← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Six

Empat Puluh Lima Menit

POV: Sekar


Berkasnya cuma berisi inisial.

A.P., 28, laki-laki. Rujukan korporat. Asesmen kelayakan penugasan. Pemohon: Yayasan Pendidikan Bhakti Utama, atas permintaan Wiratama & Partners. Alasan rujukan: eksposur publik tidak terencana yang berpotensi memengaruhi objektivitas penugasan.

Aku sudah menerima empat puluh tiga rujukan korporat tahun ini.

Isinya selalu sama: perusahaan ingin punya kertas. Karyawan yang bermasalah, atau yang dianggap bermasalah, atau yang kebetulan berada di dekat sesuatu yang memalukan. Enam sesi, laporan tiga halaman, tanda tangan, selesai. Tidak ada yang sembuh dari apa pun karena tidak ada yang datang untuk sembuh.

Aku membuka file itu jam sembilan pagi sambil minum kopi dan tidak merasakan apa pun.

Eksposur publik tidak terencana.

Aku tidak menonton berita hiburan. Aku tidak punya waktu dan aku tidak tertarik dan aku sudah sebelas tahun tidak menonton apa pun yang ada Tamara di dalamnya, bukan karena benci, tapi karena aku bukan orang yang sanggup melakukan itu setiap minggu.

Aku menutup file. Aku minum kopi. Aku menerima pasien jam setengah sepuluh.


Pukul sepuluh, pintu ruang praktikku terbuka.

Dan ditutup.

Aku belum mengangkat wajah.


Pintu ruang praktikku berat. Kayu solid, engselnya kencang, dan itu disengaja — pasien butuh tahu bahwa ruangan ini tertutup rapat.

Setiap orang di dunia melakukan salah satu dari dua hal.

Ada yang melepasnya dan membiarkannya membanting, dan itu bunyinya keras dan mereka selalu minta maaf setelahnya.

Ada yang menahannya terlalu lama karena ragu, dan pintu itu berdecit di detik terakhir, dan mereka masuk sambil menunduk.

Yang barusan tidak melakukan keduanya.

Yang barusan menahan pintu itu sampai daun pintunya menyentuh kusen, lalu melepaskan gagangnya pelan-pelan supaya kaitnya tidak berbunyi.

Aku pernah mendengar pintu ditutup seperti itu setiap malam selama sepuluh tahun, dari kamarku, jam sepuluh lewat, oleh orang yang tidak mau membangunkan neneknya.

Aku meletakkan pulpen.

Dan aku bilang ke diriku sendiri — jelas, pelan, seperti orang membacakan diagnosis yang sudah dia tahu sejak awal:

Aku masih cinta sama kamu, dan aku nggak pernah berhenti sedetik pun, dan aku nggak akan diem lagi.

Lalu aku mengangkat wajah.

“Selamat pagi. Silakan duduk.”


Dia duduk.

Dan aku ingin mencatat, sebagai orang yang sudah menangani lebih dari seribu sesi, bahwa apa yang terjadi selama empat puluh lima menit berikutnya adalah pengalaman profesional paling memalukan sepanjang karierku.

Aku kalah.

Total.

“Nama lengkap?”

“Andhika Pratama.”

“Usia?”

“Dua puluh delapan.”

“Pekerjaan?”

“Manajer investigasi.”

“Sudah berapa lama?”

“Tiga tahun sebagai manajer. Delapan tahun di firma.”

Semua jawaban benar. Semua jawaban lengkap. Semua jawaban diberikan dalam waktu kurang dari satu detik.

Dan tidak satu pun dari jawaban itu berisi apa pun.

“Bapak tahu kenapa dirujuk ke sini?”

“Tahu.”

“Bisa dijelaskan?”

“Ada video saya beredar. Kantor mau memastikan objektivitas saya nggak terganggu.”

“Menurut Bapak terganggu?”

“Enggak.”

“Kenapa Bapak yakin?”

“Karena saya udah ngerjain tujuh hari dan hasilnya nggak berubah.”

Aku mencatat.

Aku mencatat sesuatu yang tidak berguna, supaya tanganku punya kesibukan.


Menit kedua belas, aku mencoba jalur samping.

“Bapak tidur berapa jam semalam?”

“Cukup.”

“Cukup itu berapa?”

“Cukup buat kerja.”

“Saya menanyakan angkanya, bukan kecukupannya.”

Dan dia menoleh — sedikit, hampir tidak ada — dan berkata:

“Lima setengah.”

Bohong.

Aku tahu itu bohong bukan karena aku psikiater. Aku tahu itu bohong karena orang yang tidur lima setengah jam tidak duduk dengan bahu semiring itu, dan karena aku sudah dua puluh dua tahun melihat orang ini kurang tidur dan aku hafal bentuknya.

Aku menulis 5,5 jam (dilaporkan sendiri) di lembar asesmen.

Aku tidak menuliskan bahwa itu bohong.

Itu pelanggaranku yang pertama hari itu, dan hari itu baru menit kedua belas.


Menit kedelapan belas, aku mencoba sesuatu yang biasanya berhasil.

“Bapak sering merasa lelah?”

“Kadang.”

“Kalau lelah, Bapak biasanya ngapain?”

“Tidur.”

“Selain tidur?”

“Nggak ada.”

“Nggak ada sama sekali?”

“Nggak ada.”

Aku menaruh pulpen.

“Pak Andhika, saya perlu jelaskan sesuatu supaya kita nggak buang waktu berdua,” kataku. “Asesmen ini bukan tes. Nggak ada nilai. Saya nggak menentukan Bapak lanjut atau enggak — saya cuma menuliskan apa yang saya lihat, dan yang memutuskan orang lain.”

“Saya tau.”

“Jadi jawaban yang benar itu nggak ada gunanya. Yang berguna cuma jawaban yang beneran.”

Dan dia menoleh ke arahku sepenuhnya — bukan sekadar memutar kepala, tapi menyesuaikan posisi badan, gerakan yang belum pernah kulihat dari orang ini di depan siapa pun kecuali di depan tiga orang di atas atap gudang sebelas tahun lalu.

“Dok.”

“Iya.”

“Kalau saya jawab yang beneran,” katanya, “yang nulis tetep kamu.”

Aku membuka mulut.

“Terus yang baca tiga orang di kantor saya,” lanjutnya. “Terus kalau saya digugat lima tahun lagi, yang dibuka pertama itu asesmen ini.”

“Rekam medis dilindungi kerahasiaan—”

“Iya. Sampai ada yang minta pengadilan buka.”

Dan dia kembali menghadap ke depan.

“Bukan salah kamu,” katanya. “Kamu nanya dengan bener. Saya cuma nggak punya tempat buat naruh jawabannya.”


Menit kedua puluh delapan.

“Bapak tinggal dengan siapa?”

“Sendiri.”

“Keluarga?”

“Ibu saya di luar kota.”

“Ayah?”

“Nggak ada.”

“Meninggal?”

“Nggak tau.”

Dua kata, tanpa nada apa pun, sama seperti orang menyebutkan bahwa hari ini mendung.

Aku sudah tahu itu sejak umur delapan. Aku tahu karena ibuku pernah menyebutnya sekali di dapur waktu dia kira aku tidak mendengar.

Dan aku duduk di kursiku dan mencatatnya di lembar asesmen dengan tanganku sendiri — ayah: tidak diketahui — seolah aku baru mendengarnya hari ini.

“Ada orang lain yang Bapak anggap keluarga?”

Jeda.

Setengah detik. Yang untuk orang ini adalah paragraf, dan yang tidak akan disadari siapa pun kecuali orang yang sudah menghabiskan dua puluh dua tahun mempelajari jedanya.

“Nggak ada,” katanya.

Dan aku menulis tidak ada di lembar itu, dan tanganku stabil sepenuhnya, dan aku bangga pada tanganku sendiri.


Menit ketiga puluh sembilan, aku melakukan sesuatu yang tidak ada di protokol mana pun.

“Bapak.”

“Iya.”

“Boleh saya tanya satu hal yang nggak ada hubungannya sama asesmen?”

Dia menoleh. “Boleh.”

“Kenapa Bapak nutup pintunya kayak tadi?”

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh sembilan menit, ada sesuatu yang bergerak.

Bukan besar. Di sekitar mata.

“Kayak gimana?”

“Ditahan sampai nempel, terus gagangnya dilepas pelan-pelan.”

Dia tidak menjawab selama kira-kira dua detik.

“Kebiasaan,” katanya.

“Kebiasaan dari mana?”

Dan dia melirik jam tangannya — gerakan yang sudah dua puluh dua tahun kubenci dan yang hari itu hampir membuatku menangis di kursi kerjaku sendiri — dan berkata:

“Waktunya habis lima menit lagi ya?”

“Enam.”

“Oh.” Dia mengangguk. “Maaf, saya salah hitung.”

Bohong.

Orang ini tidak pernah salah hitung seumur hidupnya.


Aku mengantarnya sampai pintu.

Itu bukan kebiasaanku. Aku tidak mengantar pasien sampai pintu; aku berdiri di belakang meja dan mengucapkan terima kasih dan mereka keluar sendiri.

Aku mengulurkan tangan.

“Sampai minggu depan, Pak Andhika.”

Dan dia menjabatnya.

Satu detik. Dua. Tiga — dan di detik ketiga, tangan orang normal mulai melonggar, dan tangan orang ini mulai melonggar juga.

Aku tidak melepaskannya.

Empat.

Lima.

Dan dia menarik tangannya.


Aku berdiri di ambang pintu ruang praktikku dan melihat tangan itu, yang baru saja ditarik dari tanganku, dan aku berkata:

“Masih kasar.”

Dua kata.

Dan aku tersenyum — senyum yang kupakai untuk empat puluh tiga pasien sebelumnya, senyum yang sama persis, tidak ada yang berbeda sedikit pun secara teknis.

Dia berdiri di koridor klinik selama kira-kira tiga detik tanpa bergerak sama sekali.

Lalu dia berkata, “Permisi,” dan berbalik, dan berjalan ke lift.

Dan tidak menoleh.


Aku menutup pintu.

Aku duduk di kursiku. Aku membuka rekam medis. Aku mengetik ringkasan sesi pertama dengan lengkap dan rapi dan tanpa satu pun kesalahan, tiga ratus empat puluh kata, dalam waktu dua puluh menit.

Lalu aku membuka lembar terpisah dan mengetik satu baris untuk diriku sendiri:

Sebelas tahun lalu aku punya tiga puluh dua menit dan aku tidak mengucapkan satu pun dari enam kalimat yang sudah kuhafal.

Sekarang aku punya dua ratus tujuh puluh menit.


Jam satu siang, aku menelepon kepala klinik.

“Bu Ninik.”

“Iya, Dok?”

“Saya mau mengajukan pengunduran diri dari asesmen WP-1147.”

“Yang korporat itu? Kenapa, Dok?”

“Potensi benturan kepentingan.”

“Oh.” Terdengar suara kertas. “Benturannya apa, Dok? Nanti saya tulis di suratnya.”

Dan aku duduk di ruang praktikku, dengan pintu tertutup, dan aku berkata:

“Nggak usah ditulis detailnya. Cukup ‘potensi benturan kepentingan’.”

“Biasanya harus ada keterangan, Dok.”

“Bu Ninik.”

“Iya?”

“Kalau ditulis, yang baca minimal empat orang,” kataku. “Salah satunya dari pihak yayasan.”

Jeda.

“...Oh,” katanya. “Ya udah, Dok. Saya tulis umum aja.”

“Terima kasih.”

“Terus sesinya gimana?”

“Jalan terus sampai penggantinya ada.”

“Yakin, Dok? Kalau Dokter merasa nggak nyaman—”

“Saya nyaman.”

Aku menutup telepon.

Dan aku duduk memandangi ponsel di atas mejaku dan mengakui, kepada diriku sendiri, dengan jelas dan tanpa pembungkus:

Aku baru saja mengajukan sesuatu yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk diproses, dengan alasan yang sengaja kubuat terlalu umum untuk ditindaklanjuti cepat, ke sebuah klinik yang tidak punya psikiater pengganti dengan sertifikasi setara di kota ini.

Aku mengundurkan diri dengan cara yang memastikan aku tidak akan benar-benar mundur.

Sebelas tahun lalu aku diam untuk melindungi diriku sendiri dan menyebutnya melindungi orang lain.

Sekarang aku melanggar untuk mendapatkan sesuatu dan menyebutnya prosedur.

Aku sudah tidak muda dan aku sudah tidak pengecut, tapi ternyata aku belum jadi orang baik.

Dan aku tidak berniat memperbaiki yang terakhir sampai tiga puluh hari ini selesai.


Hari 9. Sisa 21.