Chapter Four
Empat Puluh Kamera
POV: Tamara
“Mbak Tamara, nanti pas sesi tanya jawab jangan bahas angka ya.”
“Kenapa?”
“Ya— angkanya lagi diaudit.”
Aku menoleh ke arah Vina. Vina manajerku, umur tiga puluh empat, dan Vina tidak pernah mengatakan sesuatu setengah-setengah kecuali kalau dia sedang menutupi bahwa dia juga tidak tahu.
“Diaudit gimana?”
“Nggak tau detailnya, Mbak. Dari pihak perusahaan yang kasih dana.”
“Terus kenapa aku yang disuruh diem?”
“Bukan disuruh diem. Cuma—” Dia mengibaskan tangan. “Fokus ke cerita anak-anaknya aja. Yang menyentuh.”
Yang menyentuh.
Aku duduk di kursi rias di ruang belakang aula dan membiarkan orang menyisir rambutku dan aku memikirkan kalimat itu selama empat puluh detik penuh.
Sebelas tahun.
Sebelas tahun aku mengejar sesuatu, dan yang kudapat adalah tiga puluh delapan penghargaan, empat sampul majalah tahun ini, dan satu pekerjaan berdiri di podium untuk menceritakan kisah anak orang lain dengan cara yang menyentuh sambil tidak membahas angka.
“Mbak, kacamatanya dilepas ya.”
“Iya.”
Aulanya penuh.
Seratus dua puluh orang, empat puluh lebih kamera termasuk yang di ponsel, dan panggung dengan backdrop biru bertuliskan nama program beasiswa dalam huruf yang terlalu besar.
Aku sudah melakukan ini dua ratus kali.
Prosedurnya begini: masuk ruangan, sapu ruangan, cari kamera, atur wajah. Empat langkah, urut, tidak pernah berubah, dan aku sudah tidak perlu memikirkannya lagi sejak umur dua puluh dua.
Aku masuk. Tepuk tangan. Aku tersenyum ke arah kanan dulu, karena kamera utama selalu di kanan.
Aku menyapu ruangan.
Barisan pertama: pengurus yayasan, batik, tersenyum. Barisan kedua sampai kelima: undangan, guru, wartawan. Barisan keenam sampai kedelapan: anak-anak penerima beasiswa, seragam, gugup.
Barisan kesembilan.
Dan mataku berhenti.
Bukan berhenti karena mengenali. Aku bahkan belum sampai ke wajahnya.
Aku berhenti di tangan.
Ada laki-laki di barisan belakang yang memegang map dengan dua tangan di pangkuan, dan buku jarinya lebih gelap dari kulit punggung tangannya, dan garis-garis di sana tidak akan pernah dimiliki orang yang bekerja di ruangan ber-AC.
Aku sudah sebelas tahun tidak melihat tangan seperti itu di ruangan seperti ini.
Dan mataku naik.
Jas abu-abu, tanpa dasi. Rambut potongan pendek. Bahu yang turun sedikit, cara berdiri — duduk — orang yang tidak pernah ingin memenuhi ruang.
Dan wajah yang tidak berubah sama sekali kecuali di dua tempat: rahangnya lebih tegas, dan ada garis halus di sudut mata yang belum ada waktu umur tujuh belas.
Dan sebelum kepalaku sempat menyelesaikan kalimat apa pun — sebelum aku sempat berpikir tidak mungkin, sebelum aku sempat berpikir sama sekali —
mulutku sudah terbuka.
“Andhika?”
Aku ingin mencatat bahwa suaraku masuk ke mikrofon.
Mikrofon berdiri, di podium, jarak dua puluh sentimeter dari mulutku, volume sudah diatur untuk aula berisi seratus dua puluh orang.
Aula itu sunyi selama kira-kira dua detik.
Dan lalu seratus dua puluh kepala berputar ke arah yang sama.
Aku sudah sebelas tahun dilatih untuk tidak pernah bersuara sebelum diberi aba-aba.
Sebelas tahun kalah sama tiga detik.
Aku melihat wajahnya dari podium — dua puluh meter, barisan kesembilan — dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajah itu seumur hidupku.
Dia menutup matanya.
Sekali. Setengah detik. Seperti orang yang baru saja mendengar bunyi yang sudah dia perhitungkan akan datang, dan yang tetap saja tidak enak waktu datangnya.
Lalu dia membukanya lagi, dan wajahnya kembali seperti biasa, dan dia menunduk ke mapnya.
Aku menyelamatkan sisanya.
Aku ingin mencatat itu juga, karena itu satu-satunya bagian dari hari itu yang bisa kubanggakan.
Aku tertawa ke mikrofon — tawa kecil, empat detik, yang sudah kupakai dua ratus kali — dan aku berkata:
“Maaf, maaf. Saya kira ada teman lama. Ternyata bukan.”
Tepuk tangan kecil. Ada yang tertawa.
“Ternyata kalau umur udah dua puluh delapan, semua orang mulai kelihatan mirip teman SMA.”
Tawa lebih besar. Aman.
Dan aku melanjutkan sambutan itu selama dua belas menit dengan lancar, tanpa satu pun kesalahan, dengan intonasi yang naik di tempat yang benar dan jeda di tempat yang benar, dan di menit kesembilan aku menceritakan kisah seorang anak kelas sebelas yang harus bekerja setelah sekolah untuk membantu ibunya.
Aku menceritakannya dengan menyentuh.
Kameranya suka.
Dan sepanjang dua belas menit itu, aku tidak melihat ke barisan kesembilan satu kali pun, karena aku tahu persis apa yang akan terjadi pada wajahku kalau aku melihat.
Sesi foto. Sesi tanya jawab. Sesi foto lagi dengan anak-anak penerima beasiswa.
Aku menyalami tiga puluh dua orang.
Salah satunya anak perempuan kelas sepuluh, tingginya sampai bahuku, yang tangannya dingin karena gugup.
“Kakak,” katanya.
“Iya, Dek?”
“Kakak dulu cita-citanya apa?”
Dan aku membuka mulut untuk memberikan jawaban yang sudah kupakai dua ratus kali — yang bagus, yang menyentuh, yang selalu masuk ke kutipan berita —
dan tidak ada yang keluar.
Karena aku baru saja melihat orang yang duduk di sebelahku waktu aku mengucapkan jawaban yang sebenarnya, sebelas tahun lalu, di atas atap gudang, sambil memeluk lutut.
Aku pengen dilihat karena sesuatu. Bukan karena muka aku.
“Kakak?”
“Maaf.” Aku tersenyum. “Kakak dulu pengen jadi orang yang berguna.”
Anak itu mengangguk dengan sopan, dan aku tahu persis bahwa jawaban itu jelek, dan aku tahu persis bahwa jawaban itu bohong, dan aku tahu persis bahwa dia akan melupakannya dalam dua hari.
Aku yang tidak akan melupakannya.
Dan waktu aku akhirnya bisa menoleh ke barisan kesembilan — jam dua belas kurang seperempat, setelah kamera terakhir diturunkan —
kursinya kosong.
“Mbak Tamara?”
Vina, dengan ponsel di tangan, dan wajah yang salah.
“Kenapa?”
“Ini—” Dia menyodorkan layarnya. “Ada yang upload.”
Video. Dua puluh dua detik. Diambil dari barisan keempat dengan ponsel.
Isinya: aku di podium, mikrofon, dan satu kata yang terdengar sangat jelas karena volume mikrofon memang diatur untuk seratus dua puluh orang.
“Andhika?”
Lalu kamera berputar — cepat, goyang — ke barisan kesembilan.
Dan berhenti di sana selama tiga detik penuh.
Wajahnya masuk frame. Tidak jelas, tidak fokus, tapi masuk.
“Berapa view?”
“Baru dua ribu. Tapi baru delapan menit, Mbak.”
Aku menatap layar itu.
“Vin.”
“Iya?”
“Tarik.”
“Nggak bisa ditarik, Mbak. Itu akun orang.”
“Ya beli.”
“Mbak—”
“BELI, Vin.”
Dan Vina berhenti bicara, karena aku tidak pernah menaikkan suara ke Vina dalam enam tahun kami bekerja sama.
Aku duduk di mobil di basement gedung itu selama dua puluh menit sebelum menyuruh Pak Dedi jalan.
Dan aku memikirkan satu hal, berulang-ulang, dan hal itu bukan tentang video.
Dia ada di sana.
Bukan lewat. Bukan kebetulan. Dia duduk di barisan kesembilan konferensi pers program beasiswa yayasan, dengan map di pangkuan, dan dia berada di sana karena pekerjaannya.
Vina bilang angkanya sedang diaudit.
Dan aku sudah sebelas tahun tidak pernah berhenti menghitung — kebiasaan yang kudapat dari orang yang persis itu, dan yang tidak pernah bisa kubuang, dan yang paling kubenci dari diriku sendiri —
jadi aku menghitung.
Dan hasilnya keluar dalam waktu kurang dari empat detik.
Orang yang datang ke acara yayasan sambil membawa map dan tidak menyalami siapa pun dan duduk di barisan kesembilan supaya bisa melihat seluruh ruangan tanpa dilihat —
bukan tamu.
“Pak Dedi.”
“Iya, Mbak.”
“Balik ke gedung yayasan.”
“Sekarang, Mbak? Acaranya kan udah selesai.”
Aku sudah membuka pintu sebelum dia selesai bicara.
Resepsionis yayasan itu perempuan muda berseragam yang tadi pagi membawakan air putih ke lobi.
“Selamat siang, Mbak Tamara! Ada yang bisa saya bantu?”
“Halo. Mbak, tadi ada tamu dari kantor audit ya?”
“Oh, Pak Andhika. Iya, tadi pagi.”
Pak Andhika.
Aku tidak menyiapkan diri untuk mendengar dua kata itu disusun seperti itu, dan aku butuh waktu sekitar satu detik penuh untuk memperbaiki wajahku, yang mana adalah rekor terburukku dalam enam tahun.
“Beliau masih di sini?”
“Sudah pulang, Mbak. Tadi jam sebelas.”
“Oh. Ya udah.”
“Mau saya sampaikan sesuatu?”
Dan aku berdiri di lobi Yayasan Pendidikan Bhakti Utama pada pukul satu siang, dengan riasan yang belum dihapus dan gaun yang belum diganti, dan aku memikirkan pertanyaan itu jauh lebih lama daripada yang wajar.
“Nggak usah, Mbak. Makasih ya.”
Aku berbalik.
Dan di dinding lobi, di sebelah pintu keluar, ada papan besar berisi foto-foto kegiatan yayasan dari tahun ke tahun.
Aku sudah melewatinya tadi pagi tanpa melihat.
Baris ketiga, paling kiri, foto lama yang warnanya sudah kekuningan. Belasan orang di depan gedung sekolah. Di bawahnya ada keterangan yang diketik dan ditempel.
Rapat Pleno Pengurus Yayasan bersama Perwakilan Satuan Pendidikan.
Dan tanggalnya sebelas tahun yang lalu.
Aku memotretnya.
Aku tidak tahu kenapa. Aku bahkan belum tahu itu penting.
Aku cuma sudah sebelas tahun tidak bisa berhenti menghitung, dan salah satu efek sampingnya adalah aku sekarang menyimpan hal-hal sebelum aku tahu untuk apa.
Hari 5. Sisa 25.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera reading
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu