← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Twenty Three

Yang Tidak Rata

POV: Andhika


Aku menggores sebelas angka di bawah garis kosong itu.

Butuh empat menit. Kunci hotel bukan alat yang bagus untuk menggores semen, dan ujungnya tumpul, dan aku harus mengulang setiap angka tiga sampai empat kali supaya terbaca.

Tanganku perih di dua tempat.

Dan waktu selesai, aku menggeser senter ponsel supaya cahayanya jatuh ke baris itu, dan aku memeriksanya.

Angka keempat kurang dalam.

Aku mengulangnya dua kali lagi.

Dan lalu aku memeriksanya sekali lagi, dan barulah aku berhenti, dan barulah aku sadar bahwa ada orang yang sedang menonton aku sejak empat menit yang lalu tanpa mengatakan satu kata pun.


“Dhika.”

“Hm.”

“Kamu ngulang angka keempat.”

“Kurang dalem.”

“Kurang dalem dibanding apa?”

Dan aku menoleh, dan Sekar Widyaningsih jongkok di sebelahku di lantai semen atap gudang jam setengah dua pagi dengan wajah yang basah di dua sisi, dan dia tersenyum.

“Dibanding yang lain,” kataku.

“Iya. Aku tau.” Dia menyeka wajahnya dengan punggung tangan, sekali, cepat. “Aku cuma pengen denger kamu ngomongnya.”


Aku ingin mencatat sesuatu di sini yang tidak akan kucatat di tempat lain.

Aku tahu apa yang sedang dia lakukan.

Aku sudah tahu sejak dia menyebutkan garis kosong itu. Aku sudah tahu sejak dia berkata kalau aku tulis nomor telepon, itu permintaan; kalau aku bikin garis kosong, itu tempat.

Perempuan itu menyusun sebuah perangkap yang isinya satu variabel saja, yaitu bahwa aku tidak sanggup membiarkan sesuatu tidak rata.

Dan dia benar.

Dan aku mengetahui bahwa dia benar, dan aku mengetahui bahwa aku sedang berjalan ke dalamnya, dan aku tetap menggoresnya.

Itu bagian yang tidak dia perhitungkan, dan itu bagian yang tidak akan pernah kuceritakan:

Aku bisa berhenti.

Aku bisa mengatakan nanti saya kirim lewat pesan, dan itu wajar, dan dia tidak akan bisa membantah apa pun.

Aku menggoresnya ke semen supaya tidak bisa dihapus.


“Dingin,” katanya.

“Iya.”

“Aku bawa apa-apa nggak ya.”

Dan dia berdiri dan berjalan ke tasnya di sudut timur laut dan mengeluarkan sesuatu, dan aku mengenalinya dari jarak enam meter dalam gelap.

Kotak plastik biru.

Tutupnya retak di satu sisi.

Aku berdiri.


“Kar.”

“Hm.”

“Itu—”

“Iya.”

“Kamu bawa itu ke sini?”

“Tiap Rabu.” Dia duduk kembali di sudut timur laut dan membuka tutupnya. “Dua kali sebulan. Sebelas tahun.”

Aku berdiri di tengah atap gudang itu dan tidak bisa bergerak.

“Isinya nasi, telur, sayur,” katanya. “Malem ini nggak ada isinya, jadi maaf ya.”

“Kar.”

“Aku bawa termos juga. Ada teh. Nggak enak, tapi anget.”

“Kar.”

“Duduk, Dhika.”


Aku duduk.

Bukan di tepi.

Di sudut timur laut, di sebelah kirinya, di tempat yang kutinggalkan sebelas tahun yang lalu.

Bayangan tembok pembatas tidak berguna jam setengah dua pagi, tapi anginnya tetap tidak sampai, dan itu masih sudut terbaik di atap ini.

Dia menuangkan teh ke tutup termos dan menyerahkannya kepadaku.

“Kamu duluan.”

“Kamu aja.”

“Dhika.”

“Kar—”

“Kamu tuh.” Dia menaruh tutup termos itu di lantai di antara kami. “Kamu tuh tiap kali dikasih sesuatu, mikirnya orang yang ngasih bakal kekurangan.”

Aku tidak menjawab.

“Aku bawa satu termos penuh,” katanya. “Buat dua orang. Aku ngitung.”


Aku minum.

Tehnya memang tidak enak. Terlalu manis, dan sudah dingin di bagian atas.

Aku menghabiskannya.

Dan Sekar Widyaningsih menuangkan lagi tanpa bertanya, dan menyodorkannya lagi, dan aku menghabiskannya lagi, dan waktu tutup termos itu kosong untuk yang ketiga kalinya dia berkata:

“Kamu belum makan malem.”

Bukan pertanyaan.

“Iya.”

“Dari kapan?”

“Siang.”

Dan dia tidak berkomentar apa pun. Dia tidak berkata ya ampun, tidak berkata kamu harus makan, tidak mengeluarkan satu pun kalimat yang selama sebelas tahun dikatakan kepadaku oleh Pak Yatno dan oleh Pak Wira dan oleh empat orang lain yang berniat baik.

Dia cuma menuangkan teh keempat.


Dan lalu dia bergerak.

Aku ingin mencatat ini dengan tepat karena aku sudah memeriksanya berkali-kali sejak malam itu dan aku ingin memastikan aku tidak menambahkan apa pun.

Dia berdiri.

Dia berjalan ke depanku — dua langkah — dan dia berbalik membelakangiku.

Dan dia duduk.

