← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Seven

Kapasitas

POV: Andhika


Aku turun lewat tangga darurat, bukan lift.

Tujuh lantai. Aku tidak memikirkan alasannya waktu itu; aku baru memikirkannya malam harinya, dan alasannya ternyata sederhana: lift punya cermin.

Di lantai empat, aku berhenti.

Aku berdiri di bordes tangga darurat sebuah klinik dengan tangan di pegangan besi, dan aku menghitung.

Enam sesi. Empat puluh lima menit per sesi. Dua ratus tujuh puluh menit.

Lalu aku menghitung ulang, karena hasil pertama tidak berguna, dan hasil kedua juga tidak berguna, dan aku menghitungnya empat kali sebelum aku sadar bahwa aku sedang melakukan hal yang biasanya kulakukan supaya tidak perlu memikirkan hal lain.

Aku turun tiga lantai sisanya.


Jam satu siang, aku menelepon Pak Wira.

“Pak.”

“Gimana, Dhik? Udah?”

“Sudah, Pak. Sesi pertama.”

“Gimana orangnya?”

“Kompeten.”

“Kamu tuh kalau ditanya orang selalu jawab ‘kompeten’.”

“Iya, Pak.”

Dia tertawa di seberang.

“Ya udah. Lima sesi lagi, terus laporan keluar, terus kelar. Jangan dipikirin.”

“Pak.”

“Hm.”

“Saya mau tanya soal kapasitas.”

Suara di seberang berhenti.

“Kapasitas apa?”

“Konsultan psikologinya ditunjuk oleh yayasan,” kataku. “Yayasan itu objek pemeriksaan saya.”

Jeda tiga detik.

“Terus?”

“Terus dia masuk lingkup, Pak.”

“Dhik.”

“Iya, Pak.”

“Kamu mau bilang dokternya harus kamu periksa juga?”

“Bukan itu.”

“Terus apa?”

Dan aku berdiri di trotoar depan klinik itu memegang ponsel, dan aku memberikan alasan yang benar, dan alasan itu memang benar seluruhnya.

“Kalau nanti temuan kita digugat, pihak lawan bisa bilang investigatornya dinilai kelayakannya oleh pihak yang dia periksa,” kataku. “Itu celah, Pak. Bukan celah besar. Tapi ada.”

“Hm.”

“Saya usul konsultannya diganti. Dari luar. Ditunjuk firma, bukan yayasan.”

“Biayanya nambah.”

“Saya tanggung, Pak.”

“Nggak usah sok pahlawan.”

“Bukan pahlawan. Saya nggak mau laporannya bolong.”

Pak Wira diam agak lama.

“Ya udah, aku urus,” katanya. “Tapi butuh waktu. Yayasan udah tanda tangan kontrak sama kliniknya. Minimal dua minggu.”

“Dua minggu itu tiga sesi, Pak.”

“Ya.”

“Baik, Pak.”

“Dhik.”

“Iya.”

“Kamu kenapa buru-buru banget?”

Dan aku berdiri di trotoar itu dan menjawab dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya, yang mana adalah kesalahan teknis yang tidak pernah kulakukan dalam delapan tahun.

“Saya nggak buru-buru, Pak.”


Jam dua siang, aku kembali ke kantor yayasan untuk urusan yang sudah dijadwalkan tiga hari lalu.

Ruang arsip di lantai satu, sayap belakang, di ujung koridor yang tidak dilewati siapa pun.

Dan di depan pintunya, ada meja kayu dengan satu kursi, dan di kursi itu duduk seorang perempuan berumur yang sedang menempelkan label pada map.

“Selamat siang, Bu.”

Dia mengangkat wajah.

Dan aku ingin mencatat, dengan sejujur-jujurnya, bahwa aku sudah menyiapkan diri untuk momen ini sejak hari Rabu, dan bahwa persiapanku tidak berguna sama sekali.

Bu Ratna sudah lima puluh delapan tahun. Rambutnya sudah beruban di depan. Kacamatanya menggantung di leher dengan tali manik-manik.

“Iya, Pak? Cari siapa?”

Dan dia tidak mengenaliku.

Tentu saja dia tidak mengenaliku. Tiga puluh tahun di tata usaha, dan berapa ribu anak yang lewat di depan mejanya, dan aku salah satu dari mereka selama satu setengah tahun dan aku tidak pernah sekali pun jadi anak yang membuat orang ingat.

“Saya Andhika, Bu. Dari Wiratama & Partners.”

“Oh! Yang audit itu ya.”

“Iya, Bu.”

“Sebentar ya, saya ambilkan kuncinya.”

Dia berdiri. Dia berjalan ke lemari di sudut. Dan sambil berjalan, dia berkata sesuatu tanpa menoleh, dengan nada orang yang sedang berbasa-basi dan tidak sedang memikirkan apa pun:

“Saya sudah siapkan yang tahun ketujuh sampai kesebelas, Pak. Kalau kurang, bilang aja.”

“Terima kasih, Bu.”

“Iya. Saya di sini terus kok.”

Saya di sini terus kok.

Tiga puluh tahun.

Dan aku berdiri di koridor sayap belakang gedung yayasan itu memegang mapku dengan dua tangan, dan aku menghitung sesuatu yang tidak kuminta untuk dihitung:

Kalau beliau di sini terus selama tiga puluh tahun, berarti beliau juga di sini sebelas tahun yang lalu.

Berarti beliau yang mengetik surat itu.

Berarti beliau yang menempelkan label pada map yang isinya empat puluh tiga nama.

Dan beliau menyerahkan kunci ruang arsip kepadaku sambil tersenyum, dan berkata hati-hati debunya banyak, dan kembali ke kursinya untuk melanjutkan menempel label.


Jam empat sore, ponselku bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Klinik Amerta: Selamat sore Pak Andhika. Menindaklanjuti diskusi hari ini, kami informasikan bahwa dr. Sekar Widyaningsih, Sp.KJ telah mengajukan pengunduran diri dari penugasan asesmen ini karena potensi benturan kepentingan. Proses penggantian sedang berjalan. Sesi berikutnya tetap dijadwalkan hingga pengganti tersedia. Terima kasih.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Lalu aku menyimpannya.

Dan sepanjang sisa hari itu — sepanjang tiga jam membaca notulen rapat pengurus tahun ketujuh, sepanjang makan malam sendirian di kamar hotel, sepanjang jam sembilan sampai jam sebelas ketika aku menandai dua puluh satu dokumen —

ada satu hal yang tidak mau pergi dari kepalaku.

Pesan itu datang tiga jam setelah teleponku ke Pak Wira.

Tiga jam.

Pak Wira bilang butuh waktu. Pak Wira bilang minimal dua minggu. Pak Wira bilang yayasan sudah tanda tangan kontrak.

Dan tiga jam kemudian, kliniknya mengirim pemberitahuan bahwa dokternya sudah mengajukan pengunduran diri.

Bukan “akan mengajukan”. Telah.

Aku sudah dua belas tahun membaca dokumen dan aku sudah dua belas tahun hidup dari satu keahlian saja, yaitu memperhatikan urutan.

Urutannya salah.

Kalau dia mengajukan pengunduran diri karena benturan kepentingan, dia mengajukannya sebelum sesi pertama, bukan tiga jam sesudahnya.

Kalau dia mengajukannya setelah sesi pertama, artinya benturan kepentingan itu baru dia ketahui setelah bertemu.

Dan kalau dia baru mengetahuinya setelah bertemu—

Aku berhenti di situ.

Aku menutup laptop.

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan urutan itu, dan itu adalah pertama kalinya dalam dua belas tahun aku menghentikan sebuah rangkaian di tengah karena aku tidak mau tahu ujungnya.


Ada hal lain yang harus kucatat dari hari itu.

Pukul 21.40, aku membuka dokumen internal firma dan menuliskan laporan benturan kepentingan.

Formulirnya standar. Enam kolom.

Nama investigator: Andhika Pratama Nomor penugasan: WP-1147 Jenis benturan:Pihak terkait:Sifat hubungan:Periode:

Aku mengisi dua kolom pertama.

Aku menatap kolom ketiga selama sebelas menit. Aku menghitungnya.

Dan aku menyusun kalimatnya di kepala, seperti aku menyusun semua kalimat, dari yang paling pendek:

Investigator merupakan mantan siswa satuan pendidikan yang dinaungi objek pemeriksaan.

Benar. Faktual. Dapat diverifikasi dalam empat menit oleh siapa pun yang menelepon Tata Usaha.

Dan kalau aku menuliskannya, penugasan ini pindah ke orang lain dalam empat puluh delapan jam.

Dan orang lain itu akan membaca sebelas tahun notulen dengan benar, dan akan menemukan hal yang sama denganku, dan akan menulis laporan yang isinya kira-kira sembilan puluh persen sama.

Sepuluh persen sisanya yang tidak akan dia temukan.

Karena orang lain tidak akan membuka Lampiran C.

Karena tidak ada satu pun alasan profesional untuk membuka rekapitulasi tunggakan SPP sebelas tahun lalu dalam pemeriksaan alokasi dana beasiswa.

Kecuali kalau kamu sudah tahu apa yang ada di baris kedua puluh delapan.


Aku menghapus dua kolom yang sudah kuisi.

Aku menutup formulirnya tanpa menyimpan.

Dan aku duduk di meja kamar hotel lantai sembilan dan mengakui, kepada diriku sendiri, dengan jelas dan tanpa pembungkus, hal yang sudah kuketahui sejak jam empat pagi hari Rabu:

Aku tidak memilih kasus ini untuk yayasan itu.

Aku tidak memilihnya untuk anak-anak yang kehilangan kuota beasiswa, walaupun itu benar dan walaupun aku akan menuliskannya di laporan.

Aku memilihnya karena selama sebelas tahun aku tidak pernah tahu siapa yang memutuskan, dan karena aku sudah menghabiskan seluruh karierku belajar satu hal saja, yaitu cara mencari tahu siapa yang memutuskan.

Dan orang yang membangun sebuah karier selama sebelas tahun untuk mencari tahu siapa yang mengambil sesuatu darinya—

—bukan orang yang sudah selesai.


Jam sebelas lewat, aku memasang earphone.

Dua-duanya. Sembilan lagu.

Dan sebelum lagu pertama selesai, aku mengambil ponsel dan membuka pesan dari Klinik Amerta dan membacanya untuk yang keempat kalinya.

Lalu aku mengetik balasan.

Terima kasih atas informasinya.

Aku menatapnya.

Aku menghapusnya.

Aku mengetik lagi.

Baik, terima kasih. Sesi berikutnya jam berapa?

Aku menatap yang ini lebih lama.

Karena jadwal sesi berikutnya sudah tercantum di lampiran surat rujukan yang kuterima hari Senin, dan aku sudah membacanya, dan aku hafal — Selasa, pukul sepuluh — dan aku hafal seperti aku menghafal segalanya.

Aku menghapusnya juga.

Aku mengunci layar dan meletakkan ponsel telungkup di meja.

Dan aku tidak membalas apa pun, dan itu adalah satu-satunya hal yang benar yang kulakukan sepanjang hari itu.


Hari 9. Sisa 21.