← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Thirteen

Dua Detik

POV: Tamara


Aku menelepon Sekar jam tujuh pagi.

“Halo.”

“Kar.”

“Iya.”

“Kita ketemu.”

Dan dia tidak bertanya kapan, tidak bertanya di mana, tidak bertanya kenapa.

“Jam berapa?” katanya.


Kliniknya buka jam delapan. Kami ketemu jam setengah delapan di kedai kopi dua ruko dari sana, di meja paling belakang, dan aku datang dengan topi dan masker dan kacamata dan dia datang dengan jas dokter yang belum dikancingkan.

Sebelas tahun.

Aku ingin mencatat bahwa aku sempat menyusun sebelas kalimat pembuka selama perjalanan dan tidak satu pun dari sebelas kalimat itu yang kupakai, karena begitu dia duduk, aku melihat sesuatu yang membuat semuanya batal.

Dia kurus.

Bukan kurus yang sehat. Kurus yang datang dari orang yang lupa makan karena pekerjaannya menuntut dia mengurus lupa-makan orang lain.

“Kar.”

“Hm?”

“Kamu makan nggak sih?”

Dan Sekar Widyaningsih, dokter spesialis kedokteran jiwa, umur dua puluh delapan, menatapku selama dua detik lalu tertawa — pendek, terkejut, hampir tidak sengaja.

“Kalimat pertama kamu setelah sebelas tahun itu,” katanya.

“Ya abisnya kamu kurus.”

“Kamu juga kurus.”

“Aku dibayar buat kurus.”

“Aku enggak.”

Dan kami berdua diam selama beberapa detik, dan lalu kami berdua tertawa di meja paling belakang kedai kopi jam setengah delapan pagi, dan aku menyadari sesuatu yang tidak kusiapkan sama sekali:

Aku merindukannya.

Bukan dia sebagai bagian dari cerita itu. Dia. Orangnya.

Sebelas tahun aku punya nomornya dan tidak pernah menggunakannya, dan sebelas tahun aku menganggap itu wajar, dan pagi itu aku menganggapnya bodoh.


“Kamu marah nggak?” tanyanya.

“Soal apa?”

“Soal yang aku kirim semalem.”

Aku mengaduk kopiku.

Dan aku memberikan jawaban yang jujur, dan jawaban itu bukan jawaban yang bagus, dan aku sudah tidak punya tenaga untuk memberikan jawaban yang bagus.

“Marah,” kataku. “Empat menit.”

“Terus?”

“Terus aku sadar aku nggak berhak.”

Sekar menunggu.

“Kamu tau nggak aku ngapain selasa kemarin?” kataku. “Aku duduk di lobi kantornya tiga jam dua belas menit terus disuruh pulang sama satpam.”

“Tam—”

“Terus rabu aku dateng lagi.” Aku mengangkat cangkir dan tidak meminumnya. “Terus kamis. Terus jumat.”

Sekar meletakkan sendoknya.

“Empat hari?”

“Empat hari.”

“Ketemu?”

“Enggak.” Aku menaruh cangkirku. “Sekali. Dari jauh. Dia lagi nunggu angkot.”

Dan aku melihat wajah Sekar berubah waktu aku mengatakan tiga kata terakhir itu, dan aku tahu persis kenapa, dan aku tidak perlu menjelaskan apa pun kepadanya karena dia sudah dua puluh dua tahun mengenal orang itu dan dia tahu apa artinya.

“Dia masih naik angkot,” kataku.

“Iya.”

“Kar, dia manajer di firma paling gede di Indonesia.”

“Iya.”

“Terus kenapa dia nunggu angkot?”

Dan Sekar Widyaningsih menatap ke arah jendela kedai kopi itu, ke arah jalan yang macet, dan berkata:

“Karena nggak ada yang pernah bilang ke dia bahwa dia udah boleh berhenti ngirit.”


Kami duduk empat puluh menit.

Aku akan meringkas isinya karena sebagian tidak penting dan sebagian tidak akan pernah kuceritakan ke siapa pun.

Yang penting ada tiga.

Satu. Dia bertanya apakah aku akan berhenti. Aku bilang tidak. Dia bilang bagus.

Dua. Aku bertanya apakah dia akan berhenti. Dia bilang tidak. Dan lalu dia mengatakan sesuatu yang membuatku menaruh cangkir dan menatapnya:

“Tam, aku nggak akan main halus.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya aku nggak akan pura-pura nunggu giliran.” Dia melipat serbet di depannya jadi dua. “Aku udah sebelas tahun nunggu giliran dan aku nggak dapet apa-apa.”

“Kar.”

“Aku ngasih tau kamu duluan karena aku nggak mau kamu tau dari orang lain.” Dia mengangkat wajah. “Itu doang yang bisa aku kasih. Selebihnya aku nggak akan ngalah.”

Dan aku duduk di sana dan merasakan sesuatu yang aneh, yang butuh waktu setengah hari untuk kunamai, dan namanya ternyata lega.

Karena aku sudah sebelas tahun hidup di dunia di mana semua orang sopan kepadaku dan tidak satu pun dari mereka jujur.

Tiga. Waktu kami berdiri, aku bertanya satu hal.

“Kar, kamu punya nomornya?”

Dan dia berhenti memakai jasnya.

“Enggak,” katanya.

“Bohong.”

“Aku beneran nggak punya.” Dia mengancingkan jasnya. “Nomor lama dia mati bulan Maret sebelas tahun lalu. Aku nggak pernah dapet yang baru.”

“Kamu ketemu dia dua kali seminggu.”

“Iya.”

“Dan kamu nggak minta nomornya?”

Dan Sekar mengangkat tasnya dan berkata sesuatu yang membuatku berdiri diam di kedai kopi itu setelah dia pergi:

“Kalau aku minta, dia bakal ngasih. Dia selalu ngasih apa yang diminta orang.” Dia menoleh di ambang pintu. “Aku lagi nunggu dia nawarin.”


Aku ke kantornya hari itu juga.

Kali ini aku tidak menunggu di lobi.

Aku menelepon humas yayasan dan bilang bahwa sebagai brand ambassador aku perlu memahami temuan sementara audit supaya narasi publik program beasiswa tidak berbenturan dengan hasilnya.

Kalimat itu kususun selama empat puluh menit di mobil.

Kalimat itu bekerja dalam sembilan menit.

Jam dua siang, aku punya undangan resmi untuk hadir sebagai peninjau dalam paparan temuan sementara hari Kamis, lantai dua puluh satu, gedung klien.

Aku menaruh ponselku di jok dan menatap keluar jendela dan tertawa sendirian di dalam mobil, karena aku baru saja menggunakan wajahku untuk masuk ke ruangan — hal yang paling kubenci di dunia — dan aku melakukannya dengan sangat efektif dan aku sama sekali tidak merasa buruk.


Vina meneleponku dua jam kemudian.

“Mbak.”

“Iya, Vin.”

“Mbak minta undangan ke paparan audit?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku duduk di kamar dan memutuskan untuk melakukan hal yang kujanjikan seminggu lalu, yaitu memberi tahu orang ini lebih dulu, bukan supaya dilarang tapi supaya disiapkan.

“Vin, aku mau ngomong sesuatu dan aku nggak mau kamu tanya lanjutannya.”

“Oke.”

“Yang di konpers itu emang temen lama aku.”

Hening di seberang selama kira-kira empat detik.

“Oke,” katanya.

“Cuma itu?”

“Mbak bilang jangan tanya lanjutannya.”

Dan aku menekan pergelangan tangan ke mata di kamarku sendiri, karena orang itu baru saja melakukan hal yang persis diminta tanpa menawar sedikit pun, dan karena aku sudah sebelas tahun dikelilingi orang yang selalu menawar.

“Vin.”

“Iya?”

“Kalau nanti ini jadi masalah—”

“Ya kita urus,” katanya. “Udah, Mbak. Istirahat. Besok subuh.”


Dan hari Kamis, sebelum paparan itu dimulai, terjadi dua detik.

Aku sampai jam satu lewat. Ruang rapat di lantai dua puluh satu, dan aku salah lantai dulu, dan aku naik tangga darurat dari lantai dua puluh karena lift penuh.

Dan di bordes antara lantai dua puluh dan dua puluh satu, dia sedang berdiri.

Sendirian. Jas dilipat di lengan. Map di tangan kiri. Menghadap jendela kecil di dinding tangga darurat, tidak melakukan apa pun.

Aku berhenti empat anak tangga di bawahnya.

“Andhika.”

Dia menoleh.

Dan aku naik empat anak tangga itu dan berdiri di depannya, dan aku melepas kacamataku, dan aku menurunkan maskerku ke dagu.

“Tamara.”

“Aku minta maaf,” kataku.

“Buat apa?”

“Buat yang di konpers.”

Dan dia berkata, dengan nada yang sama seperti orang menyebutkan bahwa hari ini mendung:

“Nggak apa-apa.”


Dan aku, yang sudah sebelas tahun tidak pernah menyentuh siapa pun tanpa perhitungan, mengulurkan tangan dan meletakkan jariku di pergelangan tangannya.

Dua detik.

Tidak menggenggam. Cuma menaruh — tiga jari, di bagian dalam pergelangan, di tempat denyutnya.

Dan aku merasakannya.

Cepat sekali.

Jauh, jauh lebih cepat daripada milik orang yang sedang berdiri diam di tangga darurat menghadap jendela.

Aku menarik tanganku.

Aku mundur setengah langkah.

“Maaf,” kataku lagi, dan kali ini untuk hal yang berbeda.

Dia tidak menjawab.

Aku memasang maskerku kembali dan naik ke lantai dua puluh satu dan tidak menoleh.

Dan sepanjang paparan temuan sementara selama satu jam lima belas menit, aku duduk di barisan peninjau dengan tangan di pangkuan dan tidak mendengar satu pun kata, karena aku sedang menghitung.

Sebelas tahun. Empat hari di lobi. Tiga jam dua belas menit.

Dan dua detik di tangga darurat yang memberitahuku, dengan sangat jelas dan tanpa satu pun keraguan, bahwa wajah orang itu berbohong dan selalu berbohong dan sudah berbohong sejak umur tujuh belas.


Hari 19. Sisa 11.