hari lagi, untuk keperluan administratif: penyerahan dokumen, penutupan akses, dan berita acara akhir.

Lima hari.

Dan tidak ada satu pun pekerjaan yang tersisa untuk lima hari itu.

Saya mengetahui hal tersebut karena saya membaca kontraknya, sebagaimana saya membaca segala hal, dan saya mengetahuinya sejak halaman ketiga.


Saya menemui beliau di koridor lantai dua puluh satu pukul 10.55.

“Saudara Pratama.”

Beliau berhenti.

“Ya, Bu Renata.”

“Selamat atas penyelesaiannya.”

“Terima kasih.”

Dan lalu saya berdiri di koridor itu dan tidak melanjutkan, karena saya tidak menyiapkan kalimat kedua, karena saya tidak berniat mengucapkan kalimat pertama, karena saya berjalan ke arah beliau tanpa satu pun rencana untuk pertama kalinya sejak usia sebelas tahun.

“Bu Renata?”

“Halaman lima puluh delapan,” kata saya.

Dan beliau tidak bergerak sama sekali.

“Catatan kaki nomor empat puluh satu,” kata saya.

Empat detik.

“Iya, Bu.”

“Anda mencantumkan agenda yang tidak perlu dicantumkan.”

“Iya.”

“Mengapa?”

Dan Andhika Pratama berdiri di koridor lantai dua puluh satu gedung perkantoran itu, memegang map, dengan dua belas orang yang baru saja keluar dari ruang rapat di belakangnya, dan berkata:

“Karena kalau nggak ada yang nulis, nggak ada yang pernah terjadi.”


Beliau pergi.

Dan saya berdiri di koridor itu memegang buku catatan saya sendiri.

Dan saya melakukan sesuatu yang tidak saya rencanakan: saya membuka tas saya, dan saya mengeluarkan map cokelat lima belas halaman yang telah berada di dalam tas saya sejak hari Kamis, dan saya membalik ke halaman terakhir.

14 April, pukul 14.53. Saya mengetahuinya.

Ditulis dengan pensil.

Dan saya menambahkan satu baris di bawahnya, juga dengan pensil, di koridor lantai dua puluh satu, sambil berdiri:

29 April. Kasusnya selesai. Tidak ada siapa-siapa yang salah.

Termasuk saya.

Dan itu tidak membuat saya merasa lebih baik sedikit pun.


Pukul 20.10 malam itu, ponsel saya bergetar.

Grup tanpa nama.

sekar: kasusnya selesai ya?

Renata: Ya. Pagi tadi.

tamara: terus?

Renata: Kontraknya berjalan sampai hari ketiga puluh.

tamara: itu berapa hari lagi

Renata: Lima.

sekar: lima hari

Renata: Ya.

tamara: ren

Renata: Ya.

tamara: ada kerjaan yang tersisa nggak buat lima hari itu?

Dan saya duduk di ruangan saya di lantai dua puluh satu, dengan seluruh dokumen sudah diserahkan dan seluruh akses sudah ditutup dan seluruh pekerjaan sudah selesai.

Renata: Tidak ada.

Renata: Sama sekali tidak ada.


Dan pukul 20.24, Tamara mengetik satu baris yang membuat saya meletakkan ponsel di meja dan berdiri dari kursi saya.

tamara: berarti dia bakal ada di kota ini selama lima hari tanpa satu pun alasan

Saya berdiri di ruangan saya di lantai dua puluh satu.

sekar: iya

tamara: kalian sadar nggak itu artinya apa

Renata: Silakan sampaikan.

tamara: itu pertama kalinya seumur hidup dia

Dan saya berdiri di sana dengan seluruh lampu ruangan menyala pada pukul delapan malam dan menyadari bahwa Tamara Eliza Putri — yang tidak membaca satu pun dari delapan puluh satu halaman laporan itu, yang tidak pernah menghitung apa pun sampai umur tujuh belas tahun, yang saya anggap selama sebelas tahun sebagai orang yang paling tidak memahami apa pun di antara kami bertiga —

telah sampai pada kesimpulan yang benar sebelas menit lebih cepat daripada saya.

Renata: Ya.

Renata: Anda benar.

tamara: ren

Renata: Ya.

tamara: kamu tetep punya alesan buat ketemu dia. berita acara, penutupan akses, apa lah.

Renata: Ya.

tamara: sekar tetep punya. sesi kelima sama keenam.

sekar: iya

tamara: aku nggak punya apa2

Dan saya duduk kembali di kursi saya.

tamara: dan aku nggak akan minta kalian ngasih

tamara: aku cuma pengen bilang, biar jelas, biar nggak ada yang kaget nanti:

tamara: lima hari ini aku nggak akan sopan


Hari 25. Sisa 5.