← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Sixteen

Bu Ratna

POV: Andhika


Notulen rapat pengurus tahun kesebelas ada di kardus nomor enam puluh dua.

Aku menemukannya hari Kamis jam tiga sore, dan aku membutuhkan waktu dua puluh menit untuk menyusun ulang halamannya karena jepitannya sudah berkarat dan lepas.

Empat rapat dalam setahun itu.

Rapat ketiga, tanggal empat belas Oktober.

Agenda nomor lima: Penyesuaian Alokasi Dana Program Beasiswa Mitra untuk Pembangunan Sarana Tahap I.

Aku membacanya dua kali.

Isinya empat paragraf. Bahasanya rapi. Pertimbangannya masuk akal: gedung laboratorium lama tidak layak, kebutuhan mendesak, dana mitra memiliki fleksibilitas berdasarkan pasal sekian ayat sekian dalam perjanjian kerja sama.

Diputuskan: disetujui.

Tanda tangan: sebelas orang.

Dan di bagian bawah, di kolom paling kiri, dalam huruf yang lebih kecil:

Notulis: Ratna Kusumawati


Aku duduk di lantai gudang itu untuk waktu yang tidak kucatat.

Bukan karena kaget.

Aku sudah menduganya sejak hari kelima. Aku sudah menduganya sejak Bu Ratna berkata saya di sini terus kok sambil berjalan mengambil kunci.

Aku duduk karena tanggalnya.

Empat belas Oktober.

Surat pertama dari sekolah datang bulan Agustus. Surat kedua datang bulan Oktober.

Aku tidak ingat tanggalnya. Itu satu-satunya hal dari periode itu yang tidak kuingat, dan aku sudah menghabiskan sebelas tahun tidak memeriksanya.

Aku berdiri. Aku pergi ke kardus nomor empat belas.

Map keempat. Lampiran internal. Yang belum kubuka pada hari ketiga.

Aku membukanya sekarang.


Lampiran C.

REKAPITULASI TUNGGAKAN SPP & IURAN KOMITE — KELAS XI — PER OKTOBER Rahasia. Untuk keperluan internal.

Empat puluh tiga nama.

Baris kedua puluh delapan.

Dan di pojok kanan atas, dengan stempel tanggal yang dibubuhkan oleh mesin: 14 OKTOBER.


Aku ingin mencatat apa yang terjadi selanjutnya secara berurutan, karena aku sudah memeriksanya berkali-kali dan karena aku ingin memastikan aku tidak menambahkan apa pun.

Lampiran C dilampirkan pada rapat tanggal empat belas Oktober.

Lampiran C bukan bagian dari agenda nomor lima.

Lampiran C adalah bagian dari agenda nomor tujuh: Laporan Kondisi Administrasi Siswa.

Agenda nomor tujuh dibahas selama — menurut notulen — sembilan menit.

Keputusannya satu kalimat:

Dilaporkan. Ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku.

Agenda nomor lima dibahas selama dua puluh delapan menit.

Dan kedua agenda itu berada di dalam ruangan yang sama, pada hari yang sama, di depan sebelas orang yang sama.

Satu koma empat miliar dipindahkan ke pembangunan gedung pada menit ketiga puluh.

Dan empat puluh tiga nama dibacakan pada menit kelima puluh delapan, dan salah satunya punya angka sembilan di kolom paling kanan, dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menghubungkan kedua hal tersebut.

Karena tidak ada alasan untuk menghubungkannya.

Karena itu dua agenda yang berbeda.


Aku mengunci gudang jam enam.

Dan aku berjalan ke sayap belakang, ke meja kayu di ujung koridor, dan Bu Ratna masih di sana menempelkan label pada map.

“Sudah selesai, Pak?”

“Sudah, Bu. Ini kuncinya.”

“Terima kasih. Besok masih lanjut?”

“Masih.”

Beliau menerima kunci itu dan memasukkannya ke laci dan melanjutkan menempel label.

Dan aku berdiri di depan meja itu dan tidak pergi.


“Bu Ratna.”

“Iya, Pak?”

“Boleh saya tanya sesuatu?”

“Boleh, Pak.”

“Ibu yang jadi notulis rapat pengurus dari dulu?”

“Iya, Pak. Dari tahun sembilan puluh delapan.” Beliau tertawa. “Capek juga, Pak. Tapi ya sudah kebiasaan.”

“Ibu ingat isinya?”

“Aduh, nggak, Pak.” Beliau menggeleng sambil terus menempel. “Banyak banget. Setahun empat kali, dua puluh berapa tahun. Saya cuma ngetik apa yang diomongin.”

“Ibu nggak ikut rapatnya?”

“Ikut. Duduk di pojok. Ngetik.”

“Ibu boleh ngomong?”

Dan beliau berhenti menempel.

Beliau mengangkat wajah — dan untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya, ada sesuatu di wajah itu yang bukan keramahan petugas tata usaha.

“Nggak, Pak,” katanya.

Dan beliau melanjutkan menempel label.


Aku berdiri di sana.

“Bu.”

“Iya.”

“Ibu pernah ngasih tau seseorang tentang isi rapat?”

“Nggak boleh, Pak.”

“Saya nggak nanya boleh atau enggak.”

Dan beliau berhenti lagi.

Kali ini lebih lama.

Dan beliau meletakkan labelnya, dan melipat tangannya di atas meja, dan berkata dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya:

“Pak Andhika.”

“Iya, Bu.”

“Bapak nanyain yang mana?”


Aku berdiri di koridor sayap belakang gedung yayasan itu jam enam lewat sore, dengan map di tangan, dan aku punya kira-kira dua detik untuk memutuskan.

“Yang nomor tujuh,” kataku.

Dan Bu Ratna menatap tangannya sendiri di atas meja.

“Itu bukan rapat, Pak,” katanya. “Itu cuma dibacain.”

“Berapa lama?”

“Sembilan menit, kalau nggak salah.”

“Ibu ingat sembilan menit?”

“Iya.”

“Kenapa Ibu ingat yang itu?”

Dan perempuan berumur lima puluh delapan tahun yang sudah tiga puluh tahun mengetik notulen rapat dan menempel label pada map berkata, tanpa mengangkat wajah:

“Karena saya yang ngetik namanya, Pak.”


Aku tidak bertanya nama yang mana.

Aku ingin mencatat itu, karena itu satu-satunya hal yang benar yang kulakukan hari itu.

“Bu.”

“Iya.”

“Setelah rapat itu, Ibu ngapain?”

Dan beliau mengangkat wajah dan menatapku, dan aku bisa melihat bahwa beliau sedang mencari sesuatu di wajahku, dan aku bisa melihat bahwa beliau tidak menemukannya.

“Saya nulis di kolom keterangan,” katanya. “Di surat-suratnya. Satu-satu.”

“Nulis apa?”

Arsip dipertahankan.

Beliau mengambil labelnya kembali.

“Nggak ada gunanya, Pak,” katanya. “Saya tau nggak ada gunanya. Anak-anak itu udah keluar.”

“Terus kenapa ditulis?”

Dan Bu Ratna menempelkan label itu ke map dan menekannya dengan ibu jari, dua kali, supaya rata.

“Biar kalau ada yang balik,” katanya, “berkasnya masih ada.”


Aku berjalan keluar dari gedung itu jam enam lewat dua puluh.

Aku tidak mengatakan siapa aku.

Aku tidak mengatakannya karena kalau aku mengatakannya, perempuan itu akan tahu bahwa satu dari empat puluh tiga nama yang dia ketik pada tanggal empat belas Oktober sebelas tahun lalu sedang berdiri di depan mejanya.

Dan dia akan minta maaf.

Dan dia tidak melakukan apa pun kecuali mengetik apa yang diucapkan sebelas orang, dan menulis tiga kata di kolom keterangan yang tidak ada gunanya, dan menyimpan lembar ketiga yang seharusnya dimusnahkan dalam siklus lima tahun.

Aku sudah dua belas tahun bekerja di bidang ini.

Aku sudah membuat empat puluh satu orang kehilangan pekerjaan dan sebelas orang dituntut, dan aku tidur nyenyak setiap malam setelahnya karena mereka semua melakukan sesuatu.

Dan hari itu aku berdiri di trotoar depan gedung yayasan dan menyadari bahwa satu-satunya orang di seluruh perkara ini yang ingat namaku adalah orang yang tidak punya hak bicara di ruangan itu.


Aku naik angkot jam enam lewat empat puluh.

Dan aku duduk di dekat jendela dan menghitung, karena otakku menghitung sendiri sebelum aku sempat menghentikannya:

Sembilan menit untuk empat puluh tiga nama adalah dua belas koma lima detik per nama.

Dua belas koma lima detik.

Aku menghitungnya tiga kali dan hasilnya sama, dan aku menghitungnya sekali lagi dengan asumsi ada jeda pembuka dan penutup, dan hasilnya sepuluh koma delapan.

Sepuluh koma delapan detik.

Itu waktu yang dibutuhkan untuk membacakan namaku dengan lantang di sebuah ruangan berisi sebelas orang yang sudah selesai membahas hal yang lebih penting tiga puluh menit sebelumnya.

Aku menghitungnya sampai perempatan.

Lalu aku berhenti, karena aku sudah sampai batas di mana menghitung tidak lagi berfungsi sebagai cara untuk tidak merasakan apa pun.


Jam sembilan malam, di kamar hotel, aku menulis laporan.

Bagian temuan sudah selesai delapan puluh persen. Aku menyusun kronologi, menyusun bukti, menyusun daftar dokumen pendukung.

Dan aku sampai ke bagian yang harus kutulis dan yang tidak sanggup kutulis, yaitu Dampak.

Aku mengetik:

Berdasarkan selisih kuota, terdapat 271 calon penerima yang tidak memperoleh beasiswa selama periode sebelas tahun.

Benar. Faktual. Dapat diverifikasi.

Dan aku menatap kalimat itu selama sebelas menit.

Karena angka dua ratus tujuh puluh satu adalah angka yang bagus untuk laporan, dan angka yang bagus untuk laporan adalah angka yang bisa dibaca orang tanpa merasakan apa pun.

Aku menghapusnya.

Aku mengetik ulang:

Berdasarkan selisih kuota, terdapat 271 calon penerima yang tidak memperoleh beasiswa selama periode sebelas tahun. Identitas mereka tidak tercatat dalam dokumen mana pun, sehingga dampak yang dialami masing-masing tidak dapat ditelusuri maupun dipulihkan.

Dua kalimat.

Kalimat kedua tidak diperlukan. Kalimat kedua tidak menambahkan satu pun informasi yang berguna bagi klien, dan editor laporan di firmaku hampir pasti akan mencoretnya karena dianggap bersifat opini.

Aku membiarkannya.

Dan aku menyimpan berkas itu jam sepuluh lewat, dan aku memasang earphone, dua-duanya, dan aku tidak menekan play sama sekali malam itu.


Hari 21. Sisa 9.