Chapter Thirty Four
Kalimat yang Belum Selesai
POV: Andhika
Percetakan Harapan Jaya masih di tempat yang sama.
Papan namanya sudah diganti — sekarang dicetak, bukan dicat, dan huruf J-nya lengkap. Rolling door-nya baru. Ada dua motor terparkir di depan yang bukan motor Pak Har.
Dan di dalam, ada tiga mesin, dan bunyinya beda.
“Wah, Pak Andhika!”
Yang menyambut laki-laki berumur tiga puluhan dengan kaus berkerah dan celana kerja.
“Reza.”
“Iya, Pak. Ya ampun, ingetnya.”
“Anaknya Bu Nah.”
“Iya!” Dia tertawa. “Kirain lupa. Kan udah lama.”
Dan aku berdiri di dalam percetakan yang dulu kutinggali enam jam sehari selama lima tahun, dan aku berjabat tangan dengan orang yang menggantikanku, dan aku menyadari bahwa dia sudah bekerja di sini sebelas tahun — dua kali lebih lama daripada aku.
“Pak Har di belakang, Pak. Saya panggilin.”
“Nggak usah. Saya ke sana aja.”
Beliau duduk di kursi plastik di pintu belakang, menghadap gang.
Gelas kopi di tangan. Isinya ampas.
Enam puluh sembilan tahun. Punggungnya sudah bungkuk sedikit. Rambutnya sudah putih semua, dan tangannya — aku memperhatikan tangannya — sudah tidak sekuat dulu, dan gelas itu dipegang dengan dua tangan.
“Pak.”
Beliau menoleh.
Dan beliau menatapku selama kira-kira empat detik, dari sepatu ke atas, sebagaimana yang beliau lakukan pertama kali waktu aku berumur tiga belas dan berdiri di pintu depan menanyakan apakah ada lowongan.
“Kurusan,” katanya.
“Iya, Pak.”
“Duduk.”
Kursi plastik keduanya masih ada.
Aku duduk.
Dan Pak Har tidak mengatakan apa pun selama kira-kira lima menit, dan aku juga tidak, dan itu tidak canggung sama sekali.
Reza keluar membawa dua gelas teh dan meletakkannya di lantai, karena tidak ada meja, karena tidak pernah ada meja.
“Pak.”
“Hm.”
“Mesin tiga masih ada?”
Dan Pak Har tertawa — pendek, serak, satu tarikan napas.
“Diganti,” katanya. “Tujuh tahun lalu. Belt-nya nggak bisa dibenerin lagi.”
“Oh.”
“Kertasnya di dalem masih ada.” Beliau menunjuk dengan dagu. “Yang ditempel di dinding itu.”
Aku menoleh ke dalam.
Dinding di belakang mesin sudah dicat ulang. Warnanya krem sekarang, bukan abu-abu.
Dan di sana, ditempel dengan selotip yang sudah kuning, ada selembar kertas yang tulisannya sudah pudar.
DILARANG NYALAKAN MESIN 3 SENDIRIAN KECUALI ANDHIKA
“Mesinnya udah nggak ada, Pak.”
“Ho’oh.”
“Terus kenapa kertasnya masih ada?”
Dan Pak Har menyeruput kopi yang tidak ada isinya dan berkata:
“Ya nggak kenapa-kenapa. Nempel aja.”
Aku ingin mencatat empat puluh menit berikutnya, karena aku sudah mengulangnya di kepalaku setiap hari sejak saat itu.
Kami membicarakan hal-hal yang biasa.
Reza sudah menikah, dua anak. Percetakan sekarang lebih banyak cetak digital, orderan brosur sekolah sudah tidak ada karena semuanya sudah pakai grup. Pak Har sudah tidak turun ke mesin sejak stroke ringan empat tahun lalu.
“Stroke, Pak?”
“Ringan. Nggak apa-apa. Cuma tangan kanan agak lemah.”
Dan aku duduk di kursi plastik itu dan menghitung — refleks, tidak bisa kuhentikan, seperti napas — bahwa empat tahun lalu aku berumur dua puluh empat dan sedang berada di kota lain dan tidak tahu apa-apa.
“Pak.”
“Hm.”
“Saya nggak tau.”
“Ya nggak usah tau.” Beliau meletakkan gelasnya. “Ngapain kamu tau.”
“Pak—”
“Dhik.”
Aku berhenti.
Dan Pak Har menoleh ke arahku, dan beliau menatapku dengan cara yang membuat aku duduk lebih tegak tanpa kuperintahkan.
“Kamu balik ke sini bukan buat nanyain kabar aku,” katanya.
“Bukan, Pak.”
“Ho’oh. Ya udah, ngomong.”
Aku mengeluarkannya dari tas.
Salinan. Empat lembar.
Notulen rapat pengurus Yayasan Pendidikan Bhakti Utama, tanggal empat belas Oktober, sebelas tahun yang lalu.
Aku meletakkannya di lantai di antara kami, di sebelah dua gelas teh.
“Pak, ini rapat yang mutusin dana beasiswa dipindah ke pembangunan gedung.”
“Hm.”
“Agenda nomor lima. Dua puluh delapan menit.”
“Terus?”
“Agenda nomor tujuh,” kataku. “Sembilan menit. Laporan kondisi administrasi siswa. Empat puluh tiga nama dibacain.”
Aku menunjuk baris kedua puluh delapan.
Dan Pak Har mengambil kacamatanya dari saku kemeja dan memakainya dan membaca.
Lama.
Beliau melepas kacamatanya.
Beliau melipatnya dan memasukkannya kembali ke saku.
Dan beliau berkata:
“Terus kamu mau ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain, Pak.”
“Nggak ngapa-ngapain gimana?”
“Nggak ada yang bisa diapa-apain,” kataku. “Rapatnya sah. Notulennya lengkap. Nggak ada yang nyolong. Nggak ada satu pun orang di ruangan itu yang bisa dituntut.”
“Terus kamu jauh-jauh balik ke sini buat apa?”
Dan aku duduk di kursi plastik di pintu belakang Percetakan Harapan Jaya dan berkata sesuatu yang belum kuucapkan kepada siapa pun:
“Buat tau, Pak.”
“Tau apa?”
“Tau siapa yang mutusin.”
Pak Har mengangguk-angguk pelan.
Dan beliau memandang ke arah gang selama kira-kira sepuluh detik.
“Sekarang udah tau?”
“Udah.”
“Gimana rasanya?”
Dan aku berkata:
“Nggak ada rasanya, Pak.”
Dan itu benar.
Delapan tahun aku membangun sebuah karier untuk satu keahlian saja, yaitu mengetahui siapa yang memutuskan. Dan aku mengetahuinya, dan jawabannya adalah sebelas orang yang tidak berniat jahat dalam sebuah rapat yang berlangsung dua jam, dan salah satunya sekarang membawakan oleh-oleh ke acara ramah tamah penutupan pemeriksaan atas yayasannya sendiri.
Tidak ada rasanya.
Dan aku sudah duduk dengan tidak-ada-rasanya itu selama dua belas hari dan aku tidak tahu harus menaruhnya di mana.
“Dhik.”
“Iya, Pak.”
Dan Pak Har mengambil gelas kopinya, dan melihat ke dalamnya, dan tidak ada apa-apa di dalamnya, dan beliau meminumnya juga.
“Sebelas tahun lalu, waktu kamu pamit,” katanya, “aku ngomong apa?”
“Bapak bilang saya masih bisa balik ke sini.”
“Ho’oh.” Beliau meletakkan gelasnya. “Kamu inget?”
“Saya inget semuanya, Pak.”
“Ya, aku tau.” Beliau tertawa pendek. “Otak kamu emang nggak bener.”
Dan lalu beliau diam selama kira-kira setengah menit.
Dan lalu beliau berkata:
“Ada satu lagi, Dhik. Yang aku nggak selesein.”
Aku duduk lebih tegak.
“Waktu itu,” katanya, “yang di stasiun. Bukan yang di percetakan.”
“Iya, Pak.”
“Aku ngomong sama anak yang berisik itu. Yang artis sekarang.”
“Tamara.”
“Ho’oh.” Beliau mengangguk. “Dia nungguin kamu di depan sini satu jam empat puluh menit. Aku bikinin teh.”
“Iya, Pak. Saya tau.”
“Aku ngomong sama dia soal anakku.”
Dan aku berhenti bernapas.
Karena aku sudah dua puluh delapan tahun mengenal orang ini, dan aku sudah lima tahun bekerja di bawah beliau setiap hari selama enam jam, dan beliau tidak pernah — sekali pun, tidak sekali pun — menyebut kata itu di depanku.
“Pak—”
“Dan aku nggak selesein kalimatnya,” katanya. “Aku berdiri, terus aku masuk, terus aku diem sebelas tahun.”
Beliau menoleh.
“Sekarang aku selesein.”
Aku ingin menuliskan apa yang beliau katakan, kata per kata, karena aku mengingatnya kata per kata dan karena aku akan mengingatnya seumur hidupku.
“Aku bilang gini ke dia,” kata Pak Har. “‘Nduk, kalau nanti kamu udah gede, terus ada orang yang pergi—’”
Beliau berhenti.
Dan beliau menarik napas satu kali, dan meletakkan kedua tangannya di atas lutut, dan melanjutkan:
“‘—jangan nunggu dia yang balik.’”
Gang itu sepi. Ada motor lewat di ujung.
“Anakku pergi umur delapan belas, Dhik,” katanya. “Aku nggak nyariin. Tiga bulan. Aku pikir nanti juga balik.”
“Pak.”
“Terus tiga bulan jadi setahun. Terus setahun jadi lima.” Beliau memandang ke arah gang. “Terus istriku meninggal, dan aku nyari-nyari dia buat ngasih tau, dan aku nggak nemu.”
Beliau mengambil gelasnya lagi.
“Sampai sekarang, Dhik.”
Aku tidak bisa mengatakan apa pun.
“Aku nggak nyalahin dia,” kata Pak Har. “Anakku nggak salah. Aku yang nggak nyari.”
“Pak—”
“Dan aku mikir gini bertahun-tahun: kalau dia balik, aku bakal tau. Kalau dia nggak balik, ya berarti dia nggak mau.”
Beliau menoleh ke arahku.
“Itu bohong, Dhik,” katanya. “Orang yang pergi itu bukan orang yang nggak mau balik. Orang yang pergi itu orang yang nggak tau apakah ada yang nungguin.”
Aku duduk di kursi plastik itu.
Dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kumasukkan ke kategori mana pun, dan yang paling mendekati adalah bahwa aku sedang dibacakan sesuatu tentang diriku sendiri oleh orang yang tidak sedang membicarakan aku.
“Pak.”
“Hm.”
“Kenapa Bapak ngasih saya kerja waktu umur tiga belas?”
Dan Pak Har menyeruput kopi yang tidak ada isinya.
“Karena kamu berdiri di pintu itu selama dua puluh menit sebelum nanya,” katanya. “Anakku juga gitu dulu. Kalau mau minta sesuatu, dia berdiri dulu.”
Beliau meletakkan gelasnya.
“Dan aku dulu nyuruh dia langsung ngomong aja, jangan berdiri-berdiri,” katanya. “Terus aku nyesel sebelas tahun.”
Beliau menoleh.
“Jadi waktu kamu berdiri di pintu itu, aku nggak nyuruh kamu ngomong. Aku tungguin.”
Aku pulang jam enam lewat.
Dan di gang, seratus meter dari percetakan itu, aku berhenti.
Karena ada satu hal yang belum kutanyakan, dan aku sudah berjalan tiga puluh meter sebelum aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri kalau aku tidak menanyakannya.
Aku kembali.
Pak Har masih di kursi plastik.
“Pak.”
“Hm.”
“Kalau anak Bapak balik sekarang,” kataku, “Bapak bakal ngomong apa?”
Dan Pak Har melihat ke arahku dari kursi plastik di pintu belakang Percetakan Harapan Jaya, di gang di belakang pasar, pada hari Kamis jam enam lewat sore.
Dan beliau berkata:
“Nggak ngomong apa-apa, Dhik.”
“Nggak ngomong apa-apa?”
“Ho’oh.”
Beliau mengangkat gelasnya yang kosong.
“Aku bikinin teh,” katanya. “Terus aku duduk di sini. Terus aku diem sampai dia yang ngomong duluan.”
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai reading
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu