← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Three

Ruang Lingkup

POV: Andhika


Ada dua puluh tiga nama di daftar pihak yang akan diperiksa.

Aku menulisnya sendiri, hari Rabu pagi, di kamar hotel lantai sembilan, sebelum matahari naik.

Delapan dari yayasan. Empat dari sekolah. Enam dari vendor. Tiga dari kantor akuntan yang mengaudit yayasan itu selama sembilan tahun dan tidak menemukan apa pun.

Dan dua dari klien.

Nomor dua puluh dua: Dirgan Prasetya, Direktur Keberlanjutan.

Nomor dua puluh tiga: Renata Claudya Larasati, Manajer Program.

Aku menatap nama itu di layar selama beberapa detik.

Lalu aku menyimpan berkasnya dan mengirimkannya ke Pak Wira jam 05.40, karena pengiriman sebelum jam enam berarti dia akan membacanya sambil sarapan dan tidak sambil rapat, dan orang membaca lebih teliti sambil sarapan.

Dia menelepon jam 07.15.

“Dhik.”

“Pak.”

“Nomor dua puluh tiga.”

“Iya, Pak.”

“Dia pelapornya.”

“Iya, Pak.”

“Kamu mau periksa pelapor?”

“Iya, Pak.”

Jeda di seberang. Suara sendok. Pak Wira memang sedang sarapan.

“Alasannya?”

Dan aku memberikan alasan yang benar, dan alasan itu memang benar, dan aku sudah menyiapkannya sejak jam empat pagi.

“Pelapor punya akses paling luas ke data. Kalau nanti temuan kita digugat, hal pertama yang diserang pihak lawan adalah kredibilitas pelapor. Kalau dia nggak masuk lingkup, kita nggak punya jawaban.”

“Hm.”

“Kalau dia masuk lingkup dan bersih, gugatannya mati di situ.”

“Kamu udah ketemu orangnya?”

“Kemarin.”

“Gimana?”

Aku melihat ke luar jendela kamar hotel lantai sembilan. Jam tujuh lewat lima belas. Jalan di bawah sudah macet.

“Kompeten,” kataku.

“Cuma itu?”

“Cuma itu, Pak.”


Ini bagian yang tidak akan kutulis di berkas mana pun.

Alasan kedua, yang juga benar, dan yang tidak akan pernah kuucapkan:

Kalau namanya tidak masuk lingkup, aku tidak punya alasan untuk berada di ruangan yang sama dengannya.

Kalau namanya masuk lingkup, aku akan bertemu dengannya sekurang-kurangnya empat kali dalam tiga puluh hari — wawancara awal, klarifikasi dokumen, paparan temuan sementara, dan penutupan.

Empat kali.

Aku sudah menghitungnya jam empat pagi, sebelum aku mengetik nama itu, dan aku sudah tahu persis apa yang sedang kulakukan.

Dan aku tetap mengetiknya.

Ada aturan di firma tempatku bekerja: investigator dilarang punya hubungan pribadi dengan pihak mana pun dalam lingkup penugasan. Aku hafal pasalnya. Aku pernah mengajarkannya ke empat angkatan junior.

Aku tidak punya hubungan pribadi dengan Renata Claudya Larasati.

Aku belum bertemu dengannya selama sebelas tahun.

Itu benar, dan itu bunyinya seperti pembelaan orang yang sudah tahu dia salah, dan aku sudah cukup lama bekerja di bidang ini untuk mengenali bunyi itu.


Hari Rabu jam sembilan, aku ke kantor yayasan.

Bangunannya baru. Tiga lantai, kaca, lift satu unit. Dibangun tujuh tahun lalu — aku tahu angkanya dari laporan keuangan, dan aku juga tahu dari mana dananya, walaupun aku belum boleh mengatakannya kepada siapa pun.

Ketua Yayasan menyambut sendiri di lobi.

Namanya Pak Suryadi. Umur enam puluh empat. Kemeja batik, jam tangan yang harganya kira-kira empat kali gaji bulanan seorang guru honorer di sekolah yang dia naungi, dan jabat tangan yang hangat dan lama dan tidak dibuat-buat.

“Pak Andhika ya? Ayo, ayo, duduk dulu.”

“Terima kasih, Pak.”

“Minum apa? Kopi? Teh?”

“Air putih saja, Pak.”

“Ah, jangan air putih. Ini ada kopi bagus dari Toraja—”

“Air putih saja, Pak. Terima kasih.”

Dia tertawa dan menepuk bahuku.

Dan aku duduk di sofa lobi Yayasan Pendidikan Bhakti Utama dan menerima segelas air putih dari seorang perempuan muda berseragam, dan aku mengucapkan terima kasih, dan aku meletakkan mapku di pangkuan.

“Jadi begini, Pak Andhika.” Pak Suryadi duduk di seberang. “Saya justru senang ada pemeriksaan ini.”

“Baik, Pak.”

“Serius. Saya senang.” Dia mencondongkan badan. “Yayasan ini sudah dua puluh tahun. Saya ketua sejak dua belas tahun lalu. Dan setiap tahun saya bilang ke pengurus: kita ini pegang uang orang. Uang orang itu harus bisa dihitung.”

“Betul, Pak.”

“Silakan diperiksa semuanya. Semuanya. Nggak ada yang saya sembunyikan.”

Dan dia mengatakannya dengan tulus.

Aku sudah dua belas tahun membaca orang. Aku sudah duduk di seberang seratus lebih orang yang mengucapkan kalimat itu, dan kira-kira delapan puluh persen dari mereka sedang berbohong, dan aku biasanya tahu dalam empat puluh detik.

Pak Suryadi tidak berbohong.

Dia benar-benar tidak menyembunyikan apa pun.

Dan itulah — walaupun aku belum bisa membuktikannya sampai hari kedelapan belas — momen pertama aku mulai curiga bahwa kasus ini tidak punya penjahat.


“Pak Suryadi.”

“Iya, Pak Andhika.”

“Saya butuh akses ke notulen rapat pengurus. Sebelas tahun ke belakang.”

“Boleh. Semua ada di Bu Ratna.”

Aku memegang gelas air putih itu dengan dua tangan.

“Bu Ratna.”

“Iya. Staf tata usaha. Sudah tiga puluh tahun di sini.” Dia tertawa. “Beliau itu yang tahu semuanya. Saya aja nggak tahu arsip taruh di mana.”

“Baik, Pak.”

“Nanti saya kenalkan.”

“Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri.”


Ada satu hal lagi yang perlu kucatat dari pagi itu.

Sebelum aku pergi, Pak Suryadi mengantar sampai lobi. Dia melakukan itu untuk semua tamu; aku sudah melihatnya melakukan hal yang sama ke dua orang sebelum aku.

“Pak Andhika asalnya dari mana?”

Pertanyaan basa-basi. Ditanyakan sambil berjalan, tanpa menunggu jawaban yang serius.

“Dari sini, Pak.”

Dia berhenti.

“Lho, asli sini?”

“Iya.”

“SMA-nya di mana?”

Dan aku punya waktu kira-kira setengah detik untuk memutuskan.

Aturannya jelas: benturan kepentingan harus dilaporkan sebelum penugasan dimulai. Aku sudah melewati batas itu tiga hari yang lalu, waktu aku mengetik dua puluh tiga nama di kamar hotel jam empat pagi.

“Di luar kota, Pak,” kataku.

“Oh.” Dia mengangguk-angguk dan melanjutkan jalan. “Pantesan saya nggak kenal keluarganya.”

Dan itu kebohongan pertamaku dalam penugasan ini, diucapkan di hari ketiga, kepada orang yang menyewa firmaku.

Aku mencatatnya di kepala, di tempat yang sama dengan semua hal yang tidak bisa kuhapus.


Jam sebelas, aku berjalan keluar dari kantor yayasan dan berdiri di trotoar depan.

Dan aku melakukan sesuatu yang tidak ada dalam agenda hari itu.

Aku berjalan.

Delapan ratus meter ke timur, lewat perempatan, lewat deretan ruko yang dulunya sawah. Jalannya diaspal ulang. Trotoarnya baru. Ada minimarket di tempat yang dulu warung.

Dan di ujung jalan itu, di sisi kiri, ada pagar besi bercat hijau dengan tulisan yang catnya masih sama seperti sebelas tahun lalu.

SMA NEGERI 4.

Aku tidak masuk.

Aku berdiri di seberang jalan selama — aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya — empat menit dua puluh detik.

Gedungnya masih sama. Lapangannya sudah dipasang atap. Pohon di dekat tembok samping, yang dulu kupakai untuk memanjat, sudah ditebang.

Anak-anak keluar jam istirahat. Seragamnya sama. Putih abu.

Dan aku berdiri di sana dan mencoba merasakan sesuatu, dan aku tidak merasakan apa pun sama sekali, dan itu jauh lebih menakutkan daripada kalau aku merasakan sesuatu.

Lalu aku melihat jam tangan, dan aku menyeberang, dan aku naik taksi ke hotel.


Malamnya, kamar lantai sembilan, jam sebelas lewat.

Aku membuka laptop. Aku membuka berkas ruang lingkup.

Dua puluh tiga nama.

Dan aku melakukan hal yang kulakukan setiap malam sejak berkas ini dibuat, yang butuh waktu kurang dari dua detik, yang jalan sendiri seperti napas:

Hari 3. Sisa dua puluh tujuh.

Lalu aku menutup laptop.

Aku mengeluarkan earphone dari saku jas.

Kabelnya masih dililit lakban di dua titik — lakbannya sudah kuganti kira-kira enam puluh kali sejak umur tujuh belas — dan yang sebelah kanan masih rusak.

Aku bisa membelinya. Aku sudah bisa membelinya sejak umur delapan belas.

Aku memasangnya, dua-duanya, dan aku menekan play.

Sembilan lagu.

Masih sembilan.

Dan sebelum lagu pertama selesai, aku menghitung satu hal lagi yang tidak kuminta untuk dihitung, dan hasilnya keluar dengan sangat cepat karena aku sudah menghitungnya berkali-kali sejak hari Senin.

Dari hotel ini ke gang itu: dua puluh dua menit dengan taksi.

Dua puluh dua menit.

Bukan delapan jam empat puluh lima.


Ada satu hal lagi yang kulakukan malam itu, dan aku menuliskannya terakhir karena aku menundanya sepanjang malam.

Aku membuka kontak di ponselku.

Bukan mencari. Aku tahu persis tidak ada apa-apa di sana — nomorku sudah berganti empat kali sejak umur delapan belas, dan setiap kali berganti aku memindahkan kontaknya, dan setiap kali memindahkan aku memindahkan yang perlu saja.

Delapan puluh tiga kontak. Semuanya pekerjaan, kecuali satu: Ibu.

Aku menggulirnya dari atas ke bawah.

Delapan puluh tiga nama, dan tidak satu pun dari mereka yang tahu jam berapa aku pulang.

Aku menutupnya.

Lalu aku membuka galeri, ke folder paling bawah, yang isinya empat foto dan tidak pernah bertambah sejak tahun kedua kuliah.

Foto pertama: nisan. Diambil hari pemakaman, dari jarak tiga meter, sebelum semennya kering.

Aku belum pernah kembali ke sana.

Sebelas tahun.

Dan aku sudah menghitungnya juga — dari hotel ini ke TPU itu tiga puluh satu menit — dan aku sudah menghitungnya setiap malam sejak hari Senin, dan setiap malam hasilnya keluar dan setiap malam aku tidak melakukan apa-apa dengan hasilnya.

Aku mematikan layar.


Hari 3. Sisa 27.