Chapter Twelve
Empat Puluh Satu Menit
POV: Sekar
Sesi ketiga, dia terlambat empat menit.
Empat menit.
Aku duduk di kursiku dan menatap pintu dari menit pertama sampai menit keempat, dan aku sudah menyusun sebelas kemungkinan sebelum aku mendengar lift berbunyi di ujung koridor.
Orang ini tidak pernah terlambat.
Aku sudah dua puluh dua tahun mengenalnya dan aku pernah melihatnya terlambat tepat dua kali seumur hidup, dan kedua-duanya karena neneknya.
Pintu terbuka.
Ditahan sampai daun pintunya menyentuh kusen. Gagangnya dilepas pelan-pelan.
“Maaf, Dok. Telat.”
“Nggak apa-apa. Silakan duduk.”
Dan dia duduk di kursi yang empat puluh sentimeter dari kursiku, dan aku melihat wajahnya, dan aku berhenti bicara selama kira-kira dua detik.
Aku sudah melihat orang kurang tidur ribuan kali. Itu pekerjaanku.
Ada tiga tanda yang selalu kucari dan seluruhnya ada di wajah itu, dan yang keempat — yang tidak diajarkan di mana pun dan yang cuma kuketahui karena aku sudah dua puluh dua tahun mempelajari satu orang saja — adalah cara dia meletakkan mapnya.
Dia meletakkannya di pangkuan.
Bukan di meja.
Orang yang meletakkan barang di pangkuan adalah orang yang tidak yakin dia akan lama di ruangan itu, atau orang yang tangannya butuh sesuatu untuk dipegang.
“Bapak tidur berapa jam semalam?”
“Cukup.”
“Pak Andhika.”
“Empat.”
Aku mengangkat wajah.
Dia menjawab dengan angka. Tanpa diminta dua kali.
“Semalam doang, atau—”
“Tiga hari.”
Dan aku meletakkan pulpen.
Aku ingin mencatat apa yang terjadi berikutnya dengan tepat, karena aku sudah memeriksanya ratusan kali dan setiap kali aku menemukan bahwa aku tidak melakukan satu pun kesalahan teknis.
Aku melakukan hal yang benar.
“Bapak,” kataku. “Saya matiin dulu asesmennya sebentar.”
“Hah?”
“Empat puluh lima menit ini punya Bapak. Kalau Bapak mau saya tanya, saya tanya. Kalau Bapak mau diem, ya diem.”
“Dok—”
“Bapak nggak akan saya tulis jelek.” Aku menutup map asesmen. “Saya udah nulis kesimpulan saya sejak sesi pertama dan nggak akan berubah. Bapak layak menjalankan penugasan. Itu yang akan saya laporkan.”
Dia menatapku.
“Kamu belum ketemu saya lima sesi lagi.”
“Iya.”
“Terus kenapa kesimpulannya udah ada?”
“Karena saya nggak butuh lima sesi buat tau Bapak kompeten,” kataku. “Saya butuh lima sesi buat tau Bapak baik-baik aja. Dan itu dua hal beda, dan yang kedua bukan urusan kantor Bapak.”
Dia tidak menjawab.
Dia duduk di kursi itu dengan map di pangkuan dan tidak mengatakan apa pun selama kira-kira satu menit.
Dan lalu dia berkata sesuatu dengan suara yang berbeda dari empat puluh menit sebelumnya, dan aku tidak akan pernah melupakan bunyinya:
“Boleh saya diem aja?”
“Boleh.”
“Berapa lama?”
“Empat puluh satu menit.”
Menit pertama, dia duduk tegak.
Menit kelima, bahunya turun.
Menit kedelapan, dia menyandarkan punggungnya sepenuhnya ke sandaran kursi — tanpa jarak dua sentimeter, tanpa sisa — dan aku melihatnya terjadi dan aku harus menunduk ke mejaku sendiri selama beberapa detik.
Menit kesebelas, matanya tertutup.
Menit ketiga belas, kepalanya miring ke kanan.
Menit kelima belas, napasnya berubah.
Aku tidak melakukan apa pun.
Selama tiga puluh delapan menit, aku duduk di kursiku dan tidak melakukan apa pun.
Aku tidak mengetik. Aku tidak membaca. Aku tidak mengeluarkan ponsel.
Aku duduk di kursi kerjaku sendiri, di ruang praktikku sendiri, dengan kertas yang belum kutulis dan pasien yang tidur di jarak empat puluh sentimeter, dan aku melihat.
Tiga puluh delapan menit.
Aku ingin menuliskan apa yang kupikirkan selama tiga puluh delapan menit itu, dan aku tidak bisa, karena aku tidak memikirkan apa-apa.
Aku cuma melihat.
Dan sekali-sekali aku menghitung napasnya, karena itu kebiasaan profesional dan karena tanganku butuh sesuatu untuk dikerjakan, dan aku berhenti menghitung setiap kali karena angkanya tidak berguna untuk apa pun.
Menit ketiga puluh sembilan, aku berdiri.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak merencanakannya. Aku tidak duduk di sana selama tiga puluh delapan menit sambil menyusun rencana.
Aku berdiri karena tubuhku berdiri.
Dan aku berjalan tiga langkah, dan aku berhenti di depan kursi itu.
Dari dekat, wajahnya lebih tua.
Ada garis di sudut mata yang belum ada waktu umur tujuh belas. Ada dua uban di pelipis kanan. Ada bekas luka kecil di bawah telinga yang sudah ada sejak dia kelas enam SD karena jatuh dari pohon jambu, dan itu satu-satunya bagian dari wajah itu yang tidak berubah sama sekali dalam dua puluh dua tahun.
