← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Thirty One

Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh

POV: Sekar


Suratnya sampai ke dia hari Senin pagi.

Aku tidak mengetahuinya sampai jam tujuh malam.

Aku seharusnya mengetahuinya sejak awal, dan itu kesalahanku, dan itu kesalahan yang tidak termaafkan bagi orang yang sudah dua belas tahun bekerja di bidang ini.

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran wilayah mengirimkan pemberitahuan kepada seluruh pihak terkait dalam sebuah perkara — termasuk kepada pasien.

Bukan untuk meminta laporan. Laporannya sudah ada; aku yang membuatnya.

Untuk meminta keterangan.

Sehubungan dengan laporan yang diajukan oleh teradu atas dirinya sendiri, Saudara diminta memberikan keterangan sebagai pihak yang berkepentingan. Keterangan Saudara akan digunakan untuk menentukan tingkat kerugian yang dialami.

Tingkat kerugian.

Empat puluh tiga hari aku menghitung segala sesuatu tentang orang itu, dan aku tidak menghitung yang satu ini, dan alasannya sederhana dan memalukan:

Aku tidak menghitungnya karena aku tidak ingin menghitungnya.


Dia datang jam tujuh lewat sepuluh.

Klinik sudah tutup. Mbak Dini sudah pulang. Yang tersisa cuma aku dan cleaning service di lantai bawah.

Pintu ruang praktikku terbuka.

Dan tidak ditutup pelan-pelan.

Aku ingin mencatat itu, karena dalam dua puluh dua tahun aku belum pernah sekali pun mendengar orang itu menutup pintu dengan cara lain.

Pintu itu membentur kusen.

Bunyinya keras dan bergema di koridor klinik yang kosong.


“Kar.”

Dia berdiri di ambang pintu dengan amplop cokelat di tangan.

“Dhika.”

“Apa ini.”

“Kamu udah baca.”

“Saya nanya apa ini.”

Dan aku berdiri dari kursiku.

“Itu pemberitahuan dari Majelis,” kataku. “Kamu diminta ngasih keterangan sebagai pihak yang berkepentingan. Kamu boleh nggak dateng. Kamu boleh nulis satu kalimat. Kamu boleh nulis apa pun.”

“Kamu lapor diri kamu sendiri.”

“Iya.”

“Kapan?”

“Kamis.”

“Kamis,” ulangnya. “Kamis kamu ketemu saya di warung nasi padang dan kamu nggak bilang apa-apa.”

“Iya.”

“Sabtu kamu telepon saya jam tujuh pagi nanyain saya udah sarapan apa belum.”

“Iya.”

“Dan kemarin kamu ngirim pesan jam sebelas malem nanyain saya bisa tidur apa enggak.”

“Iya, Dhika.”

Dan Andhika Pratama — yang selama dua puluh delapan tahun tidak pernah menaikkan suaranya kepada siapa pun, yang tidur tiga setengah jam semalam selama sebelas tahun dan tidak pernah mengeluh sekali pun, yang berkata panik itu mahal kepada dirinya sendiri sejak umur sebelas —

berteriak di ruang tunggu klinikku.


“KAMU NGGAK BILANG APA-APA.”

Suaranya memantul di koridor.

Aku mendengar sesuatu jatuh di lantai bawah — cleaning service, ember, sesuatu — dan lalu tidak ada apa-apa.

“Enggak,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku bilang, itu jadi tagihan.”

“Tagihan—”

“Iya, Dhika. Tagihan.” Aku berjalan ke ambang pintu. “Kamu tuh orang yang nggak bisa nerima apa pun tanpa ngerasa harus bayar. Dua puluh dua tahun. Aku ngasih kamu tempe setengah waktu SD dan kamu benerin pager rumah aku.”

“Itu beda—”

“Kalau aku bilang aku lapor diri aku sendiri gara-gara nyium kening kamu, kamu bakal ngerasa itu utang,” kataku. “Dan kamu bakal nyari cara buat bayar. Dan cara kamu bayar selalu sama: kamu pergi biar orangnya nggak rugi lagi.”

Dia tidak menjawab.

Dan itu jawabannya, dan kami berdua tahu.


“Enam bulan,” katanya akhirnya. “Praktik kamu dibatesin enam bulan.”

“Kemungkinan.”

“Program sekolah kamu berhenti.”

“Iya.”

“Tujuh ratus anak.”

Aku menoleh cepat.

“Kamu ngitung?”

“Dua kali sebulan, tiga sekolah, enam bulan.” Dia meletakkan amplop itu di meja resepsionis. “Rata-rata dua puluh anak per kunjungan. Tujuh ratus dua puluh.”

“Aku ngitung tujuh ratus.”

“Kamu nggak masukin kelas dua belas semester genap.”

Dan aku berdiri di koridor klinikku sendiri jam tujuh lewat malam dan hampir tertawa, karena dua orang yang sedang bertengkar tentang sebuah pengorbanan baru saja berdebat tentang angkanya.


“Dhika.”

“Kar—”

“Kamu marah.”

“Iya.”

“Kamu marah beneran.”

“IYA.”

Dan aku mengambil dua langkah ke arahnya.

“Kamu tau nggak,” kataku, “ini pertama kalinya.”

Dia berhenti.

“Dua puluh dua tahun,” kataku. “Aku kenal kamu dari umur enam. Aku pernah liat kamu capek, aku pernah liat kamu ngantuk, aku pernah liat kamu jongkok di depan kaki nenek kamu jam sebelas malem.”

Suaraku mulai goyang dan aku membiarkannya.

“Aku belom pernah sekali pun liat kamu marah.”

“Kar.”

“Sekali pun, Dhika. Waktu Vira ngomong di kerja bakti — kamu nggak marah. Waktu sekolah ngeluarin kamu — kamu nggak marah. Waktu nenek kamu meninggal—”

Aku berhenti.

“Aku nggak ada di situ,” kataku. “Tapi aku tau kamu nggak marah.”

Dan Andhika Pratama berdiri di koridor klinik itu dengan tangan mengepal di sisi badan, dan wajahnya — untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun — bukan datar.

“Bagus,” kataku.

“...Apa?”

“Bagus. Akhirnya.”


Aku ingin mencatat apa yang terjadi dalam empat detik berikutnya, karena aku sudah memeriksanya ratusan kali dan aku ingin memastikan aku tidak menambahkan apa pun.

Aku berjalan melewatinya.

Aku menutup pintu ruang praktikku.

Aku memutar kuncinya.

Dan aku berbalik dan mencium orang itu sambil masih memegang gagang pintu di belakang punggungku.


Bukan lembut.

Aku sudah dua puluh dua tahun lembut kepada orang ini. Aku sudah lembut sejak umur enam tahun, dan aku lembut waktu aku memegang dua jarinya, dan aku lembut waktu aku menyediakan pangkuanku selama lima belas menit, dan aku lembut waktu aku mencium keningnya sementara dia tidur dan tidak bisa menolak.

Aku sudah selesai dengan lembut.

Dan dia membalas.

Bukan setelah dua detik. Tidak ada jeda sama sekali — dan aku baru menyadari itu keesokan harinya, waktu Renata bercerita tentang dua detiknya di tangga darurat dan Tamara bercerita tentang tiga detiknya di parkiran.

Aku tidak punya jeda.

Dan aku tidak akan pernah tahu apakah itu karena dia sudah selesai menghitung, atau karena kali ini dia tidak sempat mulai.


Aku melepaskan.

Napasku belum benar. Tanganku masih di gagang pintu.

Dan aku berkata:

“Sekarang kamu boleh bilang itu nggak boleh.”


Dia tidak mengatakan itu.

Dia berdiri di sana dengan napas yang juga belum benar, dan telinganya merah, dan tangannya — kedua-duanya — masih di punggungku.

“Kar.”

“Hm.”

“Saya nggak bisa bayar ini.”

Dan aku menutup mata dan menyandarkan dahiku ke dadanya.

“Aku tau,” kataku. “Itu intinya.”


Kami berdiri di koridor klinik itu selama entah berapa lama.

Aku tidak menghitungnya.

Aku sudah dua kali tidak menghitung sesuatu dalam sebelas tahun terakhir, dan dua-duanya terjadi dalam lima hari, dan aku mencatat itu keesokan paginya dengan tangan yang gemetar.

“Dhika.”

“Hm.”

“Besok kamu pergi?”

“Lusa.”

“Jam berapa?”

Dan dia berkata:

“Belum pesen tiket.”


Aku mengangkat kepala.

“Belum?”

“Belum.”

“Kontrak kamu selesai hari ini.”

“Iya.”

“Kantor kamu nggak nyuruh balik?”

“Nyuruh.”

“Terus?”

Dan Andhika Pratama — manajer investigasi di firma audit forensik terbesar di negara ini, yang belum pernah terlambat mengirimkan satu pun dokumen dalam delapan tahun, yang menyusun jadwal tiga orang selama dua bulan pada umur tujuh belas tahun tanpa satu kali pun salah —

berkata:

“Saya belum ngitung apa-apa sejak Sabtu, Kar.”

Dan dia mengatakannya dengan nada orang yang sedang melaporkan gejala — seperti orang yang menyebutkan bahwa dadanya sesak sejak hari Selasa.

“Sejak Sabtu jam berapa?”

“Jam dua pagi. Di atap.”

Dan aku menekan wajahku ke dadanya supaya dia tidak bisa melihat apa pun, dan aku berkata:

“Bagus.”


Aku ingin menuliskan satu hal terakhir tentang malam itu, dan ini bagian yang tidak akan kuceritakan ke Tamara maupun ke Renata walaupun aturan kami mengharuskannya.

Bukan karena aku menyembunyikannya.

Karena aku tidak punya kata-katanya.

Jam delapan lewat, kami duduk di ruang tunggu klinik — di kursi tunggu pasien, berdampingan, di bawah lampu yang cuma menyala setengah karena sisanya sudah kumatikan.

Dan dia berkata:

“Kar.”

“Hm.”

“Kamu bakal disidang bulan depan.”

“Iya.”

“Saya diminta ngasih keterangan.”

“Iya.”

“Saya boleh nulis apa aja.”

“Iya.”

Dan dia menoleh ke arahku dan berkata:

“Saya nggak akan nulis kamu nggak salah.”

Aku menoleh cepat.

“Karena kamu emang salah,” katanya. “Dan kalau saya nulis kamu nggak salah, saya lagi ngambil sesuatu dari kamu.”

“Ngambil apa?”

Dan dia berkata:

“Ngambil satu-satunya hal yang kamu lakuin seumur hidup kamu yang kamu putusin sendiri, dari awal sampe akhir, tanpa nunggu siapa-siapa.”

Aku tidak bisa menjawab apa pun.

“Jadi saya bakal nulis yang bener,” katanya. “Saya bakal nulis apa yang terjadi. Dan saya bakal nulis satu kalimat lagi di bawahnya.”

“Kalimat apa?”

Dan Andhika Pratama berkata, di ruang tunggu klinik yang lampunya setengah menyala:

“Bahwa saya nggak dirugikan.”


Hari 30. Sisa 0.