Chapter Twenty Two
Enam Baris
POV: Sekar
Temboknya seratus tujuh puluh sentimeter di bagian samping.
Aku seratus lima puluh dua.
Dan aku memanjatnya dengan rok? Tidak. Aku memakai celana panjang, aku sudah memikirkannya sejak jam sepuluh, dan itu satu-satunya bagian dari malam itu yang direncanakan.
Yang tidak kurencanakan adalah bahwa aku tidak sampai.
Aku mencoba dua kali. Kedua kalinya jariku sampai ke ujung tembok dan kakiku tidak menemukan apa pun dan aku turun lagi.
“Kar.”
“Bentar.”
“Kar.”
“BENTAR.”
Dan dia menunggu selama percobaan ketiga, dan percobaan ketiga juga gagal, dan lalu dia berjalan ke tembok itu dan berdiri membelakanginya dan menangkupkan kedua tangannya di depan lutut.
“Naik.”
Aku menatapnya.
“Aku berat.”
“Empat puluh enam.”
“...Kamu tau berat badan aku?”
“Empat puluh tiga waktu SMA. Kamu naik tiga kilo.”
Dan aku berdiri di trotoar jam satu pagi menghadap orang yang baru saja menyebutkan berat badanku dari sebelas tahun lalu dengan nada orang yang membacakan nomor telepon, dan aku tidak tahu apakah aku ingin memukulnya atau menangis.
Aku naik.
Telapak tangannya keras di bawah sepatuku, dan dia mengangkat tanpa satu pun suara, dan aku sampai ke atas tembok dalam dua detik.
Dia menyusul sendiri dalam empat detik.
Sebelas tahun kerja kantoran, dan orang itu memanjat tembok seratus tujuh puluh sentimeter dengan satu tarikan seperti orang mengangkat rim kertas.
Kami turun di sisi dalam.
Halaman sekolah jam satu pagi.
Aku ingin mencatat bagaimana rasanya, karena aku sudah masuk ke sekolah ini dua kali sebulan selama empat tahun dan aku belum pernah sekali pun merasakan yang ini.
Siang hari, sekolah adalah sekolah.
Jam satu pagi, sekolah adalah bangunan besar yang kosong yang kebetulan menyimpan seluruh masa remajamu di dalamnya.
Lapangan. Tiang bendera. Koridor kelas sepuluh.
Aku berhenti di depan papan pengumuman di dekat ruang OSIS.
Papan itu masih di tempat yang sama. Isinya sudah beda — sekarang ada QR code, dan poster lomba, dan pengumuman yang diketik dengan huruf berwarna.
Dan di sisi kiri, di bagian yang tidak pernah diganti karena tidak ada yang merasa berkepentingan menggantinya, masih ada satu hal.
Denah sekolah.
Dicetak tahun 2009. Laminasinya sudah menguning dan mengelupas di sudut.
Aku menyalakan senter dan mencarinya.
Gedung utama. Lapangan. Laboratorium.
Dan di belakang laboratorium, sebuah kotak polos berlabel GUDANG — tanpa pintu, tanpa akses, tanpa satu pun garis yang menunjukkan bahwa ada tangga besi di sisi kanannya.
Dua puluh dua tahun.
Tidak ada satu pun orang di sekolah ini yang pernah memperbaiki denah itu, dan tidak ada satu pun orang di sekolah ini yang pernah butuh.
“Kar.”
Aku mematikan senter.
“Bentar.”
“Kamu ngapain?”
Dan aku berkata:
“Ngecek apakah tempat kita masih nggak ada.”
Dia berjalan di sebelahku dan tidak melihat ke satu pun dari itu.
Dia berjalan lurus, dengan panjang langkah yang identik satu sama lain, seperti orang yang sedang menuju ruang rapat.
“Dhika.”
“Hm.”
“Kamu nggak liat sekeliling.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
Dan dia menjawab, tanpa memperlambat langkah:
“Karena kalau saya liat, saya bakal berhenti.”
Koridor laboratorium.
Lima puluh empat langkah. Lampu mati semua.
Gudang di ujungnya, pintunya digembok, dan di sisi kanannya tangga besi.
Aku naik duluan.
Anak tangga kelima berbunyi setengah, dan bunyinya terdengar sampai ke lapangan, dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mendengarnya.
Anak tangga kedelapan tidak bergerak sama sekali.
Aku berhenti di sana.
“Dhika.”
“Hm.”
“Ini kamu yang benerin?”
Dan dari bawah, dari empat anak tangga di belakangku, dia berkata:
“Iya.”
“Kapan?”
“Minggu lalu.”
“Kenapa?”
Dan dia berkata:
“Ada yang masih naik.”
Aku tidak bisa menjawab apa pun selama beberapa detik.
Jadi aku naik.
Di atas, angin jam satu pagi jauh lebih dingin daripada yang kuingat.
Aku berjalan ke sudut timur laut dan duduk di sana, di tempat yang sama, di posisi yang sama seperti dua ratus tiga puluh kali sebelumnya.
Dan dia berdiri di ujung tangga dan tidak bergerak.
“Duduk,” kataku.
“Kar.”
“Duduk, Dhika.”
Dan dia berjalan ke sudut timur laut dan berhenti kira-kira satu meter dariku, dan lalu dia berbelok, dan duduk di tepi — di sisi tembok pembatas, menghadap tangga.
Persis seperti sebelas tahun lalu.
Hari itu dia pindah ke tepi supaya Tamara dapat sudutnya, dan supaya dia bisa melihat siapa yang naik.
Dan malam itu dia melakukannya lagi, di tempat yang sama, dengan alasan yang sudah tidak ada lagi.
“Dhika.”
“Hm.”
“Sudutnya kosong.”
“Iya.”
“Kamu nggak mau duduk di situ?”
Dan dia menoleh ke sudut timur laut — ke bayangan tembok, ke tempat yang tidak kena angin, ke sudut terbaik di atap ini — dan berkata:
“Nanti.”
Aku mengeluarkan senter kecil dari saku.
Bukan senter ponsel. Senter kecil yang selalu kubawa karena aku dokter dan karena aku memeriksa pupil orang.
Aku berdiri. Aku berjalan ke sudut barat daya.
“Sini.”
“Kar—”
“Dhika, sini.”
Dan dia berdiri, dan dia berjalan, dan dia berhenti di belakangku.
Aku jongkok di depan tembok pembatas, di bagian bawah yang tertutup bayangan, dan aku menyalakan senter itu.
Enam baris.
09.50 — 10.10 12.40 — 12.55 15.10 — 16.00 + 00.00 — 24.00 KAR [alamat] ___________ ?
Dia jongkok di sebelahku.
Dan aku tidak menoleh, karena aku tidak sanggup menoleh, jadi aku bicara ke arah tembok.
“Yang tiga baris pertama kamu yang gores,” kataku. “Bulan Oktober dan November, sebelas tahun lalu. Yang tanda tambah kecil itu waktu Tamara mulai naik.”
Dia tidak menjawab.
“Yang keempat kami bertiga. Seminggu setelah kamu berhenti naik. Kami gores gantian pake kunci, dan hasilnya jelek, dan kami nggak peduli.”
“Kar—”
“Yang kelima aku. Seminggu setelah kamu pergi.”
Aku menggeser senter itu turun satu baris.
“Yang keenam aku gores hari Rabu kemarin.”
Dia diam.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
Dan aku jongkok di sana dengan senter di tangan dan tangan yang mulai gemetar karena dingin atau karena bukan dingin, dan aku menunggu.
“Kar.”
“Hm.”
“Yang keenam itu kosong.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Karena kalau aku tulis ‘nomor telepon aku berapa’, itu jadi permintaan.”
Aku mematikan senter.
Gelap.
“Dan kalau aku bikin garis kosong,” kataku, “itu jadi tempat.”
Kami jongkok di sana dalam gelap.
Aku bisa mendengar napasnya. Aku selalu bisa mendengar napasnya; itu satu-satunya hal tentang orang ini yang tidak pernah dia sembunyikan karena dia tidak tahu caranya.
Dan lalu ada cahaya.
Senter ponselnya.
Dia menyalakannya dan meletakkannya di lantai semen menghadap ke atas, sehingga cahayanya memantul di langit dan tidak menyilaukan siapa pun, dan itu adalah hal yang cuma dilakukan orang yang sudah biasa bekerja dalam gelap.
Dan dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Kunci.
Bukan kunci mobil. Kunci hotel — yang bentuknya masih kunci betulan, dengan gantungan plastik bernomor, karena hotel itu tidak punya kartu.
Dan dia mengangkat kunci itu ke arah tembok pembatas.
Hari 25. Sisa 5.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris reading
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu