Chapter Twenty One
Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
POV: Sekar
Aku sampai lobi hotel jam sebelas kurang.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak merencanakannya.
Aku pulang dari klinik jam tujuh. Aku makan. Aku mandi. Aku duduk di kamar dan membuka laptop untuk menyelesaikan tiga rekam medis yang tertunda, dan aku menyelesaikan satu, dan jam sepuluh lewat aku berdiri dan mengambil kunci mobil.
Aku tidak berganti baju.
Kaus, celana panjang, sandal. Rambut diikat asal. Wajah tanpa apa pun.
Dua puluh delapan tahun, dokter spesialis, dan aku menyetir ke hotel orang jam sepuluh lewat malam dengan sandal jepit.
Aku tahu hotelnya dari Bu Ratna.
Bukan bertanya. Aku tidak bertanya apa pun kepada siapa pun tentang orang itu, karena aku sudah bersumpah tidak akan pernah lagi mencari tahu tentang seseorang lewat orang ketiga — aku sudah pernah melakukannya selama sebelas tahun dan hasilnya nol.
Bu Ratna menyebutkannya sendiri, hari Rabu, di koridor sayap belakang, sambil menempel label.
“Kasihan lho, Dok, Pak Andhika itu. Tiap hari jalan kaki dari hotel ke sini. Padahal dua kilo.”
“Hotelnya di mana, Bu?”
“Yang di depan pasar itu, yang ijo.”
Sembilan detik.
Sebelas tahun aku tidak punya satu pun cara untuk menghubungi orang itu, dan aku mendapatkan alamatnya dari ibu-ibu tata usaha yang sedang menempel label dan sedang tidak memikirkan apa pun.
Lobinya kecil.
Empat sofa, satu meja resepsionis, televisi menyala tanpa suara di sudut. Bau pengharum ruangan yang terlalu manis.
Resepsionisnya laki-laki muda yang sedang main ponsel.
“Selamat malam, Mbak. Ada yang bisa dibantu?”
“Nggak, Mas. Saya nunggu orang.”
“Oh, silakan.”
Dan aku duduk di sofa paling ujung, menghadap pintu lift, dan aku mengeluarkan ponselku.
Aku tidak punya nomornya.
Aku ingin mencatat itu juga, karena itu penting, dan karena itu satu-satunya hal yang tidak kuubah sejak hari pertama.
Dia belum menawarkan.
Dan aku tidak akan meminta.
Jadi aku melakukan hal berikut.
Aku menelepon nomor depan hotel — nomornya ada di kartu di meja resepsionis, dua meter dari tempatku duduk — dan aku berkata:
“Selamat malam. Bisa tolong sambungkan ke kamar Bapak Andhika Pratama?”
Resepsionis di depanku mengangkat telepon dan menoleh ke arahku dan aku tersenyum kepadanya dan dia terlihat bingung selama dua detik penuh sebelum dia menyambungkan.
Nada sambung.
Empat kali.
Lalu berhenti.
“Halo.”
Suaranya.
Dan aku duduk di sofa lobi hotel yang bau pengharum ruangannya terlalu manis, jam sebelas kurang lima, dan aku berkata:
“Aku di bawah.”
Hening di seberang selama kira-kira dua detik.
“Kar.”
“Turun kalau mau,” kataku. “Kalau nggak, aku pulang jam satu.”
Dan aku menutup teleponnya.
Aku ingin menuliskan dua jam berikutnya dengan tepat.
23.00. Aku duduk di sofa.
23.15. Resepsionis menawarkan teh. Aku menolak.
23.30. Resepsionis menawarkan teh lagi. Aku menerima.
23.40. Aku melihat ke luar jendela lobi, ke arah gedung dari luar, dan aku menghitung lantainya.
Lantai sembilan.
Ada lampu menyala di jendela ketiga dari kiri.
23.55. Lampu itu masih menyala.
00.10. Masih.
00.25. Masih.
00.30. Aku mengirim pesan ke grup.
sekar: aku di lobi hotelnya
Tamara membaca dalam empat detik. Jam setengah satu pagi.
tamara: KAR
sekar: udah satu setengah jam
tamara: dia nggak turun?
sekar: belom
tamara: kamu mau aku telfon dia?
sekar: kamu punya nomornya?
tamara: enggak
tamara: kamu?
sekar: enggak
Dan tidak ada yang mengetik selama satu menit penuh.
Lalu Renata masuk — jam setengah satu pagi, orang yang bangun jam setengah lima setiap hari selama enam tahun:
Renata: Saya punya.
Aku menatap layar itu di sofa lobi hotel yang bau pengharum ruangannya terlalu manis.
Renata: Nomor kantornya ada di surat undangan wawancara.
Renata: Apakah Anda menghendaki saya mengirimkannya?
Dan aku mengetik jawabannya dengan cepat, tanpa berpikir, dan aku tidak menyesalinya sampai sekarang:
sekar: jangan
tamara: HAH kenapa
sekar: karena kalau aku dapet nomornya dari kalian, aku nggak akan pernah tau apakah dia bakal ngasih sendiri
Renata: Itu tidak rasional.
sekar: iya
sekar: aku nunggu sebelas tahun buat sesuatu yang nggak rasional, ren. lima puluh menit lagi nggak akan bikin aku mati
00.40.
Pintu lift terbuka.
Aku tidak memikirkan apakah dia akan turun.
Aku sudah tahu dia akan turun.
Aku sudah dua puluh dua tahun mengenal orang itu dan aku tahu persis bahwa dia tidak sanggup membiarkan seseorang menunggu, dan bahwa itu bukan kebaikan melainkan sesuatu yang jauh lebih rusak — orang yang tidak sanggup membiarkan orang lain menunggu adalah orang yang pernah menunggu terlalu lama sendirian.
Yang kupikirkan adalah berapa lama.
Karena berapa lama itu yang memberitahuku sesuatu.
Kalau dia turun dalam lima menit, artinya dia tidak berpikir.
Kalau dia turun dalam sembilan puluh menit—
00.40.
Pintu lift terbuka.
Sebelum aku menuliskan apa yang terjadi berikutnya, aku ingin mencatat apa yang kupikirkan selama sembilan puluh menit itu, karena jawabannya bukan yang diperkirakan orang.
Aku tidak memikirkan apakah dia akan turun.
Aku sudah tahu dia akan turun.
Aku sudah dua puluh dua tahun mengenal orang itu dan aku tahu persis bahwa dia tidak sanggup membiarkan seseorang menunggu, dan bahwa itu bukan kebaikan melainkan sesuatu yang jauh lebih rusak — orang yang tidak sanggup membiarkan orang lain menunggu adalah orang yang pernah menunggu terlalu lama sendirian.
Yang kupikirkan adalah berapa lama.
Karena berapa lama itu yang memberitahuku sesuatu.
Kalau dia turun dalam lima menit, artinya dia tidak berpikir.
Kalau dia turun dalam sembilan puluh menit — artinya dia berpikir, dan berpikirnya kalah.
Kaus oblong. Celana pendek. Sandal hotel.
Rambutnya berantakan di satu sisi, yang berarti dia sudah berbaring, yang berarti dia sudah mencoba tidur, yang berarti sembilan puluh menit itu dihabiskan di tempat tidur dengan lampu menyala.
Dan aku berdiri dari sofa dan berjalan ke arahnya dan berhenti.
Terlalu dekat.
Jarak yang tidak akan diambil dua orang yang tidak berpacaran, dan yang aku ambil dengan sengaja, dan yang aku ukur di kepalaku sebelum aku melangkah.
“Kar.”
“Kamu ngeliatin dari jendela ya.”
“Enggak.”
