← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Thirty Six

Tawaran

POV: Tamara


Vina meneleponku hari Sabtu jam delapan pagi.

Vina tidak pernah menelepon hari Sabtu jam delapan pagi.

“Mbak.”

“Iya.”

“Mbak duduk dulu.”

Dan aku duduk di tepi kasur, dan aku mendengarkan selama enam menit, dan waktu selesai aku tidak bisa mengatakan apa pun selama kira-kira sepuluh detik.

“Vin.”

“Iya, Mbak?”

“Ulangi.”

Dan dia mengulanginya.


Namanya proyek delapan episode.

Sutradaranya perempuan, umur empat puluh satu, yang dua tahun lalu memenangkan sesuatu di festival yang namanya bahkan tidak kukenal dan yang setelah itu menolak tujuh tawaran dari rumah produksi besar.

Peran utamanya perempuan berumur tiga puluhan yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit daerah.

Tidak ada adegan glamor. Tidak ada gaun. Tidak ada satu pun sponsor kecantikan.

Syuting empat bulan di Nusa Tenggara Timur.

Dan yang membuatku duduk di tepi kasur selama sepuluh detik bukan itu.

“Vin, ulangi bagian yang terakhir.”

“Sutradaranya minta ketemu Mbak duluan sebelum tanda tangan.”

“Bukan itu. Yang sebelum itu.”

Dan Vina berkata:

“Beliau bilang, ‘Saya nonton semua yang dia bikin. Dia bagus di semuanya. Tapi ada satu di mana dia lupa lagi kerja, dan saya mau yang itu.’”


Aku menutup telepon.

Dan aku duduk di tepi kasur dan menutup wajah dengan dua tangan dan tertawa sampai badanku gemetar, dan lalu tawanya berubah dan aku menangis di kamarku sendiri jam delapan lewat sepuluh pagi hari Sabtu.

Karena aku tahu take yang mana.

Karena tiga minggu lalu ada laki-laki yang duduk di kursi lipat di belakang barisan kabel selama delapan jam dan menonton dua puluh tiga take, dan menyebutkan nomor kelima tanpa ragu sedikit pun, dan berkata “yang kelima kamu nggak keliatan lagi kerja”

dan aku sudah menganggapnya sebagai satu-satunya orang di dunia yang bisa melihatnya.

Ternyata bukan.

Ternyata ada orang lain juga. Ternyata ada perempuan berumur empat puluh satu tahun yang menonton seluruh karyaku selama sebelas tahun dan sampai pada kesimpulan yang persis sama.

Dan itu bukan membuatnya jadi kurang berarti.

Itu membuatnya jadi benar.


Aku bertemu sutradaranya hari Senin.

Empat puluh menit di kedai kopi biasa. Dia datang sendiri, tanpa asisten, dengan tas kain dan sandal.

Dia tidak menanyakan satu pun hal tentang jadwalku, tentang bayaranku, tentang tuntutan brand-ku.

Dia menanyakan satu hal.

“Kamu takut nggak main tanpa riasan selama empat bulan?”

Dan aku duduk di seberangnya dan berkata:

“Takut banget.”

“Bagus,” katanya. “Kalau kamu bilang enggak, saya nggak jadi.”


Kontraknya empat bulan.

Mulai tiga minggu lagi.

Dan aku menghitungnya di dalam mobil dalam perjalanan pulang, karena aku sudah sebelas tahun tidak bisa berhenti menghitung, dan karena kebiasaan ini kudapat dari orang yang persis itu.

Tiga minggu.

Dua puluh satu hari.

Dan cuti orang itu tinggal delapan hari.


Aku ke grup jam sepuluh malam.

tamara: aku dapet peran

sekar: WAH

Renata: Selamat.

tamara: ren kamu tuh

Renata: Selamat, Tamara. Saya turut senang.

tamara: masih kaku tapi mendingan

Dan aku mengetik selama satu menit, dan menghapusnya, dan mengetik lagi.

tamara: empat bulan di NTT. mulai tiga minggu lagi.

sekar: empat bulan?

tamara: iya

sekar: tam

tamara: iya aku tau

tamara: aku udah ngitung

Dan tidak ada yang mengetik apa pun selama hampir dua menit.

Lalu Renata mengetik:

Renata: Apakah Anda mempertimbangkan untuk menolaknya?

Dan aku duduk di kamar dan menatap kalimat itu.

tamara: nggak sedetik pun

tamara: dan itu yang paling aneh

Renata: Mengapa aneh?

tamara: karena sebelas tahun lalu aku nawar-nawar sama diri aku sendiri di peron stasiun buat ikut naik kereta

tamara: dan sekarang ada tawaran empat bulan di pulau lain dan aku nggak mikir dua kali

sekar: itu bukan aneh, tam

tamara: terus apa

Dan Sekar mengetik satu baris, dan aku membacanya lima kali:

sekar: itu artinya kamu punya sesuatu selain dia sekarang


Aku ingin mencatat apa yang kupikirkan sepanjang malam itu.

Bukan tentang perannya.

Aku memikirkan satu percakapan di atas atap gudang sebelas tahun lalu, bulan November, waktu aku memeluk lutut dan berkata aku pengen dilihat karena sesuatu, bukan karena muka aku.

Dan dia bertanya, sesuatu apa?

Dan aku bilang, nggak tau. Itu masalahnya.

Sebelas tahun.

Dan aku menghabiskan sebelas tahun itu dengan mengumpulkan tiga puluh delapan penghargaan dan empat sampul majalah dan wajah yang dikenal seluruh negeri, dan tidak satu pun dari itu menjawab pertanyaannya.

Dan jawabannya datang dari perempuan berumur empat puluh satu tahun bersandal jepit yang berkata “ada satu di mana dia lupa lagi kerja, dan saya mau yang itu.”

Bukan wajahku.

Empat menit dua puluh detik tanpa dialog, take kelima, jam sembilan malam di gudang kosong kawasan industri.

Itu sesuatu.

Itu akhirnya sesuatu.


Hari Selasa, aku mengirim satu pesan.

Bukan ke grup.

tamara: aku dapet peran. empat bulan di NTT. mulai tiga minggu lagi.

Dibaca dalam sembilan menit.

Andhika: Bagus.

Satu kata.

Dan aku duduk di kamarku dan tertawa, karena orang itu sudah dua kali dalam sebelas tahun mengucapkan satu kata itu kepadaku, dan kedua-duanya adalah dua momen paling penting dalam hidupku, dan tidak satu pun dari keduanya melibatkan wajahku.

tamara: kamu nggak nanya perannya apa?

Andhika: Perawat di rumah sakit daerah.

Aku menegakkan punggung.

tamara: KAMU TAU DARI MANA

Andhika: Sutradaranya ngumumin proyeknya bulan lalu. Ada di berita.

tamara: kamu baca berita film?

Jeda.

Andhika: Enggak.

Andhika: Saya baca yang ada nama kamu.


Aku menaruh ponsel telungkup di kasur.

Aku mengangkatnya lagi tiga puluh detik kemudian.

tamara: ndhik

Andhika: Hm.

tamara: kita ketemu sebelum aku berangkat ya

Andhika: Iya.

tamara: bukan buat pamitan

Andhika: Oke.

tamara: ya buat pamitan sih

tamara: tapi aku mau pamitannya yang bener

tamara: bukan yang kayak sebelas tahun lalu

Dan dia mengetik selama kira-kira empat puluh detik — yang untuk orang itu adalah waktu yang sangat lama, karena orang itu tidak pernah mengetik lebih dari satu baris —

dan yang muncul adalah:

Andhika: Tamara.

Andhika: Yang sebelas tahun lalu itu bukan salah kamu.

Andhika: Saya yang nyuruh kamu pulang.

Dan aku duduk di kamarku jam sebelas malam hari Selasa dan menekan pergelangan tangan ke mata, dan aku mengetik satu baris yang sudah kusiapkan selama sebelas tahun tanpa pernah tahu kapan aku akan mengirimnya:

tamara: iya. dan aku nurut.

tamara: itu bagian aku.


Mama datang hari Rabu.

Dia tidak pernah datang tanpa memberi tahu. Sebelas tahun.

“Ma?”

“Mama bawa makanan.”

Dan dia masuk dan meletakkan tiga rantang di meja dapur dan membukanya satu per satu, dan aku berdiri di sana dan melihat isinya.

Rendang. Sayur nangka. Dan yang ketiga —

“Ma.”

“Hm?”

“Ini apa?”

“Kentang balado.”

Dan aku berdiri di dapur rumahku sendiri dan menatap rantang ketiga itu.

“Ma, aku nggak boleh makan ini dari SD.”

Dan Mama tidak menoleh.

Dia menyusun rantangnya, dan menutup yang pertama, dan berkata dengan suara yang sangat biasa:

“Kata siapa.”


Aku tidak menangis di dapur itu.

Aku ingin mencatat itu, karena aku bangga pada diriku sendiri, dan karena aku baru menangis dua jam kemudian di kamar mandi setelah Mama pulang.

Kami makan berdua.

Empat puluh menit. Membicarakan hal-hal yang biasa — tetangga, harga, adik sepupuku yang mau kuliah.

Dan waktu Mama berdiri untuk pulang, dia berhenti di ambang pintu.

“Tam.”

“Iya, Ma.”

“Yang empat bulan itu.”

“Iya.”

“Bayarannya berapa?”

Dan aku menyebutkan angkanya.

Dan Mama menaikkan alis, karena angkanya kira-kira sepertiga dari satu iklan skincare.

“Sepertiga?”

“Iya, Ma.”

“Empat bulan di NTT.”

“Iya.”

Dan aku menyiapkan diri.

Aku sudah menyiapkan diri sejak hari Sabtu. Aku sudah menyusun sebelas kalimat pembelaan dan aku sudah melatih ketiganya yang terbaik dan aku siap.

Dan Mama berkata:

“Bawa jaket, Tam. Di sana dingin kalau malem.”


Aku menangis di kamar mandi dua jam kemudian.

Dan sepanjang itu aku memikirkan satu hal:

Bahwa aku sudah sebelas tahun menyiapkan pembelaan untuk percakapan yang tidak pernah terjadi.

Dan bahwa mungkin — mungkin — sebagian dari sebelas tahun itu bukan Mama yang menahanku.