← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Eighteen

Pernyataan Benturan Kepentingan

POV: Renata


Saya menulisnya pada hari Kamis malam, dan saya membutuhkan waktu empat jam untuk lima paragraf.

PERNYATAAN BENTURAN KEPENTINGAN Dari: Renata Claudya Larasati, Manajer Program Keberlanjutan Kepada: Direktur Keberlanjutan; tembusan Divisi Kepatuhan; tembusan Wiratama & Partners Perihal: Penugasan WP-1147

Paragraf pertama: fakta. Saya merupakan lulusan SMA Negeri 4, satuan pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Bhakti Utama, yang merupakan objek pemeriksaan dalam penugasan ini.

Paragraf kedua: periode. Tiga tahun. Termasuk masa jabatan sebagai Ketua OSIS selama dua tahun sebelas bulan.

Paragraf ketiga: kapan saya mengetahuinya. Dan di sinilah saya menghabiskan tiga dari empat jam itu.

Karena terdapat dua jawaban yang benar.

Jawaban pertama: saya mengetahuinya pada malam kedua penugasan, ketika saya membuka kembali laporan saya sendiri dan membaca daftar sembilan yayasan mitra sampai ke baris ketujuh.

Jawaban kedua: saya mengetahuinya pada hari saya menulis laporan itu, tanggal 14 Januari, karena nama yayasan tersebut tercantum di halaman ketiga dan saya yang mengetiknya.

Saya menuliskan jawaban kedua.

Karena jawaban kedua lebih buruk bagi saya, dan karena saya sudah cukup lama hidup untuk mengetahui bahwa apabila terdapat dua kebenaran dan salah satunya lebih menguntungkan Anda, yang benar adalah yang satunya lagi.

Paragraf keempat: mengapa saya tidak menyampaikannya lebih awal.

Saya menulis: Tidak terdapat alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Paragraf kelima: usulan tindak lanjut. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Divisi Kepatuhan, termasuk apabila keputusannya adalah mengeluarkan saya dari penugasan ini.

Saya mengirimnya pukul 01.14.


Pukul 01.20, saya mengirim satu pesan lagi.

Grup tanpa nama. Tiga orang.

Renata: Saya perlu menyampaikan sesuatu.

Renata: SMA Negeri 4 berada di bawah naungan yayasan yang sedang diperiksa.

Renata: Saya mengetahuinya sejak 14 Januari, yaitu hari saya menulis laporan yang menyebabkan pemeriksaan ini dilakukan.

Renata: Saya tidak menyampaikannya kepada siapa pun selama tiga bulan.

Renata: Saya baru saja melaporkan diri saya sendiri kepada Divisi Kepatuhan. Saya kemungkinan dikeluarkan dari penugasan.

Saya menekan kirim empat kali dan meletakkan ponsel telungkup di meja.

Sekar membaca pukul 01.24. Tamara pukul 01.31.

sekar: ren

Renata: Ya.

sekar: kamu bangun jam berapa besok

Renata: 04.30.

sekar: tidur dulu

Renata: Anda tidak marah?

Dan Sekar Widyaningsih mengetik selama satu menit dua puluh detik dan yang muncul adalah tiga baris:

sekar: ren, dua minggu lalu aku cium kening pasien aku sendiri pas dia lagi tidur

sekar: kita berdua lagi ngerusak karir kita masing2 buat orang yang sama

sekar: kalau aku marah sama kamu, aku harus marah sama diri aku sendiri dua kali lipat

Dan Tamara mengetik satu baris di bawahnya:

tamara: ren, kamu tau nggak yg paling nyebelin?

Renata: Apa?

tamara: aku satu2nya yg belom ngerusak apa2

tamara: dan itu bukan karena aku lebih baik. itu karena aku nggak punya apa2 buat dirusak


Saya tidak tidur.

Saya berbaring di kamar saya dan menghitung apa yang akan terjadi, sebagaimana saya menghitung segala hal, dan saya sampai pada empat kemungkinan.

Satu: dikeluarkan dari penugasan. Kemungkinan tertinggi. Dua: peran dibatasi, akses dicabut. Kemungkinan kedua. Tiga: tidak apa-apa, karena hubungan alumni bukan benturan material. Kemungkinan ketiga, dan secara teknis paling benar. Empat: ditegur karena tidak melaporkan sejak awal, dan itu masuk catatan personalia.

Dan pukul tiga pagi, saya mengakui kepada diri saya sendiri hal yang membuat saya berbaring dengan mata terbuka sampai subuh.

Saya berharap kemungkinan satu.

Bukan karena saya ingin keluar.

Karena apabila saya dikeluarkan, keputusannya diambil oleh orang lain, dan saya tidak perlu memutuskan apa pun, dan saya tidak perlu berdiri di ruangan yang sama dengan orang itu sambil mengetahui apa yang saya ketahui sejak pukul 14.53 hari Kamis.

