← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Thirty Seven

Lampu Tiang Ketiga

POV: Sekar


Dia sampai warung jam tujuh kurang tiga.

Dan aku sudah di sana sejak jam setengah tujuh, dan aku sudah memesan dua, dan aku sudah memilih yang paling mahal untuk dia lagi, dan kali ini dia menyadarinya sebelum piringnya sampai ke meja.

“Kar.”

“Makan.”

“Kamu pesenin yang—”

“Dhika, makan.”

Dan dia makan.

Cepat, seperti biasa. Dan aku memperhatikannya, dan aku tidak berpura-pura tidak memperhatikan, dan telinganya memerah di suapan keempat sebagaimana yang terjadi minggu lalu dan sebagaimana yang akan terjadi selama sisa hidupnya kalau aku beruntung.


Aku bilang aku yang akan bicara.

Jadi aku bicara.

Empat puluh menit, dan seluruhnya tentang hal-hal yang tidak penting, dan aku menyusun keempat puluh menit itu sejak semalam.

Aku bercerita tentang pasienku hari itu — tanpa nama, tanpa detail, cuma bentuk masalahnya. Aku bercerita tentang Mbak Dini yang mau menikah. Aku bercerita tentang kulkas klinik yang rusak dan tentang tukang servis yang datang tiga kali dan tidak berhasil.

Dia mendengarkan seluruhnya.

Dan di menit ketiga puluh satu, dia bertanya nama tukang servisnya, dan aku bilang aku tidak tahu, dan dia bilang “kalau tiga kali nggak berhasil biasanya bukan kulkasnya, tapi stopkontaknya” —

dan aku menaruh sendokku dan menatapnya.

“Dhika.”

“Hm.”

“Kamu nggak mau tau kenapa aku ngomong terus?”

Dan dia berkata:

“Kamu bilang kemarin kamu yang ngomong.”

“Iya.”

“Ya udah.”

Dan aku duduk di bangku tanpa sandaran di warung nasi padang jam setengah delapan malam dan menyadari bahwa orang itu telah duduk di sana selama empat puluh menit mendengarkan cerita tentang kulkas rusak tanpa satu kali pun bertanya kenapa —

karena aku memintanya begitu, lewat pesan, semalam, dalam satu baris.


Jam delapan, aku berdiri.

“Ayo.”

“Ke mana?”

Dan aku berkata:

“Rumah.”


Kami jalan kaki.

Delapan ratus meter dari warung ke gang, dan aku sengaja tidak membawa mobil, dan aku sudah memutuskan itu sejak kemarin.

Karena delapan ratus meter itu adalah rute yang kami jalani berdua ribuan kali antara umur enam dan tujuh belas, dan karena aku ingin tahu apakah kakinya masih hafal.

Masih.

Di perempatan kedua dia belok kiri sebelum aku, karena jalan yang lurus lebih ramai dan jalan kiri lebih sepi dan itu yang selalu kami ambil dulu waktu pulang malam.

Sebelas tahun.

Dan gang itu sudah dilebarkan, dan pohon jambunya sudah ditebang, dan warung Bu Nah sudah jadi warung menantunya.


Dan lampu tiang ketiga menyala.

Aku berhenti di bawahnya.

“Dhika.”

Dia berhenti juga.

“Lampunya nyala.”

“Iya.”

“Kamu inget nggak lampu ini mati berapa lama?”

Dan dia berdiri di bawah tiang itu, di gang di belakang pasar, jam delapan lewat malam.

“Dari saya kelas sepuluh,” katanya. “Sampai saya pergi.”

“Dua tahun setengah.”

“Iya.”

“Kamu hafal delapan langkah di sini.”

Dan dia menoleh ke arahku.

“Kamu tau saya hafal delapan langkah?”

Dan aku berkata:

“Dhika, aku ngeliatin kamu dari jendela kamar aku tiap malem selama sepuluh tahun. Aku hafal kamu hafal.”


Rumahku yang ketiga dari ujung.

Rumah itu masih sama, kecuali catnya sudah diganti dua kali dan pagarnya sudah dicat ulang, dan engselnya masih engsel yang sama karena ada orang yang memperbaikinya waktu aku kelas sembilan.

“Kar.”

“Hm.”

“Ibu kamu—”

“Ibu pindah ke rumah Mbak Wulan tiga tahun lalu. Setelah Bapak meninggal.”

Dia berhenti berjalan.

“Kar.”

“Iya.”

“Bapak kamu meninggal?”

“Empat tahun lalu.”

Dan dia berdiri di gang itu dan tidak mengatakan apa pun selama kira-kira lima detik.

“Saya nggak tau.”

“Iya. Kamu nggak tau.”

“Kar—”

“Dhika.” Aku berbalik menghadapnya. “Aku nggak lagi nyalahin kamu. Aku nggak punya nomor kamu waktu itu. Nggak ada yang punya.”

Dan aku membuka pagar — engselnya tidak berbunyi, sebelas tahun, karena orang yang memperbaikinya melakukannya dengan benar — dan aku berjalan ke teras.

“Duduk,” kataku.


Dia duduk di lantai teras.

Punggung ke tiang. Persis seperti sebelas tahun lalu. Persis seperti dua belas tahun lalu. Persis seperti setiap malam antara umur enam belas dan tujuh belas ketika dia lewat jam sepuluh dan aku duduk di sini pura-pura membaca buku yang halamannya tidak pernah berganti.

Aku duduk di sebelahnya.

Bukan satu ubin.

Sebelah.


Dan aku bicara.

“Dhika.”

“Hm.”

“Sekarang aku ngomong yang beneran.”

Dia menoleh.

“Aku nggak akan minta kamu tinggal,” kataku. “Aku udah bilang itu di mobil malem Sabtu dan aku serius.”

“Kar—”

“Bentar. Aku belum selesai.”

Dan aku menarik napas.

“Cuti kamu tinggal delapan hari,” kataku. “Aku ngitung. Aku tau.”

“Iya.”

“Dan aku nggak akan tanya kamu bakal ngapain, dan aku nggak akan tanya kamu mau ke mana, dan aku nggak akan nawarin apa pun.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Tapi aku mau kamu tau tiga hal.”


“Satu,” kataku. “Rumah ini punya aku sekarang. Bapak wariskan ke aku, bukan ke Mbak Wulan, karena Mbak Wulan udah punya rumah.”

Aku memandang ke arah gang.

“Aku bisa jual. Harganya lumayan sekarang, gangnya udah dilebarin.” Aku mengangkat bahu. “Aku nggak jual.”

“Kenapa?”

Dan aku tidak menjawab yang itu.

“Dua,” kataku. “Aku bakal disidang bulan depan dan kemungkinan besar praktik aku dibatesin enam bulan, dan aku udah ngitung tujuh ratus dua puluh anak, dan aku tetep ngirim berkasnya.”

“Kar—”

“Dan aku nggak nyesel, dan aku nggak akan pernah nyesel, dan kalau kamu ngasih keterangan yang bikin sanksinya ringan aku bakal marah.”

“Saya udah nulis keterangannya.”

Aku menoleh cepat.

“Kapan?”

“Kemarin.”

“Nulis apa?”

Dan dia berkata:

“Saya nulis apa yang terjadi. Sama satu kalimat di bawahnya.”

“Kalimat apa?”

“Bahwa saya nggak dirugikan.”

Dan aku menutup mata selama beberapa detik, karena orang itu baru saja memberiku persis satu-satunya hal yang bisa dia berikan tanpa mengambil apa pun dariku.


“Tiga,” kataku.

Dan suaraku mulai goyang dan aku membiarkannya.

“Aku udah nunggu sebelas tahun, Dhika. Dan aku nggak akan bilang itu nggak apa-apa, karena itu apa-apa banget.”

Aku menoleh.

“Tapi aku nggak nunggu kamu.”

Dia menatapku.

“Aku nunggu diri aku sendiri,” kataku. “Nunggu aku berani. Sebelas tahun aku nunggu aku sendiri, dan aku baru sampe dua bulan lalu, dan aku sampe gara-gara pintu ruang praktik aku dibuka sama orang yang nutupnya pelan-pelan.”

Aku menyeka wajahku dengan punggung tangan.

“Jadi kalau kamu pergi minggu depan,” kataku, “aku nggak akan balik jadi yang dulu.”


Dan lalu aku berhenti bicara.

Dan aku duduk di teras rumahku sendiri di sebelah orang yang sudah kukenal sejak umur enam tahun, dan aku menunggu.

Dan dia tidak mengatakan apa pun selama kira-kira satu menit.

Lalu dia berkata:

“Kar.”

“Hm.”

“Kamu bilang tiga hal.”

“Iya.”

“Kamu belum jawab yang pertama.”

Dan aku menoleh.

“Yang mana?”

“Kenapa kamu nggak jual rumahnya.”


Aku berdiri.

Aku berjalan ke pagar, tiga langkah, dan aku berdiri di sana dan menunjuk dengan daguku ke rumah di sebelah kanan.

Rumah petak dua pintu. Sekarang dicat hijau. Ada motor terparkir di depan dan ada tanaman dalam pot dan ada anak kecil yang mainannya berserakan.

“Dari teras ini,” kataku, “kamu bisa liat pagar rumah itu.”

Aku tidak menoleh.

“Sebelas tahun, Dhika. Tiap malem jam sepuluh lewat aku duduk di sini.”

Aku memegang pagar dengan dua tangan.

“Bukan nungguin kamu. Aku nggak bego. Aku tau kamu nggak akan lewat.”

Dan aku menoleh.

“Aku duduk di sini karena ini satu-satunya tempat di dunia di mana aku bisa duduk dan inget kamu tanpa harus jelasin ke siapa-siapa kenapa.”


Dia berdiri.

Dan aku ingin mencatat apa yang terjadi berikutnya, dan aku sudah memeriksanya ribuan kali sejak malam itu, dan aku ingin memastikan aku tidak menambahkan apa pun.

Dia berjalan ke arahku.

Tiga langkah.

Dan dia berhenti — dua puluh sentimeter — dan dia tidak menyentuh apa pun.

Dan aku menunggu.

Aku menunggu, di teras rumahku sendiri, jam sembilan kurang malam, selama kira-kira delapan detik.

Karena aku sudah dua puluh dua tahun mengambil segala sesuatu yang disodorkan orang itu tanpa pernah membuatnya mengucapkan satu kata.

Dan aku sudah selesai dengan itu.


“Kar.”

“Hm.”

Dan Andhika Pratama berdiri di teras rumahku di bawah satu lampu yang menyala setengah dan berkata:

“Saya nggak mau pulang.”


Empat kata.

Bukan aku sayang kamu. Bukan aku bakal tinggal. Bukan satu pun dari sebelas kalimat yang sudah kususun kemungkinannya sejak jam empat sore.

Saya nggak mau pulang.

Dan aku berdiri di sana dan mengetahui — dengan seluruh dua puluh dua tahun yang kupunya — bahwa itu adalah kalimat paling telanjang yang pernah diucapkan orang itu kepada siapa pun seumur hidupnya.

Karena orang yang tidak pernah menginginkan apa pun tidak punya kata untuk menginginkan.

Yang dia punya cuma kata untuk tidak mau.


Aku menarik kerah kemejanya.

Dua tangan.

Dan aku menciumnya di teras rumahku sendiri, di gang di belakang pasar, di bawah lampu tiang ketiga yang sudah diganti, pada hari Jumat jam sembilan kurang malam.

Dan tidak ada jeda.

Tidak ada dua detik, tidak ada tiga detik, tidak ada satu pun ruang di mana orang itu menghitung apa pun.

Dan tangannya di punggungku, dan telapak itu kasar, dan sebelas tahun.


Aku membuka pintu di belakangku tanpa melepaskan.

Engselnya tidak berbunyi.