← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Thirty Three

Tanpa Prosedur

POV: Renata


Hari pertama setelah kontrak selesai, saya bangun pukul 04.30.

Saya selalu bangun pukul 04.30. Sejak kelas sepuluh. Empat ribu dua ratus hari, kurang lebih, dan saya belum pernah sekali pun memakai alarm.

Saya berbaring di tempat tidur selama empat puluh menit.

Saya tidak tidur kembali. Saya juga tidak bangun.

Saya berbaring di sana dengan mata terbuka dan menatap langit-langit dan mencoba menemukan satu hal yang harus saya kerjakan hari itu.

Pekerjaan kantor: tidak ada yang mendesak. Persiapan pernikahan: tidak ada. Penugasan WP-1147: selesai. Arya: selesai.

Dan pada pukul 05.10, saya melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sepanjang hidup saya.

Saya tidur kembali.

Saya bangun pukul 08.20 dan terlambat masuk kantor untuk pertama kalinya dalam enam tahun, dan tidak ada satu pun orang yang menyadarinya, dan itu — bukan yang lain — yang membuat saya menangis di dalam lift.


Arya mengambil barang-barangnya hari Rabu.

Tidak banyak. Dua tas dan satu kardus.

Beliau datang pukul empat sore, dan beliau membawa kunci apartemen saya dan meletakkannya di meja tanpa diminta, dan beliau mengemasi seluruhnya dalam empat puluh menit tanpa satu pun kalimat yang tidak perlu.

Dan sebelum pergi, beliau berhenti di ambang pintu.

“Ren.”

“Ya.”

“Kopi kamu.”

“Ya?”

“Aku selalu taruh di sebelah kanan,” katanya. “Kamu tau nggak?”

Dan saya berdiri di ruang tengah apartemen saya sendiri dengan dua tas dan satu kardus di dekat pintu.

“Ya,” kata saya. “Saya mengetahuinya.”

“Dari kapan?”

“Dari minggu ketiga.”

Dan Arya berdiri di sana selama beberapa detik, dan lalu beliau tertawa — pendek, tanpa sinis sama sekali, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau beliau marah.

“Dua tahun,” katanya. “Dan kamu nggak pernah bilang makasih.”

“Arya—”

“Bukan buat nyalahin, Ren. Beneran.” Beliau mengangkat tasnya. “Aku cuma baru sadar kamu tuh nggak pernah bilang makasih buat hal yang kamu suka.”

“Saya—”

“Kamu bilang makasih buat hal yang bikin kamu berutang,” katanya. “Yang kamu suka, kamu diemin. Biar nggak ada yang tau.”

Dan beliau keluar, dan pintunya ditutup pelan, dan saya berdiri di ruang tengah itu selama sebelas menit tanpa bergerak.

Karena orang yang baru saja saya sakiti telah menghabiskan dua tahun mengamati saya dengan cermat, dan telah menyimpulkan sesuatu tentang diri saya yang benar sepenuhnya, dan memilih untuk menyampaikannya pada saat di mana hal tersebut tidak lagi menguntungkan beliau sedikit pun.


Hari Kamis, saya melakukan sesuatu.

Saya menelepon Wisnu.

“Ketua!”

“Wisnu.”

“Ketua sehat?”

“Wisnu, saya perlu bantuan.”

Dan terdengar suara kursi bergeser di seberang.

“Siap, Ketua.”

“Anda belum mendengar permintaannya.”

“Ketua belum pernah minta tolong sama saya,” katanya. “Tiga tahun di OSIS, delapan tahun setelahnya. Sekali pun.”

Dan saya duduk di ruangan saya di lantai dua puluh satu dan memegang gagang telepon dengan dua tangan.

“Perkara etik yang Anda sebutkan pekan lalu,” kata saya.

“Yang dr. Sekar?”

“Ya.”

“Ketua, saya nggak bisa—”

“Saya tidak meminta informasi,” kata saya. “Saya ingin tahu apakah ada mekanisme bagi pihak ketiga untuk menyampaikan keterangan yang meringankan.”

Jeda.

“Ada,” kata Wisnu. “Namanya keterangan pihak yang berkepentingan. Tapi Ketua bukan pihak.”

“Saya mengetahuinya.”

“Terus?”

Dan saya berkata:

“Terdapat program skrining kesehatan jiwa di tiga sekolah di bawah Yayasan Pendidikan Bhakti Utama. Program tersebut dirancang, diusulkan, dan dijalankan oleh yang bersangkutan tanpa dibayar selama empat tahun. Apabila praktiknya dibatasi enam bulan, program tersebut berhenti dan tujuh ratus dua puluh siswa kehilangan akses.”

“Ketua tau angkanya?”

“Ya.”

“Dari mana?”

“Saya menghitungnya,” kata saya. “Dan perusahaan tempat saya bekerja adalah pemberi dana CSR kepada yayasan tersebut, sehingga saya memiliki dasar formal untuk menyampaikan keterangan mengenai dampak program.”

Hening di seberang selama kira-kira empat detik.

“Ketua.”

“Ya.”

“Itu dasarnya tipis banget.”

“Saya mengetahuinya.”

“Tapi bisa.”

“Ya.”

Dan Wisnu Prasetyo, yang selama tiga tahun mengecil sepuluh sentimeter setiap kali saya menyebut namanya, berkata:

“Saya bantu, Ketua. Kirim datanya.”


Saya menyusunnya selama tiga malam.

Sebelas halaman.

Dasar formal, ruang lingkup, data kunjungan program empat tahun terakhir, jumlah siswa terlayani per tahun, dan proyeksi dampak apabila program dihentikan selama enam bulan.

Saya memeriksanya enam kali.

Saya memeriksa setiap pasal, setiap ayat, setiap ketentuan peralihan, dan setiap batas waktu.

Batas waktu penyampaian keterangan pihak berkepentingan: empat belas hari sebelum sidang.

Saya mencatatnya.

Saya menuliskannya dengan pulpen merah di halaman pertama draf saya, dan saya menuliskannya lagi di kalender saya, dan saya menuliskannya lagi di catatan tempel yang saya tempelkan di layar laptop saya.

Tiga kali.

Untuk satu ayat.

Dan pada malam ketiga, pukul dua pagi, saya duduk memandangi catatan tempel itu dan menyadari apa yang sedang saya lakukan, dan saya menangis di meja kerja saya untuk kedua kalinya dalam dua minggu.


Saya mengirimkannya hari Minggu.

Dua puluh satu hari sebelum sidang.

Dan pada hari Senin, saya mengirim satu pesan.

Renata: Sekar.

sekar: iya

Renata: Saya menyampaikan keterangan pihak berkepentingan ke Majelis.

Renata: Mengenai dampak penghentian program skrining. Bukan mengenai perbuatan Anda.

Renata: Saya tidak meminta izin Anda karena saya memperkirakan Anda akan menolak.

Dibaca dalam sembilan detik.

Dan tidak ada balasan selama empat menit.

sekar: ren

Renata: Ya.

sekar: kamu tau nggak itu nggak akan ngurangin sanksi aku

Renata: Saya mengetahuinya.

sekar: majelis nggak nilai manfaat program. mereka nilai perbuatan.

Renata: Saya mengetahuinya.

sekar: terus kenapa kamu kirim

Dan saya duduk di ruangan saya di lantai dua puluh satu pada hari Senin pukul 10.40, dengan seluruh pekerjaan hari itu sudah selesai sejak pukul sembilan.

Renata: Karena selama sebelas tahun saya menyusun berkas untuk seseorang dan tidak pernah mengajukannya.

Renata: Dan saya ingin mengetahui bagaimana rasanya mengajukan sesuatu yang tidak akan berhasil.


Sekar meneleponku dua menit kemudian.

Bukan pesan. Telepon.

“Ren.”

“Ya.”

“Kamu nangis?”

“Tidak.”

“Ren.”

“Ya. Sedikit.”

Dan Sekar Widyaningsih diam di seberang selama beberapa detik, dan lalu dia berkata sesuatu yang saya tuliskan malam itu juga, di halaman terakhir map cokelat, dengan pensil:

“Ren, kamu tau nggak bedanya kamu sama aku?”

“Sebutkan.”

“Aku ngelakuin hal yang nggak bener buat orang yang aku sayang,” katanya. “Kamu ngelakuin hal yang bener buat orang yang kamu anggep saingan.”

“Sekar—”

“Dan yang kedua itu jauh lebih susah,” katanya. “Aku nggak akan bisa.”


Saya menutup telepon pukul 10.51.

Dan saya duduk di ruangan saya dan membuka map cokelat lima belas halaman — yang telah kembali kepada saya, karena beliau mengembalikannya pada hari Senin pekan lalu di bordes tangga darurat setelah membacanya, tanpa satu pun komentar — dan saya membalik ke halaman terakhir.

Dua baris pensil.

Saya menambahkan yang ketiga:

11 Mei. Saya mengajukan sesuatu yang tidak akan berhasil, untuk orang yang tidak memintanya, dan tidak satu pun dari itu menguntungkan saya.

Dan itu adalah hal pertama dalam sebelas tahun yang saya kerjakan sampai selesai tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah saya akan mendapat sesuatu.

Saya menutup map itu.

Dan saya memasukkannya kembali ke dalam tas, bukan ke dalam laci.


Saya perlu menuliskan satu hal terakhir mengenai pekan itu.

Saya tidak menghubunginya.

Tidak sekali pun. Sejak pukul 12.31 hari Senin, ketika saya naik kembali ke lantai dua puluh satu dari bordes tangga darurat, sampai hari ini.

Sembilan hari.

Dan saya mengetahui persis di mana beliau berada — kota ini tidak besar, dan Sekar menyampaikan segalanya sesuai aturan yang kami sepakati di atas atap, dan saya mengetahui bahwa beliau mengambil cuti dua minggu dan bahwa beliau belum memesan tiket.

Sembilan hari, dan saya tidak mengirim satu pun pesan.

Bukan karena saya menyerah.

Karena terdapat satu hal yang saya sampaikan kepada diri saya sendiri pada malam Senin itu, sambil memegang cincin di telapak tangan di dalam taksi, dan saya belum menemukan satu pun alasan untuk membatalkannya:

Saya telah menghabiskan sebelas tahun menunggu seseorang mengambil keputusan yang seharusnya saya ambil sendiri.

Dan saya baru saja mengambil dua.

Dan yang ketiga bukan milik saya.


Terdapat satu hal lagi yang perlu saya tuliskan mengenai pekan itu, dan saya menuliskannya terakhir karena saya menundanya selama tiga hari.

Hari Kamis, Bu Sri memanggil saya ke ruangannya.

“Ren, duduk.”

Saya duduk.

“Kamu kenapa?”

“Saya baik, Bu.”

“Ren.”

“Ya, Bu.”

Dan Bu Sri menutup laptopnya, yang mana adalah hal yang beliau lakukan hanya ketika beliau berniat bicara lebih dari dua kalimat.

“Kamu telat tiga kali minggu ini.”

“Ya, Bu.”

“Enam tahun kamu nggak pernah telat sekali pun.”

“Ya, Bu.”

“Dan laporan triwulan kamu masuk lima hari lebih cepat dari deadline.”

Saya mengangkat wajah.

“Itu bagus, Bu.”

“Itu nggak bagus, Ren.” Beliau menyandarkan punggung. “Orang yang telat terus ngerjain lima hari lebih cepat itu bukan orang yang produktif. Itu orang yang lagi nyari kerjaan buat ngisi waktu.”

Dan saya duduk di ruangan Bu Sri pada hari Kamis pukul empat sore dan tidak dapat membantah satu pun kata.

“Ambil cuti.”

“Bu—”

“Bukan nanya. Ngasih.” Beliau membuka laptopnya lagi. “Sisa cuti kamu dua puluh tujuh hari, Ren. Enam tahun. Dua puluh tujuh hari.”

Saya berdiri.

“Ren.”

“Ya, Bu.”

Dan Bu Sri berkata, tanpa mengangkat wajah dari layarnya:

“Aku nggak nanya kamu kenapa. Tapi kalau suatu hari kamu mau cerita, aku di sini terus kok.”

Dan saya berjalan keluar dari ruangan itu dan berhenti di koridor selama beberapa detik.

Karena saya sudah mendengar kalimat itu sebelumnya.

Dari seorang perempuan berumur lima puluh delapan tahun yang duduk di meja kayu di ujung koridor sayap belakang sebuah gedung yayasan, sambil menempel label pada map, tiga puluh tahun.

Saya di sini terus kok.