← Yang Kanan Buat Kamu

Chapter Fourteen

Dua Kali, Supaya Rata

POV: Renata


Paparan temuan sementara dijadwalkan pukul 14.00 dan berlangsung selama empat puluh menit.

Tujuh orang di ruangan: Pak Dirgan, Bu Sri, dua dari divisi hukum, satu dari yayasan, satu peninjau, dan saya.

Peninjaunya Tamara Eliza Putri.

Saya mengetahuinya dari daftar hadir yang saya terima pukul 09.00 hari itu, dan saya membaca nama tersebut empat kali, dan saya tidak menyampaikan apa pun kepada siapa pun.

Beliau masuk pukul 13.58 dengan masker dan kacamata dan melepas keduanya setelah duduk, dan menyalami enam orang, dan menyalami saya terakhir.

“Halo, Bu Renata.”

“Selamat siang, Bu Tamara.”

Tiga detik. Tangannya dingin.

Dan kami berdua duduk di ruangan yang sama untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, dan tidak satu pun dari kami menunjukkan apa pun, dan saya memerhatikan bahwa beliau melakukannya jauh lebih baik daripada saya.

Tentu saja. Itu pekerjaan beliau.


Paparannya dimulai pukul 14.02.

Saya akan meringkas isinya, karena isinya penting dan karena saya mencatat seluruhnya.

Temuan sementara: dana beasiswa tidak hilang.

Dana tersebut berpindah pos. Dari kuota siswa tidak mampu ke pembangunan sarana. Seluruhnya melalui rapat pengurus. Seluruhnya dengan notulen. Seluruhnya dengan tanda tangan.

“Jadi nggak ada yang nyolong, Pak?” tanya Pak Dirgan.

“Belum ada indikasi.”

“Terus masalahnya di mana?”

Dan beliau menjawab dengan satu kalimat yang membuat ruangan itu diam selama kira-kira empat detik:

“Masalahnya, perjanjian kerja sama menyebut dana ini untuk beasiswa. Yang dibangun gedung. Gedungnya berdiri, bisa dilihat, dipakai tiap hari. Dan yang nggak berdiri itu nggak bisa dilihat siapa-siapa.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya nggak ada yang bisa nunjukkin anak yang nggak jadi sekolah.”


Pukul 14.31, sesi tanya jawab.

Divisi hukum bertanya soal potensi wanprestasi. Bu Sri bertanya soal implikasi reputasi. Perwakilan yayasan bertanya, dengan sopan dan agak defensif, apakah ini berarti ada tuduhan.

“Nggak ada tuduhan, Pak. Saya cuma nulis apa yang terjadi.”

Dan lalu Tamara Eliza Putri mengangkat tangan.

“Boleh saya tanya?”

“Silakan, Bu.”

“Berapa anak?”

Ruangan itu diam.

“Maaf?”

“Berapa anak yang nggak jadi dapet beasiswa,” kata beliau. “Sebelas tahun. Ada angkanya nggak?”

Dan saya mengamati wajah orang itu, karena saya selalu mengamati wajah orang itu, dan saya melihat sesuatu yang berlangsung kurang dari setengah detik.

“Ada, Bu.”

“Berapa?”

“Dua ratus tujuh puluh satu.”

Beliau menyebutkan angka itu tanpa melihat catatan.

“Itu perkiraan?”

“Bukan. Itu selisih kuota yang tercantum di perjanjian dikurangi kuota yang benar-benar disalurkan. Per tahun ada di lampiran tiga.”

“Namanya ada?”

Dan untuk pertama kalinya sepanjang paparan itu, beliau berhenti.

“Nggak ada, Bu,” katanya. “Yang nggak jadi masuk nggak punya nama di dokumen mana pun.”

Dan Tamara Eliza Putri menuliskan sesuatu di buku catatannya.

Saya memerhatikan hal tersebut karena saya memerhatikan segala sesuatu, dan karena beliau tidak membawa buku catatan waktu masuk.

Beliau meminta selembar kertas kepada notulis di sebelahnya pada menit ketiga, dan menuliskan sesuatu di sana selama paparan berlangsung, dan melipatnya dua kali sebelum pergi.

Saya tidak mengetahui isinya.

Saya baru mengetahuinya lima hari kemudian, dan saya akan menuliskannya pada bagiannya.


Rapat selesai pukul 14.52.

Kursi digeser. Orang berdiri. Bu Sri menelepon seseorang sambil berjalan keluar. Tamara Eliza Putri memakai maskernya kembali dan menyalami empat orang dan pergi tanpa menoleh ke arah siapa pun.

Dan beliau — orang itu — mulai membereskan berkas.

Dua puluh satu lembar. Beliau menyusunnya berurutan tanpa melihat nomor halamannya, sebagaimana yang saya lihat sebelas tahun lalu di trotoar dekat halte, dan sebagaimana yang saya lihat empat kali sejak hari Senin.

Dan ketika berkas itu sudah masuk ke dalam map, beliau melakukan sesuatu yang saya perkirakan memakan waktu kurang dari dua detik.

Beliau mengetukkan sisi tumpukan itu ke meja.

Dua kali.

Supaya rata.


Tidak ada yang memperhatikan.

Tidak ada alasan untuk memperhatikan. Map itu akan dibawa keluar ruangan dan diletakkan di dalam tas dan tidak seorang pun di dunia ini akan memeriksa apakah sisi tumpukannya rata.

Beliau tetap melakukannya.

Dan saya duduk di kursi saya, di ruang rapat lantai dua puluh satu, memegang pulpen di atas notulen yang sudah selesai saya tulis, dan mengetahui satu hal dengan kejelasan yang tidak pernah saya alami sepanjang hidup saya:

Saya mencintai orang ini.

Bukan dulu. Sekarang. Hari ini, pukul 14.53, di ruangan ini, dengan tujuh orang yang sedang berdiri dan merapikan kursi.

Saya telah menghabiskan sebelas tahun menyusun sebuah hidup yang benar. Setiap keputusan diperiksa. Setiap konsekuensi dihitung. Tidak ada satu pun langkah yang saya ambil tanpa dasar yang dapat dituliskan.

Dan seluruhnya runtuh oleh seorang laki-laki yang mengetukkan tumpukan kertas ke meja supaya rata, untuk orang yang tidak akan pernah tahu.

“Ren, notulennya nanti dikirim ya.”

“Baik.”

Saya menutup buku catatan saya. Saya berdiri. Saya menyalami tiga orang dan mengucapkan terima kasih kepada dua orang lainnya.

Dan di lift, sendirian, saya memutar cincin di jari manis kiri saya dengan ibu jari — sebelas kali, saya menghitungnya — sampai pintu terbuka di lantai dasar.


Saya tidak pulang.

Saya kembali ke atas pukul 15.20 dan bekerja sampai pukul 20.40, dan saya menyelesaikan tiga hal yang seharusnya selesai pekan depan, dan saya melakukannya dengan sangat baik.

Pukul 20.45, ponsel saya bergetar.

Arya: udah pulang?

Renata: Belum. Sebentar lagi.

Arya: aku jemput ya

Renata: Tidak usah. Saya naik taksi.

Arya: aku udah di lobi

Saya menatap layar itu.

Renata: Sejak kapan?

Arya: setengah jam. gapapa aku sambil kerja kok

Dan saya turun, dan beliau ada di sana, duduk di sofa lobi dengan laptop di pangkuan, dan beliau berdiri begitu melihat saya dan tersenyum dan mengambil tas saya tanpa diminta.

“Capek?”

“Sedikit.”

“Makan yuk. Kamu belum makan kan.”

“Belum.”

Dan kami makan di tempat yang beliau pilih, dan makanannya enak, dan beliau bercerita tentang kliennya yang menyebalkan dan saya tertawa di tempat yang benar.

Dan di mobil, dalam perjalanan pulang, beliau berkata:

“Ren.”

“Ya.”

“Aku pindahin fitting bajunya ke minggu depan ya. Yang minggu ini kamu keliatan sibuk banget.”

“Baik.”

“Nggak apa-apa kan?”

“Tidak apa-apa.”

Dan saya duduk di jok penumpang mobil tunangan saya dan menatap ke luar jendela dan menghitung satu hal, karena menghitung adalah satu-satunya hal yang saya ketahui cara melakukannya ketika saya tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.

Empat bulan satu hari.


Pukul 23.50, sendirian di kamar kerja saya, saya melakukan sesuatu yang tidak dapat saya pertanggungjawabkan.

Saya membuka laci kedua dari bawah.

Saya mengeluarkan map cokelat lima belas halaman.

Dan saya membalik ke halaman terakhir, di mana terdapat ruang kosong di bawah lampiran, dan saya mengambil pensil.

Bukan pulpen.

Dan saya menuliskan satu baris — dengan pensil, supaya bisa dihapus, sebagaimana yang diajarkan kepada saya sebelas tahun lalu oleh orang yang tidak pernah tahu bahwa dia sedang mengajarkan sesuatu:

14 April, pukul 14.53. Saya mengetahuinya.

Kemudian saya menutup map itu.

Kemudian saya memasukkannya ke dalam tas kerja saya, bukan ke dalam laci, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun.


Pukul 00.20, ponsel saya bergetar.

Grup tanpa nama. Tiga orang.

tamara: ren

Renata: Ya.

tamara: tadi kamu nyatet apa aja pas paparan?

Renata: Seluruhnya. Notulen resmi.

tamara: yang nomor dua ratus tujuh puluh satu itu

tamara: dia jawabnya nggak liat catetan

Renata: Ya.

tamara: berarti dia hafal

Renata: Ya.

tamara: ren

Renata: Ya.

tamara: orang nggak ngafalin angka kayak gitu kalau itu cuma kerjaan

Saya duduk di kursi meja kerja saya dan menatap layar itu.

Dan saya mengetik jawaban yang benar, dan jawaban itu memang benar, dan saya sudah mengetahuinya sejak menit ketiga puluh dua paparan hari itu.

Renata: Saya sependapat.

tamara: kamu tau nggak dia sekolah di mana dulu?

Dan saya berhenti mengetik.

Kursor saya berkedip selama kira-kira dua menit.

Karena saya mengetahuinya. Tentu saja saya mengetahuinya. Saya sekelas dengannya selama satu setengah tahun — bukan sekelas; saya sekolah di gedung yang sama, dan saya adalah Ketua OSIS-nya, dan saya menaiki tangga besi yang sama setiap hari kerja selama seratus tiga puluh sembilan hari.

Tamara juga mengetahuinya.

Sekar juga mengetahuinya.

Yang tidak diketahui satu pun dari kami — sampai malam itu, sampai pertanyaan itu diketik oleh orang yang paling sedikit membaca dokumen di antara kami bertiga — adalah bahwa sekolah tempat kami bertiga dibesarkan berada di bawah naungan yayasan yang sedang diperiksa.

Dan bahwa saya, yang menulis laporan pertama pada tanggal 14 Januari, telah mengetahuinya sejak malam kedua.

Dan tidak menyampaikannya kepada siapa pun.

Renata: Saya akan menyampaikan sesuatu besok.

tamara: kenapa nggak sekarang

Renata: Karena saya perlu menyusun kalimatnya.


Hari 19. Sisa 11.