← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Forty Five

[Rute Tamara] Empat Jam

POV: Sekar


Sidangnya hari Selasa jam sembilan pagi.

Aku sudah tahu tanggalnya sejak lima minggu lalu, dan aku sudah menghitung mundurnya setiap malam, dan aku membenci diriku sendiri untuk itu karena aku tertular dari orang yang salah.

Dan hari Jumat sebelumnya — empat hari sebelum sidang — aku mengirim satu pesan.

sekar: dhika

Andhika: Hm.

sekar: jangan dateng ke sidang

Dibaca dalam sembilan detik.

Dan lalu “mengetik...” menyala dan mati dan menyala lagi selama satu menit empat puluh detik, dan aku duduk di ruang praktikku dan menonton titik-titik itu bergerak dan aku tahu persis apa yang sedang terjadi di seberang.

Orang itu sedang menyusun kalimatnya dari yang paling pendek.

Andhika: Kenapa?

sekar: karena kalau kamu dateng, kamu bakal ngomong

Andhika: Saya udah kirim keterangan tertulis.

sekar: aku tau. aku udah baca.

sekar: dan kalau kamu duduk di ruangan itu dan ada anggota majelis yang nanya kamu satu pertanyaan aja, kamu bakal jawab

sekar: dan kamu bakal jawab jujur

sekar: dan jawaban jujur kamu bakal bikin sanksinya ringan

Jeda.

Andhika: Iya.

sekar: dan aku nggak mau


Aku ingin mencatat kenapa, karena aku sudah menjelaskannya kepada Renata dua kali dan Renata tidak setuju kedua kalinya, dan karena aku masih yakin sampai sekarang.

Aku melanggar.

Aku mencium kening pasienku sendiri waktu dia tidur, tanpa persetujuan, di dalam ruang praktikku, dalam kapasitas sebagai terapis.

Itu pelanggaran. Bukan setengah pelanggaran, bukan pelanggaran yang bisa dijelaskan, bukan pelanggaran yang punya konteks.

Dan aku sudah sebelas tahun hidup dengan satu kesalahan yang tidak pernah kubayar — aku berdiri satu setengah meter dari halaman belakang sekolah dan aku diam — dan aku sudah tahu persis bagaimana rasanya membawa sesuatu yang tidak pernah kau bayar.

Kalau sanksinya diringankan karena orang yang kulanggar berkata dia tidak dirugikan, maka aku membawa yang kedua.

Dan aku sudah tidak sanggup membawa yang kedua.

Andhika: Kar.

sekar: iya

Andhika: Kamu tau saya bakal nurut.

sekar: iya

Andhika: Dan kamu tau saya nggak bakal suka.

sekar: iya

sekar: dan aku tetep minta


Dia tidak datang.

Aku ingin mencatat bahwa aku memeriksa ruangan itu tiga kali sebelum sidang dimulai — barisan belakang, koridor, ruang tunggu — dan bahwa aku merasa lega dan kecewa pada saat yang sama dan bahwa aku tidak akan pernah bisa memisahkan keduanya.


Ruang sidangnya di lantai tiga gedung Ikatan Dokter Indonesia wilayah.

Meja panjang. Tujuh anggota majelis. Satu kursi untukku, menghadap mereka, tanpa meja.

Dan di barisan belakang, tiga kursi.

Satu diisi.

Renata Claudya Larasati, setelan kerja lengkap, dengan map cokelat di pangkuan.


Empat jam.

Aku akan meringkasnya, karena empat jam adalah waktu yang sangat lama untuk sesuatu yang bisa diringkas dalam satu paragraf.

Jam pertama: identitas, kronologi, verifikasi dokumen. Aku menjawab seluruhnya. Tidak ada yang membantah apa pun karena tidak ada yang perlu dibantah; aku yang mengirimkan seluruh berkasnya.

Jam kedua: pertanyaan tentang perbuatannya.

“Dokter menyadari bahwa itu pelanggaran pada saat melakukannya?”

“Menyadari.”

“Sebelum atau sesudah?”

“Sebelum.”

Terdengar kertas dibalik di meja panjang itu.

“Dokter menyadari sebelum melakukan, dan tetap melakukan.”

“Ya.”

“Dokter bisa jelaskan mengapa?”

Dan aku duduk di kursi tanpa meja di ruang sidang lantai tiga pada hari Selasa jam sepuluh lewat, dan aku memberikan jawaban yang sudah kusiapkan selama lima minggu dan yang tetap keluar salah:

“Tidak bisa, Dokter.”

“Tidak bisa, atau tidak mau?”

Dan aku berkata:

“Tidak bisa. Saya sudah mencoba menyusun alasannya selama lima minggu dan setiap alasan yang saya temukan adalah pembenaran.”


Jam ketiga: keterangan pihak berkepentingan.

Dan di sinilah aku hampir kehilangan seluruh pertahananku.

Karena mereka membacakannya.

Keras. Di ruangan itu. Tiga paragraf, dikirim oleh pasien, ditandatangani, bertanggal.

Isinya kronologi. Tanggal, jam, durasi, apa yang terjadi. Persis, tanpa satu pun kelebihan, dengan susunan orang yang menulis laporan investigasi selama delapan tahun.

Dan kalimat terakhirnya:

Bahwa saya tidak dirugikan.

Dan salah satu anggota majelis mengangkat wajah dan bertanya kepada ruangan:

“Ini pasiennya sendiri yang nulis?”

“Iya, Dokter.”

Dan beliau meletakkan kertas itu dan berkata:

“Menarik.”


Jam keempat: keterangan pihak berkepentingan kedua.

Renata dipanggil ke depan.

Dan aku ingin mencatat apa yang terjadi selama sebelas menit berikutnya, karena aku menontonnya dari kursi tanpa meja dan karena aku tidak akan pernah melupakannya.

Dia tidak membela aku.

Sekali pun. Tidak satu kalimat.

Dia menyampaikan sebelas halaman tentang program skrining kesehatan jiwa di tiga sekolah, jumlah kunjungan empat tahun, jumlah siswa terlayani, dan proyeksi dampak apabila program berhenti enam bulan.

Data. Tabel. Dasar formal.

Dan waktu ditanya apakah dia punya hubungan pribadi dengan teradu, dia menjawab:

“Ya. Kami satu almamater. Saya menyampaikan hal ini di halaman satu, paragraf dua, agar Majelis dapat menilai bobot keterangan saya dengan tepat.”

Dan salah satu anggota majelis tertawa kecil dan berkata:

“Ibu ini pengacara?”

Dan Renata Claudya Larasati berkata:

“Bukan, Dokter. Saya kepatuhan.”


Aku menangis di kursi tanpa meja itu.

Bukan waktu keterangan Andhika dibacakan.

Waktu Renata mengucapkan kalimat “agar Majelis dapat menilai bobot keterangan saya dengan tepat” — karena aku tahu persis berapa lama perempuan itu menyusun kalimat tersebut, dan karena aku tahu bahwa kalimat itu melemahkan keterangannya sendiri, dan karena dia tetap memasukkannya di halaman satu paragraf dua.

Sebelas tahun aku menganggap orang itu saingan.

Dan dia berdiri di depan tujuh anggota majelis pada hari Selasa jam dua belas lewat dan melemahkan keterangannya sendiri supaya keterangannya bersih.


Putusan dibacakan pukul 13.20.

Terbukti melakukan pelanggaran etik sedang.

Sanksi: peringatan tertulis, kewajiban mengikuti pembinaan etik profesi selama tiga bulan, dan pembatasan praktik selama tiga bulan.

Tiga bulan.

Bukan enam.

Dan alasannya, dibacakan pada paragraf terakhir:

Mempertimbangkan bahwa teradu melaporkan diri sendiri tanpa adanya pengaduan dari pihak mana pun, menyerahkan dokumentasi lengkap tanpa penyuntingan, dan tidak mengajukan pembelaan yang meringankan.

Tiga hal.

Dan ketiganya adalah hal yang kulakukan justru untuk memastikan sanksinya tidak diringankan.


Aku duduk di kursi tanpa meja itu setelah semua orang berdiri.

Dan Renata datang dan duduk di kursi di sebelahku, dan dia tidak mengatakan apa-apa selama kira-kira dua menit.

“Ren.”

“Ya.”

“Tiga bulan.”

“Ya.”

“Aku ngelakuin tiga hal biar sanksinya berat.”

“Ya.”

“Dan tiga hal itu yang bikin ringan.”

Dan Renata Claudya Larasati berkata:

“Sekar.”

“Hm.”

“Itu memang bagaimana sistem bekerja.”

Dan aku menoleh ke arahnya.

“Sistem tidak memberi keringanan kepada orang yang meminta keringanan,” katanya. “Sistem memberi keringanan kepada orang yang tidak meminta. Itu tercantum di pedoman, dan itu bukan kecelakaan, dan itu sudah dipikirkan oleh orang-orang yang menyusunnya jauh sebelum kita lahir.”

Dia memegang map cokelatnya dengan dua tangan.

“Anda tidak berhasil dihukum berat,” katanya. “Anda berhasil dinilai dengan benar.”


Di parkiran, jam dua siang, aku bertanya satu hal.

“Ren.”

“Ya.”

“Program skrining aku berhenti tiga bulan.”

“Ya.”

“Kamu udah ngitung berapa anak?”

Dan Renata berkata:

“Tiga ratus enam puluh.”

“Kamu ngitung lagi?”

“Saya menghitung ulang setiap kali angkanya berubah.”

Dan aku berdiri di parkiran gedung IDI wilayah pada hari Selasa jam dua siang.

“Ren, aku minta tolong.”

“Ya.”

“Tiga bulan itu. Programnya jangan berhenti.”

Dan Renata Claudya Larasati membuka map cokelatnya, dan mengeluarkan selembar kertas, dan menyerahkannya kepadaku.

Rancangan Kerja Sama Penyediaan Tenaga Psikolog Klinis untuk Program Skrining Kesehatan Jiwa Sekolah. Yayasan Pendidikan Bhakti Utama — Unit Kepatuhan.

Tanggal di sudut kanan atas: empat hari sebelum sidang.

“Saya sudah menyusunnya,” katanya. “Psikolog klinis boleh melakukan skrining awal. Yang tidak boleh hanya penegakan diagnosis dan peresepan.”

Aku memegang kertas itu.

“Ren—”

“Anda tidak perlu berterima kasih.” Dia menutup mapnya. “Saya melakukannya untuk tiga ratus enam puluh anak.”

Dan lalu, sambil berjalan ke mobilnya, dia menambahkan tanpa menoleh:

“Dan sebagian kecil untuk Anda. Tetapi hanya sebagian kecil, dan saya tidak berniat merinci persentasenya.”


Malamnya aku menelepon.

Dan aku ingin mencatat bahwa aku menelepon jam sembilan, bukan jam dua siang, karena aku butuh tujuh jam untuk memutuskan bagaimana mengatakannya.

“Kar.”

“Tiga bulan.”

Dan aku bisa mendengar orang itu menghembuskan napas di seberang — pendek, sekali — dan itu satu-satunya reaksi yang keluar, dan itu sudah lebih dari cukup.

“Programnya?”

“Jalan. Renata udah nyiapin.”

“Empat hari sebelum sidang?”

Aku menoleh ke arah kertas di mejaku.

“Kamu tau?”

“Enggak,” katanya. “Saya nebak.”

“Nebak dari mana?”

Dan dia berkata:

“Dari orangnya.”


Kami bicara empat puluh menit.

Dan di menit ketiga puluh delapan, aku menanyakan hal yang sudah kutahan sejak hari Jumat.

“Dhika.”

“Hm.”

“Cuti kamu abis dua minggu lalu.”

Hening.

“Iya.”

“Kamu belum balik.”

“Belum.”

“Kenapa?”

Dan dia tidak menjawab selama kira-kira enam detik.

Dan lalu dia berkata:

“Kar, saya harus ngomong sesuatu.”

Dan aku berdiri dari kursi meja kerjaku sendiri di rumah yang tidak kujual, di gang di belakang pasar, di bawah lampu tiang ketiga yang sudah diganti.

Karena aku sudah dua puluh dua tahun mengenal orang itu.

Dan aku hafal bunyi kalimat itu.