Chapter Five
Dua Puluh Dua Detik
POV: Tamara
Jam sembilan malam, empat puluh satu ribu.
Jam dua belas, dua ratus tiga belas ribu.
Jam empat pagi aku bangun dan mengeceknya sekali lagi karena aku memang tidak tidur, dan angkanya enam ratus delapan puluh ribu, dan aku menaruh ponsel telungkup di kasur dan menatap langit-langit sampai matahari naik.
Judul yang dipakai orang-orang:
Tamara Eliza salah sebut nama pas konpers 😭 siapa nih cowoknya* TAMARA KENAL DIA?? liat mukanya pas dipanggil
Yang terakhir itu yang paling banyak dibagikan.
Karena orang-orang tidak menonton wajahku.
Mereka menonton wajahnya.
“Nggak bisa dibeli, Mbak.”
“Kenapa nggak bisa.”
“Udah saya coba. Akunnya nggak bales.” Vina menggeser laptopnya. “Dan sekarang udah ada di tiga puluh delapan akun lain. Ditarik satu, muncul empat.”
“Terus gimana?”
“Ya— didiemin.”
“Vin.”
“Mbak Tamara.” Dia menutup laptopnya. “Ini tuh sebenernya nggak apa-apa. Beneran. Nggak ada yang jelek. Mbak cuma salah panggil orang, terus Mbak becanda, terus selesai. Dua hari juga ganti topik.”
“Terus kenapa aku nggak bisa tidur?”
Dan Vina menatapku selama beberapa detik dengan tatapan orang yang sudah enam tahun bekerja denganku dan yang tahu persis kapan aku sedang tidak berbicara tentang hal yang sedang kubicarakan.
“Mbak,” katanya pelan. “Itu beneran temen lama ya?”
“Bukan.”
“Mbak.”
“Bukan, Vin.”
Ada satu hal yang tidak kuceritakan ke Vina, dan yang tidak akan pernah kuceritakan ke siapa pun.
Sabtu subuh, jam tiga, aku menonton video itu untuk yang keenam belas kalinya.
Bukan bagian aku. Aku menggeser lewat bagian aku.
Bagian yang kutonton adalah tiga detik waktu kamera berputar ke barisan kesembilan.
Dan aku menontonnya berulang-ulang, memperlambatnya, memundurkannya, sampai aku bisa melihat hal yang aku sudah tahu ada di sana karena aku melihatnya langsung dari podium dan tidak percaya pada mataku sendiri.
Detik ke-14: matanya terbuka. Detik ke-14 setengah: tertutup. Detik ke-15: terbuka lagi, dan wajahnya sudah kembali seperti biasa.
Setengah detik.
Sebelas tahun aku menghabiskan seluruh masa remajaku mencoba membuat wajah itu bergerak, dan aku berhasil kira-kira empat kali, dan aku ingat keempatnya.
Dan hari Jumat aku melakukannya lagi tanpa berusaha sama sekali.
Aku menonton tiga detik itu sampai jam empat pagi.
Lalu aku menaruh ponsel telungkup di kasur dan menatap langit-langit sampai matahari naik, dan aku sudah menuliskan bagian itu di halaman sebelumnya, dan aku menuliskannya lagi di sini karena aku ingin jujur tentang urutannya.
Aku tidak menatap langit-langit karena aku merasa bersalah.
Aku menatap langit-langit karena aku baru saja menonton setengah detik dari wajah seseorang enam belas kali dan aku takut pada diriku sendiri.
Aku pergi jam sebelas siang tanpa memberi tahu siapa pun.
Aku memakai kaus polos, celana panjang, topi, masker, dan kacamata — kombinasi yang sudah kupakai enam tahun dan yang berhasil kira-kira delapan dari sepuluh kali.
Akun yang mengunggah pertama namanya tercantum. Anak kuliahan, semester lima, jurusan komunikasi. Foto profilnya di depan gedung kampus, dan di bio-nya ada nama komunitas fotografi.
Aku menemukan alamat kampusnya dalam empat menit.
Aku menunggu di kafe seberang selama satu jam empat puluh menit.
Aku pernah melakukan ini sebelumnya.
Sekali. Umur tujuh belas. Di depan ruang ekskul, jam istirahat, dengan seorang anak kelas dua belas bernama Kevin yang wajahnya berubah warna dalam empat detik.
Waktu itu aku menang.
Waktu itu aku punya tiga hal — sudut pengambilan foto, satu istilah yang salah, dan satu balasan yang datang tiga menit terlalu cepat — dan ketiga hal itu diberikan kepadaku pagi harinya oleh orang yang menghabiskan sebelas menit membaca ponselku.
Hari ini aku tidak punya apa-apa.
Aku punya nama, wajah, dan satu jam empat puluh menit di kafe seberang kampus.
Namanya Bimo. Dia keluar jam satu lewat, dengan dua temannya, sambil tertawa.
Aku menghampirinya di trotoar.
“Bimo?”
Dia menoleh. Dia melihat topi, masker, kacamata. Dia tidak mengenali.
“Iya? Kenapa, Mbak?”
Aku melepas kacamata.
Dan aku ingin mencatat bahwa aku merasakan sesuatu yang menjijikkan pada saat itu — sesuatu seperti kepuasan — waktu aku melihat wajah anak itu berubah dan waktu kedua temannya mundur setengah langkah tanpa sadar.
“Aku mau ngomong bentar.”
“Mb—Mbak Tamara?”
“Sebentar aja.”
Kedua temannya sudah mengangkat ponsel.
Dan di situlah aku kalah, dan aku kalah dalam waktu dua detik, dan aku sudah kalah sebelum aku membuka mulut.
“Turunin ponselnya,” kataku.
Mereka tidak menurunkannya.
“Tolong.”
Salah satunya menurunkan. Yang satu lagi tidak.
“Bimo, video yang kemarin—”
“Iya, Mbak?”
“Bisa dihapus?”
Dan anak itu — yang wajahnya sudah memerah, yang tangannya gemetar, yang jelas-jelas tidak berniat jahat sama sekali — berkata sesuatu yang benar dan yang membuatku ingin duduk di trotoar itu.
“Udah saya hapus, Mbak. Kemarin malem.”
“...Udah?”
“Udah. Jam sepuluh.” Dia menelan. “Tapi udah keburu di-repost, Mbak. Saya nggak bisa apa-apa.”
Aku berdiri di trotoar depan kampus dengan masker di dagu dan wajah terbuka dan tiga puluh orang yang mulai memperhatikan.
“Oh,” kataku. “Maaf ya.”
“Nggak apa-apa, Mbak.”
“Aku— maaf. Aku nggak tau kamu udah hapus.”
“Iya, Mbak. Maaf juga.”
Dan dia meminta maaf kepadaku, padahal yang salah bukan dia, dan aku berjalan kembali ke mobil dengan seluruh isi perutku terasa dingin.
Malamnya, video baru muncul.
Dua puluh sembilan detik, diambil di trotoar depan kampus, dan judulnya:
TAMARA ELIZA DATENG SENDIRI KE KAMPUS?? ada apa sih sebenernya
Vina meneleponku jam sepuluh malam dan tidak marah, dan itu jauh lebih buruk.
“Mbak.”
“Iya.”
“Besok pagi kita ketemu ya.”
“Iya.”
“Mbak.”
“Iya, Vin.”
“Saya nggak nanya kenapa,” katanya. “Saya cuma mau bilang: kalau Mbak ngelakuin sesuatu, tolong kasih tau saya duluan. Bukan biar saya larang. Biar saya siapin.”
Dan aku duduk di kamar dan berkata iya dan menutup telepon dan menangis selama sekitar empat menit, karena orang itu baru saja memberiku persis hal yang selama sebelas tahun tidak pernah kudapat dari siapa pun.
Kesempatan untuk direpotkan.
Hari berikutnya, jam dua siang, aku mendapat informasinya dari tempat yang paling tidak masuk akal.
Grup WhatsApp ibu-ibu komite yayasan.
Aku ada di grup itu karena aku brand ambassador dan karena tidak ada satu pun orang di dunia yang berani mengeluarkanku dari grup mana pun.
Aku tidak pernah membacanya. Empat ratus pesan sehari, semuanya stiker.
Hari itu ada yang menulis kalimat panjang, dan namaku disebut, jadi ponselku menyala.
Bu, itu yang audit katanya diganti orangnya. Yang kemaren dipanggil Mbak Tamara itu. Katanya lagi dievaluasi sama kantornya gara2 kepublish. Kasian ya padahal katanya dia yg paling bagus
Aku duduk tegak.
Diganti gimana bu?
Blm diganti sih. Katanya lagi ada pemeriksaan internal dulu. Prosedur katanya
Ooo
Iya jd ga boleh lanjut dulu sebelum kelar
Dan percakapan itu berpindah ke topik lain dalam empat puluh detik, sebagaimana seluruh percakapan di dunia ini berpindah topik dalam empat puluh detik.
Aku membaca ulang lima pesan itu sebelas kali.
Dan aku menghitung.
Aku menghitung karena aku sudah sebelas tahun tidak bisa berhenti menghitung, dan karena kebiasaan ini kudapat dari orang yang persis itu, dan karena hari itu untuk pertama kalinya aku menghitung sesuatu dan berharap hasilnya salah.
Konferensi pers hari Jumat. Video naik hari Jumat malam. Enam ratus ribu penonton hari Sabtu. Hari Senin, kantornya membuka pemeriksaan internal.
Tiga hari.
Butuh sebelas tahun bagi orang itu untuk membangun sesuatu yang membuat orang berkata katanya dia yang paling bagus.
Dan butuh tiga detik bagiku untuk membuka mulut.
Jam sebelas malam, aku membuka galeri.
Foto yang kuambil di lobi yayasan hari Jumat. Papan besar berisi foto-foto kegiatan. Baris ketiga, paling kiri.
Aku memperbesarnya.
Belasan orang berdiri di depan gedung sekolah, foto lama, warnanya sudah kekuningan. Kebanyakan bapak-bapak berbatik. Satu perempuan berkerudung di ujung kanan memegang map.
Dan di belakang mereka, tidak sengaja masuk frame, ada bangunan rendah dengan cat mengelupas.
Dan di sisi kanan bangunan itu, ada tangga besi.
Aku memperbesar sampai buram.
Aku menghitung anak tangganya.
Dan aku menghitungnya sampai selesai, dua belas, dan aku duduk di kasur jam sebelas malam dengan ponsel di tangan dan menyadari bahwa aku baru saja menghitung anak tangga di foto yang diambil sebelas tahun lalu di dinding lobi sebuah yayasan —
— dan bahwa aku tidak tahu kenapa aku melakukannya sampai empat detik kemudian, waktu aku sadar bahwa yang sebenarnya kucari adalah yang kelima.
Hari 8. Sisa 22.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik reading
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu