Chapter Thirty Two
Hari Ketiga Puluh
POV: Andhika
Pak Wira menelepon jam sembilan malam.
“Dhik.”
“Pak.”
“Kontrak kelar hari ini.”
“Iya, Pak.”
“Laporan udah diterima klien, berita acara udah lengkap, penutupan akses udah ditandatangan.”
“Iya, Pak.”
“Kamu balik kapan?”
Dan aku berdiri di kamar hotel lantai sembilan dengan ponsel di telinga dan pakaian yang belum kumasukkan ke koper.
“Belum tau, Pak.”
Hening di seberang.
“Dhik.”
“Iya.”
“Delapan tahun kamu kerja sama aku.”
“Iya, Pak.”
“Kamu belum pernah sekali pun jawab ‘belum tau’ buat pertanyaan yang ada jawabannya.”
Aku ingin mencatat urutan kejadian hari itu, karena aku sudah memeriksanya berkali-kali dan aku ingin memastikan aku tidak menambahkan apa pun.
06.40. Bangun. Tanpa alarm.
08.15. Amplop cokelat dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran wilayah diantar ke resepsionis hotel. Aku menerimanya jam 08.22 dan membacanya berdiri di lobi.
08.24. Aku membacanya lagi.
08.31. Aku duduk di sofa lobi.
09.20. Aku masih duduk di sofa lobi.
Aku ingin mencatat lima puluh menit itu.
Karena selama lima puluh menit itu aku melakukan hal yang kulakukan sepanjang hidupku, yaitu menyusun urutan dan mencari siapa yang menutupi apa.
Dan aku menyelesaikannya dalam empat menit.
Sekar menyerahkan laporannya hari Kamis. Hari Kamis malam dia mengajakku makan di warung nasi padang dan bertanya tentang menantunya Bu Nah. Hari Sabtu pagi dia menelepon jam tujuh menanyakan apakah aku sudah sarapan. Hari Minggu malam dia mengirim pesan menanyakan apakah aku bisa tidur.
Empat hari.
Dan empat puluh enam menit sisanya kuhabiskan untuk sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidupku, yaitu duduk di sofa lobi hotel tanpa menyusun apa pun.
11.00. Ramah tamah penutupan di lantai dua puluh satu.
12.26. Tangga darurat lantai dua puluh.
19.10. Klinik.
20.40. Kembali ke hotel.
21.00. Pak Wira menelepon.
“Dhik, aku nanya serius.”
“Iya, Pak.”
“Ada apa di sana?”
Dan aku berdiri di kamar hotel lantai sembilan dan aku menyusun jawabannya seperti aku menyusun semua jawaban, dari yang paling pendek.
Nggak ada apa-apa. — Bohong. Urusan pribadi. — Benar, tidak lengkap, dan akan menghasilkan pertanyaan lanjutan. Saya sekolah di sana. — Benar. Dan sebelas hari terlambat untuk diucapkan.
Dan aku memilih yang keempat, yang tidak kususun sebelumnya, dan yang keluar dari mulutku sebelum aku sempat memeriksanya:
“Saya nggak tau, Pak.”
Pak Wira diam agak lama.
“Kamu inget nggak,” katanya akhirnya, “waktu kamu masuk, umur berapa?”
“Dua puluh dua, Pak.”
“Aku nanya kamu kenapa mau kerja di sini.”
“Iya.”
“Kamu jawab apa?”
Dan aku mengingatnya persis, karena aku mengingat segalanya persis, dan karena aku sudah delapan tahun berharap orang itu tidak mengingatnya.
“Saya bilang saya mau tau siapa yang mutusin,” kataku.
“Ho’oh.” Aku mendengar sesuatu diletakkan di seberang. “Dan aku waktu itu mikir, wah, anak ini bakal jadi bagus.”
“Pak—”
“Dan aku bener. Kamu jadi bagus.” Jeda. “Tapi aku juga mikir satu hal lagi waktu itu, dan aku nggak pernah bilang ke kamu selama delapan tahun.”
“Apa, Pak?”
Dan Pak Wira berkata:
“Aku mikir, anak ini nyariin sesuatu, dan kalau suatu hari dia nemu, dia bakal berhenti.”
Aku duduk di tepi tempat tidur.
“Kamu udah nemu?” katanya.
“Iya, Pak.”
“Apa?”
“Rapat pengurus tanggal empat belas Oktober, sebelas tahun lalu. Agenda nomor lima sama agenda nomor tujuh.”
“Terus?”
“Terus nggak ada siapa-siapa, Pak.”
Hening.
“Nggak ada yang nyolong. Nggak ada yang bohong. Nggak ada yang bisa dituntut,” kataku. “Sebelas orang duduk di satu ruangan, mutusin satu hal di menit ketiga puluh, terus dengerin empat puluh tiga nama di menit kelima puluh delapan, dan nggak ada satu pun dari mereka yang nyambungin dua hal itu.”
“Kenapa?”
“Karena nggak ada alasan buat nyambungin. Itu dua agenda beda.”
Dan aku duduk di tepi tempat tidur kamar hotel lantai sembilan dan berkata sesuatu yang belum pernah kuucapkan kepada siapa pun:
“Saya delapan tahun nyari orang yang salah, Pak. Ternyata nggak ada.”
“Dhik.”
“Iya.”
“Ambil cuti.”
“Pak—”
“Aku nggak nanya. Aku ngasih.” Suaranya berubah, dan aku mengenali perubahan itu, karena itu suara yang sama yang dipakai Pak Wira waktu memberi perintah di depan klien. “Dua minggu. Mulai besok. Sisa cuti kamu tiga puluh empat hari, Dhik. Tiga puluh empat. Delapan tahun.”
“Saya nggak butuh—”
“Andhika.”
Aku berhenti.
Pak Wira tidak pernah memanggilku dengan nama lengkap. Delapan tahun.
“Kamu inget kamu nulis apa di laporan?” katanya. “Halaman tujuh puluh dua. Bagian dampak.”
Dan aku mengingatnya persis.
Identitas mereka tidak tercatat dalam dokumen mana pun, sehingga dampak yang dialami masing-masing tidak dapat ditelusuri maupun dipulihkan.
“Editor mau nyoret itu,” kata Pak Wira. “Dia bilang itu opini.”
“Iya, Pak.”
“Aku yang nahan.”
Aku memegang ponsel dengan dua tangan.
“Kenapa, Pak?”
Dan Pak Wira berkata:
“Karena delapan tahun aku baca laporan kamu, Dhik, dan itu kalimat pertama yang kamu tulis yang kedengeran kayak ada orangnya di dalem.”
Aku menutup telepon jam sembilan lewat dua puluh.
Dan aku duduk di tepi tempat tidur kamar hotel lantai sembilan selama dua puluh menit tanpa menyalakan lampu.
Kopernya di sudut. Belum kubuka sejak hari pertama, karena aku tidak pernah membongkar koper di penugasan mana pun, karena membongkar koper berarti tinggal.
Aku berdiri.
Aku membukanya.
Dan aku mengeluarkan seluruh isinya — enam kemeja, tiga celana, satu jas cadangan — dan aku menggantungnya satu per satu di lemari kamar hotel itu.
Butuh sebelas menit.
Dan waktu selesai, aku berdiri di depan lemari yang terbuka dan menatap enam kemeja yang tergantung di sana, dan aku tidak tahu harus merasakan apa, dan itu satu-satunya kali dalam hidupku aku tidak tahu harus merasakan apa dan tidak berusaha menghitungnya.
Jam sebelas lewat, aku memasang earphone.
Dua-duanya.
Sembilan lagu.
Dan aku menekan play, dan lagu pertama mulai, dan di detik keempat puluh aku melepas yang sebelah kanan.
Yang rusak.
Aku memegangnya di telapak tanganku dan melihatnya di bawah cahaya dari jendela.
Lakbannya sudah kuganti kira-kira enam puluh dua kali sejak umur tujuh belas. Kabelnya di dalam pasti sudah patah di beberapa titik. Warna karetnya sudah berubah dari hitam jadi abu-abu tua.
Sebelas tahun aku bisa membelinya.
Dua puluh lima ribu di warung dekat kompleks. Dua puluh dua ribu di toko kelontong dekat hotel ini; aku sudah melihatnya minggu lalu waktu membeli bohlam.
Aku tidak membelinya.
Dan aku sudah mencoba menghitung alasannya berkali-kali selama sebelas tahun dan tidak pernah ada satu pun angka yang keluar dari sisi lain.
Dan malam itu, di kamar hotel lantai sembilan pada hari ketiga puluh, aku menghitungnya sekali lagi.
Dan kali ini ada jawabannya.
Jawabannya datang dalam waktu kurang dari dua detik, dan bentuknya bukan angka, dan itu pertama kalinya seumur hidupku sebuah hitungan menghasilkan sesuatu yang bukan angka:
Kalau aku beli yang baru, aku tidak punya yang sebelah lagi untuk diberikan.
Selama sebelas tahun aku memiliki tepat satu benda di dunia yang bisa kutawarkan kepada seseorang tanpa mengurangi apa pun dari nenekku, dari ibuku, dari orang mana pun.
Satu earphone sebelah kiri.
Dan aku menyimpannya rusak supaya benda itu tetap punya arti.
Aku memasangnya kembali.
Aku mendengarkan sembilan lagu sampai habis, dua puluh sembilan menit dua belas detik, dengan telinga kanan yang tidak mendengar apa-apa.
Dan sebelum tidur, aku membuka ponselku dan mengetik satu pesan.
Bukan ke Sekar. Bukan ke Renata. Bukan ke Tamara.
Ke Pak Har.
Andhika: Pak, ini Andhika. Saya di kota. Besok saya ke sana boleh?
Dibaca jam dua belas lewat — Pak Har tidak pernah tidur sebelum jam satu, sebelas tahun, dan itu tidak berubah.
Dan balasannya masuk empat menit kemudian, dan isinya tiga kata, dan aku membacanya di kamar gelap dengan earphone masih terpasang di dua telinga:
Pak Har: Ho’oh. Sini.
Hari 30. Sisa 0.
Kontrak selesai.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh reading
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu