Chapter Thirty Nine
Yang Pendek
POV: Tamara
Keberangkatanku hari Selasa jam sembilan pagi.
Bandara. Domestik. Dua koper dan satu tas kabin, dan Vina ikut sampai Kupang lalu balik lagi tiga hari kemudian.
Dan hari Senin sore, jam empat, aku naik ke atap gudang untuk terakhir kalinya.
Aku memanjat pagar sendiri.
Kali ini tidak robek. Aku memakai celana yang benar dan sepatu yang benar dan aku sudah berlatih dua kali.
Anak tangga kelima berbunyi.
Aku tidak pernah melangkahinya. Sebelas tahun.
Dan aku naik ke atas dan duduk di sudut timur laut — sudutnya, sudut yang diberikan kepadaku pada hari pertama oleh orang yang berdiri dan pindah ke tepi tanpa mengatakan apa pun —
dan aku menunggu.
Dia sampai jam setengah lima.
Anak tangga kelima berbunyi penuh.
“Tamara.”
“Hai.”
Dan dia naik sepenuhnya dan berdiri di ujung tangga, dan aku menepuk lantai semen di sebelahku.
“Sini.”
Dan dia duduk.
Di sebelahku. Di sudut timur laut. Bukan di tepi.
Dan aku menoleh ke arahnya dan berkata:
“Kamu duduk di sudut.”
“Iya.”
“Sebelas tahun lalu kamu nggak mau.”
“Iya.”
“Kenapa sekarang mau?”
Dan dia berkata:
“Karena waktu itu ada tiga orang yang butuh sudut, dan sekarang cuma ada satu.”
Kami duduk empat puluh menit.
Dan aku akan meringkasnya, karena sebagian tidak penting dan sebagian tidak akan pernah kuceritakan ke siapa pun.
Aku bercerita tentang perannya. Empat bulan, Nusa Tenggara Timur, perawat di rumah sakit daerah. Tidak ada gaun, tidak ada riasan, tidak ada satu pun sponsor.
Dia mendengarkan.
Dan di menit ketiga puluh dua dia bertanya:
“Kamu udah pernah ke rumah sakit daerah?”
“Belum.”
“Kamu mau ke sana dulu sebelum syuting?”
“Buat apa?”
Dan dia berkata:
“Buat liat perawatnya jalan gimana kalau shift-nya udah dua belas jam.”
Dan aku menoleh dan menatapnya, dan orang itu tidak sedang memberi saran dan tidak sedang mengesankan siapa pun; dia cuma menyebutkan hal yang menurutnya jelas, sebagaimana dia menyebutkan bahwa kertas yang ditaruh lurus tidak akan menyangkut.
Aku menulisnya di ponselku sore itu juga.
Dan empat bulan kemudian, sutradara itu berkata bahwa cara aku berjalan di episode tiga adalah alasan dia tidak memotong adegannya.
Aku tidak pernah memberitahunya dari mana.
Jam lima lewat, matahari mulai turun dan bayangan tembok pembatas hilang dari sudut timur laut.
Dan aku berdiri.
“Andhika.”
Dia berdiri juga.
“Aku mau satu hal,” kataku. “Terus abis itu aku nggak minta apa-apa lagi seumur hidup.”
Dan dia berkata:
“Iya.”
Tanpa bertanya apa.
“Panggil nama aku.”
Dia mengerutkan kening.
“Tamara?”
“Bukan.”
“...Hah?”
“Yang pendek.”
Dan dia berdiri di atas atap gudang SMA Negeri 4 pada hari Senin jam lima lewat sore, dan dia tidak mengerti selama kira-kira dua detik.
Lalu dia mengerti.
Dan aku melihatnya terjadi di wajahnya — bukan di wajahnya, di rahangnya, satu gerakan kecil yang cuma bisa dilihat orang yang sudah menghabiskan sebelas tahun mempelajari wajah itu.
“Tamara—”
“Sebelas tahun, Ndhik.” Suaraku sudah goyang dan aku membiarkannya. “Sekar kamu panggil Kar. Dari umur enam.”
“Iya.”
“Renata kamu panggil Renata, dan itu bikin dia hampir mati waktu SMA karena semua orang manggil dia Ketua.”
“Iya.”
“Dan aku kamu panggil Tamara. Lengkap. Tiap kali. Empat bulan di SMA, dua bulan sekarang.”
Dan aku menyeka wajahku dengan punggung tangan.
“Aku dulu kesel banget,” kataku. “Kelas sebelas. Aku nanya kamu kenapa nggak pernah manggil aku Tam, dan kamu bilang ‘namanya Tamara’, terus selesai.”
“Saya inget.”
“Iya, kamu inget semuanya. Itu masalah kamu.”
Dan aku tertawa, dan tawanya jelek dan basah, dan aku tidak peduli.
“Terus aku sadar,” kataku. “Belakangan. Bahwa kamu ngucapin nama aku kayak itu nama, bukan julukan. Dan itu satu-satunya orang di dunia yang pernah ngelakuin itu.”
Aku mengambil tasku.
“Dan aku bersyukur, Ndhik. Sumpah. Sebelas tahun.”
Aku menoleh.
“Tapi hari ini aku mau yang pendek.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Karena yang pendek itu punya orang yang tinggal.”
Dia tidak bergerak selama kira-kira empat detik.
Dan lalu dia berkata:
“...Tam.”
Satu suku kata.
Dan aku berdiri di atas atap gudang itu dan menutup mata dan membiarkan seluruh wajahku melakukan apa pun yang mau dilakukannya, karena tidak ada dua puluh enam orang di ruangan ini dan tidak ada tiga kamera dan tidak ada satu pun orang di dunia yang akan melihat.
“Sekali lagi.”
“Tam.”
“Sekali lagi.”
“Tam.”
Tiga kali.
Dan aku sudah menghitungnya, tentu saja, karena aku sudah sebelas tahun tidak bisa berhenti menghitung dan karena orang yang menularkannya sedang berdiri satu meter di depanku.
Aku menyeka wajahku.
Aku memasang maskerku. Aku memakai topiku. Aku memakai kacamataku.
Dan aku berjalan ke tangga besi.
“Tam.”
Aku berhenti.
“Iya?”
Dan dia berkata:
“Terima kasih.”
“Buat apa?”
Dan Andhika Pratama berdiri di sudut timur laut atap gudang itu dan berkata:
“Buat manggil nama saya di depan empat puluh kamera.”
Aku menoleh.
“Itu ngerusak cover kamu, Ndhik.”
“Iya.”
“Kantor kamu buka pemeriksaan internal gara-gara itu.”
“Iya.”
“Terus kenapa makasih?”
Dan dia berkata:
“Karena kalau kamu nggak manggil, saya nggak bakal dirujuk ke psikiater.”
Dan aku berdiri di ujung tangga besi dengan tangan di pegangan.
“Dan kalau saya nggak dirujuk,” katanya, “saya bakal selesein penugasan tiga puluh hari itu, terus nulis laporan, terus naik kereta, terus nggak ada satu pun orang di kota ini yang tau saya pernah balik.”
Aku memegang pegangan besi itu terlalu erat.
“Ndhik.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak kamu barusan ngomong apa?”
“Iya.”
“Kamu barusan bilang makasih ke aku karena aku ngasih kamu ke orang lain.”
Dan dia tidak menjawab.
Dan aku berdiri di sana selama empat detik dan lalu aku tertawa — betulan tertawa, dari perut, dengan hidung berkerut dan mata hilang, tawa yang menurut Mama tidak bagus di foto —
dan aku berkata:
“Ya udah. Sama-sama.”
Aku turun tiga anak tangga.
Dan lalu aku berhenti, karena ada satu hal lagi, dan karena aku sudah menyiapkannya selama sebelas tahun tanpa pernah tahu kapan aku akan mengucapkannya.
Aku tidak berbalik.
Aku bicara ke arah tangga.
“Ndhik.”
“Hm.”
“Kamu tau bedanya aku sama Sekar?”
Dia tidak menjawab.
Dan aku turun satu anak tangga lagi dan berkata:
“Sekar nungguin kamu.”
Dan aku turun satu lagi.
“Aku nungguin kamu nyariin aku.”
Dan aku turun sisanya tanpa berhenti, dan anak tangga kelima berbunyi keras, dan aku tidak melangkahinya sebagaimana aku tidak pernah melangkahinya seumur hidupku.
Dan aku tidak menoleh.
Kali ini bukan karena aku takut melihat apakah dia masih berdiri di sana.
Kali ini karena aku sudah tahu dia masih berdiri di sana.
Dan karena aku sudah tidak butuh melihatnya untuk mempercayainya.
Aku sampai bandara jam tujuh pagi keesokan harinya.
Dan di ruang tunggu, jam delapan lewat, ponselku bergetar.
Grup tanpa nama.
sekar: tam
sekar: hati2 ya
Renata: Selamat jalan, Tamara. Kabari kami setibanya.
tamara: iya
tamara: kar
sekar: iya
tamara: jaga dia
Dan Sekar Widyaningsih mengetik selama kira-kira dua puluh detik.
sekar: tam, aku nggak bisa janji dia bakal tinggal
tamara: aku nggak nyuruh kamu janji itu
tamara: aku nyuruh kamu jagain dia
tamara: dua hal beda
Dan lalu Renata mengetik satu baris, dan aku membacanya sambil berjalan ke gerbang keberangkatan dengan tas kabin di tangan:
Renata: Tamara.
Renata: Saya ingin menyampaikan sesuatu yang seharusnya saya sampaikan sebelas tahun yang lalu.
Renata: Anda adalah orang paling berani di antara kami bertiga, dan saya tidak pernah mengakuinya karena saya iri.
Dan aku berdiri di antrean gerbang keberangkatan bandara jam delapan lewat dua puluh pagi hari Selasa dengan masker dan topi dan kacamata, dan aku menangis di depan enam puluh orang yang tidak satu pun mengenaliku.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek reading
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu