← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Forty Three

[Rute Tamara] 02.04

POV: Andhika


Ponselku bergetar jam 02.02.

Aku belum tidur.

Aku ingin mencatat itu karena itu penting: aku belum tidur, dan aku sudah tiga belas hari tidak menghitung apa pun, dan aku sudah tiga belas hari mengetahui bahwa cutiku habis besok lusa dan tidak melakukan apa pun dengan pengetahuan itu.

Dua foto.

Yang pertama halaman buku catatan. Tulisan tangan, agak berantakan, difoto dari atas dengan cahaya lampu kamar yang kuning.

340 96 Kenapa? Dan siapa yang mau nyariin namanya.

Dan di bawahnya, daftar tiga baris yang dicoret satu kali dan ditulis ulang.

Yang kedua papan pengumuman. Buram, miring, ada bahu orang lewat masuk frame di sisi kiri.

PROGRAM BANTUAN BIAYA PERAWATAN PASIEN TIDAK MAMPU Kuota tahun berjalan: 340 pasien. Realisasi s.d. triwulan III: 96 pasien.

Dan satu baris:

tamara: ndhik, ini bener nggak sih?


Aku membalas jam 02.04.

Dua menit.

Dan aku ingin menuliskan apa yang terjadi di dalam dua menit itu, karena dua menit adalah waktu yang sangat lama untuk membaca dua foto, dan karena aku sudah memeriksanya berkali-kali sejak malam itu.

Detik 1–8. Aku membaca angkanya. Tiga ratus empat puluh, sembilan puluh enam. Otakku menghitung selisihnya sebelum aku sempat menghentikannya: dua ratus empat puluh empat. Dua puluh delapan koma dua persen realisasi pada tiga perempat tahun berjalan.

Detik 8–20. Aku membaca foto kedua. Papan pengumuman. Laminasi. Ditempel miring.

Detik 20–35. Aku membaca fotonya lagi — bukan angkanya. Sudut pengambilannya.

Dia memotretnya dari jarak kira-kira satu meter, agak dari samping kiri, dengan tangan yang tidak stabil.

Orang yang memotret sesuatu dari samping dengan tangan tidak stabil adalah orang yang tidak berhenti berjalan waktu memotret.

Detik 35–90. Aku membaca halaman buku catatan.

Dan aku membacanya lima kali.

Bukan angkanya.

Coretannya.

Ada satu baris yang dicoret dengan satu garis lurus, dan di bawahnya ditulis ulang, dan tulisan yang di bawah lebih kecil dan lebih miring dari yang di atas.

Aku tidak bisa membaca yang dicoret. Terlalu buram.

Yang bisa kubaca yang di bawahnya:

Aku nggak tau caranya.

Detik 90–120. Aku menyusun balasannya.


Aku menyusun empat versi.

Versi satu: “Kemungkinan besar ada masalah di verifikasi kepesertaan. Coba minta rekap penolakan per bulan.”

Benar. Berguna. Dan salah sepenuhnya.

Karena kalau aku mengirim itu, dia akan meneruskannya ke seseorang, atau dia akan berdiri di depan bagian keuangan dan mengulang kalimatku — dan dia akan kalah lagi, karena kalimat itu kalimatku dan bukan kalimatnya.

Versi dua: “Kirim foto laporan tahunannya kalau kamu bisa dapet. Nanti saya baca.”

Lebih buruk. Itu artinya aku yang mengerjakan.

Versi tiga: “Kamu di mana? Saya ke sana.”

Aku menghapusnya paling cepat, dalam empat detik, dan aku tidak akan berbohong bahwa aku tidak sempat mengetiknya.

Versi empat.


Aku mengirim:

Andhika: Bener.

Dan lalu, dua puluh detik kemudian:

Andhika: Kamu belum tidur?


Dibaca dalam tiga detik.

tamara: belom

tamara: dari jam sepuluh aku duduk di lantai kamar mandi

Andhika: Kenapa?

tamara: nanti aja

tamara: ndhik

Andhika: Hm.

tamara: “bener” itu maksudnya apa

Dan aku duduk di tepi tempat tidur kamar hotel lantai sembilan jam dua lewat pagi dan mengetik:

Andhika: Maksudnya angka kamu bener, dan pertanyaan kamu bener.

Andhika: Dua-duanya.


Jeda empat menit.

tamara: aku udah nyoba tiga hal dan gagal semuanya

Andhika: Saya tau.

tamara: KAMU TAU DARI MANA

Andhika: Dari halaman buku catatan kamu.

tamara: itu cuma daftar

Andhika: Iya. Daftar yang kamu tulis jam sepuluh malem sambil tangannya gemeteran, terus dicoret sekali, terus ditulis ulang.

Andhika: Orang nulis daftar kayak gitu setelah nyoba, bukan sebelum.

Dan tidak ada balasan selama hampir dua menit.

tamara: ndhik

Andhika: Hm.

tamara: kamu bisa liat itu dari foto?

Andhika: Iya.

tamara: gimana caranya

Dan aku mengetik jawaban yang benar, dan jawaban itu memang benar, dan aku baru menyadari betapa buruknya jawaban itu setelah aku menekan kirim:

Andhika: Kebiasaan.


Aku ingin mencatat apa yang terjadi setelah itu.

Dia tidak membalas selama sebelas menit.

Dan lalu masuk satu pesan, dan pesannya bukan tentang angka:

tamara: aku hampir make orang hari ini

tamara: ibu-ibu umur 62. suaminya lagi dirawat di lantai dua. aku nawarin bantuin dia ngurusin bantuannya.

tamara: dan dia nolak

tamara: dan dia nolak bukan karena dia nggak butuh

tamara: dia nolak karena suaminya masih di dalem dan dia takut

Dan aku duduk di tepi tempat tidur itu dan membaca lima baris itu.

tamara: aku nggak nyadar sampe dia bilang nggak usah

tamara: ndhik, aku hampir ngerusak sesuatu yang bukan punya aku

Dan aku mengetik:

Andhika: Tapi kamu berhenti.

tamara: setelah dia yang nyuruh berhenti

Andhika: Iya.

Andhika: Dan besoknya kamu nulis “aku nggak tau caranya” dan nggak nulis “ya udah lupain aja”.

Andhika: Itu bedanya.


Jam 02.41, dia menelepon.

Aku ingin mencatat bahwa aku tidak siap.

Delapan tahun aku bekerja di bidang di mana semua orang mengirim pesan dan tidak ada yang menelepon, dan aku sudah lupa bagaimana rasanya ponsel bergetar terus-menerus.

“Halo.”

“Ndhik.”

Dan suaranya serak, dan aku bisa mendengar kipas angin di belakangnya, dan aku bisa mendengar bahwa dia sedang duduk di lantai karena suaranya memantul dari bawah.

“Iya.”

“Aku mau minta tolong.”

Dan aku memegang ponsel dengan dua tangan.

“Iya.”

“Kamu belum denger permintaannya.”

Dan aku berkata:

“Iya.”


Dia diam selama beberapa detik.

“Kamu nggak nanya apa-apa?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

Dan aku duduk di tepi tempat tidur kamar hotel lantai sembilan pada hari Jumat jam dua lewat empat puluh satu pagi, dan aku mengatakan sesuatu yang belum pernah kuucapkan kepada siapa pun seumur hidupku:

“Karena kamu belum pernah minta tolong ke saya, Tamara.”

Hening di seberang.

“Sebelas tahun,” kataku. “Kamu nyuruh saya nganter, kamu nyuruh saya bilang kamu cantik, kamu nyuruh saya dateng ke lokasi jam tujuh.”

Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain.

“Kamu nggak pernah sekali pun minta tolong.”


Dan Tamara Eliza Putri berkata, dengan suara yang hancur seluruhnya:

“Karena kalau aku minta tolong, kamu bakal ngerjain.”

“Iya.”

“Dan aku nggak mau kamu ngerjain.”

“Iya.”

“Aku mau kamu ngajarin.”

Dan aku menutup mata di kamar hotel lantai sembilan.

Karena perempuan itu baru saja mengucapkan satu-satunya kalimat di dunia yang bisa membuatku bergerak, dan dia mengucapkannya tanpa mengetahui bahwa itu satu-satunya, dan dia mengucapkannya jam dua lewat empat puluh satu pagi dari lantai kamar penginapan di kabupaten dua ratus empat puluh kilometer dari sini.

“Oke,” kataku.

“Oke?”

“Oke.”

Dan lalu dia menangis di telepon selama kira-kira empat puluh detik, dan aku tidak mengatakan apa pun, dan aku juga tidak menutup teleponnya.


Waktu dia selesai, aku bicara.

“Tamara.”

“Iya.”

“Sebelum kita mulai, saya harus bilang tiga hal.”

“Oke.”

“Satu. Saya nggak akan ngerjain apa pun. Saya bakal ngasih kamu cara, dan kamu yang jalanin.”

“Iya.”

“Dua. Kalau kamu buntu, saya nggak akan langsung kasih jawabannya. Saya bakal kasih pertanyaan.”

“...Kenapa?”

Dan aku berkata:

“Karena kalau saya kasih jawaban, nanti kamu menang dan kamu tetep nggak tau kenapa kamu menang.”

Hening di seberang selama beberapa detik.

“Sebelas tahun lalu kamu ngasih aku tiga hal,” katanya. “Terus aku menang. Terus aku bilang ke Kevin ‘aku ngitung sendiri’.”

“Iya.”

“Dan itu bohong.”

“Iya.”

Dan aku duduk di kamar hotel itu dan berkata:

“Dan itu salah saya, Tamara. Bukan salah kamu.”


“Yang ketiga apa?”

Dan aku menarik napas.

“Yang ketiga,” kataku, “ini bakal makan waktu lebih dari enam hari.”

Hening.

“Syuting kamu mulai enam hari lagi.”

“Iya.”

“Permohonan informasi publik sepuluh hari kerja, bisa diperpanjang tujuh.”

“Iya. Aku udah nanya.”

“Dan itu baru buat dapet dokumennya. Bacanya belum.”

Dan aku duduk di tepi tempat tidur itu dan mengatakan hal yang paling tidak ingin kukatakan:

“Tamara, kalau kamu jalanin ini, kamu bakal nabrak syuting kamu.”


Dia tidak menjawab selama sembilan detik.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

“Ndhik.”

“Iya.”

“Kamu inget nggak sebelas tahun lalu di atap, aku nanya kamu suka warna apa?”

Aku memegang ponsel dengan dua tangan.

“Inget.”

“Terus kamu bilang nggak ada.”

“Iya.”

“Dan aku bilang semua orang punya warna favorit.”

“Iya.”

Dan Tamara berkata:

“Ndhik, aku baru sadar hari ini kalau aku juga nggak punya.”

Kipas angin berbunyi di seberang.

“Sebelas tahun aku ngejar sesuatu supaya orang liat aku,” katanya. “Dan aku dapet semuanya. Dan aku masih nggak tau aku suka apa.”

Dan lalu dia berkata:

“Terus kemarin aku berdiri di lobi rumah sakit dan ada dua baris angka yang nggak cocok, dan aku nggak bisa tidur tiga malem.”


“Tamara.”

“Iya.”

“Itu bukan jawaban buat pertanyaan saya.”

Dan dia berkata:

“Iya, itu jawaban.”


Kami menutup telepon jam 03.14.

Tiga puluh tiga menit.

Dan sebelum menutup, dia bertanya satu hal terakhir.

“Ndhik.”

“Hm.”

“Cuti kamu abis kapan?”

Dan aku duduk di tepi tempat tidur kamar hotel lantai sembilan dengan enam kemeja tergantung di lemari yang terbuka.

“Lusa,” kataku.

“Terus?”

Dan aku berkata:

“Nanti saya pikirin.”

Dan itu adalah kata yang sudah kupakai seumur hidupku untuk menutup segala sesuatu, dan aku sudah dua puluh delapan tahun mengucapkannya, dan tidak satu pun dari kata itu pernah berubah jadi sekarang.

Tamara tidak tahu itu.

Tapi Sekar tahu.

Dan aku duduk di kamar hotel itu jam tiga lewat pagi dan menyadari bahwa aku baru saja mengucapkan kalimat pengelakan yang paling kukuasai kepada satu-satunya orang di dunia yang tidak akan mengenalinya.

Dan bahwa aku melakukannya dengan sengaja.