Saya melaporkan diri saya sendiri agar orang lain menghentikan saya.

Itu bukan kejujuran.

Itu pengecut yang disusun dengan format yang benar.


Jawabannya datang hari Jumat pukul 11.20.

Rapat kecil. Empat orang: saya, Pak Dirgan, Bu Anin dari Kepatuhan, dan satu orang dari Wiratama & Partners yang hadir daring.

Bu Anin bicara empat menit.

Kesimpulannya: hubungan alumni tanpa kepentingan finansial atau kekerabatan bukan merupakan benturan material. Tidak ada dasar untuk mengeluarkan saya.

“Tapi,” katanya, “akses langsung ke arsip fisik sebaiknya dialihkan. Bukan karena Bu Renata bermasalah. Biar nggak jadi bahan kalau ada gugatan.”

“Baik, Bu.”

“Serah terimanya secepatnya ya.”

“Baik.”

“Dan Bu Renata.”

“Ya.”

“Terima kasih sudah melaporkan sendiri. Nggak banyak yang lapor kalau nggak ketahuan.”

Dan saya mengucapkan terima kasih kembali dengan susunan kalimat yang benar, dan saya duduk di ruangan itu selama tiga menit sisanya, dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang mengetahui bahwa saya baru saja gagal.

Kemungkinan dua.

Peran dibatasi, akses dicabut, dan saya tetap berada di dalam penugasan.

Tidak ada yang menghentikan saya.


Pukul 13.40, saya menerima pesan.

Bukan dari kantor.

Andhika Pratama (Wiratama & Partners): Selamat siang Bu Renata. Terkait pengalihan akses arsip, saya perlu serah terima langsung karena penomoran kardusnya tidak sesuai daftar. Apakah Ibu bisa Sabtu?

Saya menatapnya.

Renata: Sabtu saya bisa.

Andhika: Siang atau malam?

Renata: Apakah ada perbedaan?

Andhika: Siang gudangnya panas. Nggak ada ventilasi.

Renata: Malam.

Andhika: Jam sembilan? Sekolah tutup jam lima, saya minta izin ke Bu Ratna.

Renata: Baik.

Andhika: Terima kasih.

Saya menaruh ponsel di meja.

Dan saya duduk di ruangan saya di lantai dua puluh satu dan memutar cincin di jari manis kiri saya dengan ibu jari — dan saya berhenti di putaran keempat, karena saya menyadari apa yang sedang saya lakukan, dan karena saya menyadarinya untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Saya melepaskan cincin itu.

Saya meletakkannya di atas meja saya, di sebelah tempat pulpen.

Dan saya menatapnya selama kira-kira satu menit sebelum saya memakainya kembali.


Malamnya, Arya datang membawa dua kotak makan.

“Ren.”

“Ya.”

“Besok Sabtu kita ke katering ya. Jam empat.”

Dan saya berhenti membuka kotak itu.

“Sabtu jam berapa?”

“Empat sore. Kenapa?”

“Saya ada serah terima dokumen jam sembilan malam.”

“Sembilan malam?” Beliau tertawa. “Ya udah nggak bentrok dong.”

“Ya.”

“Ren.”

“Ya.”

“Kamu kenapa sih?”

Dan saya mengangkat wajah dan menatap laki-laki yang akan saya nikahi dalam empat bulan, yang membawakan dua kotak makan, yang meletakkan kopi di sisi kanan meja selama dua tahun tanpa pernah saya beri tahu.

“Tidak apa-apa,” kata saya.

“Ren.”

“Ya.”

“Kamu udah bilang ‘tidak apa-apa’ tiga minggu ini.” Beliau duduk di seberang saya. “Tiap hari. Aku ngitung.”

Dan saya duduk di meja makan apartemen saya sendiri dengan kotak makan yang belum terbuka.

Karena orang itu menghitung.

Selama dua tahun saya mengira saya adalah satu-satunya orang di ruangan mana pun yang menghitung, dan saya bangga pada hal tersebut, dan saya menganggap itu sebagai sesuatu yang membedakan saya dari orang lain.

Dan laki-laki yang duduk di seberang saya sudah menghitung selama tiga minggu dan tidak mengatakan apa pun sampai malam itu.

“Arya.”

“Ya?”

“Saya minta maaf.”

“Buat apa?”

Dan saya membuka mulut.

Dan tidak ada yang keluar.

Karena saya tidak bisa mengatakan untuk apa tanpa mengatakan apa, dan saya tidak bisa mengatakan apa tanpa mengakhiri sesuatu yang belum saya putuskan untuk saya akhiri, dan saya tidak pernah dalam hidup saya berada dalam posisi mengetahui sebuah jawaban dan memilih untuk tidak mengucapkannya.

“Untuk tiga minggu ini,” kata saya akhirnya.

Dan Arya mengangguk, dan tersenyum, dan mengambil sendoknya.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Kerjaan kan.”


Hari 22. Sisa 8.