Chapter Twenty Seven
Kalau Ini Keluar
POV: Tamara
Fotonya beredar jam sebelas siang.
Bukan foto ciumannya. Tidak ada yang memotret itu; parkiran B2 tidak punya CCTV yang berfungsi dan tidak ada satu pun orang di sana kecuali Pak Dedi yang sedang tidur.
Yang beredar adalah foto di gudang.
Diambil oleh salah satu kru — bukan sengaja, bukan jahat, cuma foto belakang layar biasa yang diunggah ke akun pribadinya dengan caption tentang malam terakhir syuting.
Dan di sudut kanan foto itu, di belakang barisan kabel, ada laki-laki berkemeja duduk di kursi lipat.
Wajahnya tidak jelas.
Tapi bentuk bahunya jelas, dan cara duduknya jelas, dan ada kira-kira delapan ratus ribu orang di negara ini yang sudah menonton dua puluh dua detik video konferensi pers tiga minggu lalu.
Jam dua siang, sudah ada tiga puluh empat akun.
Vina datang ke rumahku jam tiga.
Dia tidak mengetuk. Dia punya kunci; dia sudah punya kunci sejak empat tahun lalu.
“Mbak.”
“Iya.”
Dia duduk di seberangku di ruang tengah dan meletakkan ponselnya di meja dan tidak menyentuhnya.
“Saya udah siapin tiga skenario,” katanya.
“Oke.”
“Satu: kita diem. Nggak ngomong apa-apa. Dua minggu juga ganti topik.”
“Oke.”
“Dua: kita kasih pernyataan. Bilang beliau konsultan yang lagi kerja sama yayasan, ada di lokasi karena urusan kerja. Itu setengah bener, jadi aman.”
“Oke.”
“Tiga—” Dia berhenti.
“Tiga apa?”
Dan Vina mengangkat wajah.
“Tiga, Mbak konfirmasi.”
Aku menatapnya.
“Kamu nyaranin itu?”
“Enggak.” Dia menggeleng. “Saya nggak nyaranin. Saya cuma nyantumin karena itu ada.”
“Vin.”
“Iya?”
“Kalau aku konfirmasi, kerugiannya apa?”
Dan Vina Kartika, tiga puluh empat tahun, yang sudah enam tahun bekerja denganku dan yang belum pernah sekali pun berbohong kepadaku bahkan ketika berbohong akan lebih mudah, membuka ponselnya dan membaca daftar yang jelas sudah dia siapkan sejak jam sebelas siang.
“Dua brand yang lagi negosiasi bakal nunda. Satu kemungkinan batal — yang produk keluarga, mereka sensitif.”
“Terus?”
“Peran di film Mas Bram kemungkinan aman karena syutingnya udah jalan.”
“Terus?”
“Terus—” Dia menaruh ponselnya. “Terus beliau bakal dicari, Mbak.”
Dan aku duduk di sofa ruang tengahku sendiri jam tiga sore hari Kamis.
“Bukan Mbak yang rugi,” kata Vina. “Mbak udah kebal. Mbak udah sebelas tahun kebal.”
“Iya.”
“Beliau enggak.”
Aku ingin mencatat apa yang kupikirkan selama empat menit berikutnya.
Aku memikirkan satu ruangan.
Ruang rapat OSIS SMA Negeri 4, sebelas tahun lalu, di mana seorang anak kelas sebelas menolak namanya dicantumkan dalam laporan penyelesaian selisih kas.
Aku tidak ada di ruangan itu. Aku tidak pernah melihatnya. Aku mendengarnya dari Renata di atas atap gudang pada bulan Desember, dan Renata mengulang kalimatnya kata per kata karena Renata mengulang segalanya kata per kata.
“Kalau nama saya masuk laporan, orang bakal nanya siapa saya.”
“Terus mereka cari tau.”
Sebelas tahun.
Dan orang itu membangun sebuah karier di mana namanya disebut di ruangan yang tidak dia masuki, dan dia melakukannya tanpa satu pun wawancara, tanpa satu pun foto, tanpa satu pun akun media sosial.
Aku mengeceknya. Bulan lalu. Malam pertama setelah konferensi pers itu.
Tidak ada.
Delapan tahun di firma terbesar di negara ini dan tidak ada satu pun foto orang itu di internet kecuali dua puluh dua detik yang kubuat sendiri.
“Vin.”
“Iya, Mbak.”
“Skenario satu.”
Dia mengangguk. “Baik.”
“Kita diem.”
“Baik, Mbak.”
Dan dia mengambil ponselnya dan mulai mengetik, dan aku duduk di sana dan menonton punggung tangannya bergerak.
“Vin.”
“Iya?”
“Tapi aku mau kamu tau satu hal.”
Dia mengangkat wajah.
Dan aku berkata:
“Kalau ini keluar, keluar aja.”
Vina meletakkan ponselnya.
“Mbak.”
“Aku serius.”
“Mbak, itu—”
“Aku nggak minta kamu ngeluarin,” kataku. “Aku minta kamu berhenti nutupin.”
Dan aku duduk tegak di sofa itu.
“Selama sebelas tahun, tiap kali ada apa-apa, kamu nutupin. Dan itu kerjaan kamu dan kamu jago banget dan aku bakal selalu berterima kasih.”
“Mbak—”
“Tapi kalau suatu hari ada foto yang keluar dan itu beneran,” kataku, “aku nggak mau kamu bilang itu urusan kerja.”
Vina menatapku selama beberapa detik.
Dan lalu dia melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan dalam enam tahun.
Dia bertanya.
“Mbak sayang sama beliau?”
Dan aku duduk di ruang tengah rumahku sendiri jam tiga lewat sore hari Kamis, dengan tiga puluh empat akun sedang membicarakan sudut kanan sebuah foto, dan aku berkata:
“Iya.”
Tidak keluar.
Aku ingin mencatat itu, karena itu penting dan karena itu menyebalkan.
Tiga puluh empat akun jadi lima puluh satu jam enam sore, lalu berhenti. Tidak ada yang menemukan namanya. Tidak ada yang menemukan wajahnya dengan jelas. Tidak ada satu pun media besar yang mengangkatnya karena tidak ada satu pun yang bisa diverifikasi.
Hari Jumat sore, sudah ganti topik.
Dan aku duduk di kamarku hari Jumat malam dan menyadari sesuatu yang membuatku tertawa sendirian sampai aku hampir tersedak.
Aku baru saja mempertaruhkan seluruh karierku.
Dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tahu, karena taruhannya tidak dipanggil.
Aku mengumumkannya kepada satu orang, di ruang tengah rumahku, jam tiga sore.
Dan itu satu-satunya bukti yang akan pernah ada.
Sore itu Mama menelepon.
Dua bulan sekali. Selalu hari Jumat. Selalu jam lima.
“Halo, Ma.”
“Tam, Mama liat fotonya.”
“Foto yang mana?”
“Yang di gudang itu.” Suaranya hati-hati, yang mana adalah cara Mama menaruh sesuatu di meja. “Yang di belakang, yang duduk.”
“Itu orang produksi, Ma.”
“Oh.” Jeda. “Bukan yang di konpers itu?”
Dan aku duduk di kamarku dan memandangi tembok.
Sebelas tahun.
Sebelas tahun aku menjawab pertanyaan Mama dengan jawaban yang membuat percakapan itu selesai secepat mungkin, dan aku sudah sangat mahir, dan aku bisa melakukannya dalam empat detik.
“Iya, Ma,” kataku. “Itu dia.”
Hening di seberang selama enam detik.
“Tam.”
“Iya.”
“Dia siapa?”
Dan aku berkata:
“Dia yang bilang aku nggak usah ambil dua iklan itu waktu aku kelas sebelas.”
Hening lagi.
Lebih lama.
“...Yang mana, Tam? Mama nggak—”
“Ma, aku nggak pernah cerita.” Aku menyandarkan kepala ke dinding. “Sebelas tahun aku nggak pernah cerita apa-apa ke Mama, dan itu bukan salah Mama, dan aku nggak lagi marah.”
“Tamara—”
“Aku cuma mau bilang,” kataku, “kalau nanti ada foto lagi, dan fotonya jelas, Mama nggak usah telepon buat mastiin.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Karena jawabannya bakal iya, Ma.”
Jam sebelas malam, aku mengetik ke grup.
tamara: fotonya udah reda
Renata: Saya memantaunya. Puncaknya pukul 18.10.
tamara: kamu MANTAU?
Renata: Ya. Setiap dua jam.
sekar: ren kamu tuh
Renata: Saya perlu mengetahui apakah nama beliau akan muncul. Apabila muncul, terdapat implikasi terhadap laporan.
tamara: bohong
Renata: Ya.
Renata: Saya khawatir.
Dan aku menatap dua kata itu.
Renata Claudya Larasati, yang seumur hidupnya menyusun kalimat lengkap dengan subjek dan predikat, baru saja mengetik dua kata tanpa satu pun pembungkus.
tamara: kar
sekar: iya
tamara: aku cium dia semalem
Empat detik.
sekar: aku tau
tamara: HAH kok tau
sekar: kamu ngirim ini jam sebelas malem ke grup yang isinya dua orang yang lagi rebutan orang yang sama
sekar: kalau nggak ada apa2, kamu nggak akan ngirim
Dan aku duduk di kasur dan tertawa dan menangis pada saat yang sama, dan aku mengetik satu baris:
tamara: aku duluan yang berhenti
sekar: apa?
tamara: aku duluan yang berhenti. bukan dia.
tamara: seumur hidup aku belom pernah
Dan tidak ada yang mengetik apa pun selama satu menit.
Lalu Sekar mengetik satu baris, dan itu satu-satunya kalimat dari seluruh percakapan malam itu yang kusimpan tangkapan layarnya sampai sekarang:
sekar: tam, itu bukan kalah
sekar: itu pertama kalinya kamu milih
Hari 28. Sisa 2.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar reading
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu