← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Forty Four

[Rute Tamara] Aku yang Ngerjain

POV: Tamara


Delapan hari.

Dan aku akan menuliskannya per hari, karena aku menuliskannya per hari waktu itu juga, di buku catatan riset peran yang tidak pernah kupakai untuk riset peran lagi setelah malam Kamis.


HARI SATU — Jumat

Telepon pertama jam tujuh pagi.

“Tamara.”

“Iya.”

“Sebelum mulai: kamu punya berapa hari?”

“Enam.”

“Sampai apa?”

“Sampai syuting.”

Dan dia berkata:

“Salah.”

“...Hah?”

“Kamu punya berapa hari sampai kamu harus mutusin apakah kamu bakal ninggalin ini?”

Dan aku duduk di tepi kasur penginapan dan tidak bisa menjawab selama beberapa detik.

“Ndhik—”

“Saya nggak nyuruh kamu ninggalin,” katanya. “Saya nanya kapan kamu harus mutusin. Itu dua hal beda dan yang kedua yang penting.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu nggak nentuin batasnya, kamu bakal ngerjain ini sambil terus mikir kamu masih bisa dua-duanya. Terus di hari keenam kamu panik.”

Dan aku mengambil buku catatanku.

“Empat hari,” kataku. “Hari keempat aku harus kasih tau produksi kalau aku minta undur.”

“Bagus. Tulis.”

“Udah.”

“Tulis tanggalnya, bukan ‘hari keempat’.”

Dan aku menuliskan tanggalnya.


Lalu dia mengajariku satu hal, dan cuma satu hal, sepanjang hari pertama.

“Tamara, kamu kemarin nanya ke bagian keuangan ‘sisanya ke mana’.”

“Iya.”

“Itu pertanyaan yang bikin orang nutup.”

“Kenapa? Itu pertanyaan yang bener.”

“Iya, bener. Tapi itu pertanyaan yang isinya tuduhan.” Suaranya di seberang, tenang, seperti orang membacakan daftar belanja. “‘Sisanya ke mana’ artinya kamu udah mikir sisanya diambil orang.”

“Ya emang aku mikir gitu.”

“Iya. Dan mungkin kamu salah.”

Aku diam.

“Tamara, dua ratus empat puluh empat orang yang nggak dapet bantuan itu bisa terjadi karena tiga hal,” katanya. “Satu, ada yang ngambil. Dua, syaratnya kelewat ketat sampai nggak ada yang lolos. Tiga, nggak ada yang tau programnya ada.”

Dan aku duduk di tepi kasur itu dengan pulpen di tangan.

“Yang mana yang paling sering?”

Dan dia berkata:

“Yang ketiga. Selalu yang ketiga.”


HARI DUA — Sabtu

Aku tidak ke bagian keuangan.

Aku duduk di lobi.

Sembilan jam.

Dan aku bertanya ke tiga puluh satu orang — bukan tentang uang, bukan tentang program, bukan tentang apa pun yang bisa membuat orang takut.

Satu pertanyaan.

“Bu, Pak, permisi. Ibu tau nggak di rumah sakit ini ada bantuan biaya buat yang nggak mampu?”

Dan aku mencatat jawabannya.

Tahu: sembilan. Tidak tahu: dua puluh dua.

Dan dari sembilan yang tahu, aku bertanya lagi: dari mana tahunya?

Dari papan pengumuman: satu. Dari perawat: empat. Dari sesama pasien di kursi tunggu: empat.

Dan aku menelepon jam sembilan malam.

“Ndhik. Dua puluh dua dari tiga puluh satu nggak tau.”

“Berapa persen?”

“Tujuh puluh satu.”

“Oke. Sekarang pertanyaan buat kamu.”

“Apa?”

Dan dia berkata:

“Kalau tujuh puluh satu persen nggak tau, apakah itu artinya rumah sakitnya salah?”

Dan aku membuka mulut untuk menjawab iya.

Dan aku menutupnya.

“...Nggak tau,” kataku.

“Bagus.”

“Kok bagus?”

“Karena kemarin kamu bakal jawab iya.”


HARI TIGA — Minggu

“Tamara, siapa yang wajib nyebarin informasi program itu?”

“Rumah sakit?”

“Coba cek.”

“Cek di mana?”

Dan dia berkata:

“Di perjanjian kerja samanya.”

“Aku nggak punya perjanjiannya.”

“Kamu punya nomornya.”

“Nomor apa?”

“Di papan pengumuman kamu. Di bagian bawah, sebelah kiri.”


Aku membuka foto itu.

Dan aku memperbesarnya sampai buram.

Dan di sudut kiri bawah lembar A4 yang dilaminasi itu, dicetak dengan huruf kecil sekali:

Berdasarkan PKS No. 027/PKS/YBU-RSUD/[tahun]

YBU.

Aku menatap tiga huruf itu selama kira-kira sepuluh detik.

“Ndhik.”

“Hm.”

“YBU itu—”

Dan dia berkata:

“Yayasan Bhakti Utama.”


Aku duduk di lantai kamar penginapan.

“Ndhik, itu yayasan yang kamu audit.”

“Iya.”

“Yang di kota kita.”

“Iya.”

“Yang naungin SMA kita.”

“Iya, Tamara.”

Dan aku memegang ponsel dengan dua tangan.

“Kamu tau dari kapan?”

Dan dia berkata:

“Dari jam 02.03 hari Kamis.”


Aku ingin mencatat apa yang kurasakan selama sepuluh detik berikutnya, karena aku sudah memeriksanya berkali-kali dan aku tidak bangga pada seluruhnya.

Reaksi pertamaku adalah marah.

Empat hari. Dia sudah tahu selama empat hari dan tidak mengatakannya.

Reaksi keduaku, sembilan detik kemudian, adalah paham.

“Kamu nggak bilang.”

“Enggak.”

“Kenapa?”

Dan dia berkata:

“Karena kalau saya bilang hari Kamis, kamu bakal ngerasa ini kasus saya.”

Kipas angin berbunyi di kamarku.

“Dan ini bukan kasus saya, Tamara. Saya udah selesai. Laporan saya udah diterima klien tiga minggu lalu.”

Dan lalu dia mengatakan sesuatu yang membuatku menaruh ponsel di lantai dan mengangkatnya lagi tiga detik kemudian:

“Ini kasus kamu. Dan kamu nemuinnya sendiri, dan kamu nemuinnya di tempat yang saya nggak pernah dateng, dari papan pengumuman yang saya nggak pernah liat.”


HARI EMPAT — Senin

Aku menelepon Vina jam tujuh pagi.

“Vin.”

“Iya, Mbak.”

“Aku minta undur sepuluh hari.”

Dan hening di seberang selama kira-kira enam detik.

“Mbak.”

“Aku tau.”

“Mbak, kru udah di lokasi. Empat puluh dua orang.”

“Aku tau, Vin.”

“Mbak, saya harus tau alasannya. Bukan buat ngelarang. Buat saya sampaikan.”

Dan aku duduk di tepi kasur penginapan dan menyadari bahwa aku sedang berdiri di depan pintu yang sama seperti hari Kamis di bagian keuangan.

Aku tidak bisa menjelaskan tanpa membocorkan.

“Vin.”

“Iya.”

“Kalau aku bilang aku lagi ngurusin sesuatu yang belum bisa aku ceritain, kamu percaya nggak?”

Dan Vina Kartika, tiga puluh empat tahun, yang sudah enam tahun bekerja denganku, berkata:

“Percaya.”

“Kamu nggak nanya apa-apa?”

“Mbak bilang belum bisa diceritain.”

Dan aku menekan pergelangan tangan ke mata.

“Tapi Mbak,” katanya, “saya sampaikan apa adanya ya. Saya nggak akan bikin alasan bohong.”

“Iya, Vin. Jangan bohong.”


HARI LIMA — Selasa

Jawaban produksi masuk jam empat sore.

Tidak bisa.

Empat puluh dua kru sudah di lokasi. Sewa alat sudah jalan. Jadwal empat bulan sudah dikunci sejak Januari.

Dan aku duduk di kamar penginapan dan membaca pesan Vina tiga kali.

Vina: Mbak, mereka minta konfirmasi besok siang. Kalau Mbak tetep minta undur, mereka cari pengganti.

Vina: Mbak, saya harus bilang satu hal.

Vina: Saya udah enam tahun sama Mbak dan saya belum pernah sekali pun nyaranin sesuatu.

Vina: Sekarang saya nyaranin.

Vina: Jangan.


Aku menelepon Andhika jam sembilan malam.

Dan aku tidak menceritakan tentang produksi.

Aku menceritakan tentang temuan hari itu, karena hari itu aku menemukan sesuatu.

“Ndhik, aku dapet PKS-nya.”

“Dari mana?”

“Dari dinas. Ternyata PKS-nya dokumen publik karena dananya CSR.”

“Berapa lama prosesnya?”

“Empat hari. Aku ngajuin hari Jumat.”

Dan aku bisa mendengar sesuatu berubah di suaranya.

“Kamu ngajuin hari Jumat?”

“Iya. Hari pertama.”

“Sebelum saya kasih tau soal YBU?”

Dan aku berkata:

“Iya. Kamu bilang batasnya harus ditulis pake tanggal. Jadi aku ngerjain yang paling lama duluan.”

Hening di seberang.

Lama.

“Ndhik?”

Dan dia berkata:

“Kamu ngerjain yang paling lama duluan.”

“Iya. Kenapa?”

Dan dia tidak menjawab yang itu.


HARI ENAM — Rabu

Pasal 8 PKS.

Aku membacanya jam sepuluh pagi dan aku membacanya lagi jam sebelas dan aku memotretnya dan mengirimkannya jam dua belas.

Pihak Kedua berkewajiban menyelenggarakan sosialisasi program kepada masyarakat sasaran sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun anggaran, dengan biaya sosialisasi ditanggung oleh Pihak Pertama.

Pihak Kedua: rumah sakit. Pihak Pertama: yayasan.

Dan aku menelepon.

“Ndhik, ada pasal sosialisasi.”

“Baca.”

Aku membacakannya.

“Oke,” katanya. “Sekarang pertanyaan buat kamu.”

“Apa?”

Dan dia berkata:

“Kalau biaya sosialisasinya ditanggung yayasan, siapa yang harus ngirim duitnya duluan?”


Aku duduk di lantai kamar penginapan itu selama beberapa detik.

Dan lalu aku berdiri.

“Yayasan.”

“Iya.”

“Berarti kalau nggak ada sosialisasi—”

“Jangan buru-buru.”

“Ndhik—”

“Tamara.” Suaranya tetap tenang. “Ada tiga kemungkinan lagi sebelum kamu boleh nyimpulin.”

“Apa?”

“Satu, duitnya dikirim tapi nggak dipakai rumah sakit. Dua, duitnya dikirim tapi telat sampai nggak sempat dipakai. Tiga, nggak pernah ada yang minta karena rumah sakitnya nggak tau ada haknya.”

Dan aku mencatatnya, ketiganya, dengan tangan yang bergetar.

“Terus aku ngecek gimana?”

Dan dia berkata:

“Kamu tanya ke Pak Dedy.”

“Pak Dedy nolak aku hari Kamis.”

“Iya. Karena kamu nanya ‘sisanya ke mana’.”

Dan lalu dia berkata sesuatu yang kutuliskan di buku catatan malam itu dan yang kusimpan sampai sekarang:

“Sekarang kamu nanya beda. Kamu nanya: ‘Pak, bapak pernah terima anggaran sosialisasi dari yayasan nggak?’”

“Bedanya apa?”

Dan Andhika Pratama berkata:

“Yang pertama nuduh dia. Yang kedua nanya apakah dia yang dirugikan.”


HARI TUJUH — Kamis

Aku ke ruangan Pak Dedy jam sembilan pagi.

Dan aku menanyakan satu kalimat itu.

Dan Pak Dedy melepas kacamatanya, dan mengelapnya dengan ujung kemejanya, dan menatapku, dan berkata:

“Belum pernah, Mbak.”

“Belum pernah sama sekali?”

“Sejak saya di sini. Tujuh tahun.”

Dan lalu dia menarik laci mejanya, dan mengeluarkan map, dan membukanya, dan berkata sesuatu yang membuatku harus duduk:

“Saya udah tiga kali ngajuin, Mbak. Ada suratnya.”


Tiga surat.

Tahun berbeda. Nomor berbeda. Isi hampir sama.

Permohonan pencairan anggaran sosialisasi program sebagaimana diatur dalam Pasal 8 PKS.

Dan ketiganya tidak pernah dibalas.

“Pak.”

“Iya, Mbak?”

“Kenapa Bapak nggak ngejar?”

Dan Pak Dedy menutup mapnya.

“Ngejar ke mana, Mbak?” katanya. “Saya staf keuangan rumah sakit kabupaten. Yayasannya di Jawa.”

Dan aku duduk di ruangan itu dengan empat meja dan dua kipas angin dan lemari arsip yang pintunya tidak bisa ditutup penuh.

“Saya sudah kirim tiga kali,” katanya. “Kalau saya kirim yang keempat, ya nggak dibales juga.”

Dan lalu dia berkata:

“Mbak, kalau Mbak mau, boleh difoto.”


HARI TUJUH, MALAM

Aku menelepon jam delapan.

Dan aku bercerita selama empat belas menit tanpa berhenti, dan waktu aku selesai, dia tidak mengatakan apa pun selama kira-kira delapan detik.

“Ndhik?”

“Tamara.”

“Iya.”

“Kamu tau nggak apa yang barusan kamu temuin?”

“Surat yang nggak dibales.”

Dan dia berkata:

“Bukan.”

“Terus?”

Dan Andhika Pratama berkata:

“Kamu nemuin orang yang udah ngajuin tiga kali dan berhenti karena dia pikir nggak ada yang bakal denger.”

Dan aku duduk di lantai kamar penginapan di kabupaten di Nusa Tenggara Timur jam delapan lewat malam hari Kamis.

“Dan sekarang ada yang denger,” katanya.


HARI DELAPAN — Jumat

Aku menelepon Vina jam tujuh pagi.

“Vin.”

“Iya, Mbak. Konfirmasinya gimana?”

Dan aku duduk di tepi kasur penginapan dengan buku catatan di pangkuan yang berisi delapan hari, tiga puluh satu wawancara, satu PKS, satu pasal, dan tiga surat yang tidak pernah dibalas.

“Vin, aku tetep minta undur.”

Hening di seberang selama tujuh detik.

“Baik, Mbak.”

“Vin—”

“Saya sampaikan hari ini.”

“Vin, kamu marah?”

Dan Vina Kartika berkata:

“Enggak, Mbak.”

“Bohong.”

“Iya, sedikit.” Dan dia tertawa — pendek, lelah. “Tapi Mbak, saya udah enam tahun kerja sama Mbak dan ini pertama kalinya Mbak minta sesuatu yang bukan buat Mbak sendiri.”

Dan aku menekan pergelangan tangan ke mata di tepi kasur penginapan.

“Jadi saya sampaikan,” katanya. “Dan saya sampaikan apa adanya.”


Aku menutup telepon jam tujuh lewat sepuluh.

Dan aku duduk di sana dan menghitung — tentu saja aku menghitung, aku tertular dari orang itu waktu umur tujuh belas dan aku tidak pernah sembuh.

Empat puluh dua kru. Empat bulan. Delapan episode. Sebelas tahun.

Dan dua ratus empat puluh empat orang yang tidak punya nama di dokumen mana pun.

Dan aku menuliskan angka-angka itu di halaman terakhir buku catatanku, berjajar, dan aku menatapnya selama sepuluh menit.

Dan aku tidak menemukan satu pun cara untuk membandingkannya.

Karena angka itu bukan hal yang sama, dan tidak akan pernah jadi hal yang sama, dan tidak ada satu pun perhitungan di dunia ini yang bisa membuat salah satunya lebih besar dari yang lain.

Aku menutup bukunya.

Dan aku pergi ke rumah sakit jam delapan pagi seperti delapan hari sebelumnya.