Chapter Twenty Six
Parkiran B2
POV: Tamara
Aku mengirim pesan jam sepuluh pagi.
Nomornya kudapat dari Renata. Aku memintanya terang-terangan dan Renata mengirimkannya dalam empat puluh detik tanpa satu pun pertanyaan, dan aku tahu persis berapa harga empat puluh detik itu bagi orang seperti dia.
tamara: ini tamara. aku dapet nomor kamu dari renata.
tamara: aku syuting malem ini. jam 7 sampe subuh. lokasi di gudang tua daerah industri.
tamara: dateng.
Aku tidak menulis kalau kamu mau.
Aku tidak menulis kalau nggak sibuk.
Aku sudah sebelas tahun sopan kepada semua orang dan aku sudah mengumumkan tiga hari lalu bahwa lima hari ini aku tidak akan sopan, dan aku memulainya jam sepuluh pagi hari Rabu dengan satu kata.
Dibaca jam sepuluh lewat dua.
Tidak dibalas.
Jam sebelas, tidak dibalas.
Jam satu siang, tidak dibalas.
Jam empat sore aku mulai menyusun sebelas alasan kenapa dia tidak akan datang, dan aku menyelesaikan kesebelas alasan itu, dan aku menemukan bahwa kesebelas alasan itu bagus dan masuk akal dan tidak satu pun membuatku merasa lebih baik.
Jam lima lewat, ponselku bergetar.
Andhika: Jam 7 di mana persisnya?
Dia sampai jam tujuh lewat dua puluh.
Lokasinya gudang kosong di kawasan industri, disewa untuk empat malam, dan malam itu adalah malam terakhir dan adegannya adegan terberat di seluruh film.
Aku melihatnya dari kursi rias.
Berdiri di dekat pintu, di belakang barisan kabel, dengan orang-orang produksi lalu-lalang di depannya dan tidak satu pun dari mereka menoleh.
Tentu saja tidak menoleh.
Orang itu punya kemampuan yang tidak dimiliki siapa pun yang kukenal di industri ini: dia bisa berdiri di sebuah ruangan dan tidak ada di dalamnya.
“Vin.”
“Iya, Mbak?”
“Yang di deket pintu itu. Kasih kursi.”
Dan Vina menoleh, dan melihat, dan menoleh lagi ke arahku.
Dan dia tidak bertanya apa-apa.
“Siap, Mbak.”
Aku syuting delapan jam.
Aku akan meringkasnya, karena delapan jam itu tidak penting kecuali satu bagian.
Adegannya: perempuan yang kehilangan anaknya. Satu ruangan, satu meja, tanpa dialog selama empat menit dua puluh detik.
Empat menit dua puluh detik tanpa dialog adalah adegan tersulit yang pernah kudapat seumur hidupku.
Kami mengambilnya dua puluh tiga kali.
Take pertama jam delapan. Take kedua puluh tiga jam setengah dua pagi.
Dan di antara keduanya, aku menangis di depan kamera dua puluh tiga kali, dan dua puluh dua di antaranya palsu, dan tidak satu pun orang di ruangan itu tahu yang mana yang tidak.
Aku ingin mencatat satu hal.
Sepanjang delapan jam itu, aku tidak melihat ke arahnya sekali pun.
Bukan karena aku tidak mau.
Karena aku tahu persis apa yang akan terjadi pada wajahku kalau aku melihat, dan karena ada dua puluh enam orang di ruangan itu dan tiga kamera.
Tapi aku tahu dia masih di sana.
Aku tahu karena setiap kali kami break, Vina lewat di depan kursiku dan berkata sesuatu yang tidak berhubungan dengan apa pun — “airnya udah diganti, Mbak”, “AC-nya udah dikecilin, Mbak” — dan setiap kali dia mengatakannya, aku tahu artinya masih ada.
Enam kali.
Enam break, delapan jam, dan orang itu tidak pergi.
Take kedua puluh tiga selesai jam setengah dua.
“CUT. Oke, itu bagus banget. Kita simpen yang itu.”
Tepuk tangan. Kru mulai membongkar. Lampu utama dimatikan satu per satu.
Dan aku duduk di kursi lipat di sudut sambil melepas anting dan seseorang mengulurkan tisu basah kepadaku untuk menghapus riasan, dan aku menghapusnya sendiri, seluruhnya, di sana, di depan semua orang, karena aku sudah terlalu lelah untuk menunggu sampai ruang rias.
Dan waktu aku selesai, dia sudah berdiri di depanku.
“Tamara.”
“Hai.”
“Saya duluan ya.”
Dan aku berdiri.
“Kamu delapan jam di sini,” kataku.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kamu nyuruh dateng.”
“Aku nyuruh dateng jam tujuh. Aku nggak nyuruh kamu tinggal delapan jam.”
Dan dia berkata, sambil mengambil tasnya:
“Kamu belum selesai.”
Aku ingin mencatat bahwa aku hampir tidak menanyakan pertanyaan berikutnya.
Karena aku sudah tahu bahwa aku tidak akan suka jawabannya, dan karena aku sudah delapan jam berdiri di depan kamera, dan karena jam setengah dua pagi bukan waktu yang bagus untuk menanyakan apa pun kepada siapa pun.
Aku menanyakannya.
“Menurut kamu gimana?”
“Apanya?”
“Kerjaan aku.” Aku mengibaskan tangan ke arah ruangan. “Yang barusan. Delapan jam kamu liatin.”
Dan dia berhenti mengambil tasnya.
Dan dia berpikir — betulan berpikir, dengan jeda yang kukenali, jeda jenis pertama, yang artinya dia sedang memutuskan berapa banyak yang akan dia berikan.
“Take kelima,” katanya.
“...Hah?”
“Yang bagus take kelima.”
“Sutradaranya milih yang kedua puluh tiga.”
“Iya. Saya tau.”
“Terus kenapa kamu bilang kelima?”
Dan Andhika Pratama berdiri di gudang kosong di kawasan industri jam setengah dua pagi dengan tas di bahu, di antara kabel-kabel yang sedang digulung orang, dan berkata:
“Karena yang kelima kamu nggak keliatan lagi kerja.”
Aku tidak bisa bicara.
“Yang lain bagus semua,” lanjutnya. “Saya nggak ngerti film, jadi mungkin saya salah. Tapi yang lain kelihatan kayak orang lagi ngelakuin sesuatu dengan bener.”
Dia menyampirkan tasnya.
“Yang kelima nggak. Yang kelima kelihatan kayak kamu lupa ada dua puluh enam orang di sini.”
Aku menangis di gudang itu.
Tanpa riasan, jam setengah dua pagi, di depan kru yang sedang membongkar lampu.
Dan itu bukan tangisan yang bagus.
Karena take kelima adalah satu-satunya dari dua puluh tiga yang tidak palsu.
Dan aku sudah sebelas tahun bekerja di industri ini, dan aku sudah menerima tiga puluh delapan penghargaan, dan tidak satu pun dari tiga puluh delapan orang yang menyerahkan penghargaan itu pernah bisa membedakannya.
Dan orang yang tidak mengerti film sama sekali, yang duduk di kursi lipat di belakang barisan kabel selama delapan jam, menemukannya dalam satu kali lihat.
“Tamara—”
“Bentar.”
“Saya panggilin Vina.”
“Jangan.”
Dan aku memegang lengannya.
Kami turun ke parkiran basement jam dua kurang.
B2. Lantai paling bawah. Kosong kecuali empat mobil kru dan satu mobilku dan Pak Dedi yang sedang tidur di kursi depan.
Neon di langit-langit berkedip di satu titik.
Dan aku berhenti di antara dua tiang beton, di tempat yang tidak terlihat dari mana pun, dan aku berbalik menghadapnya.
Wajahku tanpa riasan. Mata bengkak. Rambut diikat asal dan sebagian lepas.
Dua puluh delapan tahun, dan aku belum pernah membiarkan satu pun laki-laki melihatku seperti ini seumur hidupku.
“Andhika.”
“Hm.”
“Aku mau ngelakuin sesuatu.”
“Tamara—”
“Dan kamu boleh mundur,” kataku. “Aku serius. Satu langkah. Terus selesai. Aku nggak akan bahas lagi seumur hidup.”
Dan dia berdiri di parkiran B2 jam dua kurang pagi, dua puluh sentimeter dari aku, dan dia tidak mundur.
Aku menciumnya.
Dan aku ingin mencatat bahwa aku sudah menyusun momen ini di kepalaku ratusan kali sejak umur tujuh belas tahun, dan bahwa tidak satu pun dari ratusan versi itu benar.
Karena di semua versi itu, aku membayangkan diriku yang menang.
Yang terjadi adalah aku memegang kerah kemejanya dengan dua tangan dan aku menangis di tengah-tengahnya dan aku sama sekali tidak menang apa pun.
Dan dia membalas.
Bukan langsung. Ada jeda — dua detik, mungkin tiga — dan aku merasakan seluruh tubuh orang itu memutuskan sesuatu.
Lalu tangannya di punggungku, dua-duanya, dan telapak itu kasar bahkan lewat kain, dan dia membalas.
Dan aku yang berhenti duluan.
Aku ingin mencatat itu, karena itu bagian yang paling penting, dan karena itu tidak pernah terjadi sekali pun dalam dua puluh delapan tahun hidupku.
Aku selalu yang bertahan lebih lama. Selalu. Dengan ketiga mantan pacarku, dengan setiap orang yang pernah kudekati, dengan seluruh dunia.
Aku menarik wajahku dan aku melepaskan kerah kemejanya dan aku mundur setengah langkah.
Dan aku berdiri di parkiran B2 dengan napas yang belum benar dan berkata:
“Cukup.”
“Tamara—”
“Cukup, Ndhik.”
Dan aku menyeka wajahku dengan punggung tangan dan tertawa — jelek, basah, pendek.
“Kalau lebih dari ini, aku bakal minta kamu tinggal,” kataku. “Dan aku udah pernah minta itu sekali di peron sebelas tahun lalu, dan aku inget persis rasanya.”
Kami berdiri di sana kira-kira satu menit.
Neon di langit-langit berkedip.
“Tamara.”
“Hm.”
“Saya harus bilang sesuatu.”
“Jangan.”
“Kamu belum tau saya mau bilang apa.”
Dan aku menoleh ke arahnya dan tersenyum, dan senyum itu sampai ke mataku, dan aku tahu itu karena aku bisa merasakannya.
“Aku tau, Ndhik,” kataku. “Aku udah tau dari sebelas tahun lalu di atas gudang, waktu aku nanya kamu suka warna apa dan kamu bilang nggak ada.”
“Itu nggak nyambung.”
“Nyambung banget.”
“Tamara—”
“Kamu nggak pernah milih apa pun seumur hidup kamu,” kataku. “Dan sekarang ada tiga orang yang nyuruh kamu milih dalam waktu lima hari.”
Aku mengambil tasku dari lantai.
“Aku nggak akan jadi salah satu yang nyuruh.”
Pak Dedi bangun waktu aku mengetuk kaca.
“Eh, Mbak. Udah selesai?”
“Udah, Pak.”
“Yang ini ikut?”
Dan aku menoleh ke belakang, ke arah orang yang berdiri di antara dua tiang beton di parkiran B2 jam dua lewat pagi.
“Iya, Pak,” kataku. “Anter ke hotelnya dulu.”
Dan di dalam mobil, di sepanjang dua puluh menit perjalanan itu, tidak ada satu pun dari kami yang bicara.
Dan aku duduk di jok belakang di sebelahnya dengan jarak empat puluh sentimeter dan tangan di pangkuan, dan aku menghitung.
Sebelas tahun. Empat hari di lobi. Tiga jam dua belas menit. Delapan jam di kursi lipat. Satu ciuman.
Dan lima hari yang sekarang tinggal empat.
Hari 27. Sisa 3.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2 reading
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu