← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter One

Lantai Dua Puluh Satu

POV: Renata


Nama itu masuk ke ruangan sebelas menit sebelum orangnya.

“Yang dikirim dari Wiratama & Partners namanya Pratama,” kata Pak Dirgan, membalik halaman. “Andhika Pratama. Manajer investigasi.”

Aku sedang menandatangani lembar keempat dari enam.

“Yang di kasus koperasi tahun lalu?” tanya Bu Sri dari ujung meja.

“Iya. Yang itu.”

“Wah.”

“Kenapa ‘wah’?”

Bu Sri menutup laptopnya, yang mana adalah hal yang beliau lakukan hanya ketika beliau berniat bicara lebih dari dua kalimat.

“Anak buah saya pernah satu ruangan sama dia,” katanya. “Katanya orangnya diem banget. Nggak ngomong sama sekali sepanjang paparan orang lain. Terus pas giliran dia, dua puluh menit, selesai. Nggak ada slide.”

“Nggak ada slide?”

“Nggak ada slide.”

Pak Dirgan tertawa. “Berani juga.”

“Bukan berani,” kata Bu Sri. “Anak buah saya bilang, dia nggak bawa slide karena dia nggak butuh diinget.”

Aku menandatangani lembar kelima.

Aku perlu mencatat, untuk keperluan kejujuran, bahwa pada titik ini aku belum merasakan apa pun. Nama itu masuk ke telingaku sebagai data. Andhika adalah nama yang dimiliki kira-kira dua ratus ribu laki-laki di negara ini dan Pratama dimiliki lebih banyak lagi.

“Ren, kamu tau nggak siapa?” tanya Pak Dirgan.

“Tidak, Pak.”

“Kirain kamu tau semua orang.”

“Saya mengetahui yang perlu saya ketahui.”

Bu Sri tertawa dari ujung meja. “Nah, itu jawaban khas Renata.”

Aku menandatangani lembar keenam.

Dan kemudian aku berhenti, dengan pulpen masih menempel di kertas, karena kepalaku — yang tidak pernah meminta izin sebelum melakukan apa pun — telah menyelesaikan perhitungan yang tidak kuperintahkan.

Manajer investigasi di firma sebesar itu: minimal delapan tahun pengalaman. Delapan tahun ditambah kuliah empat tahun ditambah kemungkinan jeda. Usia perkiraan: dua puluh delapan sampai tiga puluh dua.

Aku dua puluh delapan.

“Ren?”

“Ya, Pak.”

“Kamu udah tanda tangan?”

“Sudah.”

Aku menyerahkan mapnya. Tanganku stabil. Aku memeriksanya.


Pukul 10.00, pintu ruang rapat terbuka.

Yang masuk adalah seorang laki-laki berjas abu-abu tanpa dasi, memegang satu map di tangan kiri. Tidak ada tas. Tidak ada laptop. Tidak ada asisten.

Aku berdiri.

Aku menyebutkan namaku, jabatanku, dan lingkup penugasan yang menjadi kewenanganku. Aku mengulurkan tangan. Beliau menjabatnya.

Tiga detik.

Tangannya masih kasar.

“Andhika Pratama,” katanya. “Wiratama & Partners.”

Dan tidak ada apa pun di wajah itu.

Bukan datar dalam arti dingin. Datar dalam arti tidak ada informasi yang keluar sama sekali — cara orang menyebutkan nama sendiri kepada orang yang tidak pernah dia temui.

“Silakan duduk,” kataku.

Beliau duduk.

Aku duduk empat detik setelahnya, dan pada saat aku duduk itulahku menyadari sesuatu.

Aku berdiri lebih dulu.

Terdapat sebelas orang di ruangan itu. Aku adalah pihak dengan jabatan tertinggi. Pihak dengan jabatan tertinggi tidak berdiri lebih dulu; pihak dengan jabatan tertinggi menunggu, lalu mengulurkan tangan dari posisi duduk, atau berdiri bersamaan dengan yang lain.

Aku telah mengikuti tiga ratus dua puluh rapat semacam ini dalam enam tahun terakhir.

Aku tidak pernah berdiri lebih dulu.


Rapat berjalan lima puluh dua menit.

Aku akan meringkas isinya, karena isinya penting dan karena aku mencatat seluruhnya dengan lengkap.

Program beasiswa CSR perusahaan kami menyalurkan dana ke sembilan yayasan pendidikan. Delapan di antaranya memiliki laporan yang cocok sampai ke digit terakhir. Satu tidak.

Selisihnya tidak besar dalam persentase. Selisihnya besar dalam angka: satu koma empat miliar, terakumulasi selama sebelas tahun.

Aku yang menemukannya. Aku yang melapor. Perusahaan menyewa firma audit forensik.

“Metodologinya bagaimana, Pak?” tanya Pak Dirgan.

“Tiga puluh hari.”

“Tiga puluh hari untuk sebelas tahun data?”

“Iya.”

“Nggak kurang?”

“Nggak.”

Dan beliau tidak menjelaskan lebih jauh, dan Pak Dirgan menunggu penjelasan itu selama kira-kira empat detik sebelum menyadari bahwa penjelasan itu tidak akan datang.

Aku mengangkat pulpen.

“Saudara Pratama.”

Beliau menoleh.

Dan aku perlu mencatat bahwa aku menggunakan sapaan tersebut secara otomatis, tanpa memilihnya, dan bahwa aku baru menyadari bentuknya setelah kalimat itu keluar.

“Ya.”

“Apa dasar Anda menyimpulkan tiga puluh hari cukup?”

“Karena masalahnya bukan sebelas tahun data,” katanya. “Masalahnya sebelas tahun keputusan. Datanya banyak, keputusannya sedikit.”

“Berapa?”

“Belum tau. Perkiraan saya di bawah dua puluh.”

“Anda belum melihat dokumennya.”

“Belum.”

“Lalu dari mana angka dua puluh?”

Dan beliau melakukan sesuatu yang kucatat di margin dan yang tidak berhenti menggangguku sepanjang sisa hari itu:

Beliau menoleh ke arahku sepenuhnya — bukan sekadar memutar kepala, tetapi menyesuaikan posisi badan — dan menjawab dengan kalimat yang lebih panjang daripada seluruh jawabannya kepada sebelas orang lain di ruangan itu digabung.

“Kalau uang hilang karena dicuri, jejaknya banyak dan kecil-kecil. Butuh waktu lama,” katanya. “Kalau uang pindah karena diputuskan, jejaknya sedikit dan besar-besar. Yang lama bukan nyarinya. Yang lama nunggu orangnya ngaku.”

“Anda mengasumsikan diputuskan, bukan dicuri.”

“Iya.”

“Berdasarkan apa?”

“Berdasarkan angkanya rapi.”

Beliau kembali menghadap ke depan.

“Orang yang nyuri nggak bikin angkanya rapi,” katanya. “Yang bikin rapi itu orang yang nggak ngerasa salah.”

Terdapat jeda kira-kira tiga detik di ruangan itu.

“Wah,” kata Pak Dirgan. “Menarik.”

“Berarti nanti kita cari yang mana, Pak?” tanya Bu Sri. “Yang salah, atau yang nggak ngerasa salah?”

“Dua-duanya sama.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya orang yang nggak ngerasa salah itu tetep bikin orang lain rugi,” katanya. “Cuma nggak ada yang bisa dihukum. Jadi biasanya klien lebih kecewa daripada kalau ketemu maling.”

Aku menuliskan kalimat tersebut secara utuh.

Aku tidak menuliskan kalimat secara utuh. Aku meringkas. Aku sudah meringkas selama enam tahun dan notulenku adalah notulen terbaik di divisi ini justru karena aku tidak pernah menyalin.

Aku menyalin kalimat itu kata per kata, termasuk kata “biasanya”.


Rapat selesai pukul 10.52.

Aku menyalami tujuh orang. Aku mengucapkan terima kasih kepada dua orang. Aku memastikan notulen dikirim sebelum pukul lima.

Dan pukul 11.40, di ruanganku sendiri, dengan pintu tertutup, aku membuka buku catatanku dan membaca ulang lima puluh dua menit itu dari awal sampai akhir.

Catatannya lengkap. Rapi. Tidak ada satu pun kesalahan.

Di margin halaman kedua, dengan tulisan tanganku sendiri, terdapat satu kata yang tidak berhubungan dengan apa pun dalam rapat tersebut.

kasar.

Aku menatap kata itu selama beberapa saat.

Kemudian aku menutup buku itu.

Kemudian aku membukanya lagi dan mencoret kata tersebut — satu garis, rapi, sebagaimana aku mencoret kesalahan pencatatan.

Dan kemudian aku duduk di kursiku di lantai dua puluh satu dan menghitung, karena menghitung adalah satu-satunya hal yang kuketahui cara melakukannya ketika aku tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.

Sebelas tahun. Empat bulan sepuluh hari sampai pernikahanku. Tiga puluh hari masa penugasan.

Dan satu hal yang tidak dapat kumasukkan ke dalam perhitungan mana pun:

Laki-laki itu menyebutkan namanya sendiri kepadaku.

Lengkap. Dengan nama firmanya. Seperti kepada orang asing.

Dan aku tidak tahu apakah itu artinya beliau tidak mengenaliku —

— atau artinya beliau memutuskan, dalam empat detik antara pintu terbuka dan tangan terulur, bahwa lebih murah bagi kami berdua kalau beliau berpura-pura tidak.


Pukul 17.10, ponselku bergetar.

Arya: udah selesai rapatnya?

Renata: Sudah. Tadi pagi.

Arya: lancar?

Renata: Lancar.

Arya: aku beliin makan malem ya. kamu mau apa

Renata: Terserah kamu saja.

Arya: oke. jangan pulang malem2

Renata: Baik.

Aku menaruh ponsel di meja.

Aku memandanginya selama beberapa detik.

Dan aku melakukan sesuatu yang tidak dapat kupertanggungjawabkan: aku membuka kembali percakapan itu, dan aku membaca ulang lima pesan tersebut, dan aku memeriksa apakah terdapat sesuatu yang salah di dalamnya.

Tidak ada.

Seluruhnya benar. Seluruhnya sopan. Seluruhnya persis seperti empat ratus percakapan sebelumnya selama dua tahun.

Dan itu yang membuatku duduk di ruangan itu sampai pukul tujuh malam tanpa mengerjakan apa pun —

— karena aku baru saja memeriksa hidupku sendiri untuk mencari kesalahan, sepertiku memeriksa laporan kas.

Dan aku tidak menemukan satu pun.

Dan aku tidak lega sama sekali.


Pukul 19.05, ketika aku sudah memakai jas dan mematikan lampu ruangan, Wisnu menelepon.

Wisnu sekarang di firma hukum. Kami bertemu dua kali setahun. Dia masih memanggilku Ketua dan aku masih belum mengoreksinya, dan aku sudah berhenti mencoba mencari tahu kenapa.

“Ketua.”

“Wisnu.”

“Ketua sehat?”

“Sehat.”

“Ketua, saya denger dari temen saya di Wiratama—”

Aku berhenti berjalan di koridor.

“Denger apa.”

“Yang pegang kasus yayasan itu Andhika.”

Koridor lantai dua puluh satu kosong pada pukul tujuh malam. Lampunya menyala setengah, mode hemat, sebagaimana setiap hari kerja sejak gedung ini dibangun.

“Ya,” kataku. “Saya sudah bertemu tadi pagi.”

“Terus gimana?”

“Kompeten.”

“Ketua.”

“Ya.”

“Saya nanya bukan itu.”

Dan aku berdiri di koridor itu memegang ponsel, dan aku menyadari bahwa Wisnu Prasetyo, yang selama tiga tahun mengecil sepuluh sentimeter setiap kali aku menyebut namanya, baru saja menanyakan hal yang tidak berani ditanyakan siapa pun kepadaku sejak usia tujuh belas tahun.

“Notulennya sudah saya kirim,” kataku. “Selamat malam, Wisnu.”

Aku menutup telepon.

Dan aku berjalan ke lift, dan aku menekan tombol lantai dasar, dan di dalam lift yang kosong itu aku memutar cincin di jari manis kiriku dengan ibu jari — empat kali, aku menghitungnya — sampai pintunya terbuka.


Hari 1.