← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Forty Six

[Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa

POV: Tamara


Rapatnya hari Rabu jam sepuluh pagi.

Bukan di Jakarta. Di kantor yayasan, di kota kami, dan aku terbang tujuh jam dengan satu kali transit untuk hadir di ruangan yang berjarak delapan ratus meter dari sekolah tempat aku menghabiskan tiga tahun.

Aku sampai jam sembilan lewat dua puluh.

Dan aku memakai apa yang kupakai selama sembilan hari terakhir: kemeja polos, celana panjang, rambut diikat, tanpa riasan.

Vina hampir menangis waktu melihatku di bandara.

“Mbak, setidaknya bedak—”

“Nggak, Vin.”

“Mbak, itu ruangan isinya sebelas orang.”

“Aku tau.”

“Mereka semua bakal—”

Dan aku berkata:

“Vin, kalau aku dandan, mereka bakal ngeliatin muka aku. Aku nggak mau mereka ngeliatin muka aku hari ini.”


Aku mendapat rapat itu dengan satu kalimat.

Aku menuliskannya empat malam sebelumnya, dan aku menyusunnya selama tiga jam, dan aku mengirimnya ke humas yayasan lewat surel pukul dua pagi.

Sebagai brand ambassador program beasiswa Yayasan Pendidikan Bhakti Utama, saya menerima informasi mengenai pelaksanaan program kerja sama yayasan di sektor kesehatan yang berpotensi memengaruhi narasi publik seluruh program yayasan. Saya memohon waktu untuk menyampaikannya secara langsung sebelum informasi tersebut sampai ke pihak lain.

Aku membacanya kepada Andhika lewat telepon sebelum mengirim.

“Gimana?”

Dan dia diam tiga detik.

“Kalimat terakhirnya.”

“Kenapa?”

“‘Sebelum informasi tersebut sampai ke pihak lain.’”

“Itu jelek?”

Dan dia berkata:

“Itu ancaman.”

Dan aku duduk di lantai kamar penginapan dengan laptop di pangkuan.

“Ndhik, aku emang butuh mereka takut.”

“Iya. Dan mereka bakal takut.”

“Terus masalahnya apa?”

Dan Andhika Pratama berkata:

“Orang yang takut nggak ngasih kamu dokumen. Orang yang takut manggil pengacara.”


Aku mengubahnya.

Dan versi yang kukirim jam dua pagi berbunyi:

...Saya memohon waktu untuk menyampaikannya langsung, karena saya menilai temuan ini justru menunjukkan bahwa yayasan dirugikan oleh ketidaklengkapan pelaksanaan di lapangan.

Balasannya masuk jam sembilan pagi.

Sembilan pagi. Tujuh jam.


Ruang rapat besar. Meja oval. Sebelas orang.

Pak Suryadi di ujung. Enam puluh empat tahun, kemeja batik, jam tangan yang harganya empat kali gaji bulanan guru honorer di sekolah yang dia naungi.

Dan dia berdiri untuk menyalamiku, dan dia melakukannya dengan hangat dan lama dan tidak dibuat-buat, dan aku menyalami sepuluh orang lainnya.

“Mbak Tamara, silakan.”

Dan aku berdiri.


Aku ingin mencatat apa yang terjadi di dalam tubuhku selama tiga detik pertama.

Aku sudah berdiri di depan seratus dua puluh orang di aula. Aku sudah berdiri di depan empat puluh kamera. Aku sudah menerima tiga puluh delapan penghargaan di atas panggung yang disiarkan langsung.

Dan aku belum pernah setakut ini seumur hidupku.

Karena di semua ruangan itu, yang mereka lihat adalah wajahku, dan aku tahu persis apa yang harus dilakukan wajahku.

Di ruangan ini tidak ada yang peduli pada wajahku.

Di ruangan ini yang ada cuma sebelas orang yang menunggu aku mengatakan sesuatu yang masuk akal.


Aku bicara dua puluh dua menit.

Dan aku tidak memakai satu pun slide, karena aku tidak punya, karena aku tidak sempat membuatnya, dan karena orang yang mengajariku selama sembilan hari juga tidak pernah memakainya.

Menit 1–4. Angkanya. Kuota 340, realisasi 96 sampai triwulan tiga. Selisih 244.

Menit 4–9. Tiga puluh satu wawancara di lobi. Dua puluh dua dari tiga puluh satu tidak tahu programnya ada. Tujuh puluh satu persen.

Menit 9–14. Pasal 8 PKS. Kewajiban sosialisasi dua kali setahun. Biaya ditanggung yayasan.

Menit 14–19. Tiga surat permohonan pencairan anggaran sosialisasi dari rumah sakit. Tahun berbeda. Tidak satu pun dibalas.

Aku meletakkan salinannya di meja.

Menit 19–22. Dan di sinilah aku mengucapkan kalimat yang kususun bersama Andhika selama satu jam empat puluh menit lewat telepon pada malam Selasa.


“Bapak-bapak, Ibu-ibu,” kataku. “Saya bukan auditor. Saya nggak punya kewenangan apa pun di sini, dan saya sadar itu.”

Sebelas orang menatapku.

“Dan saya nggak lagi nuduh siapa-siapa. Saya nggak nemuin satu pun bukti bahwa ada uang yang hilang.”

Aku memegang tepi meja.

“Yang saya temuin adalah tiga surat yang nggak dibales.”

Aku menoleh ke Pak Suryadi.

“Dan yang bikin saya berdiri di sini hari ini bukan tiga surat itu, Pak. Yang bikin saya berdiri di sini adalah kalimat yang diucapin sama staf keuangan rumah sakit yang ngirim ketiganya.”

Dan aku mengulanginya, kata per kata:

“Ngejar ke mana, Mbak? Saya staf keuangan rumah sakit kabupaten. Yayasannya di Jawa.”


Ruangan itu diam.

“Pak Suryadi,” kataku. “Bapak nggak tau soal ini kan?”

Dan Pak Suryadi — dan aku mengamati wajahnya, karena aku sudah sembilan hari belajar mengamati orang, dan karena aku sudah sebelas tahun tidak pernah sekali pun benar-benar mengamati siapa pun —

Pak Suryadi berkata:

“Nggak tau, Mbak.”

“Bapak yakin?”

“Yakin.” Dan beliau melepas kacamatanya. “Saya nggak pernah baca surat dari rumah sakit.”

“Kenapa, Pak?”

Dan beliau berkata:

“Karena surat dari mitra masuknya ke bagian program, bukan ke saya.”


Dan aku berdiri di ruangan itu dan mengucapkan kalimat terakhir yang kususun, dan yang paling penting dari dua puluh dua menit itu, dan yang aku ulangi lima kali di depan cermin kamar penginapan malam sebelumnya:

“Pak, saya nggak minta Bapak nyari siapa yang salah.”

Sebelas orang menoleh.

“Saya minta Bapak bikin supaya surat kayak gitu nggak bisa nggak dibales.”


Rapat berlangsung satu jam lima puluh menit.

Aku tidak akan menuliskan seluruhnya, karena satu jam lima puluh menit itu isinya orang dewasa berdebat tentang alur disposisi surat dan itu membosankan.

Yang keluar dari ruangan itu tiga hal.

Satu. Audit internal terhadap seluruh perjanjian kerja sama mitra yayasan di luar sektor pendidikan. Sembilan perjanjian. Dilaksanakan oleh Unit Kepatuhan.

Dua. Anggaran sosialisasi tiga tahun tertunggak dicairkan dalam tiga puluh hari kerja.

Tiga — dan ini yang membuatku hampir menangis di ruang rapat, dan yang aku tahan sampai di lift:

Salah satu pengurus, perempuan berumur lima puluhan yang belum bicara sekali pun selama satu jam pertama, mengangkat tangan dan berkata:

“Pak, saya usul. Kalau ada surat dari mitra yang nggak dibales lebih dari tiga puluh hari, itu masuk laporan triwulan.”

“Kenapa harus masuk laporan, Bu?”

Dan beliau berkata:

“Biar ada yang nyatet, Pak.”


Aku berdiri di lift gedung yayasan jam dua belas lewat sepuluh, sendirian.

Biar ada yang nyatet.

Dan aku menekan pergelangan tangan ke mata di lift itu selama empat lantai, karena ada seseorang yang menulis kalimat yang hampir persis sama di catatan kaki nomor empat puluh satu pada halaman lima puluh delapan sebuah laporan setebal delapan puluh satu halaman, lima bulan lalu, di kota ini juga.

Karena kalau nggak ada yang nulis, nggak ada yang pernah terjadi.


Aku menelepon dari taksi.

Video call. Aku tidak merencanakannya; jariku menekan ikon yang salah.

Dan dia mengangkat.

Empat detik.

Aku ingin mencatat empat detik itu dengan tepat, karena tidak ada satu pun kata yang diucapkan.

Layarnya menyala. Wajahnya. Kemeja lengan panjang digulung sampai siku, latar belakang dinding polos yang tidak kukenali.

Dan dia melihatku — wajahku, tanpa riasan, mata bengkak, rambut diikat asal di dalam taksi.

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajah itu yang belum pernah kulihat dalam sebelas tahun.

Dia tersenyum.

Bukan sudut mulut yang bergerak satu milimeter.

Senyum.

Dan aku menutup panggilannya.


Empat detik.

Aku menutupnya duluan karena kalau tidak, aku akan menangis di dalam taksi di depan sopir yang sudah tiga kali melirik spion.

Dan aku mengetik:

tamara: maaf. salah pencet.

Andhika: Oke.

tamara: bohong. aku nggak salah pencet.

Andhika: Iya. Saya tau.

tamara: kok tau

Dan dia mengetik:

Andhika: Karena kamu nutupnya pas empat detik.

Andhika: Orang yang salah pencet nutupnya pas satu.


Vina menelepon jam empat sore.

Aku sedang di bandara, ruang tunggu, menunggu penerbangan balik ke NTT untuk mengambil barang-barangku.

“Mbak.”

Dan aku tahu dari satu kata itu.

“Iya, Vin.”

“Mereka udah cari pengganti.”

“Iya.”

“Mbak—”

“Nggak apa-apa, Vin.”

“Mbak, saya minta maaf. Saya udah coba—”

“Vin.” Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain. “Kamu nggak salah apa-apa. Aku yang minta undur.”

Dan Vina Kartika diam di seberang selama beberapa detik.

“Iya, Mbak.”


Aku duduk di ruang tunggu bandara jam empat lewat sore.

Dan aku menghitung.

Tentu saja aku menghitung. Aku tertular dari orang itu waktu umur tujuh belas dan aku tidak pernah sembuh, dan aku sudah berhenti berusaha sembuh.

Empat bulan syuting. Delapan episode. Sebelas tahun.

Dan tiga hal yang keluar dari ruang rapat pagi tadi.

Dan aku menatap dua kolom angka itu di kepalaku dan aku tidak bisa membandingkannya, karena tidak ada satu pun perhitungan di dunia ini yang bisa membuat salah satunya lebih besar dari yang lain.

Jadi aku berhenti menghitung.

Dan itu pertama kalinya seumur hidupku aku berhenti karena aku memutuskan berhenti, bukan karena angkanya habis.


Tiga hari kemudian, sutradara itu mengirim pesan.

Bukan lewat Vina. Ke nomorku langsung.

Bukan permintaan maaf. Bukan penyesalan.

Satu baris:

Kalau proyek saya berikutnya, kamu masih mau?

Dan aku membacanya di kamar penginapan di kabupaten sambil mengemasi koper.

Dan aku tidak membalasnya selama dua hari.

Bukan karena aku marah.

Karena aku belum tahu jawabannya, dan aku sudah sebelas tahun menjawab segala sesuatu dalam empat detik, dan aku baru saja belajar bahwa ada pertanyaan yang jawabannya tidak boleh datang cepat.