Chapter Twenty Five
Meja Kayu
POV: Sekar
Suratnya masuk hari Selasa jam sembilan pagi.
Perihal: Penghentian Asesmen — Rujukan A.P. / WP-1147
Sehubungan dengan telah selesainya penugasan yang menjadi dasar rujukan, asesmen kelayakan penugasan atas nama yang bersangkutan dinyatakan tidak lagi diperlukan. Sesi kelima dan keenam dibatalkan. Laporan akhir mohon disampaikan dalam bentuk ringkasan.
Empat baris.
Aku membacanya jam sembilan lewat dua, dan aku menyelesaikan pasien pertama jam sembilan lewat empat puluh, dan di antara keduanya aku duduk di kursiku selama tiga puluh delapan menit dan tidak melakukan apa pun.
Dua sesi.
Sembilan puluh menit.
Aku sudah menghitung dua ratus tujuh puluh menit sejak hari pertama, dan aku sudah memakai seratus delapan puluh, dan sembilan puluh sisanya baru saja dicabut oleh surat empat baris yang ditandatangani oleh orang yang tidak tahu apa-apa dan tidak melakukan kesalahan apa pun.
Jam sepuluh lewat, aku mengirim pesan ke grup.
sekar: sesi 5 sama 6 dibatalin
tamara: HAH kenapa
sekar: penugasannya udah selesai. asesmennya jadi nggak perlu.
Renata: Itu konsekuensi administratif yang wajar.
sekar: iya
Renata: Saya turut prihatin.
tamara: ren kamu ngomong kayak lagi kirim karangan bunga
Renata: Saya tidak mengetahui cara lain.
Dan aku duduk di ruang praktikku dan menatap tiga baris itu dan tertawa sendirian, karena aku baru sadar bahwa kami bertiga sekarang berada di posisi yang persis sama untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun.
Tidak ada yang punya alasan.
sekar: ren
Renata: Ya.
sekar: kamu masih punya berita acara sama penutupan akses kan
Renata: Ya. Dua pertemuan. Hari ke-29 dan ke-30.
sekar: itu bukan alesan
Renata: Itu alasan.
sekar: ren, kamu bisa ngirim itu lewat email dan kamu tau itu
Dan Renata Claudya Larasati tidak mengetik apa pun selama satu menit empat puluh detik.
Renata: Ya.
Renata: Saya mengetahuinya.
Aku menutup klinik jam lima.
Dan aku duduk di mobilku di parkiran selama sebelas menit dengan ponsel di tangan.
Aku punya nomornya sekarang.
Sejak Sabtu dini hari, tergores di semen tembok pembatas atap gudang, sebelas angka, digores berkali-kali sampai tangannya perih di dua tempat.
Dan aku belum menggunakannya.
Empat hari.
Aku ingin mencatat kenapa, karena alasannya bukan yang diperkirakan orang.
Bukan karena gengsi. Aku sudah tidak punya gengsi sejak sesi pertama.
Aku belum menggunakannya karena orang itu menggores nomornya di semen — bukan mengirimnya lewat pesan, bukan menyebutkannya — dan aku sudah dua puluh dua tahun mengenal orang itu dan aku tahu persis apa artinya.
Nomor yang digores ke semen tidak bisa dihapus.
Dan orang yang memberikan sesuatu yang tidak bisa dihapus sedang mengatakan sesuatu yang tidak sanggup dia ucapkan, dan aku tidak mau merusaknya dengan menelepon untuk menanyakan sudah makan atau belum.
Jam lima lewat sebelas, aku mengetik.
sekar: warung nasi padang deket gerbang belakang sekolah. masih ada. jam 7.
Dibaca dalam empat puluh detik.
Andhika: Oke.
Satu kata.
Dan aku menaruh ponsel di jok dan menutup wajah dengan dua tangan dan berteriak sekali di dalam mobilku sendiri di parkiran klinik pada jam lima lewat sebelas menit hari Selasa.
Warung itu masih ada.
Meja kayu panjang, empat buah, dengan bangku tanpa sandaran. Kipas angin di sudut yang bunyinya lebih keras daripada televisi. Etalase kaca dengan piring-piring lauk yang disusun bertingkat.
Dia sampai jam tujuh kurang lima.
Kemeja lengan panjang digulung sampai siku. Tanpa jas.
“Kar.”
“Duduk.”
Dan dia duduk di seberangku, di bangku tanpa sandaran, di warung nasi padang di gang belakang SMA Negeri 4.
“Kamu pesen apa?”
“Terserah.”
“Dhika.”
“Apa aja.”
“Dhika, kamu tuh—” Aku berhenti. “Ya udah. Aku pesenin.”
Dan aku memesan dua, dan aku memesan yang paling mahal di etalase itu untuk dia, dan aku memesan yang biasa untuk aku, dan dia tidak menyadarinya sampai piringnya datang.
Dia makan cepat.
Sebelas tahun, dan itu tidak berubah sedikit pun. Bukan rakus — cepat, efisien, seperti orang yang punya jendela waktu sempit dan sudah terbiasa.
Dan aku memperhatikannya, dan aku tidak berpura-pura tidak memperhatikan.
“Kar.”
“Hm.”
“Kamu ngeliatin.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku suka.”
Dan dia berhenti mengunyah selama kira-kira satu detik, dan telinga kirinya memerah dari bawah ke atas, dan aku minum es teh sambil menatap ke arah lain supaya dia tidak tahu bahwa aku melihatnya.
Kami makan empat puluh menit.
Dan aku akan meringkas isinya, karena isinya biasa saja, dan karena justru itu yang membuatku hampir menangis di warung nasi padang jam setengah delapan malam.
Kami membicarakan hal-hal yang biasa.
Bu Nah sudah meninggal empat tahun lalu; warungnya sekarang dikelola menantunya. Pohon jambu di halaman rumah lamanya sudah ditebang waktu gangnya dilebarkan. Anak Bu Sri yang dulu suka main sepeda sekarang sudah kerja di Surabaya.
Dan dia mendengarkan seluruhnya.
Bukan mendengarkan sopan. Dia bertanya. Dia bertanya nama menantunya Bu Nah, dan dia bertanya kapan gangnya dilebarkan, dan waktu aku bilang tahun berapa dia berkata “berarti setahun setelah saya pergi.”
Empat puluh menit membicarakan gang yang panjangnya delapan puluh meter.
Dan orang itu bertanya lebih banyak dalam empat puluh menit daripada dalam empat sesi asesmen digabung.
Jam setengah sembilan, warungnya mulai sepi.
Piring sudah diangkat. Es teh tinggal es.
Dan dia meletakkan tangan kanannya di atas meja kayu itu.
Telapak menghadap ke atas.
Terbuka.
Dia tidak mengatakan apa pun.
Dia tidak menoleh ke arah tangannya sendiri. Dia menatap ke arah jalan di luar, ke arah motor yang lewat, dan wajahnya tidak berubah sedikit pun.
Dan aku duduk di seberangnya dan menatap tangan itu selama kira-kira delapan detik.
Karena aku sudah mengatakannya empat hari lalu, di lobi klinik: kalau kamu mau naruh tangan kamu kayak gitu di tempat lain, aku ambil.
Dan orang itu mengingatnya.
Tentu saja dia mengingatnya. Orang itu tidak pernah lupa apa pun seumur hidupnya, dan itu penyakitnya, dan malam itu penyakitnya bekerja untukku.
Aku mengambilnya.
Bukan telapaknya.
Aku memegang pergelangan tangannya dengan tangan kiriku — dua jari di bagian dalam, di tempat denyutnya — dan aku menariknya sedikit ke arahku.
Dan aku membalik telapak itu ke atas dengan tangan kananku, dan aku memiringkan badanku ke depan.
Dan aku menciumnya.
Di tengah telapak.
Aku merasakan seluruh lengannya menegang.
Tiga detik.
Dan aku tidak melepaskannya.
Aku mengangkat wajahku sekitar sepuluh sentimeter dan tetap memegang pergelangan tangan itu dan aku berkata — pelan, ke telapak tangannya, karena aku tidak sanggup mengatakannya ke wajahnya:
“Ada yang pernah bilang tangan kamu kasar.”
Dia tidak bergerak.
“Kelas delapan. Kerja bakti. Halaman belakang sekolah.”
Napasnya berhenti. Aku merasakannya lewat pergelangan tangan itu.
“Aku ada di situ, Dhika,” kataku. “Aku berdiri satu setengah meter dari orangnya. Aku denger.”
Dan aku menekan keningku ke telapak tangan itu.
“Dan aku diem.”
Aku ingin mencatat apa yang terjadi berikutnya.
Sebelas tahun lalu, di teras rumahku, aku mengatakan hal yang persis sama kepada orang ini.
Dan waktu itu dia berkata: “Saya nggak inget kamu ada di situ.”
Dan itu bohong. Aku tahu itu bohong. Orang itu tidak pernah lupa apa pun, dan dia berbohong sambil menggenggam tanganku supaya aku bisa berhenti membawa sesuatu yang sudah kubawa empat tahun.
Malam itu, di warung nasi padang, dia tidak mengulangi kebohongan itu.
Dia berkata:
“Iya. Saya tau kamu di situ.”
Aku mengangkat wajah.
“...Kamu tau?”
“Iya.”
“Dari kapan?”
“Dari hari itu.”
Dan aku duduk di bangku tanpa sandaran di warung nasi padang jam setengah sembilan malam dengan tangan orang itu masih di dalam tanganku.
“Terus sebelas tahun lalu kamu bilang nggak inget.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan dia menoleh ke arahku — sepenuhnya, badannya ikut berputar, gerakan yang cuma kulihat lima kali seumur hidupku — dan berkata:
“Karena waktu itu kamu udah nangis empat menit, Kar, dan saya nggak punya apa-apa lagi buat dikasih.”
Aku menangis di warung nasi padang.
Menantunya Bu Nah melihat dan tidak berkata apa-apa dan menambah es teh-ku tanpa diminta, dan aku akan mengingat perempuan itu seumur hidupku.
Dan waktu aku selesai, aku masih memegang tangan itu, dan dia masih membiarkannya, dan aku berkata:
“Dhika.”
“Hm.”
“Sekarang aku nggak punya alesan lagi buat ketemu kamu.”
“Iya.”
“Sesi lima sama enam dibatalin.”
“Saya tau. Suratnya tembusan ke saya.”
“Jadi kalau aku mau ketemu kamu lagi—”
Dan dia memotong.
Orang itu memotong kalimatku, yang mana adalah hal yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya kepada siapa pun.
“Kar.”
“Iya.”
“Besok jam berapa?”
Hari 26. Sisa 4.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu reading
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu