Chapter Fifteen
Aku Tanya sebagai Sekar
POV: Sekar
Sesi keempat, aku memakai baju yang salah.
Aku ingin mencatat itu di awal, karena itu memalukan dan karena aku sudah memutuskan untuk berhenti menyembunyikan hal-hal yang memalukan tentang diriku sendiri.
Aku punya empat blus kerja dan aku memakainya bergantian dengan urutan tetap selama tiga tahun, dan hari itu urutannya seharusnya yang abu-abu.
Aku memakai yang biru.
Aku menyadarinya jam tujuh pagi, di depan cermin, dan aku berdiri di sana selama kira-kira empat puluh detik memandangi diriku sendiri.
Lalu aku tetap memakainya.
Dia datang tepat waktu.
Pintu ditahan sampai menyentuh kusen. Gagang dilepas pelan-pelan.
“Pagi, Dok.”
“Pagi. Silakan.”
Dan dia duduk di kursi yang empat puluh sentimeter dari kursiku, dan aku membuka map asesmen, dan aku menanyakan enam pertanyaan protokol dalam waktu sebelas menit dan mendapat enam jawaban yang benar dan lengkap dan kosong.
Menit kedua belas, aku menutup map itu.
Bukan menaruh. Menutup. Dengan bunyi.
Dia menoleh.
“Pak Andhika.”
“Iya.”
“Saya mau tanya sesuatu, dan ini nggak masuk asesmen, dan Bapak boleh nggak jawab.”
“Silakan.”
Dan aku menyilangkan kaki — pelan, sengaja, dengan cara yang aku tahu persis akan membuat orang normal mengalihkan pandangan dan yang aku tahu persis tidak akan membuat orang ini mengalihkan apa pun — dan aku bertanya:
“Sebelas tahun ini ada yang pernah pegang tangan Bapak nggak?”
Dia tidak menjawab selama kira-kira empat detik.
“Itu pertanyaan asesmen?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Aku lagi nyari tau saingannya berapa.”
Dan aku melihatnya terjadi.
Telinganya.
Bukan wajahnya — wajah orang itu tidak pernah berubah dan tidak akan pernah berubah dan aku sudah menyerah pada wajah itu sejak umur delapan tahun.
Telinganya yang memerah. Dari bawah ke atas. Kira-kira dua detik.
Dan aku duduk di kursi kerjaku sendiri dan menahan seluruh isi tubuhku supaya tidak bergerak, karena aku baru saja menemukan sesuatu yang tidak diketahui satu pun orang di dunia ini kecuali aku, dan aku menemukannya karena aku sudah dua puluh dua tahun duduk di sebelah kiri orang ini dan telinga kirinya selalu yang lebih dulu.
“Dok.”
“Iya.”
“Kamu bilang ‘aku’.”
Oh.
Aku mengulang kalimatku sendiri di kepalaku dan menemukan bahwa dia benar.
Sebelas menit pertama: saya. Menit kedua belas: aku.
Dan aku duduk di sana dan punya kira-kira satu setengah detik untuk memutuskan apakah aku akan memperbaikinya.
“Iya,” kataku. “Karena yang nanya bukan dokternya.”
Dia menatap ke depan.
“Dok.”
“Aku tanya sebagai Sekar,” kataku.
Dan aku menaruh pulpen di meja — pelan, supaya tidak berbunyi, supaya tidak ada satu pun hal di ruangan itu yang bisa dijadikan alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
“Aku tau ini nggak boleh,” kataku. “Aku tau persis nggak bolehnya di mana, pasal berapa, sanksinya apa. Aku udah baca ulang tiga kali minggu ini.”
“Dok—”
“Dan aku tetep nanya.”
Dia diam.
“Bapak boleh lapor,” kataku. “Ke klinik, ke kantor Bapak, ke komite. Aku nggak akan bantah apa pun. Semua yang aku lakuin sejak sesi pertama itu bener-bener pelanggaran dan aku nggak punya pembelaan.”
“Kenapa kamu ngomong gitu?”
“Karena kalau aku nggak ngomong duluan, Bapak yang bakal nanggung.” Aku menatapnya. “Dan aku udah pernah bikin orang nanggung sesuatu sendirian dan aku nggak mau ngulang.”
Empat detik.
“Kamu tau saya siapa,” katanya.
Bukan pertanyaan.
“Dari sesi pertama.”
“Dari mana?”
“Dari cara Bapak nutup pintu.”
Dan aku melihat sesuatu bergerak di rahangnya, sekali, dan berhenti.
“Kamu nggak bilang.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku bilang di sesi pertama, Bapak nggak akan dateng ke sesi kedua.”
Dia tidak membantah.
Dan itu jawabannya, dan kami berdua tahu, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengucapkannya.
“Dok.”
“Sekar.”
“...Dok.”
“Bapak udah manggil saya ‘Kar’ selama sepuluh tahun.” Aku bersandar di kursiku. “Bapak boleh pilih salah satu, tapi jangan yang di tengah.”
Dan dia menoleh — sepenuhnya, badannya ikut berputar, gerakan yang cuma kulihat empat kali seumur hidupku.
“Kar.”
Satu kata.
Sebelas tahun, tiga bulan, dua puluh satu hari.
Aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya, dan aku sudah menghitungnya jauh sebelum hari itu karena aku menghitungnya setiap kali aku tidak bisa tidur.
“Iya,” kataku.
Dan suaraku pecah di dua huruf.
Aku menunduk ke mejaku dan menarik napas dan mengangkat wajah lagi dalam waktu kira-kira enam detik, dan aku bangga pada enam detik itu, dan aku masih bangga sampai sekarang.
“Oke,” kataku. “Sekarang bagian yang penting.”
“Kar—”
“Aku ngundurin diri hari pertama. Suratnya udah masuk. Prosesnya lama karena nggak ada pengganti dengan sertifikasi setara di kota ini, dan aku sengaja nulis alasannya umum biar prosesnya lama.”
Dia diam.
“Aku ngasih tau ini bukan biar Bapak—” Aku berhenti. “Bukan biar kamu maafin. Aku ngasih tau biar kamu punya semua informasinya.”
“Buat apa?”
“Buat mutusin apakah kamu mau dateng ke sesi kelima.”
Dan lalu aku menambahkan satu hal, karena aku sudah memutuskan sejak sesi pertama bahwa aku tidak akan pernah lagi mengambil pilihan dari tangan orang ini.
“Kalau kamu nggak dateng, aku nggak akan nyari,” kataku. “Aku nggak akan nelepon, nggak akan dateng ke kantor kamu, nggak akan nunggu di mana pun.”
“Kar—”
“Dan kalau kamu lapor, aku nggak akan minta tolong siapa-siapa buat ngurangin sanksinya.”
Dia menoleh.
“Kenapa kamu ngasih tau semua ini?”
Dan aku bersandar di kursiku dan berkata:
“Karena sebelas tahun lalu ada orang yang ngatur jadwal tiga orang tiap hari selama dua bulan biar semuanya dapet bagian penuh, dan nggak satu pun dari kami tau, dan waktu kami tau semuanya udah kelewat.”
Aku menatapnya.
“Aku nggak mau kamu diatur,” kataku. “Aku mau kamu milih.”
Dia tidak menjawab sampai alarmku berbunyi.
Empat puluh lima menit. Sesi selesai.
Dia berdiri. Dia mengambil mapnya dari pangkuannya.
Dan di ambang pintu, dengan tangan di gagang, dia berhenti.
“Kar.”
“Hm.”
“Kamu nanya tadi.”
“Yang mana?”
Dan dia berkata, tanpa menoleh, menghadap pintu:
“Sebelas tahun. Nggak ada.”
Lalu dia keluar, dan pintu itu ditutup — ditahan sampai daun pintunya menyentuh kusen, gagangnya dilepas pelan-pelan — dan aku duduk sendirian di ruang praktikku dengan blus biru yang salah urutan.
Aku menangis selama sembilan menit.
Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.
Lalu aku mencuci muka, dan memanggil pasien berikutnya, dan bekerja sampai jam lima.
Dan malamnya, jam sebelas, aku membuka lemari di kamarku dan mengeluarkan kotak plastik biru yang tutupnya retak.
Aku membukanya.
Isinya kosong. Sudah dicuci sejak Rabu.
Dan aku duduk di lantai kamar dengan kotak itu di pangkuan dan menghitung sesuatu yang tidak pernah kuhitung sebelumnya:
Sebelas tahun, dua kali sebulan, dikurangi masa kuliah tahun pertama dan kedua waktu aku tidak pulang.
Kira-kira dua ratus tiga puluh kali aku membawa kotak ini ke atas gudang itu.
Dua ratus tiga puluh kali makan sendirian di sudut timur laut.
Dan hari ini orang itu mengatakan sebelas tahun, nggak ada sambil menghadap pintu supaya aku tidak bisa melihat wajahnya, dan tidak sekali pun terpikir olehnya bahwa jawaban yang sama berlaku untukku.
Hari 21. Sisa 9.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar reading
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu