← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Twenty Nine

Dua Belas Detik

POV: Renata


Pak Dirgan yang menjadwalkannya.

Saya mengetahuinya pada hari Minggu malam, dari undangan kalender yang masuk ke surel saya pukul 20.14.

Penutupan Penugasan WP-1147 — Ramah Tamah Senin, 11.00–12.00. Ruang Rapat Besar, Lantai 21. Peserta: Divisi Keberlanjutan, Divisi Hukum, perwakilan Yayasan, tim Wiratama & Partners.

Saya menatap undangan itu selama beberapa saat.

Saya telah mengirimkan seluruh berita acara melalui surel pada hari Sabtu pukul 14.11. Saya telah menutup seluruh kewajiban administratif sepuluh hari lebih awal, dengan tangan saya sendiri, dengan benar, tanpa satu pun celah.

Dan pada hari Minggu malam, seseorang yang tidak mengetahui apa pun mengenai hal tersebut menjadwalkan ramah tamah.

Saya menekan Hadir.


Ramah tamah itu berlangsung lima puluh dua menit.

Ada kue. Ada kopi dalam gelas kaca, bukan gelas kertas. Ada dua belas orang yang berdiri dalam kelompok-kelompok kecil dan membicarakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan penugasan.

Pak Suryadi datang membawa oleh-oleh dari yayasan. Bapak itu membawa oleh-oleh ke acara penutupan pemeriksaan atas yayasannya sendiri, dan beliau melakukannya dengan tulus, dan tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menganggapnya aneh kecuali saya.

Saya menyalami sembilan orang.

Saya berbicara empat menit dengan Bu Sri mengenai rencana triwulan berikutnya.

Dan pada pukul 11.48, saya melihatnya berdiri di dekat jendela, sendirian, memegang gelas kopi yang tidak dia minum.


Saya mendekat.

“Saudara Pratama.”

“Bu Renata.”

“Anda tidak meminumnya.”

Beliau menoleh ke gelas di tangannya, seolah baru menyadari bahwa gelas itu ada.

“Iya.”

“Mengapa?”

“Panas.”

“Sudah dua puluh menit.”

Dan beliau meletakkan gelas itu di ambang jendela dan berkata:

“Iya. Saya lupa.”

Dan saya berdiri di sana dan mengetahui, dengan tingkat keyakinan mendekati sempurna, bahwa orang itu tidak lupa.

Orang itu memegang gelas kopi selama dua puluh menit di sebuah ruangan berisi dua belas orang karena memegang sesuatu memberi tangan Anda pekerjaan, dan karena orang yang memegang sesuatu terlihat seperti orang yang sedang berada di suatu tempat dengan alasan.


“Saudara Pratama.”

“Ya.”

“Boleh saya minta waktu Anda sepuluh menit?”

Beliau menoleh.

“Sekarang?”

“Setelah ini.”

“Boleh.”

Dan saya berkata sesuatu yang tidak saya rencanakan, dan yang keluar dari mulut saya sebelum saya sempat memeriksanya:

“Bukan di ruang rapat.”


Tangga darurat antara lantai dua puluh dan dua puluh satu.

Saya memilihnya karena saya sudah memeriksa seluruh gedung ini selama enam tahun dan saya mengetahui persis di mana kamera berada, dan karena bordes itu adalah satu-satunya tempat di dua puluh delapan lantai yang tidak memiliki satu pun.

Saya mengetahui hal tersebut sejak tahun kedua saya bekerja di sini.

Saya belum pernah menggunakannya untuk apa pun.

Kami turun jam 12.10.

Pintu besi ditutup. Bunyinya bergema empat lantai ke bawah.


“Bu Renata?”

Dan saya berbalik menghadapnya.

“Saya menyampaikan tiga hal,” kata saya. “Setelah itu Anda boleh pergi dan saya tidak akan pernah membahasnya lagi.”

“Bu—”

“Yang pertama.”

Saya membuka tas saya dan mengeluarkan map cokelat.

Lima belas halaman.

“Berkas ini saya susun sebelas tahun yang lalu,” kata saya. “Sembilan belas halaman versi pertama, kedaluwarsa. Empat belas halaman versi kedua. Yang ini lima belas karena ada satu lembar yang bukan milik saya di antara halaman empat belas dan lima belas.”

Beliau tidak bergerak.

“Saya membawanya di dalam tas selama tiga tahun. Kemudian tas saya berganti dan berkas ini tidak ikut pindah, dan saya membiarkannya berada di dalam laci selama delapan tahun tanpa satu kali pun membukanya.”

Saya menyerahkannya.

“Berkas ini tidak berguna, tidak berlaku, dan tidak dapat diajukan ke mana pun,” kata saya. “Ambil.”


Beliau menerimanya.

Dan beliau membukanya — di bordes tangga darurat, sambil berdiri — dan beliau membalik ke halaman terakhir tanpa membaca halaman mana pun sebelumnya.

Karena beliau sudah membacanya sebelas tahun yang lalu, satu setengah detik per halaman, dan orang itu tidak pernah lupa apa pun.

Dan di halaman terakhir ada dua baris pensil.

14 April, pukul 14.53. Saya mengetahuinya. 29 April. Kasusnya selesai. Tidak ada siapa-siapa yang salah. Termasuk saya. Dan itu tidak membuat saya merasa lebih baik sedikit pun.

Beliau membacanya.

Dan beliau tidak menanyakan apa yang saya ketahui pada tanggal 14 April pukul 14.53.


“Yang kedua,” kata saya.

Dan saya mengulurkan tangan.

Saya bermaksud menjabat tangannya. Itu yang saya rencanakan. Itu prosedur, itu penutupan, itu hal yang telah saya lakukan tiga ratus dua puluh kali dalam enam tahun.

Dan saya melakukannya salah.

Saya mengulurkan tangan terlalu tinggi dan terlalu tegang, dengan siku terkunci, dan saya menyadarinya di tengah gerakan dan saya tidak dapat memperbaikinya.

Beliau melihatnya.

Dan beliau mengangkat kedua tangannya, dan beliau memindahkan tangan saya — pelan, turun sekitar sepuluh sentimeter, dan melonggarkan siku saya dengan ibu jari.

“Gini,” katanya.

Satu kata.

Sebelas tahun tiga bulan.

Dan saya berdiri di bordes tangga darurat lantai dua puluh dengan tangan saya di dalam tangan orang itu dan saya tidak dapat bernapas selama kira-kira empat detik.


“Yang ketiga,” kata saya, dan suara saya keluar salah.

Beliau menunggu.

Dan saya melakukan sesuatu yang tidak ada dalam rencana sepuluh menit saya.

Saya melangkah maju, dan saya meletakkan kepala saya di bahunya.

Bukan dahi.

Kepala.

Dan saya berkata, ke bahu itu:

“Enam puluh detik.”


Beliau tidak bergerak.

Saya menghitung.

Satu. Dua. Tiga.

Detik kesembilan, napasnya berhenti — sebagaimana yang terjadi sebelas tahun yang lalu di atas atap gudang, di detik yang persis sama, dan saya mencatatnya waktu itu dan saya mencatatnya lagi.

Detik kesepuluh, saya tidak berhenti.

Detik keenam belas, kedua tangannya naik dan berhenti di udara — saya merasakannya lewat udara di sekitar punggung saya, bukan lewat sentuhan — selama kira-kira dua detik.

Detik kedelapan belas, tangan itu turun ke punggung saya.

Dan saya menghitung sampai enam puluh, dan saya menyelesaikannya, dan itu adalah satu-satunya hitungan dalam sebelas tahun terakhir yang saya selesaikan sampai ujung.


Saya mundur pada detik keenam puluh satu.

Dan saya membuka telapak tangan kiri saya.

Saya telah melepas cincin itu di lift, dalam perjalanan turun dari lantai dua puluh satu, dan saya telah menggenggamnya selama dua belas menit terakhir.

Saya meletakkannya di atas pegangan besi tangga darurat, di antara kami.

Dan saya tidak mengatakan apa pun.


Beliau menatap cincin itu.

Empat detik.

Dan lalu beliau melakukan sesuatu yang membuat saya harus memegang pegangan besi itu dengan tangan yang lain supaya saya tetap berdiri.

Beliau mengambilnya.

Dan beliau mendorongnya kembali ke arah saya — pelan, dengan satu jari, sampai cincin itu berhenti di dekat tangan saya.

“Bu Renata.”

“Ya.”

“Ini bukan buat saya.”

“Saudara Pratama—”

“Kalau Ibu lepas ini gara-gara saya,” katanya, “besok Ibu bakal pakai lagi.”

Dan beliau menatap saya.

“Dan kalau Ibu lepas ini karena Ibu emang udah nggak mau pakai,” katanya, “Ibu nggak butuh saya ada di sini buat ngelepasnya.”


Saya mengambil cincin itu.

Saya tidak memakainya kembali.

Saya memasukkannya ke saku jas saya, dan saya berdiri di bordes tangga darurat lantai dua puluh pada pukul 12.26 hari Senin, dan saya berkata:

“Anda benar.”

“Bu—”

“Anda selalu benar,” kata saya. “Itu yang paling sulit dari Anda.”

Dan lalu saya menciumnya.


Saya yang memulai.

Saya ingin mencatat itu, sejelas-jelasnya, karena itu adalah satu-satunya hal dalam dua puluh delapan tahun hidup saya yang saya lakukan tanpa menyusunnya lebih dulu.

Saya tidak memiliki rencana. Saya tidak memiliki daftar. Saya tidak memiliki satu pun dasar yang dapat dituliskan.

Dan beliau membalas.

Dan itu yang paling menghancurkan — bukan bahwa beliau membalas, tetapi bahwa terdapat jeda dua detik sebelum beliau membalas, dan saya mengetahui persis apa yang terjadi di dalam dua detik itu, karena saya sudah dua puluh delapan hari mengamati orang itu memutuskan segala sesuatu.

Beliau menghitung.

Dan hitungannya kalah.


Dua belas detik.

Saya menghitungnya. Tentu saja saya menghitungnya.

Dan saya mundur pada detik ketiga belas, dan saya berdiri di bordes itu dengan tangan masih memegang pegangan besi, dan saya berkata:

“Saya minta maaf.”

“Bu Renata—”

“Bukan kepada Anda.”


Saya naik kembali ke lantai dua puluh satu pukul 12.31.

Saya menyalami tiga orang yang belum pulang. Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Suryadi atas oleh-olehnya. Saya memastikan ruang rapat dirapikan.

Dan pukul 13.00 saya duduk di ruangan saya sendiri dan menyelesaikan empat pekerjaan yang seharusnya selesai pekan depan.

Pukul 17.40, saya menelepon Arya.

“Ren?”

“Arya.”

“Iya.”

Dan saya berkata:

“Saya tidak bisa.”

Hening di seberang selama kira-kira enam detik.

“Iya,” kata beliau. “Aku tau.”

“Anda tahu?”

“Dari Sabtu.”

Dan saya duduk di kursi saya di lantai dua puluh satu dan menutup mata.

“Arya.”

“Hm.”

“Ini bukan karena dia.”

“Ren—”

“Saya perlu Anda mengetahui hal ini, dan saya perlu Anda mempercayainya, dan saya tidak punya cara untuk membuktikannya,” kata saya. “Saya tidak mengakhirinya untuk pergi ke tempat lain.”

“Terus kenapa?”

Dan saya berkata:

“Karena selama dua tahun saya menjalani sesuatu yang benar dan tidak sekali pun saya memeriksa apakah saya menginginkannya.”


Saya pulang pukul sembilan malam.

Dan di dalam taksi, saya mengeluarkan cincin itu dari saku jas saya dan meletakkannya di telapak tangan.

Saya menatapnya selama dua puluh menit perjalanan.

Dan saya tidak memakainya kembali malam itu, maupun malam-malam berikutnya, dan saya menyimpannya di dalam kotak di laci kedua dari bawah — di tempat yang selama delapan tahun ditempati oleh sesuatu yang lain.


Hari 30. Sisa 0.