Aku menunduk.
Dan aku mencium keningnya.
Tiga detik.
Aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya, karena aku tertular dari orang ini pada umur enam belas tahun dan tidak pernah sembuh.
Dia tidak bangun.
Aku berdiri kembali. Aku berjalan tiga langkah ke kursiku. Aku duduk.
Dan aku membuka map asesmen dan mulai menulis, karena tanganku gemetar dan menulis adalah satu-satunya cara aku tahu untuk menghentikannya.
Menit keempat puluh satu, alarmku berbunyi.
Dia bangun dalam satu detik. Langsung. Seperti orang yang tidur dengan alarm menyala di dalam badannya.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Saya ketiduran.”
“Iya.”
“Berapa lama?”
“Empat puluh satu menit.”
Dan dia melirik jam tangannya, dan menggosok wajahnya sekali dengan telapak tangan, dan berkata:
“Lama ya.”
Aku hampir menangis di kursiku sendiri.
Bukan karena kalimatnya.
Karena kalimat itu persis sama — persis, kata per kata, dengan intonasi yang sama — dengan yang dia ucapkan sebelas tahun lalu di atas atap gudang setelah tidur dua puluh delapan menit di pangkuanku.
Sebelas tahun.
Dia tidak ingat, atau dia ingat dan tidak menunjukkannya, dan aku tidak akan pernah tahu yang mana.
“Pak Andhika.”
“Iya.”
“Sampai minggu depan.”
Aku tidak berdiri. Aku tidak mengantarnya sampai pintu. Aku tidak mengulurkan tangan.
Karena kalau aku berdiri, dia akan melihat wajahku.
“Terima kasih, Dok.”
“Sama-sama.”
Dan pintu itu ditutup — ditahan sampai daun pintunya menyentuh kusen, gagangnya dilepas pelan-pelan — dan aku duduk sendirian di ruang praktikku dan menghitung sampai lima puluh sebelum aku mengizinkan diriku bergerak.
Aku membuka rekam medis pukul 11.20.
Aku mengetik ringkasan sesi ketiga dengan lengkap dan rapi dan tanpa satu pun kesalahan. Dua ratus sembilan puluh kata. Enam belas menit.
Lalu aku menggulir ke bawah, ke kolom Catatan Terapis, yang bersifat internal dan yang tidak masuk ke laporan mana pun dan yang hanya dibuka apabila ada permintaan resmi dari komite etik atau perintah pengadilan.
Dan aku mengetik empat kalimat.
Sesi 3. Pasien tertidur 41 menit.
Terapis melakukan kontak fisik non-terapeutik tanpa persetujuan pasien.
Terapis mengetahui hal ini merupakan pelanggaran.
Terapis tidak menyesal.
Aku membacanya sekali.
Kursorku berkedip di ujung kalimat keempat selama kira-kira dua menit.
Dan aku menyimpannya.
Sebelas tahun lalu aku mendengar sesuatu di halaman belakang sekolah dan aku diam, dan aku menyembunyikannya selama empat tahun, dan aku menyebut kepengecutan itu melindungi.
Hari ini aku melanggar sesuatu, dan aku menuliskannya sendiri, dengan namaku sendiri, di dokumen yang bisa mencabut izin praktikku.
Aku tidak tahu apakah aku sudah jadi orang yang lebih baik.
Aku cuma tahu bahwa aku sudah tidak sanggup jadi orang yang menyimpan.
Jam sebelas malam, aku mengetik ke grup.
Tujuh bulan tidak ada yang mengetik apa pun di sana.
sekar: aku cium dia. dia lagi tidur. dia nggak tau.
Aku menekan kirim sebelum aku sempat membacanya ulang.
Dan aku menaruh ponsel telungkup di meja dapur dan berdiri di sana memandangi ponsel itu selama kira-kira empat menit tanpa membaliknya.
Lalu aku membaliknya.
Dibaca. Renata. Tamara.
Tidak ada yang mengetik.
Satu menit. Dua.
Dan lalu muncul, dari Tamara, empat kata:
tamara: di mana? kapan?
Bukan kenapa. Bukan kamu gila.
Di mana? Kapan?
Aku duduk di kursi dapur.
sekar: ruang praktik. tadi pagi. sesi ketiga.
tamara: dia pasien kamu???
sekar: iya
tamara: SEKAR
sekar: iya. aku tau.
Dan Renata mengetik selama dua menit empat puluh detik — aku melihat “mengetik...” menyala dan mati dan menyala lagi, dan aku menghitungnya karena aku menghitung semuanya — dan yang akhirnya muncul cuma satu baris:
Renata: Apakah Anda mencatatnya di rekam medis?
Aku menatap layar itu.
Karena dari semua pertanyaan yang bisa ditanyakan tiga orang di dunia ini, itu satu-satunya yang menyentuh bagian yang paling penting, dan tentu saja yang menanyakannya adalah orang yang seumur hidupnya percaya bahwa yang menentukan segalanya adalah apa yang tertulis.
sekar: iya
sekar: lengkap. nggak disunting.
Renata: Anda menyadari konsekuensinya.
sekar: iya
Renata: Baik.
Dan lalu tidak ada apa-apa lagi selama enam menit, sampai Tamara mengetik satu baris terakhir yang membuatku menutup wajah dengan dua tangan di meja dapur rumahku sendiri jam sebelas lewat malam:
tamara: kar
tamara: dia keliatan capek nggak?
Hari 17. Sisa 13.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit reading
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu