← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Seventeen

Anak Tangga Kedelapan

POV: Sekar


Rapat koordinasi program di yayasan, hari Kamis, jam sembilan pagi.

Isinya membosankan dan aku akan meringkasnya dalam satu kalimat: mereka ingin program skrining diperluas ke dua sekolah lagi tahun depan dan mereka ingin tahu berapa biayanya.

Aku menyebutkan angkanya. Mereka mengangguk. Selesai jam sepuluh kurang.

Dan di lift, turun dari lantai tiga, ada dua orang.

Aku dan dia.


Aku ingin mencatat bahwa lift di gedung yayasan itu berhenti di setiap lantai karena tombolnya rusak sejak entah kapan, dan bahwa tiga lantai membutuhkan waktu kira-kira lima puluh detik.

Lima puluh detik.

“Pagi, Dok.”

“Pagi.”

Dan lalu tidak ada apa-apa selama sepuluh detik.

Aku melihat pantulan kami berdua di pintu lift stainless yang sudah buram.

Dan aku melihat dasinya.

Miring. Simpulnya bagus — orang ini tidak pernah salah menyimpul apa pun — tapi keseluruhannya bergeser ke kanan sekitar satu setengah sentimeter dari tengah kerah.

Sudah miring sejak jam sembilan, waktu dia masuk ruang rapat.

Aku memperhatikannya selama lima puluh menit dan tidak mengatakan apa pun karena ada tujuh orang lain di ruangan itu.

Lift berhenti di lantai dua. Pintu terbuka. Tidak ada orang. Pintu menutup lagi.

Dan aku berbalik menghadapnya.


“Diem bentar.”

“Hah?”

Dan aku mengangkat dua tanganku dan memegang dasinya.

Dia menegang.

Aku merasakannya lewat kain — seluruh tubuh orang itu berhenti, sekaligus, seperti mesin yang dimatikan dari saklar.

Aku melonggarkan simpulnya. Aku menggesernya ke kiri satu setengah sentimeter. Aku mengencangkannya kembali.

Dan aku tidak buru-buru.

Aku bisa menyelesaikannya dalam empat detik. Aku menyelesaikannya dalam sembilan belas.

Lift berhenti di lantai satu.

Pintu terbuka.

Aku melepaskan dasinya, dan aku melangkah keluar duluan, dan aku berkata tanpa menoleh:

“Miring dari tadi. Dari jam sembilan.”


Aku berjalan ke arah pintu keluar dan aku tidak menoleh sekali pun, dan aku menghitung sampai tiga puluh sebelum aku mengizinkan diriku bernapas dengan benar.

Dan di parkiran, di dalam mobilku sendiri, aku menutup wajah dengan dua tangan dan tertawa.

Bukan karena senang.

Karena aku baru saja melakukan sesuatu yang seorang perempuan berumur dua puluh delapan tahun dengan gelar spesialis lakukan di lift gedung yayasan pada hari kerja, dan karena aku tahu persis apa namanya, dan karena aku sudah berhenti berpura-pura tidak tahu.

Aku sedang menyerang.

Sebelas tahun aku menunggu diminta.

Sisa hidupku aku tidak akan menunggu apa pun lagi.


Sorenya Tamara menelepon.

“Kar.”

“Iya.”

“Kamu ngapain hari ini?”

“Rapat di yayasan.”

“Terus?”

Dan aku duduk di mobilku di parkiran klinik dan memutuskan untuk melakukan hal yang sudah kujanjikan di kedai kopi, yaitu memberi tahu duluan.

“Aku benerin dasi dia di lift.”

Hening di seberang selama kira-kira tiga detik.

“...Kamu APA?”

“Dasinya miring.”

“SEKAR.”

“Miring dari jam sembilan, Tam. Aku liatin lima puluh menit.”

Dan Tamara Eliza Putri tertawa di seberang telepon — tawa yang jelek, yang keluar seperti napas tersedak, yang aku kenali karena aku pernah mendengarnya sebelas tahun lalu di atas atap gudang.

“Kamu jahat banget,” katanya.

“Iya.”

“Aku tuh nunggu empat hari di lobi buat ketemu dia dua detik, dan kamu benerin dasinya di lift.”

“Aku ketemu dia dua kali seminggu, Tam. Itu bukan keberuntungan, itu jadwal.”

“Ya tapi—”

“Dan aku bayar buat itu,” kataku. “Suratku udah di komite. Kalau ini kelar, izin praktikku bisa kena.”

Hening lagi.

“...Kar.”

“Hm.”

“Kamu udah mikirin itu semua sebelum kamu mulai?”

“Iya.”

“Terus kamu tetep jalan?”

Dan aku duduk di mobilku dan berkata:

“Tam, aku umur enam belas punya tiga puluh dua menit dan aku diem. Kamu tau harganya berapa?”

“Berapa?”

“Sebelas tahun.”


Rabu berikutnya, jam dua belas lewat, aku naik ke atap.

Program skrining. Hari Rabu. Dua kali sebulan. Empat tahun.

Dan di anak tangga kedelapan, kakiku tidak miring.


Aku berhenti.

Aku menginjaknya lagi.

Sisi kiri. Tidak bergerak.

Aku menginjaknya dengan seluruh berat badanku, dan besinya tidak bergerak sama sekali, dan bunyinya padat.

Anak tangga kedelapan gudang lama SMA Negeri 4 longgar di sisi kiri sejak sebelum aku masuk sekolah ini.

Dua puluh dua tahun.

Aku pernah hampir jatuh dari sana kira-kira dua ratus kali dan aku tidak pernah sekali pun jatuh, karena setiap kali kakiku miring, ada tangan yang sudah terulur sebelum kakiku sempat miring.

Dan setelah orang itu pergi, aku memegang pegangan besi, dan aku tetap tidak pernah jatuh, dan aku sudah menganggap anak tangga itu bagian dari diriku sendiri.

Aku jongkok.

Ada baut baru di sisi kiri. Dua. Warnanya beda — masih terang, belum kena hujan.

Dan di sekelilingnya ada bekas kikisan karat yang dibersihkan dengan sesuatu, dan serbuk besi halus di anak tangga di bawahnya yang belum tersapu hujan.

Baru. Beberapa hari.


Aku duduk di anak tangga kedelapan.

Aku duduk di sana selama — aku tidak menghitungnya, dan itu jarang sekali terjadi — cukup lama sampai bel pergantian jam pelajaran berbunyi dua kali.

Dan aku memikirkan satu hal yang membuatku harus menekan pergelangan tangan ke mata di tangga besi gudang sekolah pada hari Rabu jam satu kurang:

Dia tidak memperbaikinya untuk dirinya sendiri.

Orang itu hafal anak tangga mana yang longgar. Dia sudah hafal sejak umur enam belas. Dia tidak pernah sekali pun tergelincir di sana seumur hidupnya dan dia tidak akan tergelincir sekarang.

Dia memperbaikinya karena dia menemukan sesuatu di tembok pembatas yang memberitahunya bahwa ada orang yang masih naik ke sini.

Dan dia tidak tahu siapa.

Dan dia tetap memperbaikinya.


Aku naik.

Sudut timur laut. Bayangan tembok. Kotak plastik biru.

Dan hari itu aku tidak makan.

Aku duduk di sana dengan kotak yang belum dibuka di pangkuan dan memandangi tembok pembatas di seberang, dan aku memikirkan bahwa selama sebelas tahun aku naik ke tempat ini dua kali sebulan seperti orang menyalakan lampu untuk rumah yang sudah tidak ditinggali.

Dan bahwa kemarin ada orang yang datang dan mengencangkan dua baut.

Aku berdiri.

Aku berjalan ke sudut barat daya. Aku jongkok di depan tembok pembatas.

Lima baris.

Dan aku mengeluarkan kunci mobilku dari tas.


Aku menggores baris keenam.

Bukan angka. Bukan huruf.

Aku menggores garis lurus di bawah alamat rumahku — dalam-dalam, berkali-kali, sampai tanganku perih — dan di ujung garis itu aku menggores tanda tanya.

Cuma itu.

KAR [alamat] ___________ ?

Garis kosong.

Karena kalau aku menulis nomor telepon aku berapa, itu permintaan.

Dan kalau aku menulis garis kosong, itu tempat.

Dan aku sudah dua puluh dua tahun mengenal orang itu, dan aku tahu persis apa yang dia lakukan kalau dia melihat tempat kosong yang seharusnya diisi:

Dia mengisinya.

Bukan karena dia mau. Karena dia tidak sanggup membiarkan sesuatu tidak rata.


Aku turun jam satu lewat.

Aku menginjak anak tangga kedelapan dengan sengaja, dua kali, dan besinya tetap tidak bergerak.

Dan di anak tangga ketiga dari bawah aku berhenti, sebagaimana yang dilakukan orang lain sebelas tahun lalu, sebagaimana yang kulihat sekali dari balik tiang waktu aku enam belas tahun dan tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.

Aku meluruskan bahuku.

Aku menarik napas satu kali.

Dan aku turun tiga anak tangga sisanya sebagai dokter spesialis kedokteran jiwa yang punya empat pasien menunggu di klinik jam dua siang.


Malamnya aku membuka lemari dan mengeluarkan buku sampul merah muda seharga tiga ribu.

Lima puluh dua halaman terisi.

Halaman lima puluh tiga kosong sejak tanggal 27 Februari sebelas tahun yang lalu.

Aku membukanya.

Aku memegang pulpen selama kira-kira empat menit.

Dan aku menutup buku itu tanpa menulis apa pun, karena aku sudah memutuskan sejak lama bahwa baris berikutnya bukan milikku untuk ditulis sendirian —

— dan karena, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, aku mulai berpikir bahwa mungkin aku akan sempat menulisnya berdua.


Hari 22. Sisa 8.