Di antara kakiku, di lantai semen, punggungnya ke dadaku, kepalanya di bawah daguku, menghadap ke arah yang sama seperti aku.

Ke arah atap-atap rumah di kejauhan.


Aku kaku.

Total.

Seluruh tubuhku berhenti, sekaligus, dan aku bisa merasakannya terjadi dan aku tidak bisa menghentikannya.

Aku tidak bernapas selama — aku menghitungnya, karena tentu saja aku menghitungnya — sembilan detik.

Dan dia tidak bergerak sedikit pun.

Tidak menoleh. Tidak berkata apa-apa. Tidak melakukan satu pun hal yang akan dilakukan orang normal untuk menyelamatkan situasi.

Dia menunggu.


Menit pertama.

Aku menyusun tiga kalimat untuk keluar dari situasi ini, dan ketiganya benar, dan ketiganya sopan.

Dok, ini nggak boleh. Kar, saya harus balik. Besok saya ada rapat jam delapan.

Aku tidak mengucapkan satu pun.

Menit kedua.

Anginnya berhenti. Ada suara motor di kejauhan, satu, dan lalu tidak ada apa-apa lagi.

Dan aku menurunkan daguku ke atas kepalanya.

Dan aku melingkarkan kedua lenganku di depan perutnya, dan aku menutup mata.


Aku tidak bisa menuliskan apa yang terjadi berikutnya, karena tidak ada yang terjadi.

Kami duduk seperti itu selama dua puluh menit.

Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada satu pun kalimat yang diucapkan di atas atap gudang itu selama dua puluh menit.

Dan aku menghabiskan seluruh dua puluh menit itu dengan satu hal saja di kepalaku, dan hal itu bukan tentang perempuan yang duduk di antara kakiku.

Aku menghitung.

Aku menghitung berapa kali dalam dua puluh delapan tahun aku pernah berada dalam kondisi di mana aku tidak sedang mengerjakan sesuatu, tidak sedang menuju sesuatu, dan tidak sedang menghitung sisa sesuatu.

Aku menghitungnya tiga kali.

Hasilnya nol.

Nol kali.

Dua puluh delapan tahun.


“Dhika.”

“Hm.”

“Kamu ngitung.”

“Iya.”

“Ngitung apa?”

Dan aku berkata, ke atas kepalanya, dengan suara yang tidak seperti suaraku sendiri:

“Nol.”

“Nol apa?”

“Nol kali.”

Dan dia tidak bertanya lagi.

Dia mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di atas lenganku yang melingkar di depan perutnya, dan dia tidak menggenggam apa pun, dan dia cuma meletakkannya di sana.

Dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang belum pernah kurasakan seumur hidupku dan yang tidak bisa kumasukkan ke kategori mana pun, dan yang paling mendekati adalah:

Aku sedang tidak menghitung apa-apa, dan tidak ada yang rusak karenanya.


Kami turun jam tiga kurang.

Anak tangga kedelapan tidak bergerak sama sekali.

Dia menyetir. Aku duduk di jok penumpang. Dua puluh dua menit ke hotel.

Dan di depan lobi, sebelum aku turun, dia berkata:

“Dhika.”

“Hm.”

“Aku nggak akan minta kamu ngomong apa-apa malem ini.”

“Kar—”

“Tapi aku mau kamu tau satu hal.” Dia memegang setir dengan dua tangan dan menghadap ke depan. “Aku nggak ngelakuin ini biar kamu tinggal.”

Aku menoleh.

“Aku ngelakuin ini biar kalau kamu pergi lagi,” katanya, “kamu pergi sambil tau.”

“Tau apa?”

Dan Sekar Widyaningsih menoleh ke arahku di dalam mobil yang berhenti di depan lobi hotel jam tiga kurang pagi, dan berkata:

“Bahwa ada yang nungguin. Sebelas tahun kamu nggak tau. Sekarang kamu tau.”


Aku naik ke kamar lantai sembilan.

Aku tidak menyalakan lampu.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan mengeluarkan ponsel, dan aku membuka kontak, dan aku menambahkan satu nomor baru.

Delapan puluh empat kontak.

Delapan puluh tiga pekerjaan. Satu Ibu.

Dan yang kedelapan puluh empat.

Aku menatap kolom nama selama beberapa detik.

Dan aku mengetik satu kata:

Kar


Aku berbaring jam tiga lewat.

Dan aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan di kamar hotel mana pun selama delapan tahun perjalanan dinas.

Aku tidak memasang alarm.

Rapat pembahasan laporan jam sembilan pagi. Aku sudah menyiapkan seluruh materinya sejak hari Jumat, dan aku hafal isinya, dan aku tidak butuh membaca ulang apa pun.

Aku bangun jam enam empat puluh tanpa alarm, sebagaimana yang kulakukan setiap hari sejak umur sebelas tahun.

Dan sambil duduk di tepi tempat tidur, aku menghitung.

Empat jam tiga puluh menit.

Bukan empat jam. Empat jam tiga puluh.

Selisihnya tiga puluh menit dari rata-rata sebelas tahun terakhir, dan tiga puluh menit itu adalah angka terbesar yang pernah kucatat, dan aku duduk di tepi tempat tidur kamar hotel lantai sembilan selama beberapa saat memandangi angka itu di kepalaku.

Lalu aku mandi, dan memakai jas, dan memeriksa dasiku di cermin.

Lurus.

Aku memeriksanya dua kali.


Hari 25. Sisa 5.