“Lantai sembilan, jendela ketiga dari kiri,” kataku. “Lampunya nyala dari jam sebelas kurang. Mati jam dua belas dua puluh.”
Dia tidak menjawab.
Dan aku mengangkat tangan dan menepuk dadanya satu kali dengan telapak — pelan, sekali, seperti orang memeriksa apakah dinding ini betulan ada.
“Empat puluh menit, Dhika,” kataku. “Kamu itung sampe empat puluh menit.”
Dia tidak mundur.
Aku ingin mencatat itu, karena itu bagian yang paling penting dari seluruh malam itu.
Telapak tanganku masih di dadanya. Dua detik. Tiga.
Dan orang yang selama dua puluh dua tahun memasukkan tangannya ke saku setiap kali ada manusia dalam radius satu meter tidak bergerak sama sekali.
Aku menarik tanganku.
“Ayo,” kataku.
“Ke mana?”
“Ganti baju dulu. Sepuluh menit.”
“Kar—”
“Sepatu yang bisa manjat.”
Dan aku berbalik dan berjalan ke pintu lobi dan duduk di kursi plastik di teras hotel itu tanpa menoleh sekali pun.
Dia turun sembilan menit kemudian.
Kemeja, celana panjang, sepatu kets yang solnya sudah tipis di bagian dalam — sepatu yang sama, aku bersumpah, jenisnya sama persis dengan yang dia pakai umur tujuh belas, dan aku tidak tahu apakah itu kebetulan atau apakah orang seperti dia memang membeli barang yang sama seumur hidupnya.
“Kar.”
“Hm.”
“Ke mana?”
Dan aku menyalakan mesin mobil dan berkata:
“Kamu udah tau.”
Dia tidak bertanya lagi.
Kami menyetir dua puluh dua menit.
Jam satu pagi. Jalan kosong. Lampu merah yang berkedip kuning.
Dan tidak ada yang bicara sampai perempatan terakhir, di mana dia berkata satu hal:
“Kar.”
“Hm.”
“Kamu nggak nanya kenapa saya empat puluh menit.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
Dan aku memutar setir ke kiri, ke arah jalan yang aku lewati setiap hari selama tiga tahun waktu aku berumur enam belas, dan berkata:
“Karena aku udah tau jawabannya, dan jawabannya bikin aku pengen nangis, dan aku lagi nyetir.”
Aku memarkir mobil di seberang jalan, seratus meter dari gerbang.
Aku mematikan mesin.
Dan sebelum turun, aku menoleh ke arahnya.
“Dhika.”
“Hm.”
“Aku mau bilang sesuatu, terus abis itu kamu boleh milih.”
Dia menunggu.
“Aku bakal ngelakuin sesuatu malem ini yang nggak boleh,” kataku. “Nggak boleh sama komite etik, nggak boleh sama kantor kamu, nggak boleh sama satpam sekolah, dan nggak boleh sama umur dua puluh delapan.”
“Kar—”
“Dan kamu boleh nggak ikut,” kataku. “Aku serius. Kamu boleh duduk di mobil, dan aku bakal naik sendiri, dan aku bakal turun setengah jam lagi dan aku bakal anter kamu balik ke hotel dan besok kita nggak bahas ini lagi.”
Aku memegang kunci mobil di tanganku.
“Aku nggak akan marah. Aku nggak akan kecewa. Aku udah sebelas tahun nggak ngasih kamu satu pun pilihan yang beneran, dan aku nggak mau ngulang.”
Dia diam.
Dan lalu dia membuka pintu mobil, dan turun, dan berdiri di trotoar jam satu pagi menghadap pagar SMA Negeri 4.
“Kar.”
“Hm.”
Dan dia berkata:
“Yang bagian samping. Deket pohon.”
Aku menoleh cepat.
“Pohonnya udah ditebang.”
“Iya,” katanya. “Tapi temboknya masih rendah di situ.”
Hari 24. Sisa 6.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga reading
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu