Chapter Forty Eight
[Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu
POV: Tamara
Aku tidak pulang.
Aku ingin mencatat itu di awal, karena itu keputusan terbesar yang kuambil dalam sebelas tahun dan karena tidak ada satu pun orang yang memberitahuku untuk mengambilnya.
Perannya sudah diisi orang lain. Barang-barangku sudah dikemasi. Tiket pulang sudah ada di ponselku dan berlaku sampai akhir bulan.
Dan aku tidak pulang.
Aku memperpanjang kamar penginapan itu dua minggu, lalu dua minggu lagi, dan pemiliknya — Ibu Kris, lima puluhan, yang setiap pagi menaruh pisang goreng di meja depan tanpa diminta — berhenti bertanya sampai kapan setelah minggu ketiga.
Dan aku ke rumah sakit setiap hari.
Bukan riset lagi.
Tidak ada peran. Tidak ada catatan tentang cara perawat berjalan setelah dua belas jam.
Aku ke sana karena tiga surat itu akhirnya dibalas.
Anggaran sosialisasi tiga tahun tertunggak cair pada minggu keempat, dan Pak Dedy meneleponku pagi itu jam tujuh — dia yang menelepon, bukan aku — dan suaranya bergetar dan dia berkata “Mbak, masuk” dan tidak mengatakan apa pun lagi selama empat detik.
Dan lalu dia berkata:
“Saya nggak nyangka, Mbak.”
“Nggak nyangka apa, Pak?”
Dan Pak Dedy berkata:
“Nggak nyangka ada yang bales.”
Sosialisasinya dimulai bulan berikutnya.
Dan aku ikut.
Bukan sebagai wajah. Aku menolak itu dua kali — sekali dari rumah sakit, sekali dari yayasan yang ingin membuat dokumentasi — dan aku menolaknya dengan kalimat yang sama:
“Kalau ada muka saya, orang bakal ngeliatin muka saya.”
Jadi aku mengerjakan yang lain.
Aku mencetak brosur. Aku menempel di puskesmas pembantu. Aku ikut ke enam desa dengan mobil operasional yang AC-nya rusak, dan aku duduk di balai desa sambil membacakan syarat pendaftaran kepada dua puluh sampai empat puluh orang yang sebagian tidak bisa membaca, dan aku melakukannya delapan belas kali dalam dua bulan.
Dan di desa keempat, seorang bapak berumur enam puluhan bertanya kepadaku:
“Mbak ini dari mana?”
Dan aku berkata:
“Dari rumah sakit, Pak.”
Dan dia mengangguk dan tidak bertanya lagi.
Dan aku duduk di balai desa itu dan menyadari bahwa aku baru saja berbohong, dan bahwa itu kebohongan pertama dalam hidupku yang membuatku bahagia.
Realisasi triwulan empat: dua ratus delapan belas pasien.
Dari sembilan puluh enam.
Aku mengetahuinya dari Pak Dedy lewat pesan, dengan foto laporan yang difoto miring karena tangannya tidak stabil, dan aku menatap angka itu di kamar penginapan jam sembilan malam selama sebelas menit.
Dan aku menghitung.
Dua ratus delapan belas dikurangi sembilan puluh enam.
Seratus dua puluh dua.
Seratus dua puluh dua orang.
Dan tidak satu pun dari mereka tahu namaku, dan tidak satu pun dari mereka akan pernah tahu, dan itu — bukan yang lain — yang membuatku menangis di lantai kamar penginapan itu sampai jam sebelas.
Aku mengirim satu pesan malam itu.
Bukan ke grup. Ke satu orang.
tamara: 218
Dibaca dalam empat menit.
Andhika: Dari 96?
tamara: iya
Andhika: Selisihnya 122.
tamara: iya
tamara: kamu ngitung dalam berapa detik
Andhika: Nggak ngitung. Udah tau dari kamu ngirim angkanya.
Dan aku duduk di lantai kamar itu dan tertawa sendirian.
tamara: sok
Andhika: Iya.
Aku ingin mencatat sesuatu tentang dua bulan itu.
Kami menelepon dua puluh enam kali.
Aku menghitungnya — tentu saja aku menghitungnya — dan rata-ratanya dua puluh dua menit, dan yang paling lama satu jam empat puluh, dan yang paling pendek empat menit karena sinyalku hilang.
Dan tidak satu pun dari dua puluh enam telepon itu berisi kalimat tentang perasaan.
Kami membicarakan alur disposisi surat. Kami membicarakan cara membaca laporan realisasi. Kami membicarakan Pak Dedy dan Suster Yani dan Ibu Kris yang menaruh pisang goreng.
Dan aku tidak pernah bertanya kapan dia datang.
Dan dia tidak pernah mengatakan kapan dia datang.
Dan aku sudah sebelas tahun jadi orang yang bertanya empat ratus kali, dan dua bulan itu aku tidak bertanya sekali pun, dan itu bukan karena aku menahan diri.
Itu karena aku sedang sibuk.
Dan aku baru menyadari betapa besarnya perbedaan itu jauh belakangan.
Hari itu hari Kamis.
Shift malam. Aku mengikuti Suster Yani lagi — bukan untuk peran, karena tidak ada peran, tapi karena aku sudah tiga bulan di sini dan karena dia satu-satunya orang yang bisa menjelaskan kepadaku kenapa pendaftar naik tapi yang lolos verifikasi tidak naik sebanyak itu.
Enam jam.
Dan jam sebelas malam, waktu shift-nya selesai, aku berjalan ke ujung koridor lantai dua untuk mengambil tasku dari ruang jaga.
Koridornya panjang. Lampunya menyala setengah karena sisanya dimatikan setelah jam sepuluh.
Dan ada orang berdiri di ujungnya.
Aku berhenti.
Dua puluh meter.
Kemeja lengan panjang digulung sampai siku. Tas selempang. Tidak ada koper, yang artinya kopernya sudah ditaruh di suatu tempat, yang artinya dia sudah sampai lebih dulu.
“Ndhik.”
Dan dia tidak menjawab.
Dan aku berjalan — dua puluh meter, dan aku menghitungnya karena aku tidak bisa berhenti, dan aku sampai di hitungan kedua puluh sembilan langkah — dan aku berhenti di depannya.
“Kamu dari jam berapa?”
Dan Andhika Pratama berkata:
“Jam lima.”
Enam jam.
“Kamu berdiri di sini enam jam?”
“Duduk. Di kursi tunggu depan.” Dia menunjuk dengan dagu. “Baru berdiri jam sepuluh.”
“Kenapa nggak bilang?”
Dan dia berkata:
“Kamu lagi kerja.”
Aku ingin mencatat apa yang terjadi berikutnya dengan tepat, karena aku sudah mengulangnya di kepalaku ribuan kali dan aku ingin memastikan aku tidak menambahkan apa pun.
Dia mengangkat tangannya.
Dan dia memelukku.
Dia yang memulai.
Sebelas tahun aku mengenal orang itu, dan dalam sebelas tahun itu dia menyentuhku lebih dulu tepat satu kali — di kerumunan, di pergelangan tangan, empat langkah, untuk mengeluarkanku dari sana.
Dan itu melindungi.
Yang ini tidak melindungi apa pun.
Dua tangan, di punggungku, dan dagunya di atas kepalaku, dan telapak itu masih kasar bahkan lewat dua lapis kain sebagaimana yang selalu terjadi dan yang tidak akan pernah berubah.
Dan aku berdiri di koridor lantai dua RSUD kabupaten pada hari Kamis jam sebelas malam, dengan kaus yang sudah kupakai enam jam dan wajah tanpa riasan dan rambut diikat asal, dan aku tidak mengatakan apa pun.
Karena aku sudah sebelas tahun berisik.
Dan malam itu aku tidak perlu.
Dia melepaskan setelah entah berapa lama.
Aku tidak menghitungnya. Dan itu kedua kalinya dalam hidupku.
“Ndhik.”
“Hm.”
“Kamu resign.”
Dan dia menoleh.
“Kamu tau?”
“Renata yang bilang. Tiga minggu lalu.”
“Oh.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Dan dia berkata:
“Kamu juga nggak bilang kamu kehilangan peran kamu.”
Aku menoleh cepat.
“Kamu tau?”
“Vina yang bilang. Dua bulan lalu.”
“Vina?”
“Dia nelepon saya,” katanya. “Bilang kalau saya bikin kamu nyesel, dia bakal nyariin saya.”
Dan aku menutup mulut dengan dua tangan dan tertawa di koridor rumah sakit jam sebelas malam sampai perawat jaga menoleh dari ujung sana.
“Iya,” kataku.
“Ya udah.”
Dan lalu dia merogoh saku tasnya.
Kantong plastik kecil.
“Apa itu?”
Dan dia tidak menjawab.
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku kirinya lebih dulu — earphone lama, kabel dililit lakban di dua titik, digulung dua lingkaran dengan ujung diselipkan.
Dan dia menguraikannya.
Dan dia melepas yang kiri, dan menyerahkannya kepadaku.
“Yang kiri buat kamu.”
Aku mengambilnya.
Dan aku memasangnya, dan dia memasang yang kanan — yang rusak, yang sudah rusak sejak bulan Februari waktu dia kelas sebelas, yang tidak pernah dia ganti selama sebelas tahun — dan dia menekan sesuatu di ponselnya.
Lagu keempat. Yang ada suara gitar agak fals di awalnya.
Kabelnya pendek, jadi aku harus melangkah maju setengah langkah, dan bahuku menempel di lengannya.
Tiga menit empat puluh satu detik.
Dan kami berdiri di koridor lantai dua RSUD kabupaten di Nusa Tenggara Timur, di bawah lampu yang menyala setengah, mendengarkan satu lagu dengan satu earphone yang cuma bunyi sebelah.
Waktu lagunya habis, dia melepas earphone-nya.
Dan dia menggulungnya dua lingkaran dengan ujung diselipkan, dan memasukkannya ke saku kiri.
Dan dia membuka kantong plastik kecil itu.
Kabelnya masih kaku karena baru. Tidak ada lakban, karena tidak ada yang perlu direkatkan.
Dia menguraikannya.
Dan dia mencolokkannya ke ponselnya, dan dia memasang yang kiri di telinga kirinya sendiri —
dan dia menyerahkan yang kanan.
Dan aku menatap benda itu di tangannya selama kira-kira empat detik.
Dan dia berkata:
“Yang kanan buat kamu.”
Aku menciumnya di koridor lantai dua RSUD kabupaten pada hari Kamis jam sebelas lewat malam.
Dan aku ingin mencatat apa bedanya dengan parkiran B2, karena aku memeriksanya nanti dan karena bedanya cuma satu hal.
Di parkiran B2 aku memegang kerah kemejanya dengan dua tangan dan aku menangis di tengah-tengahnya dan aku berhenti duluan karena kalau tidak, aku akan memintanya tinggal.
Malam itu tidak ada yang perlu ditahan.
Tidak ada kereta. Tidak ada kontrak. Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada satu pun alasan untuk berhenti.
Dan tidak ada yang berhenti duluan.
Aku menyadarinya beberapa saat setelahnya, sambil berdiri di koridor itu dengan dahi di dadanya.
Bahwa itu pertama kalinya.
Sebelas tahun, dan aku selalu jadi yang bertahan lebih lama atau yang berhenti lebih dulu, dan tidak pernah sekali pun jadi salah satu dari dua orang yang berhenti pada waktu yang sama.
“Ndhik.”
“Hm.”
“Kamu kerja apa di sini?”
Dan dia berkata:
“Belum tau.”
“Belum tau?”
“Ada tiga lembaga yang nawarin. Audit dana desa, dana BOS.” Dia mengangkat bahu. “Lepasan. Bayarannya kecil dan nggak tetap.”
“Kamu udah jawab?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Dan Andhika Pratama berkata:
“Saya baru nyampe jam lima sore.”
Aku kehilangan peran yang aku kejar sebelas tahun.
Dan aku sudah menghitungnya — tentu saja aku sudah menghitungnya, aku tertular dari orang ini waktu umur tujuh belas dan aku tidak pernah sembuh. Empat bulan syuting. Delapan episode. Tiga puluh delapan penghargaan yang tidak akan bertambah jadi tiga puluh sembilan.
Dan aku tidak menyesal, dan bukan karena aku dapat dia.
Karena sebelas tahun lalu aku bilang aku mau dilihat karena sesuatu, bukan karena mukaku, dan aku mengejarnya ke tempat yang salah selama sebelas tahun.
Dan aku sudah jadi sesuatu di lorong rumah sakit daerah jam sebelas malam, waktu tidak ada satu pun kamera, waktu tidak ada satu pun orang yang tahu namaku, waktu aku menghitung angka di papan pengumuman yang salah dan tidak berhenti sampai selesai.
Bukan dia yang bikin aku jadi seseorang.
Dia cuma orang pertama yang bikin aku pengen jadi seseorang buat diri aku sendiri.
TAMAT — RUTE TAMARA
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu reading