Chapter Eight
Tiga Jam Dua Belas Menit
POV: Tamara
Aku menemukan nama gedungnya dari Vina, dan Vina menemukannya dengan cara yang paling tidak dramatis di dunia: dia menelepon humas yayasan dan bertanya alamat kantor auditor karena “ada berkas yang mau dikirim.”
Empat menit.
Sebelas tahun aku mengira mencari orang itu sulit.
Aku sampai jam setengah tiga.
Gedung perkantoran di kawasan bisnis, dua puluh delapan lantai, lobi dengan lantai marmer dan tiga meja resepsionis dan portal kartu.
Wiratama & Partners di lantai enam belas.
“Selamat siang. Ada janji, Mbak?”
“Saya mau ketemu Pak Andhika Pratama.”
Resepsionis itu mengetik. “Beliau ada di ruang klien sampai jam empat. Ada janji, ya?”
“Nggak.”
“Maaf, Mbak, tanpa janji nggak bisa naik.”
“Saya tunggu aja boleh?”
Dan dia melihat wajahku — betulan melihat, dua detik penuh, dan aku melihat pengenalan itu masuk — dan lalu dia melakukan hal yang paling sopan dan paling menyakitkan yang bisa dilakukan siapa pun hari itu.
Dia berpura-pura tidak mengenaliku.
“Boleh, Mbak. Sofa di sebelah sana.”
Aku duduk.
Aku memakai topi dan masker dan kacamata, dan aku menaruh kantong plastik di lantai di sebelah kaki, dan aku mengeluarkan ponsel dan pura-pura sibuk.
Isi kantong plastiknya tiga bungkus nasi padang.
Aku membelinya di warung dekat kos-kosan, tiga puluh menit dari sini, karena aku mencari warung yang mereknya tidak ada di mal, karena aku sudah sebelas tahun tidak masuk warung nasi padang dan karena tanganku bergerak sendiri waktu aku melihatnya dari mobil.
Aku tidak memikirkan apa pun waktu membelinya.
Aku baru memikirkannya di sofa lobi, sekitar menit kedua puluh, dan aku hampir tertawa sendiri sampai aku sadar bahwa itu tidak lucu sama sekali.
Jam tiga. Satpam lewat dua kali.
Jam empat. Resepsionis berganti shift. Yang baru tidak tahu aku menunggu siapa.
Jam empat lewat dua puluh. Aku bertanya lagi.
“Maaf, Mbak. Pak Andhika masih rapat.”
“Sampai jam berapa?”
“Nggak tertulis, Mbak.”
Jam lima. Orang mulai pulang. Lobi jadi ramai — arah sebaliknya, dari lift ke pintu putar — dan aku menarik topiku lebih rendah.
Dua orang mengenaliku. Satu memotret dari jauh. Aku melihatnya dan tidak melakukan apa-apa.
Jam lima lewat empat puluh. Satpam menghampiri.
“Maaf, Mbak. Kalau nggak ada janji, sebaiknya—”
“Iya, Pak. Sebentar lagi.”
“Maaf ya, Mbak.”
“Nggak apa-apa.”
Dia minta maaf empat kali sepanjang percakapan itu. Aku menghitungnya.
Ada satu hal yang terjadi di menit-menit terakhir dan yang tidak akan kuceritakan ke Vina.
Jam lima lewat lima belas, ada rombongan keluar dari lift. Lima orang, jas, membawa map.
Salah satunya perempuan muda, mungkin dua puluh empat, yang berjalan paling belakang sambil menelepon.
Dan waktu lewat di depan sofa, aku mendengar potongan kalimatnya.
“...iya, Pak Andhika yang pegang. Nggak tau sih, katanya lagi ada apa gitu... enggak, nggak diganti kok. Cuma kayaknya lagi ribet aja.”
Lalu dia lewat, dan pintu putar berputar, dan selesai.
Delapan detik.
Aku duduk di sofa itu dan menghitung berapa lama informasi itu berpindah — dari kantor, ke lift, ke lobi, ke telinga orang yang kebetulan duduk di sana.
Delapan detik.
Sebelas tahun lalu, di sekolah, ada orang yang menolak namanya dicantumkan dalam laporan kas OSIS karena — aku ingat kalimatnya, aku ingat kalimatnya persis — “kalau nama saya masuk laporan, orang bakal nanya siapa saya.”
Dan sekarang namanya berjalan sendiri di lobi gedung dua puluh delapan lantai, dari mulut orang yang bahkan tidak dia kenal.
Aku menarik topiku lebih rendah.
Aku berdiri jam 17.42.
Aku mengambil kantong plastik yang sudah dingin sejak jam dua dan berjalan ke pintu putar, dan aku sudah setengah jalan waktu aku melihat jam di dinding lobi.
17.42.
Aku sampai jam setengah tiga.
Tiga jam dua belas menit.
Dan aku berhenti di tengah lobi gedung perkantoran itu.
Di depan resepsionis, di depan satpam, di depan tiga puluh orang yang pulang kerja dan sebagian mengenali wajahku.
Karena aku baru sadar sesuatu yang jauh lebih memalukan daripada ditolak masuk.
Aku tidak pernah menunggu.
Sebelas tahun. Aku tidak pernah menunggu siapa pun lebih dari sepuluh menit. Ada orang yang dibayar untuk memastikan aku tidak perlu menunggu. Aku pernah membatalkan pemotretan karena penata rias telat dua puluh menit dan aku merasa itu wajar dan semua orang di ruangan itu setuju bahwa itu wajar.
Dan hari ini aku duduk di sofa lobi selama tiga jam dua belas menit dengan tiga bungkus nasi padang di lantai seperti orang bodoh.
Ya ampun.
Aku masih cinta sama dia.
Bukan lagi. Bukan kembali. Masih — dan tidak pernah berhenti, dan tidak ada satu pun dari sebelas tahun itu yang menghapus apa pun. Semuanya cuma menumpuk di atasnya, dan di bawah tumpukan itu aku masih persis anak kelas sebelas yang duduk di atap gudang dengan kantong plastik di pangkuan dan tidak berani membukanya karena ada orang lain di sana.
Tiga puluh delapan penghargaan. Empat sampul majalah tahun ini.
Dan tiga jam dua belas menit di sofa lobi.
Aku keluar.
Pak Dedi sudah menunggu di bahu jalan.
“Ke mana, Mbak?”
“Pulang, Pak.”
Dan aku duduk di jok belakang dengan kaca gelap dan kantong plastik yang sudah dingin di pangkuan, dan aku membuka ponsel dan mengirim pesan ke Vina bahwa aku sanggup ambil jadwal besok pagi, dan aku mengetiknya dengan sangat sopan dan sangat profesional.
Vina: Mbak yakin? Besok subuh lho
Tamara: Yakin. Makasih ya Vin.
Dan aku menaruh ponsel di jok dan menoleh ke jendela.
Mobil kami baru keluar dari basement waktu aku melihatnya.
Di trotoar, dua puluh meter dari pintu lobi, berjalan ke arah halte.
Jas dilipat di lengan. Map di tangan kiri. Tangan kanan di saku.
Jam enam kurang sepuluh.
“Pak Dedi.”
“Iya, Mbak?”
Dan aku membuka mulut.
Dan aku menutupnya.
Karena aku melihat sesuatu di trotoar itu yang membuat seluruh isi dadaku berhenti selama dua detik penuh.
Dia berhenti di depan halte.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di sebelah tiang, agak ke pinggir, di tempat yang tidak menghalangi orang lain.
Dan dia mengeluarkan sesuatu dari saku jas yang dilipat itu.
Earphone.
Aku terlalu jauh untuk melihat kabelnya. Aku terlalu jauh untuk melihat apa pun.
Tapi aku sudah menghabiskan empat bulan pada umur tujuh belas tahun memperhatikan orang itu memasang earphone, dan aku hafal urutannya: urai, lepas yang kiri lebih dulu, pasang yang kanan, baru yang kiri.
Dia melakukannya persis seperti itu.
Sebelas tahun.
“Mbak?”
“...Nggak jadi, Pak.”
“Jalan terus?”
“Iya.”
Dan mobil kami lewat di depan halte itu dengan kecepatan tiga puluh kilometer per jam, dan aku menoleh sampai leherku sakit, dan dia tidak melihat karena kaca mobilku gelap dan karena orang itu memang tidak pernah melihat apa pun kecuali kalau dia sedang menghitungnya.
Aku sampai rumah jam tujuh.
Aku menaruh kantong plastik di meja dapur dan tidak membukanya.
Dan aku duduk di lantai ruang tengah, bersandar ke sofa, dengan lampu belum dinyalakan, dan aku menghitung satu hal terakhir sebelum aku naik ke kamar.
Kalau dia naik angkutan umum dari halte itu, berarti dia tidak dijemput.
Kalau dia tidak dijemput, berarti dia menginap di hotel yang tidak menyediakan antar-jemput, atau dia memilih tidak memakainya.
Dan orang yang bekerja di firma sebesar itu, dengan jabatan setinggi itu, yang berdiri di halte jam enam kurang sepuluh dengan jas dilipat di lengan—
—adalah orang yang masih menghitung ongkos.
Aku menekan pergelangan tangan ke mata di lantai ruang tengah rumahku sendiri yang lampunya belum menyala.
Sebelas tahun.
Dia sudah jadi orang yang namanya disebut di ruangan yang tidak dia masuki.
Dan dia masih berdiri di halte.
Hari 11. Sisa 19.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit reading
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu