← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Thirty Five

Blok C, Baris Empat

POV: Andhika


TPU-nya tiga puluh satu menit dari hotel.

Aku sudah menghitungnya setiap malam sejak hari pertama, dua puluh sembilan malam, dan setiap malam hasilnya keluar dan setiap malam aku tidak melakukan apa-apa dengan hasilnya.

Hari Jumat, aku melakukan sesuatu dengan hasilnya.

Aku naik angkot jam tujuh pagi.

Aku tidak membawa apa-apa.

Aku ingin mencatat itu, karena aku memikirkannya sepanjang malam sebelumnya dan aku tidak bisa memutuskan.

Orang membawa bunga. Aku tahu itu. Aku sudah melihat orang membawa bunga ke tempat semacam itu ratusan kali.

Dan aku tidak membelinya, karena aku tidak tahu bunga apa yang disukai nenekku, dan karena aku menyadari hal itu pada jam empat pagi, dan karena kesadaran itu membuatku duduk di tepi tempat tidur selama empat puluh menit.

Delapan belas tahun tinggal berdua dengan seseorang.

Dan aku tidak tahu bunga apa yang dia suka.


Pintu masuknya di sisi timur.

Ada pos kecil dengan satu orang penjaga yang sedang menyapu daun, dan ada papan denah yang catnya sudah pudar, dan ada gerbang besi yang selalu terbuka karena tidak pernah ada alasan untuk menutupnya.

“Pagi, Pak.”

“Pagi. Cari makam siapa?”

“Ratmi. Blok C.”

Dan bapak itu menoleh.

“Bu Ratmi yang di baris empat?”

Dan aku berhenti berjalan.

“...Bapak tau?”

“Ya tau.” Beliau meneruskan menyapu. “Yang sebelahnya Pak Suparjo. Suaminya.”

“Bapak hafal?”

Dan bapak itu berhenti menyapu dan menatapku dengan wajah orang yang bingung kenapa hal sesederhana itu ditanyakan.

“Ya hafal, Mas,” katanya. “Kan tiap bulan ada yang dateng.”


Aku berdiri di pintu masuk TPU itu jam tujuh lewat empat puluh pagi.

“Tiap bulan?”

“Ho’oh.”

“Siapa, Pak?”

“Ya nggak tau namanya.” Beliau menyapu lagi. “Mbak-mbak. Kecil, pendek. Datengnya pagi, sebelum jam delapan.”

“Berapa lama?”

“Ya lama, Mas. Dari dulu.”

“Dari kapan?”

Dan penjaga itu berhenti menyapu, dan dia berpikir — betulan berpikir, dengan mata memicing ke arah pohon — selama beberapa detik.

“Saya di sini sembilan tahun,” katanya. “Dari saya masuk, dia udah dateng.”


Blok C, baris empat.

Dua nisan bersebelahan.

SUPARJO — dan tahun-tahun yang sudah lama.

RATMI — dan tahun yang, kalau kuhitung, adalah sebelas tahun tiga bulan yang lalu.

Aku berdiri di depannya.

Dan aku ingin mencatat apa yang kulihat, karena aku memeriksanya selama kira-kira empat menit sebelum aku sanggup memikirkan apa pun.

Rumputnya pendek. Baru dipotong, mungkin dua minggu lalu.

Nisannya bersih. Tidak ada lumut. Tidak ada endapan air di cekungan huruf.

Ada tanaman kecil di sisi kanan — jenis yang tidak kukenal, berbunga putih kecil, ditanam di dalam tanah dan bukan di dalam pot, yang artinya ditanam oleh orang yang berniat kembali untuk merawatnya.

Dan di sisi kiri, ada satu benda yang membuatku jongkok dan tidak bisa berdiri lagi selama beberapa menit.

Kaleng bekas susu kental manis.

Diisi tanah. Ditanami sesuatu yang sudah mati dan diganti berkali-kali, terlihat dari lapisan tanah di dalamnya yang berbeda-beda warna.

Kaleng yang sama persis dengan kaleng yang dipakai nenekku untuk menanam cabe di teras rumah petak kami selama delapan belas tahun.


Aku jongkok di depan dua nisan itu.

Dan aku menghitung.

Aku tidak bisa menghentikannya. Aku sudah tidak menghitung apa pun selama enam hari, dan hari itu otakku menyala kembali sendiri, dan aku membencinya dan aku tidak bisa mematikannya.

Sembilan tahun penjaga itu bekerja di sini. Dia sudah datang sejak sebelum penjaga itu masuk. Berarti lebih dari sembilan tahun. Nenek meninggal sebelas tahun tiga bulan lalu. Selisihnya paling banyak dua tahun.

Dua tahun pertama dia kuliah di kota lain.

Aku mengetahui hal ini karena Bu Ratna menyebutkannya, dan karena Sekar menyebutkannya sendiri di warung nasi padang waktu bercerita tentang menantunya Bu Nah, dan karena aku menyimpan segala sesuatu yang disebutkan orang tanpa pernah kuminta.

Sebelas tahun.

Dikurangi dua tahun kuliah.

Sembilan tahun, dua belas kali setahun.

Seratus delapan kali.


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak menangis.

Aku jongkok di depan dua nisan di Blok C baris empat pada hari Jumat jam delapan pagi dan aku tidak menangis, dan aku tidak tahu kenapa, dan aku sudah memeriksa alasannya berkali-kali sejak saat itu.

Yang kurasakan bukan sedih.

Yang kurasakan adalah sesuatu yang jauh lebih tidak enak, dan butuh empat hari untuk kunamai, dan namanya adalah:

Malu.

Karena selama sebelas tahun aku menjalani hidupku di atas satu keyakinan yang tidak pernah kuperiksa.

Bahwa tidak ada yang menungguku di mana pun.

Bahwa nenekku dikubur di sebuah kota yang sudah kutinggalkan, di sebuah petak tanah yang rumputnya pasti sudah setinggi lutut, dan bahwa itu adalah harga yang harus kubayar dan aku sudah menerimanya dengan tenang sebagaimana aku menerima segala sesuatu.

Dan aku memakai keyakinan itu selama sebelas tahun sebagai alasan untuk tidak kembali.

Dan keyakinan itu salah sejak hari pertama.


Aku duduk di sana sampai jam sembilan lewat.

Dan pada suatu titik, aku berbicara.

Bukan doa. Aku tidak hafal doa yang benar; nenek yang selalu memimpin dan aku selalu mengikuti setengah kalimat di belakang, dan aku tidak pernah menghafalnya karena aku selalu punya orang untuk diikuti.

Aku bicara.

“Nek.”

Dan lalu aku tidak tahu harus melanjutkan apa selama kira-kira dua menit.

“Saya balik,” kataku akhirnya.

Angin lewat di pohon di belakang.

“Bukan buat tinggal. Saya cuti dua minggu.”

Dan aku duduk di sana dan mendengar suaraku sendiri mengatakan kalimat itu, dan aku menyadari bahwa aku baru saja membuat laporan kepada orang yang sudah meninggal sebelas tahun lalu, dengan format yang sama seperti aku membuat laporan kepada Pak Wira.

Aku berhenti.

Dan aku mencoba lagi.

“Nek, ada yang jagain Nenek.”

Suaraku pecah di kata terakhir.

“Sembilan tahun. Sebulan sekali.”

Dan aku menekan pangkal telapak tanganku ke mata dan jongkok di depan dua nisan di Blok C baris empat, dan akhirnya menangis, dan aku menangis untuk sesuatu yang bukan kematian nenekku.

Aku menangis karena selama sembilan tahun ada seseorang yang naik angkot pagi-pagi sebulan sekali ke tempat ini dan memotong rumput dan mengganti tanaman di kaleng bekas susu, dan tidak pernah sekali pun memberitahuku, dan tidak berniat memberitahuku, dan tidak akan pernah memberitahuku.


Aku pulang jam sepuluh.

Dan di pintu keluar, penjaga itu masih menyapu, dan aku berhenti.

“Pak.”

“Iya, Mas?”

“Mbak yang tiap bulan itu.”

“Ho’oh.”

“Beliau pernah ngomong apa-apa nggak?”

Dan bapak itu berpikir lagi.

“Nggak sih. Ngomongnya biasa aja. Salam, terus nanya kabar.” Beliau menyapu. “Oh, ada satu.”

“Apa, Pak?”

“Dia pernah nitip.”

Aku berdiri diam.

“Nitip apa?”

“Nitip pesen.” Beliau berhenti menyapu dan menyandarkan sapunya ke tembok. “Katanya, ‘Pak, kalau ada laki-laki dateng nyari makam ini, tolong jangan bilang saya yang ngerawat.’”


Aku memegang tali tasku.

“Kapan, Pak?”

“Lama. Bertahun-tahun lalu.” Beliau mengambil sapunya lagi. “Maaf ya, Mas. Saya kelepasan.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

“Jangan bilang saya yang bilang ya.”

“Iya, Pak.”

Dan aku berjalan ke halte dan menunggu angkot selama sebelas menit dan tidak melihat jam tanganku sekali pun sepanjang sebelas menit itu.


Malamnya aku mengetik.

Andhika: Kar.

sekar: iya

Andhika: Besok kamu ada waktu?

sekar: ada. jam berapa?

Dan aku menatap layar itu selama kira-kira empat menit.

Karena aku menyusun sebelas kalimat untuk kalimat berikutnya, dan kesebelas kalimat itu benar, dan kesebelasnya menyebutkan makam.

Dan aku menghapus kesebelasnya.

Karena orang itu menitipkan pesan kepada penjaga TPU bertahun-tahun yang lalu, dan pesan itu berisi satu permintaan saja, dan permintaan itu adalah supaya aku tidak pernah tahu.

Dan aku sudah dua puluh delapan tahun menerima segala sesuatu dari orang tanpa sanggup membalas apa pun.

Ini yang pertama yang bisa kubalas.

Dengan tidak mengatakan apa-apa.

Andhika: Jam tujuh. Warung yang kemarin.

sekar: oke

sekar: dhika

Andhika: Hm.

sekar: kamu kenapa?

Dan aku duduk di kamar hotel lantai sembilan dan mengetik:

Andhika: Nggak apa-apa.

Dan aku menatap tiga kata itu — tiga kata yang sudah kupakai selama dua puluh delapan tahun, ke semua orang, setiap kali — dan aku menghapusnya.

Dan aku mengetik yang benar:

Andhika: Capek.

Dibaca dalam empat detik.

sekar: oke

sekar: besok nggak usah ngomong apa-apa ya

sekar: aku yang ngomong