← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Twenty

Empat Puluh Sentimeter

POV: Renata


Saya sampai pukul 20.52.

Sekolah gelap. Satpam membukakan gerbang samping dan menunjukkan arah dengan senter dan berkata bahwa beliau akan berjaga di pos sampai kami selesai.

Koridor laboratorium panjangnya empat puluh satu meter dan lampunya cuma menyala tiga dari sembilan.

Saya menghitung langkah saya. Lima puluh empat.

Dan di ujungnya, pintu gudang terbuka, dan ada cahaya kuning dari dalam, dan bayangan seseorang bergerak di lantai koridor.


Dalamnya lebih kecil dari yang saya bayangkan.

Enam kali sembilan meter. Delapan rak besi. Kardus arsip disusun sampai setinggi dada.

Satu bohlam.

“Selamat malam, Bu Renata.”

“Selamat malam.”

“Maaf ya tempatnya begini.”

“Tidak apa-apa.”

Dan saya berdiri di ambang pintu gudang lama SMA Negeri 4 pada hari Sabtu pukul 20.53 dan menyadari bahwa saya belum pernah masuk ke ruangan ini seumur hidup saya.

Sebelas tahun saya naik ke atapnya.

Saya tidak pernah sekali pun masuk ke dalamnya.


Serah terimanya seharusnya memakan waktu empat puluh menit.

Prosedurnya sederhana: mencocokkan daftar kardus dengan fisik, menandatangani berita acara, menyerahkan kunci, selesai.

Masalahnya ada di penomoran.

“Daftarnya delapan puluh tiga,” katanya. “Fisiknya delapan puluh tujuh.”

“Empat lebih.”

“Iya.”

“Kardus apa?”

“Belum tau. Labelnya nggak sesuai format.” Beliau menunjuk rak paling ujung. “Yang empat itu labelnya tulisan tangan. Yang lain diketik.”

Dan saya melepas jas saya dan menggantungnya di sandaran kursi plastik dan berkata:

“Kita mulai dari yang mana?”


Kami mulai pukul 21.10.

Dan kami selesai pukul 23.14.

Dua jam empat menit.

Saya akan menuliskan apa yang terjadi selama dua jam empat menit itu, dan saya akan menuliskannya dengan jujur, dan hal yang paling penting yang harus saya tuliskan adalah ini:

Tidak terjadi apa-apa.

Kami mencocokkan delapan puluh tujuh kardus. Kami membuka empat yang labelnya tulisan tangan. Kami mencatat isinya. Kami menyusun berita acara. Beliau mendikte, saya mengetik di laptop, dan kami menandatangani dua rangkap pukul 23.14.

Tidak ada yang menyentuh siapa pun.

Tidak ada satu pun kalimat yang diucapkan di ruangan itu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.

Dan saya belum pernah dalam hidup saya mengalami dua jam yang lebih sulit dari itu.


Berikut hal-hal yang saya catat, di dalam kepala, di tempat yang sama dengan segala sesuatu yang tidak dapat saya tuliskan.

Pukul 21.30. Beliau mengangkat kardus dari rak baris ketiga. Empat kardus, satu per satu, dan pada kardus ketiga saya berdiri untuk membantu dan beliau berkata “nggak usah, Bu” dan saya duduk kembali.

Saya duduk kembali karena itu wajar, dan karena beliau lebih kuat, dan karena saya memakai rok.

Dan saya duduk di kursi plastik itu dan mengingat pagi hari Sabtu sebelas tahun yang lalu, di percetakan, di mana saya mengangkat empat kardus dan beliau mengangkat sembilan belas dan pada kardus kesebelas saya menyadari apa yang sedang beliau lakukan.

Beliau melakukan hal yang sama malam itu.

Sebelas tahun. Metodenya tidak berubah sedikit pun.

Pukul 22.05. Jarak duduk kami empat puluh sentimeter.

Saya tidak mengaturnya. Kursi plastik di gudang itu ada dua dan keduanya diletakkan di depan meja lipat yang sama, dan jaraknya memang empat puluh sentimeter, dan tidak ada satu pun alasan untuk memindahkannya.

Saya mengukurnya dengan mata dua kali dan mendapat angka yang sama.

Pukul 22.20. Beliau mengambil botol air dari tas dan meletakkannya di meja.

Di antara kami.

Bukan di sisinya. Di tengah.

Dan tidak mengatakan apa pun.

Saya meminumnya pukul 22.41, ketika tenggorokan saya sudah kering selama dua puluh menit dan saya sudah menghitung sembilan alasan untuk tidak meminumnya dan seluruh sembilan alasan itu runtuh.

Pukul 22.50. Saya mengetik berita acara, dan beliau mendikte, dan pada satu titik beliau menyebutkan sebuah nomor kardus dan saya salah mengetik.

Saya salah mengetik.

Saya tidak salah ketik. Saya tidak pernah salah ketik.

Beliau tidak mengoreksi saya.

Saya menemukannya sendiri lima menit kemudian, dan saya memperbaikinya, dan beliau tidak mengatakan apa pun sama sekali — dan saya mengetahui, dengan tingkat keyakinan mendekati sempurna, bahwa beliau melihatnya pada saat itu juga dan memilih untuk tidak menyebutkannya.


Pukul 23.02, terjadi satu-satunya percakapan yang bukan pekerjaan.

Saya sedang menutup kardus terakhir.

“Bu Renata.”

“Ya.”

“Terima kasih untuk pernyataannya.”

Saya berhenti.

“Anda membacanya.”

“Tembusannya masuk ke firma.”

“Ya.”

“Nggak banyak yang lapor kalau nggak ketahuan.”

Dan saya berdiri di gudang itu dengan kardus setengah tertutup di tangan, dan saya mendengar kalimat yang persis sama dengan yang diucapkan Bu Anin dari Kepatuhan pada hari Jumat pukul 11.20 — kata per kata, susunan yang sama — dan saya merasakan sesuatu yang tidak dapat saya susun ke dalam kategori mana pun.

“Saudara Pratama.”

“Iya.”

“Saya melaporkannya bukan karena jujur.”

Beliau menoleh.

“Saya melaporkannya karena saya berharap ada orang lain yang mengeluarkan saya dari penugasan ini,” kata saya. “Supaya saya tidak perlu memutuskan apa pun.”

Hening di ruangan itu selama kira-kira empat detik.

Dan lalu beliau berkata:

“Iya. Saya tau.”

“Anda tahu.”

“Paragraf keempat, Bu.”

Saya menutup kardus itu.

“Paragraf keempat isinya satu kalimat,” kata saya. “Tidak terdapat alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Iya.”

“Bagaimana Anda menyimpulkan sesuatu dari satu kalimat?”

Dan beliau berkata, sambil menyusun berkas di meja lipat itu:

“Orang yang nggak punya alasan biasanya nulis panjang. Buat nutupin.”

Beliau mengetukkan sisi tumpukan itu ke meja. Dua kali.

“Kalau nulisnya pendek, artinya dia udah nyari alasannya dan nggak nemu,” katanya. “Dan orang cuma nyari alasan buat sesuatu yang dia sendiri nggak ngerti kenapa dia lakuin.”


Kami menandatangani pukul 23.14.

Beliau menyerahkan kunci gudang. Saya menerimanya dan memasukkannya ke dalam amplop dan menandatangani tanda terima.

Dan beliau mematikan bohlam.

Gelap.

Kira-kira dua detik, sebelum kami berdua menyalakan senter ponsel masing-masing.

Dua detik.

Saya berdiri di gudang itu dalam kegelapan selama dua detik, empat puluh sentimeter dari orang itu, dan saya tidak bergerak sama sekali dan beliau tidak bergerak sama sekali.

Dan lalu ada dua cahaya.

“Maaf, Bu. Saklarnya di sini.”

“Tidak apa-apa.”


Kami berjalan ke gerbang samping.

Lima puluh empat langkah koridor. Tiga puluh langkah halaman.

Dan di ujung koridor laboratorium, di sisi kanan gudang, ada tangga besi.

Saya melihatnya.

Beliau melihatnya juga; saya mengetahui hal ini karena saya sedang mengamati beliau, sebagaimana saya selalu mengamati beliau.

Tidak satu pun dari kami berhenti.

Tidak satu pun dari kami menyebutkannya.

Dan kami berjalan melewati tangga besi yang tidak tercantum dalam denah sekolah tahun 2009, yang saya pastikan tidak masuk lingkup pekerjaan renovasi pada rapat tanggal 3 Maret sebelas tahun yang lalu, dan yang menjadi satu-satunya benda di dunia ini yang keberadaannya disebabkan oleh saya.

Beliau memesankan taksi untuk saya di gerbang.

“Terima kasih, Saudara Pratama.”

“Sama-sama, Bu Renata.”

Dan taksi itu berjalan, dan saya menoleh dari kaca belakang, dan beliau masih berdiri di depan gerbang samping SMA Negeri 4 pada hari Sabtu pukul setengah dua belas malam.

Tidak berjalan ke mana pun.

Berdiri.


Saya sampai apartemen pukul 00.20.

Saya mandi. Saya memakai piyama. Saya duduk di tepi tempat tidur.

Dan saya menghitung.

Dua jam empat menit. Empat puluh sentimeter. Nol sentuhan. Satu botol air di tengah meja. Satu kesalahan ketik yang tidak dikoreksi. Dua detik dalam gelap.

Enam hal.

Dan tidak satu pun dari enam hal itu dapat dituliskan di dalam dokumen mana pun, tidak satu pun melanggar aturan mana pun, dan tidak satu pun dapat saya sampaikan kepada siapa pun tanpa terdengar seperti orang yang kehilangan akal.

Saya berbaring pukul 00.50.

Dan pukul 01.30, saya bangun, dan saya berjalan ke kamar kerja saya, dan saya mengambil cincin saya dari mangkuk kecil di meja rias tempat saya meletakkannya setiap malam selama dua tahun.

Saya tidak memakainya.

Saya membukanya di telapak tangan dan menatapnya di bawah lampu meja selama kira-kira empat menit.

Dan saya meletakkannya kembali.

Dan saya kembali ke tempat tidur, dan saya tidak tidur sampai pukul empat, dan sepanjang tiga jam itu saya menyusun satu kalimat berulang-ulang di dalam kepala saya seolah dengan menyusunnya cukup rapi maka kalimat itu akan berubah menjadi tidak benar:

Saya sedang menunggu seseorang mengambil keputusan yang seharusnya saya ambil sendiri.

Lagi.


Hari 23. Sisa 7.