Chapter Thirty
Tiga Orang di Atap
POV: Tamara
Aku yang memanggil.
tamara: atap gudang. hari ini. jam 5.
tamara: kita bertiga.
tamara: aku nggak nanya kalian bisa apa enggak.
Sekar membaca dalam dua menit.
sekar: aku bisa
Renata membaca dalam empat puluh menit — jam satu siang, yang berarti dia baru membuka ponselnya setelah sesuatu, dan aku tidak tahu apa dan aku tidak menanyakannya.
Renata: Saya akan hadir.
Aku sampai jam setengah lima.
Aku memanjat pagar di bagian samping, dekat tempat pohon yang sudah ditebang, dan aku merobek celanaku di bagian lutut dan aku tidak peduli sama sekali.
Anak tangga kelima berbunyi keras.
Aku tidak pernah melangkahinya. Sebelas tahun lalu dia memberitahuku dua kali dan aku tidak pernah melangkahinya, dan aku baru mengerti alasannya di umur dua puluh delapan sambil naik tangga besi dengan celana robek:
Aku tidak pernah mau datang ke mana pun diam-diam.
Sekar sudah di atas.
Duduk di sudut timur laut, memeluk lutut, dengan tas kerja di sebelahnya dan jas dokter yang belum dilepas.
“Kamu dari klinik?”
“Iya. Aku kosongin jadwal sore.”
“Kar—”
“Aku udah sering ngosongin jadwal buat hal yang lebih nggak penting.”
Aku duduk di sebelahnya.
Bukan di sudut. Di sebelahnya, di lantai semen, satu ubin.
Dan kami tidak bicara selama beberapa menit.
Renata sampai jam lima lewat delapan.
Aku mendengar anak tangga kelima — tidak berbunyi.
Tentu saja tidak berbunyi.
Dan kepalanya muncul di atas lantai atap, dan dia naik sepenuhnya, dan dia berdiri di sana dengan setelan kerja lengkap dan sepatu hak dan tas kulit.
“Ren, kamu manjat pagar pakai itu?”
“Ya.”
“Pakai hak?”
“Saya melepasnya.”
Dan Sekar tertawa — pendek, terkejut — dan Renata Claudya Larasati berdiri di tengah atap gudang itu dan berkata, dengan wajah paling datar di dunia:
“Saya membawanya di dalam tas. Saya sudah memperkirakannya sejak pukul satu siang.”
Dia duduk.
Di sudut barat daya.
Dan kami bertiga duduk di atas atap gudang SMA Negeri 4 pada hari Senin jam lima lewat sore — tiga perempuan berumur dua puluh delapan tahun, di tiga sudut yang sama seperti sebelas tahun yang lalu.
Angin datang dari arah lapangan.
Dan aku membuka.
“Oke,” kataku. “Aturannya satu. Nggak ada yang boleh sopan.”
“Setuju,” kata Sekar.
“Setuju,” kata Renata.
“Aku duluan.”
Dan aku menarik napas.
“Aku cium dia hari Rabu. Di parkiran basement, jam dua pagi, abis dia nonton aku syuting delapan jam.”
Sekar mengangguk. Renata tidak bergerak.
“Aku yang berhenti duluan. Aku bilang cukup. Karena kalau lebih dari itu aku bakal minta dia tinggal, dan aku udah pernah minta itu sekali dan aku inget rasanya.”
Aku memandang ke arah pohon-pohon.
“Dan aku udah bilang ke manajer aku, kalau fotonya keluar, keluar aja.”
“Keluar nggak?” tanya Sekar.
“Enggak.”
“Kok bisa?”
“Karena nggak ada yang bisa diverifikasi.” Aku tertawa. “Aku ngerusak karir aku sendiri dan nggak ada satu pun orang yang nyadar.”
“Saya berikutnya,” kata Renata.
Dan dia mengatakannya dengan susunan kalimat yang sama seperti dia melaporkan temuan audit, dan itu justru yang membuat isinya jadi jauh lebih menghancurkan.
“Hari ini pukul 12.26, di tangga darurat lantai dua puluh, saya mencium beliau.”
Aku menoleh cepat.
“Ren—”
“Saya yang memulai. Dua belas detik. Saya yang mundur.”
“Ren.”
“Dan sebelum itu saya melepas cincin saya dan meletakkannya di antara kami,” katanya, “dan beliau mendorongnya kembali.”
Dan aku duduk di lantai semen itu dan tidak bisa mengeluarkan satu pun kata.
“Beliau berkata: kalau Ibu lepas ini gara-gara saya, besok Ibu bakal pakai lagi.”
Renata melihat tangan kirinya sendiri.
Kosong.
“Saya menelepon Arya pukul 17.40,” katanya. “Empat puluh menit yang lalu.”
“Terus?”
“Selesai.”
Dan dia mengatakan satu kata itu dengan suara yang rata sepenuhnya, dan lalu dia menunduk, dan bahunya bergerak satu kali, dan Renata Claudya Larasati menangis di sudut barat daya atap gudang SMA Negeri 4 tanpa mengeluarkan satu pun suara.
Sekar yang pindah duluan.
Dari sudut timur laut ke sudut barat daya, empat langkah, dan dia duduk di sebelah Renata dan meletakkan tangannya di punggung perempuan itu dan tidak mengatakan apa-apa.
Aku menyusul.
Dan kami bertiga duduk di sudut barat daya — bukan di tiga sudut, di satu — dan tidak ada yang bicara selama kira-kira empat menit.
“Sekar,” kata Renata akhirnya, dengan suara yang sudah benar lagi. “Anda belum.”
“Iya.”
“Silakan.”
Dan Sekar Widyaningsih berkata:
“Aku serahin rekam medisnya ke Majelis hari Kamis. Utuh. Termasuk catatan sesi ketiga.”
“Kar—”
“Sidangnya bulan depan. Kemungkinan terbesar: peringatan tertulis, pembinaan, sama pembatasan praktik enam bulan.”
“Enam bulan?” kataku.
“Iya.”
“Kar, klinik kamu—”
“Kliniknya jalan. Ada dua dokter lain.” Dia mengangkat bahu. “Yang nggak jalan program skrining sekolah. Itu program aku, dan nggak ada yang lain yang mau ngerjain karena nggak dibayar.”
Dan aku duduk di sana dan menghitung, karena aku sudah sebelas tahun tidak bisa berhenti menghitung.
Dua kali sebulan. Tiga sekolah. Enam bulan.
Tiga puluh enam kunjungan.
Kira-kira tujuh ratus anak.
“Kar.”
“Hm.”
“Kamu udah ngitung itu?”
Dan dia berkata:
“Iya, Tam. Aku ngitung sebelum aku ngirim berkasnya.”
Aku ingin mencatat apa yang terjadi berikutnya, karena itu bagian yang tidak pernah kubayangkan akan terjadi seumur hidupku.
Renata bicara.
Bukan melaporkan. Bicara.
“Sekar.”
“Iya.”
“Anda menghitung tujuh ratus anak, dan Anda tetap mengirimkannya.”
“Iya.”
“Mengapa?”
Dan Sekar memandang ke arah tembok pembatas di seberang — ke bagian bawah yang tertutup bayangan, di mana ada enam baris goresan yang tidak bisa dilihat dari tempat kami duduk.
“Karena sebelas tahun lalu aku diem buat ngelindungin satu orang,” katanya, “dan hasilnya aku kehilangan orangnya, dan orangnya tetep nggak terlindungi.”
Dia menoleh.
“Aku udah pernah nyoba diem, Ren. Aku tau harganya. Dan harganya lebih mahal dari tujuh ratus anak.”
Hening di atap itu.
“Itu tidak rasional,” kata Renata.
“Iya.”
“Dan saya sependapat sepenuhnya.”
Jam enam kurang, matahari mulai turun dan bayangan tembok pembatas hilang dari sudut barat daya dan kami bertiga kepanasan.
Dan tidak ada yang pindah.
“Tam,” kata Sekar.
“Hm.”
“Kenapa kamu manggil kita ke sini?”
Dan aku duduk tegak dan berkata hal yang sudah kusiapkan sejak jam sebelas siang, dan yang kususun selama tujuh jam, dan yang tetap keluar salah.
“Karena besok dia pergi.”
“Lusa,” koreksi Renata.
“Lusa.” Aku mengangguk. “Dan kita bertiga bakal ngelakuin sesuatu dalam empat puluh delapan jam ke depan, dan aku nggak mau ada yang ngelakuinnya diam-diam.”
Aku memandang keduanya.
“Sebelas tahun lalu ada orang yang ngatur kita bertiga selama dua bulan biar kita nggak ketemu,” kataku. “Dan kita nggak tau. Dan waktu kita tau, kita marah — bukan sama dia, sama diri kita sendiri, karena kita nyaman banget diatur.”
Aku mengambil tasku.
“Aku nggak mau kita jadi yang ngatur,” kataku. “Jadi aturannya: siapa pun yang ngelakuin sesuatu, dua yang lain harus tau. Sebelum, bukan sesudah.”
“Setuju,” kata Sekar.
“Setuju,” kata Renata.
Dan lalu Renata mengatakan sesuatu yang tidak kusiapkan.
“Terdapat satu hal yang belum kita bicarakan.”
“Apa?”
“Beliau belum memilih apa pun.”
Dan atap itu jadi sangat sunyi.
“Kita bertiga telah melakukan sesuatu,” katanya. “Anda mencium beliau. Saya mencium beliau. Sekar—”
“Aku juga.”
“Kapan?” kataku.
“Belom. Tapi bakal.”
“Kar—”
“Aku ngasih tau duluan,” katanya. “Sesuai aturan.”
Dan Renata melanjutkan, tanpa mengubah nada sedikit pun:
“Dalam ketiga peristiwa tersebut, beliau membalas. Dan dalam ketiganya, beliau tidak memulai.”
Dia berdiri dan merapikan roknya.
“Dan saya perlu menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak ingin kita dengar,” katanya. “Orang yang selalu membalas dan tidak pernah memulai bukan orang yang sedang memilih di antara tiga.”
“Terus dia lagi ngapain?” kataku.
Dan Renata Claudya Larasati berkata:
“Beliau sedang tidak menolak siapa pun. Karena beliau tidak pernah dalam hidupnya belajar cara menolak orang yang memberi sesuatu.”
Kami turun jam enam lewat.
Bertiga. Anak tangga kelima berbunyi dua kali dari tiga orang, karena Renata melangkahinya dan aku tidak pernah melangkahinya dan Sekar berbunyi setengah.
Dan di lantai koridor lab, sebelum kami berpisah, aku berkata:
“Ren.”
“Ya.”
“Yang barusan kamu bilang.”
“Ya.”
“Kamu ngomong gitu buat nyakitin kita atau buat nyakitin diri kamu sendiri?”
Dan Renata berhenti berjalan.
“Keduanya,” katanya. “Dan terutama yang kedua.”
Hari 30. Sisa 0.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap reading
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu