Chapter Two
Laci Kedua dari Bawah
POV: Renata
Aku pulang pukul 19.40.
Apartemenku di lantai dua belas. Dua kamar; satu untuk tidur, satu untuk bekerja. Arya sudah meletakkan kotak makan di meja dapur dengan catatan kecil di atasnya — aku duluan ya, besok pagi ada meeting — dan tulisan tangannya rapi dan huruf a-nya bulat dan aku sudah dua tahun menerima catatan seperti itu dan tidak pernah sekali pun menyimpannya.
Aku baru menyadari hal tersebut malam itu.
Aku menyimpan segala sesuatu. Enam buku agenda SMA di rak. Notulen rapat sejak semester pertama kuliah. Struk pembayaran yang tidak lagi dibutuhkan siapa pun.
Dan tidak satu pun catatan dari orang yang akan kunikahi empat bulan sepuluh hari lagi.
Aku makan setengah. Aku mencuci kotaknya. Aku masuk ke kamar kerja.
Dan aku membuka laci kedua dari bawah.
Map cokelat.
Sudutnya masih penyok di bagian kanan bawah, dari hari Sabtu tanggal 27 Februari sebelas tahun yang lalu, ketika aku memegangnya terlalu erat di trotoar depan Stasiun Kota.
Aku tidak membukanya selama delapan tahun.
Aku perlu menjelaskan angka tersebut, karena angka tersebut adalah pengakuan.
Tiga tahun pertama, map itu ada di dalam tasku. Setiap hari. Aku bersumpah kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah lagi menyimpan sesuatu yang penting di tempat yang tidak kulihat setiap hari.
Tahun keempat, aku masuk kerja. Tasku berganti. Map itu tidak ikut pindah.
Aku tidak memutuskannya. Aku tidak pernah berdiri di depan meja dan memilih untuk meninggalkannya. Map itu hanya tidak ikut, dan aku menyadarinya tiga minggu kemudian, dan aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku akan memindahkannya akhir pekan itu.
Delapan tahun.
Sumpah yang kubuat di dalam angkutan umum pada usia tujuh belas tahun gugur karena sebuah tas yang berganti.
Aku membukanya.
Halaman satu sampai lima belas, berurutan, sempurna — sebagaimana beliau menyusunnya kembali di trotoar dekat halte pada bulan Januari sebelas tahun lalu, tanpa melihat nomor halamannya.
Halaman pertama. Kolom Tanda tangan pemohon, kosong.
Dan di antara halaman empat belas dan lima belas, selembar kertas fotokopi buram.
DILARANG NYALAKAN MESIN 3 SENDIRIAN KECUALI ANDHIKA
Aku membalik lembar itu.
Catatan pensil di baliknya sudah pudar tetapi masih terbaca, dan aku membacanya untuk yang entah keberapa ratus kali:
Pak Har nitip ini ke kamu hari Sabtu kemarin. Saya nemu di tas kamu waktu bantuin ngangkat kardus. Saya nggak baca yang belakangnya. Maaf.
Pensil.
Supaya bisa dihapus, apabila aku menghendaki, dan berkas itu kembali menjadi milikku sepenuhnya tanpa satu pun jejak bahwa pernah ada orang lain yang menyentuhnya.
Aku belum menghapusnya.
Aku duduk di meja kerjaku di lantai dua belas dengan lima belas halaman di depanku dan sebuah kata yang kucoret di margin buku catatan pagi tadi.
Dan aku membaca ulang berkas itu, seluruhnya, lima belas halaman, dalam waktu empat puluh menit.
Aku perlu menuliskan penilaianku sebagai orang yang sekarang menyusun dokumen semacam ini untuk perusahaan multinasional dan telah melakukannya selama enam tahun:
Berkas itu bagus.
Dasar hukumnya benar. Lampirannya lengkap. Argumennya disusun dari yang terkuat ke yang terlemah, yang mana adalah struktur yang baru kupelajari secara formal pada tahun ketiga bekerja.
Perempuan berusia tujuh belas tahun yang menyusunnya tidak mengetahui satu pun teori di baliknya. Dia hanya memeriksa enam kali.
Dan berkas itu tidak pernah diajukan.
Aku menutupnya.
Terdapat satu hal yang kusadari malam itu dan yang tidak pernah kusadari selama sebelas tahun: aku menyimpan berkas ini bukan karena aku berharap suatu hari akan berguna.
Aku menyimpannya karena berkas ini adalah satu-satunya benda di dunia yang membuktikan bahwa aku pernah mencoba.
Dan kemudian aku melakukan hal yang seharusnya kulakukan dua belas jam sebelumnya, dan yang tidak kulakukan karena kepalaku sedang sibuk dengan hal lain sepanjang hari.
Aku membuka laptop. Aku membuka arsip laporanku sendiri.
LAPORAN TEMUAN INTERNAL — PROGRAM BEASISWA CSR — SELISIH ALOKASI PADA SATU MITRA PENYALUR. Diajukan tanggal 14 Januari. Olehku.
Aku membacanya dari awal.
Halaman tiga: daftar sembilan yayasan mitra.
Nomor tujuh.
Yayasan Pendidikan Bhakti Utama — dan di bawahnya, dalam kurung, satuan pendidikan yang dinaungi:
SMP Negeri — SMA Negeri 4 — SMK
Aku menutup laptop.
Kemudian aku membukanya lagi, karena aku harus memastikan, karena aku selalu memastikan, karena memastikan adalah satu-satunya hal yang kupercayai selama sebelas tahun terakhir.
Aku memastikannya empat kali.
Yayasan yang kulaporkan pada tanggal 14 Januari adalah yayasan yang menaungi sekolah tempatku menghabiskan tiga tahun sebagai Ketua OSIS.
Yayasan yang membuat Peraturan Nomor 14 Tahun 2019.
Yang Pasal 8 ayat (5)-nyaku baca pada tanggal 20 November dan tidak kucatat.
Aku berdiri dari kursi.
Aku berjalan ke jendela. Lantai dua belas. Lampu-lampu di bawah, jalan tol di kejauhan, dan sesuatu yang berkedip merah di ujung sana yang tidak kutahu apa.
Dan aku menyusun ulang urutannya, pelan-pelan, dengan cara yang sama sepertiku menyusun ulang kronologi di dalam laporan.
Tanggal 14 Januari: aku mengajukan laporan. Bulan Februari: perusahaan memutuskan menyewa firma audit eksternal. Bulan Maret: firma menunjuk penanggung jawab penugasan. Hari ini: penanggung jawab tersebut masuk ke ruang rapat lantai dua puluh satu.
Aku berdiri di depan jendela itu untuk waktu yang tidak kucatat.
Aku tidak pernah lupa mencatat waktu.
Saya yang mendatangkannya.
Bukan kebetulan. Bukan takdir, yang mana adalah kata yang tidak pernah kugunakan dan tidak berniat mulai menggunakan.
Aku menulis laporan sembilan belas halaman pada tanggal 14 Januari, dan laporan itu berjalan melalui empat lapis persetujuan dan satu proses pengadaan, dan di ujungnya ada sebuah pintu ruang rapat yang terbuka pukul sepuluh pagi.
Sembilan belas halaman.
Aku menoleh ke meja kerjaku, ke map cokelat yang terbuka di sana.
Yang ini lima belas.
Yang aku susun sebelas tahun lalu sembilan belas.
Dan aku berdiri di apartemenku sendiri pada pukul sepuluh malam dan tertawa — satu kali, pendek, ke arah jendela — karena ternyataku menghabiskan sebelas tahun untuk berubah menjadi orang yang persis sama, hanya dengan jabatan yang lebih tinggi.
Pukul 23.15, aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.
Aku membuka pesan lama.
Grup itu masih ada. Tiga orang. Namanya masih kosong sampai hari ini, karena tidak satu pun dari kami pernah sanggup memikirkan nama untuk sesuatu seperti itu.
Pesan terakhir tanggal 4 September, tujuh bulan lalu, dari Tamara: foto kue ulang tahun dan tulisan hbd ren. Dua balasan. Selesai.
Aku mengetik.
Saudari Sekar, Saudari Tamara. Saya perlu menyampaikan sesuatu.
Aku menghapusnya.
Sekar, Tamara —
Aku menghapusnya.
Aku duduk di kursi meja kerjaku dengan ponsel di tangan selama, aku perkirakan, sebelas menit. Aku tidak menghitungnya secara pasti, yang mana adalah kegagalan keduaku hari itu.
Dan pada akhirnya aku menutup aplikasi itu tanpa mengirim apa pun.
Alasan yang kuberikan kepada diriku sendiri: informasi tersebut bersifat rahasia. Aku terikat kerahasiaan penugasan. Menyampaikannya kepada pihak luar adalah pelanggaran.
Alasan tersebut benar.
Dan pada pukul dua pagi, sambil berbaring dan menatap langit-langit kamar dan mendengar dengkuran halus dari kamar sebelah karena Arya menginap, aku mengakui alasan yang sebenarnya.
Kalau aku memberi tahu mereka, mereka akan datang.
Dan selama tiga puluh hari ke depan, hanya satu dari kami bertiga yang memiliki alasan untuk berada di ruangan yang sama dengan orang itu setiap hari.
Sebelas tahun aku menjalani hidup yang benar.
Dan aku membutuhkan waktu kurang dari empat belas jam untuk memutuskan diam demi keuntunganku sendiri.
Aku bangun pukul 04.30, sebagaimana biasa.
Arya sudah membuat kopi. Beliau selalu membuat kopi, dan selalu untuk dua orang, dan selalu meninggalkan yang untukku di sisi kanan meja karena aku memegang cangkir dengan tangan kanan.
Dua tahun. Setiap kali menginap. Aku tidak pernah memberitahukan hal tersebut kepada beliau.
“Pagi.”
“Pagi.”
“Kamu tidur jam berapa?”
“Dua.”
Beliau menoleh dari wastafel. “Kerjaan?”
“Ya.”
“Ren.”
“Ya.”
“Kalau berat, bilang.”
Dan beliau mengatakannya tanpa menuntut, tanpa nada, sambil mencuci gelasnya sendiri — dan tidak menunggu jawaban, karena beliau sudah dua tahun tidak pernah menunggu jawaban dariku untuk pertanyaan semacam itu.
“Baik,” kataku.
“Bukan ‘baik’. Bilang.”
“Iya. Nanti saya bilang.”
Beliau tersenyum, mengeringkan tangan, mencium keningku, dan berangkat pukul 05.40 karena beliau ada rapat pagi.
Aku duduk sendirian di meja dapur dengan cangkir di sisi kanan.
Dan aku melakukan sesuatu yang kusesali sepanjang hari itu: aku memeriksa apakah kalimat “nanti saya bilang” tersebut merupakan kebohongan.
Kesimpulanku: bukan.
Karena kebohongan mensyaratkan adanya niat untuk menyesatkan, dan aku tidak berniat menyesatkan siapa pun.
Aku hanya sudah mengetahui, pada pukul 05.42 hari itu, bahwa terdapat satu hal di dalam hidupku yang tidak akan pernah kusampaikan kepada laki-laki yang membuatkanku kopi setiap pagi selama dua tahun dan meletakkannya di sisi kanan.
Dan bahwa aku tetap akan menikahinya empat bulan sembilan hari lagi.
Hari 1.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah reading
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu