Chapter Forty
Yang Kanan Buat Kamu
POV: Andhika
Aku menelepon Pak Wira hari Rabu jam sembilan pagi.
“Dhik.”
“Pak.”
“Cuti kamu tinggal enam hari.”
“Iya, Pak.”
“Kamu balik hari apa?”
Dan aku berdiri di kamar hotel lantai sembilan dengan enam kemeja tergantung di lemari yang terbuka.
“Pak, saya mau ngomong.”
Dan Pak Wira diam di seberang, dan aku mendengar kursi bergeser, dan aku mendengar pintu ditutup.
“Ngomong.”
Aku bicara empat belas menit.
Aku akan meringkasnya, karena isinya adalah seluruh sebelas tahun dan karena aku tidak sanggup menuliskannya dua kali.
Aku bercerita tentang seorang anak kelas sebelas yang namanya ada di baris kedua puluh delapan sebuah lampiran, dan tentang rapat tanggal empat belas Oktober yang berlangsung dua jam, dan tentang agenda nomor lima dan agenda nomor tujuh.
Aku bercerita tentang benturan kepentingan yang tidak kulaporkan, dan tentang formulir enam kolom yang kuisi dua kolomnya lalu kuhapus pada malam hari ketujuh.
Aku bercerita tentang perempuan yang menjadi psikiaterku selama empat sesi dan yang melaporkan dirinya sendiri ke Majelis Kehormatan Etik.
Dan waktu aku selesai, Pak Wira tidak mengatakan apa pun selama kira-kira delapan detik.
“Dhik.”
“Iya, Pak.”
“Kamu nggak lapor benturan kepentingan.”
“Nggak, Pak.”
“Itu pelanggaran berat.”
“Iya, Pak.”
“Laporan kamu bisa dibatalin. Delapan puluh satu halaman.”
“Iya, Pak. Saya tau.”
Dan Pak Wira menghela napas — panjang, di seberang, dan aku bisa mendengar kursinya berderit.
“Kamu mau aku ngapain?”
Dan aku berkata:
“Saya nggak minta Bapak ngapa-ngapain. Saya cuma nggak mau Bapak tau dari orang lain.”
Empat hari kemudian, keputusannya keluar.
Laporan tidak dibatalkan, karena — dan aku mengutip surat resminya — benturan kepentingan yang tidak dilaporkan tidak berdampak pada substansi temuan, mengingat temuan bersifat menguntungkan bagi pihak yang diperiksa.
Aku mendapat surat peringatan.
Dan penurunan tingkat, satu tingkat, selama dua belas bulan.
Dan pada hari yang sama, Pak Wira menelepon lagi.
“Dhik.”
“Pak.”
“Kamu udah baca suratnya?”
“Udah.”
“Kamu mau resign?”
Dan aku duduk di tepi tempat tidur kamar hotel lantai sembilan.
“Enggak, Pak.”
“Serius?”
“Serius.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Karena saya nggak ngerjain kasus itu buat balas dendam, Pak. Dan kalau saya resign sekarang, itu jadi keliatan kayak saya ngerjainnya buat balas dendam.”
Hening.
Lalu Pak Wira berkata sesuatu dengan nada yang belum pernah kudengar dalam delapan tahun:
“Dhik.”
“Iya.”
“Ada kantor cabang di sana.”
Aku berhenti bernapas.
“Kecil,” katanya. “Sebelas orang. Kerjaannya nggak seseru di sini — kebanyakan audit yayasan, koperasi, dana desa.”
“Pak—”
“Mereka lagi nyari kepala cabang dari tahun lalu dan nggak ada yang mau, karena bayarannya turun tiga puluh persen dan kariernya mentok.”
Aku memegang ponsel dengan dua tangan.
“Pak, saya lagi turun tingkat.”
“Ho’oh.”
“Orang yang lagi kena sanksi nggak dikasih jabatan.”
“Ho’oh,” kata Pak Wira. “Makanya aku nawarin sekarang, sebelum surat sanksinya masuk sistem hari Senin.”
Dan aku duduk di tepi tempat tidur itu dan tidak bisa mengatakan apa pun selama kira-kira sepuluh detik.
“Pak.”
“Hm.”
“Kenapa?”
Dan Pak Wira berkata:
“Karena delapan tahun lalu aku mikir kalau kamu nemu yang kamu cari, kamu bakal berhenti. Dan aku salah.”
Terdengar sesuatu diletakkan di seberang.
“Kamu nggak berhenti, Dhik. Kamu cuma jadi orang.”
Surat dari Renata datang hari Jumat.
Bukan surel. Amplop.
Diantar kurir ke hotel, dengan kop perusahaan, ditujukan kepadaku secara pribadi.
Dan isinya tiga lembar.
Lembar pertama dan kedua: surat resmi. Kop lengkap, nomor surat, perihal.
Perihal: Pemberitahuan Pengunduran Diri.
Renata Claudya Larasati mengundurkan diri dari jabatan Manajer Program Keberlanjutan, efektif akhir bulan depan, dengan masa pemberitahuan sesuai ketentuan.
Alasan: pengembangan karier.
Dan di lembar kedua, dalam paragraf ketiga, tertulis satu kalimat yang membuatku membacanya empat kali:
Yang bersangkutan telah menerima tawaran sebagai Kepala Unit Kepatuhan pada sebuah yayasan pendidikan di wilayah ini, dengan lingkup pengawasan penggunaan dana program beasiswa.
Aku membalik ke lembar ketiga.
Kosong, kecuali satu baris di bagian bawah, ditulis tangan, dengan pensil.
Saudara Pratama,
Halaman 58, catatan kaki 41. Anda menulis bahwa apabila tidak ada yang mencatat, maka tidak ada yang pernah terjadi.
Saya akan menjadi orang yang mencatat.
Bukan untuk Anda. Untuk 271 orang berikutnya.
— R.
Aku duduk di kamar hotel lantai sembilan dengan tiga lembar kertas di pangkuan.
Dan aku membaca dua huruf terakhir itu berkali-kali.
— R.
Sama seperti tulisan tangan di kolom keterangan surat keterangan pindahku, di kardus nomor empat belas, map ketiga, lembar keempat puluh satu, yang ditulis sebelas tahun yang lalu oleh perempuan berumur lima puluh delapan tahun yang menempel label di ujung koridor sayap belakang.
Arsip dipertahankan. — R.
Dua orang. Sebelas tahun. Huruf yang sama.
Dan tidak satu pun dari mereka pernah mengetahui hal itu.
Aku mengirim satu pesan.
Andhika: Terima kasih, Bu Renata.
Dibaca dalam empat menit.
Renata: Sama-sama.
Renata: Saudara Pratama.
Andhika: Iya.
Renata: Saya tidak akan menghubungi Anda.
Renata: Bukan karena saya menyerah. Karena saya telah menghabiskan sebelas tahun menunggu orang lain mengambil keputusan yang seharusnya saya ambil sendiri, dan saya sudah selesai dengan itu.
Renata: Apabila suatu hari Anda ingin bertemu, Anda mengetahui di mana saya berada.
Renata: Dan apabila tidak, saya tetap akan mencatat.
Aku menatap layar itu.
Andhika: Bu Renata.
Renata: Ya.
Andhika: Ibu inget nggak Bapak Ibu meriksa agenda Ibu tiap bulan waktu SMA?
Renata: Ya.
Andhika: Terus Ibu nawarin ngapus blok jam 12.40, dan beliau bilang jangan.
Renata: Ya.
Dan aku mengetik satu baris, dan itu adalah satu-satunya hal yang bisa kuberikan kepada orang itu, dan aku sudah menyimpannya selama dua bulan:
Andhika: Beliau bener, Bu.
Hari Minggu, aku ke toko kelontong dekat pasar.
Toko yang sama tempat aku membeli bohlam bulan lalu.
“Cari apa, Mas?”
“Earphone, Pak.”
“Yang mana? Ada yang dua puluh dua, ada yang tiga puluh lima.”
Dan aku berdiri di depan etalase itu selama kira-kira empat puluh detik.
“Yang dua puluh dua, Pak.”
Dan bapak itu mengambilnya dari gantungan dan memasukkannya ke kantong plastik kecil dan menyerahkannya kepadaku.
Dua puluh dua ribu.
Sebelas tahun.
Aku ingin mencatat apa yang kulakukan setelah keluar dari toko itu.
Aku duduk di kursi plastik di depan warung sebelahnya, dan aku memesan teh, dan aku membuka bungkusnya.
Dan aku mengeluarkan earphone yang lama dari saku jasku.
Kabel dililit lakban di dua titik. Lakbannya sudah kuganti enam puluh dua kali sejak umur tujuh belas. Yang sebelah kanan rusak sejak bulan Februari tahun kedua SMA.
Dan aku meletakkan keduanya di meja plastik itu, berdampingan.
Yang lama dan yang baru.
Dan aku memandanginya selama kira-kira sepuluh menit sambil menghabiskan teh.
Lalu aku memasukkan yang lama kembali ke saku.
Bukan dibuang.
Dan yang baru kumasukkan ke saku yang satunya.
Jam sepuluh lewat malam, aku jalan kaki dari halte ke gang.
Lampu tiang ketiga menyala.
Delapan langkah yang dulu harus kuhafal dalam gelap sekarang bisa dilihat, dan aku menghitungnya juga, karena aku tidak bisa berhenti dan karena aku sudah berhenti berusaha berhenti.
Delapan.
Masih delapan.
Dan di rumah yang ketiga dari ujung, di teras, ada lampu yang menyala.
Dan ada orang duduk di sana dengan buku di pangkuan.
Aku berhenti di depan pagar.
Engselnya tidak berbunyi waktu kubuka, karena ada yang memperbaikinya waktu dia kelas sembilan, dan karena orang itu melakukannya dengan benar.
“Belum tidur?”
Dan Sekar Widyaningsih mengangkat wajah dari buku yang halamannya tidak berganti sejak jam tujuh.
“Belum ngantuk,” katanya.
Aku duduk di lantai teras.
Punggung ke tiang.
Dan kami tidak bicara selama kira-kira lima menit, dan itu tidak canggung sama sekali, karena tidak pernah canggung dan tidak akan pernah.
“Dhika.”
“Hm.”
“Kamu balik hari apa?”
Dan aku berkata:
“Nggak balik.”
Dia tidak bergerak.
“...Apa?”
“Ada cabang di sini. Sebelas orang. Kepala cabangnya kosong dari tahun lalu.”
“Dhika.”
“Bayarannya turun tiga puluh persen dan kariernya mentok,” kataku. “Pak Wira nawarin hari Selasa. Saya jawab hari Rabu.”
Dan aku menoleh ke arahnya.
“Saya jawab iya.”
Aku ingin mencatat apa yang terjadi di wajah orang itu, karena aku sudah dua puluh dua tahun mempelajari wajah itu dan aku belum pernah melihat yang ini.
Dia tidak menangis.
Dia tidak berteriak.
Dia menutup buku di pangkuannya, pelan, dan meletakkannya di lantai teras di sebelahnya.
Dan dia berkata:
“Bukan gara-gara aku ya.”
Dan aku duduk di teras itu dan menyadari bahwa perempuan itu, di detik paling besar dalam sebelas tahun terakhir hidupnya, sedang memeriksa apakah aku memutuskan sesuatu karena orang lain.
Karena dia sudah mengenalku dua puluh dua tahun.
Dan karena dia tahu persis bahwa orang yang tidak pernah menginginkan apa pun untuk dirinya sendiri adalah orang yang paling mudah dipindahkan oleh keinginan orang lain.
“Kar.”
“Iya.”
“Sebagian gara-gara kamu.”
Dia menoleh.
“Sebagian gara-gara nenek saya di Blok C baris empat,” kataku. “Sebagian gara-gara Pak Har yang duduk di kursi plastik nungguin orang yang nggak bakal balik.”
Aku memandang ke arah gang.
“Dan sebagian gara-gara ada dua ratus tujuh puluh satu orang yang nggak punya nama di dokumen mana pun, dan cabang di sini kerjaannya audit yayasan sama dana desa.”
Aku menoleh.
“Kalau saya bilang seluruhnya gara-gara kamu, saya bohong. Dan kamu bakal tau saya bohong.”
Dan Sekar Widyaningsih menatapku selama kira-kira empat detik.
Dan lalu dia berkata, dengan suara yang hancur seluruhnya:
“Bagus.”
Kami duduk di teras itu sampai jam sebelas lewat.
Dan pada suatu titik aku mengeluarkan sesuatu dari saku kiri jasku.
Earphone lama. Lakban di dua titik.
Aku menguraikannya — dua lingkaran, ujung diselipkan, dilepas dengan urutan yang sama seperti dua puluh dua tahun terakhir.
Dan aku menyerahkan yang kiri.
“Yang kiri buat kamu.”
Dan dia mengambilnya, dan memasangnya, dan dia tidak mengatakan apa pun.
Aku memasang yang kanan.
Yang rusak.
Dan aku menekan play.
Sembilan lagu.
Masih sembilan. Tidak bertambah sejak umur delapan belas.
Lagu keempat mulai — yang ada suara gitar agak fals di awalnya — dan kabelnya pendek sehingga dia harus menggeser badannya sepuluh sentimeter ke arahku, dan bahunya menempel di bahuku, dan dia menyandarkan kepalanya.
Dan aku duduk di teras rumah orang lain di gang di belakang pasar pada hari Minggu jam sebelas lewat malam, mendengarkan lagu dengan telinga kiri, dengan telinga kanan yang tidak mendengar apa-apa.
Sebelas tahun.
Dan aku sudah tahu jawabannya sekarang — kenapa aku tidak pernah membelinya, kenapa aku menyimpannya rusak selama sebelas tahun, kenapa tidak ada satu pun angka yang keluar setiap kali aku menghitungnya.
Karena selama sebelas tahun aku memiliki tepat satu benda di dunia yang bisa kutawarkan kepada seseorang tanpa mengurangi apa pun dari siapa pun.
Satu earphone sebelah kiri.
Dan aku menjaganya tetap rusak supaya benda itu tetap punya arti.
Lagu keempat selesai.
Aku menekan jeda.
Dan aku melepas earphone yang kanan dari telingaku, dan aku menggulungnya dua lingkaran dengan ujung diselipkan, dan aku memasukkannya ke saku kiri.
“Dhika?”
“Bentar.”
Dan aku merogoh saku kanan jasku.
Kantong plastik kecil. Dua puluh dua ribu.
Aku membukanya.
Kabelnya masih kaku karena baru. Lakbannya tidak ada, karena tidak ada yang perlu direkatkan.
Aku menguraikannya.
Dan aku mencolokkannya ke ponselku, dan aku memasang yang kiri di telinga kiriku —
dan aku menyerahkan yang kanan.
Sekar Widyaningsih melepas earphone lama dari telinga kirinya.
Dan dia menatap yang ada di tanganku selama kira-kira empat detik.
Dan aku berkata:
“Yang kanan buat kamu.”
TAMAT
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu reading
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu