Chapter Thirty Eight
Halaman Lima Puluh Tiga
POV: Sekar
Aku bangun jam lima kurang.
Dan hal pertama yang kulakukan adalah menghitung, karena aku menghitung semuanya, karena aku tertular dari orang ini pada umur enam belas tahun dan tidak pernah sembuh.
Dia tidur enam jam dua puluh menit.
Enam jam dua puluh menit.
Aku berbaring di sana dan menatap langit-langit kamarku sendiri dan menghitung angka itu berkali-kali, dan setiap kali hasilnya sama, dan setiap kali aku harus menekan pangkal telapak tangan ke mata.
Karena rata-rata sebelas tahun terakhir orang itu adalah empat jam.
Dan tiga puluh delapan hari terakhir adalah empat setengah.
Dan malam itu enam jam dua puluh menit, dan dia masih tidur, dan napasnya panjang dan teratur dan tidak ada satu pun bagian dari tubuhnya yang siap bangun.
Aku bangun jam enam.
Aku membuat kopi. Dua.
Dan aku meletakkan yang satu di sisi kanan meja dapur, dan aku berdiri di sana selama beberapa detik memandanginya, dan lalu aku memindahkannya ke sisi kiri.
Karena orang itu memegang gelas dengan tangan kiri kalau tangan kanannya sedang tidak dipakai untuk apa-apa.
Aku tahu itu sejak umur delapan.
Aku tidak pernah memberitahunya.
Dia keluar jam tujuh lewat.
Kemeja kemarin, dua kancing atas terbuka, rambut berantakan di satu sisi.
Dan dia berhenti di ambang pintu dapur, dan dia melihat dua gelas di meja, dan dia melihat yang satu ada di sisi kiri.
Dia tidak mengatakan apa pun.
Dia duduk, dan dia mengambilnya dengan tangan kiri, dan dia meminumnya.
Dan aku berdiri di depan kompor membelakanginya dan menangis tanpa suara selama kira-kira empat puluh detik, dan lalu aku menyeka wajahku dan berbalik dan berkata:
“Kamu mau telur setengah mateng apa mateng?”
Kami sarapan empat puluh menit.
Dan aku ingin mencatat bahwa selama empat puluh menit itu tidak terjadi satu pun hal yang penting, dan bahwa itu adalah empat puluh menit terbaik dalam dua puluh delapan tahun hidupku.
Dia bertanya di mana aku menyimpan garam.
Dia bertanya apakah keran di belakang masih bocor — masih, dua puluh dua tahun — dan dia berdiri dan melihatnya dan berkata bahwa itu bukan kerannya tapi sil di dalamnya, dan bahwa dia bisa membelikannya di toko dekat pasar seharga delapan ribu.
Dan dia mencucinya sendiri. Piringnya. Tanpa diminta, tanpa berkata apa-apa, sambil aku masih makan.
Dan aku duduk di meja dapur rumahku sendiri dan melihat punggung orang itu di depan wastafel dan menyadari bahwa aku sudah dua puluh dua tahun melihat punggung itu di depan wastafel — di rumah sebelah, lewat jendela dapur, waktu aku kecil dan tidak tahu bahwa yang kulihat adalah anak umur delapan yang mencuci piring untuk neneknya.
Jam delapan lewat, aku mengambilnya dari lemari.
Buku sampul plastik merah muda seharga tiga ribu.
Sampulnya sudah tidak merah muda lagi. Sudah kecokelatan di bagian sudut. Ada bekas air di halaman dua puluhan dari tahun kedua kuliah waktu tasku kehujanan.
Aku meletakkannya di meja dapur di antara kami.
“Ini apa?”
“Buka.”
Dia membukanya.
Halaman pertama. Tanggalnya sebelas tahun tiga bulan yang lalu.
Hari ini dia tidak naik.
Dia membalik.
Hari ini dia tidak naik.
Dia membalik lagi.
Hari ini dia tidak naik.
Dan dia berhenti di halaman kesebelas — di mana ada dua baris, bukan satu — dan dia membacanya, dan dia tidak mengatakan apa pun.
Dan dia terus membalik.
Lima puluh dua halaman.
Lima puluh satu di antaranya berbunyi sama.
Dan yang satu — halaman kedua puluh sembilan — berbunyi:
Hari ini dia naik. Dua puluh delapan menit. Sembilan belas detik buat tidur.
Dia berhenti lama di halaman itu.
Dan lalu dia membalik ke halaman lima puluh tiga.
Halaman lima puluh tiga kosong selama sebelas tahun tiga bulan.
Sampai tiga malam yang lalu.
Dan di sana ada dua baris.
Yang pertama ditulis dengan pulpen, tulisannya jelek karena tanganku gemetar waktu menulisnya:
Bawa aku.
Yang kedua ditulis di bawahnya, lebih kecil, dalam kurung:
(dihapus, 27 Februari)
Dia menatapnya.
Dan aku duduk di seberangnya di meja dapur rumahku sendiri jam delapan lewat pagi dan aku bicara, karena aku sudah memutuskan sejak tiga malam lalu bahwa aku yang akan bicara.
“Sebelas tahun lalu aku punya enam kalimat,” kataku. “Aku tulis di halaman belakang buku Kimia. Aku hapus terus aku tulis ulang pake pensil biar bisa dihapus.”
“Kar—”
“Yang pertama: jangan pergi.”
Dia diam.
“Yang kedua: aku suka kamu, dari kapan aku nggak tau, karena nggak ada mulainya, karena aku cuma nggak pernah nggak.”
“Kar.”
“Yang ketiga: kamu boleh nginep di rumah aku. Ibu aku setuju. Aku udah nanya. Kemarin.”
Dan suaraku pecah di kata terakhir.
“Yang keempat: aku punya tabungan. Bukan buat bayarin kamu. Buat tiket, biar kamu bisa balik sekali-sekali.”
“Kar—”
“Yang kelima: aku nggak akan berhenti nungguin di teras.”
Aku menyeka wajahku.
“Yang keenam: aku sayang kamu.”
Dan Andhika Pratama duduk di meja dapur itu dengan buku sampul merah muda terbuka di halaman lima puluh tiga, dan dia berkata:
“Saya tau.”
Aku mengangkat wajah.
“...Apa?”
“Keenamnya,” katanya. “Saya tau semuanya.”
“Kamu—”
“Kar, kamu duduk tiga puluh dua menit di teras itu sambil megang tangan saya,” katanya. “Dan kamu ngomongin nasi uduk sama obat nenek saya.”
Dia menutup buku itu setengah.
“Orang nggak ngomongin nasi uduk selama tiga puluh dua menit kalau nggak lagi nahan sesuatu.”
“Kamu tau dari waktu itu?”
“Iya.”
“Semuanya?”
“Nggak persis kalimatnya. Tapi iya.”
Dan aku berdiri dari kursi dapurku sendiri dan aku tidak tahu harus berdiri untuk apa, jadi aku berdiri saja, dan aku berkata:
“Terus kenapa kamu nggak ngomong apa-apa?”
Dan dia berkata:
“Karena kalau saya ngomong, kamu bakal ngomong balik. Dan kalau kamu ngomong balik, saya harus mutusin sesuatu pagi itu juga.”
Dia melihat ke buku di depannya.
“Dan pagi itu saya harus naik kereta jam sebelas sama nenek saya, Kar.”
Aku duduk kembali.
Dan aku membuka buku itu ke halaman lima puluh tiga, dan aku menunjuk baris kedua.
(dihapus, 27 Februari)
“Ini yang ketujuh,” kataku.
Dia menoleh.
“Daftarnya bukan enam, Dhika.”
“Aku nulis ‘bawa aku’ di halaman belakang buku Kimia tanggal dua puluh empat Februari,” kataku. “Tiga hari sebelum kamu berangkat.”
Suaraku sudah tidak bisa kuatur lagi dan aku sudah berhenti mencoba.
“Dan aku hapus tanggal dua puluh tujuh. Pagi. Sebelum aku ke teras.”
“Kar—”
“Karena aku ngitung,” kataku. “Aku ngitung, Dhika. Kamu nularin aku ngitung dari aku enam belas tahun dan itu penyakit dan aku nggak pernah sembuh.”
Aku menatapnya.
“Kalau aku bilang ‘bawa aku’, kamu harus milih antara aku sama nenek kamu.”
Dan aku menekan pangkal telapak tanganku ke mata.
“Dan kamu bakal milih nenek kamu. Dan itu bener. Dan aku nggak mau kamu berdiri di teras itu jam delapan pagi sambil harus nolak aku.”
Dia tidak mengatakan apa pun.
Aku mengangkat wajah.
Dan Andhika Pratama duduk di meja dapur rumahku dengan kedua tangan di atas meja, dan dia menangis.
Tidak bersuara. Tidak menutup wajah. Cuma air yang keluar dan tidak dia hentikan dan tidak dia seka.
Dan aku sudah dua puluh dua tahun mengenal orang itu.
Dan itu yang pertama.
Aku pindah.
Aku berdiri dan aku berjalan ke sisi mejanya dan aku duduk di kursi di sebelahnya dan aku tidak memeluknya.
Aku mengulurkan tanganku.
Dan aku memegang dua jarinya.
Kelingking dan jari manis.
Dua puluh dua tahun.
Umur enam, karena tanganku cuma muat dua jari. Umur tiga belas, karena aku mendengar sesuatu di halaman belakang sekolah dan berhenti tumbuh ke arah telapaknya tanpa pernah memutuskannya. Umur enam belas, karena aku baru sadar dan baru minta izin dan baru berani.
Dan umur dua puluh delapan, di meja dapur rumahku sendiri jam sembilan kurang pagi —
karena dua jari adalah yang pertama, dan aku ingin memulai lagi dari yang pertama.
Dia menggenggam balik.
Dan dia berkata, dengan suara yang hancur seluruhnya:
“Kar.”
“Hm.”
“Saya nggak punya apa-apa buat dikasih ke kamu.”
Dan aku mengangkat tangan kami yang bertaut — dua jari, sepuluh sentimeter di atas meja — dan aku berkata:
“Dhika, kamu udah dua puluh dua tahun ngasih aku ini.”
Aku menoleh.
“Kamu cuma nggak pernah tau itu ada.”
Kami duduk seperti itu sampai jam sembilan lewat.
Dan dia tidak berkata bahwa dia akan tinggal.
Dan aku tidak menanyakannya.
Karena orang itu masih punya delapan hari cuti dan satu pekerjaan di kota lain dan satu hidup yang dibangun selama sebelas tahun, dan karena tidak ada satu pun dari itu yang bisa diselesaikan di meja dapur pada hari Sabtu jam sembilan pagi.
Dan karena — ini yang paling penting, dan ini yang membuatku sanggup melepaskan tangannya jam sembilan lewat —
aku sudah tidak menunggu.
Aku sudah selesai menunggu tiga malam yang lalu, di halaman lima puluh tiga, waktu aku menulis dua baris dengan tangan yang gemetar.
Apa pun yang terjadi setelah ini, sudah bukan penantian.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga reading
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu