Chapter Ten
Anak Tangga Kelima
POV: Sekar
Sesi kedua, aku memindahkan kursinya.
Dari seberang meja ke samping meja. Empat puluh sentimeter dari kursiku.
“Kursinya pindah,” katanya, berdiri di ambang pintu.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Biar nggak kayak interogasi.”
Dan itu bohong, dan aku mengatakannya sambil menatap matanya, dan aku tidak berkedip sekali pun.
Dia duduk.
Empat puluh sentimeter.
Dan selama empat puluh lima menit berikutnya aku bisa mencium bau kertas yang masih menempel di orang itu setelah sebelas tahun, bercampur sesuatu yang tajam yang aku tidak tahu apa, dan aku menuliskan tiga ratus dua puluh kata di lembar asesmen dan tidak satu pun dari tiga ratus dua puluh kata itu berisi hal yang benar-benar kuperhatikan.
Menit ketiga puluh empat, aku menanyakan sesuatu yang ada di protokol.
“Bapak sering ke tempat yang bikin Bapak nggak nyaman?”
“Sering.”
“Contohnya?”
“Kerjaan saya emang begitu.”
“Selain kerjaan.”
Dia diam.
“Nggak ada,” katanya. “Kalau nggak nyaman, saya nggak ke sana.”
“Selalu?”
“Selalu.”
Dan aku menuliskan penghindaran situasional: dilaporkan konsisten di lembar itu, dan aku menggarisbawahi kata dilaporkan, dan aku tahu persis kenapa aku menggarisbawahinya.
Karena besok orang ini akan masuk ke gedung SMA Negeri 4.
Aku sudah tahu sejak pagi. Bagian umum yayasan menelepon klinik untuk mengonfirmasi jadwalku minggu depan, dan ibu-ibu di bagian umum itu bicara sembilan menit tentang tujuh hal berbeda, dan salah satunya adalah bahwa auditor dari Jakarta akan mengakses arsip di gudang lama mulai besok.
Aku tidak menyebutkannya di sesi.
Itu pelanggaran keempatku, dan aku sudah berhenti menghitung dengan takjub.
Aku ke SMA Negeri 4 hari Rabu.
Bukan karena dia.
Aku ingin menuliskan itu dengan jelas, karena itu benar, dan karena kebenaran itu satu-satunya hal yang membuatku sanggup masuk ke gerbang itu.
Klinik kami punya program skrining kesehatan jiwa untuk tiga sekolah di bawah yayasan. Sudah jalan empat tahun. Aku yang mengusulkannya. Aku ke sana dua kali sebulan, hari Rabu, jam sembilan sampai jam dua belas.
Empat tahun.
Dan selama empat tahun itu, setiap kali selesai, aku melakukan hal yang sama.
Ruang BK ada di lantai satu, sayap kanan.
Jam sembilan sampai dua belas: dua puluh satu anak. Kebanyakan hal biasa — nilai, orang tua, pacar, teman yang berubah. Empat yang perlu tindak lanjut. Satu yang membuatku menulis catatan panjang dan meminta wali kelasnya datang.
Anak perempuan kelas sebelas. Tinggi seratus lima puluh, pipi bulat, dijepit dua sisi.
Dia bicara empat puluh menit tentang hal-hal yang lucu, dan tertawa di tempat yang benar, dan menjawab semua pertanyaanku dengan sopan.
Dan di menit ketiga puluh delapan aku bertanya, “Sehari berapa kali orang ngelus kepala kamu?”
Dan anak itu berhenti tertawa dan menatapku dan tidak bicara selama enam detik.
Lalu dia mulai menangis.
Aku memberinya tisu dan menunggu dan tidak mengatakan apa pun.
Dan waktu dia selesai, dia bertanya, “Kok Dokter tau?”
Dan aku bilang, “Karena saya pernah jadi kamu.”
Dan itu satu-satunya bagian dari pekerjaanku yang tidak pernah bisa kutuliskan di rekam medis mana pun, dan itu satu-satunya alasan aku memilih pekerjaan ini, dan aku sudah empat tahun tidak pernah bercerita ke siapa pun tentang kenapa aku mengusulkan program ini.
Guru BK-nya mengantarku sampai pintu.
“Makasih ya, Dok. Anak-anak seneng kalau Dokter yang datang.”
“Sama-sama, Bu.”
“Oh iya, Dok.” Beliau berhenti. “Dokter alumni sini kan?”
“Iya, Bu.”
“Angkatan berapa?”
Aku menyebutkan tahunnya.
Dan beliau mengangguk-angguk, dan lalu berkata sesuatu dengan nada orang yang sedang berbasa-basi dan tidak sedang memikirkan apa pun:
“Wah, seangkatan sama Tamara Eliza dong.”
“Iya, Bu.”
“Kenal?”
“Kenal.”
“Ih, seru dong.” Beliau tertawa. “Sekarang masih kontak?”
Dan aku berdiri di ambang pintu ruang BK SMA Negeri 4 pada hari Rabu jam dua belas lewat, dan aku menjawab dengan sangat sopan:
“Kadang-kadang, Bu.”
Yang mana adalah kebohongan, karena grup itu masih ada dan pesan terakhirnya tanggal 4 September dan tidak ada satu pun dari kami yang mengetik apa pun sejak itu.
Tujuh bulan.
Dan tiga orang yang dulu memanjat tangga besi yang sama sekarang punya nomor satu sama lain di ponsel dan tidak menggunakannya, dan aku sudah bertahun-tahun menganggap itu wajar, dan hari itu untuk pertama kalinya aku menganggapnya menyedihkan.
Jam dua belas lewat, aku keluar dari ruang BK.
Dan aku melakukan hal yang kulakukan setiap Rabu selama empat tahun.
Belok kanan. Lewat koridor lab. Sampai habis.
Gudang lama masih berdiri.
Catnya sudah diperbarui dua kali dan sekarang warnanya krem, bukan abu-abu kotor. Pintunya diganti tahun lalu — aluminium, dengan gembok baru. Atapnya diperbaiki tujuh tahun lalu, sembilan hari, paket dua.
Dan di sisi kanannya, tangga besi itu masih ada.
Karena tangga itu tidak pernah ada di gambar kerja tahun 2009, dan karena sesuatu yang tidak ada di gambar tidak masuk dalam pekerjaan, dan karena seorang anak perempuan berumur tujuh belas tahun memastikan hal itu di sebuah rapat pada tanggal 3 Maret sebelas tahun lalu tanpa memberi tahu siapa pun kecuali satu orang.
Aku naik.
Anak tangga kelima berbunyi.
Setengah. Persis seperti dulu, karena berat badanku hanya bertambah tiga kilo dalam sebelas tahun, dan karena itu satu-satunya angka tentang tubuhku yang pernah kubanggakan.
Di atas, aku duduk di sudut timur laut.
Bayangan tembok pembatas masih menutupi seluruh badan sampai jam satu. Sudut terbaik di atap ini.
Aku mengeluarkan bekal dari tasku.
Kotak plastik biru. Tutupnya retak di satu sisi, direkatkan dengan lakban bening yang kuganti setiap dua bulan, sebelas tahun, kira-kira enam puluh enam kali.
Isinya nasi, telur, dan sayur.
Bukan tempe. Aku tidak pernah memasukkan tempe ke dalam kotak itu, dan aku tidak pernah bisa menjelaskan kenapa kepada siapa pun termasuk kepada diriku sendiri.
Aku makan di atas atap gudang SMA Negeri 4 pada hari Rabu jam dua belas lewat, sendirian, seperti empat tahun terakhir.
Dan waktu selesai, aku menutup kotaknya, dan aku berjalan ke sudut barat daya dan jongkok di depan tembok pembatas.
Lima baris.
09.50 — 10.10 12.40 — 12.55 15.10 — 16.00 + 00.00 — 24.00 KAR — dan di bawahnya alamat rumahku.
Semennya sudah menghitam di dalam alurnya. Ada lumut kering di baris kedua.
Aku menyentuhnya dengan ujung jari, sebagaimana yang kulakukan setiap Rabu, dan aku berdiri, dan aku turun.
Dan di anak tangga ketiga dari bawah, aku berhenti.
Karena ada orang berdiri di ujung koridor lab.
Dua puluh meter. Jas dilipat di lengan. Map di tangan kiri. Berdiri di depan pintu gudang yang gemboknya baru.
Dan dia sedang melihat ke arah tangga besi.
Bukan ke arahku — dia belum melihatku, aku masih tertutup dinding gudang dari sudut itu.
Dia sedang melihat ke anak tangga kelima.
Aku berdiri di anak tangga ketiga dari bawah dan tidak bergerak selama kira-kira delapan detik.
Dan lalu aku turun, dan sepatuku berbunyi di lantai koridor, dan dia menoleh.
“Dokter Sekar.”
“Pak Andhika.”
Dua puluh meter jadi tiga.
Dan aku berdiri di koridor laboratorium SMA Negeri 4 pada hari Rabu jam satu kurang, dengan kotak bekal biru di dalam tas, di depan orang yang menitipkannya kepadaku sebelas tahun yang lalu di teras rumahku.
“Bapak ada urusan di sini?”
“Arsip.”
“Oh.”
“Dokter?”
“Program skrining. Dua kali sebulan.”
“Oh.”
Empat pertanyaan, empat jawaban, dua belas detik.
Dan lalu tidak ada yang bicara.
Aku menghitung sampai lima. Kebiasaan lama. Masih berfungsi.
“Pak Andhika.”
“Iya.”
“Gemboknya baru,” kataku, menunjuk pintu gudang dengan dagu. “Kuncinya di Bu Ratna.”
“Iya. Sudah saya ambil.”
“Oh. Ya sudah.”
Dan aku melangkah ke samping untuk lewat, dan dia melangkah ke samping juga, ke arah yang sama, dan kami berdua berhenti.
Dua detik.
Lalu dia mundur setengah langkah dan berkata, “Duluan, Dok.”
Dan aku lewat.
Aku sudah lima belas langkah waktu suaranya menyusul dari belakang.
“Dok.”
Aku berhenti. Aku berbalik.
Dia masih berdiri di depan pintu gudang, memegang kunci, dan dia tidak menoleh ke arahku waktu bicara.
“Tangganya masih bunyi ya,” katanya.
Bukan pertanyaan.
Dan aku berdiri di koridor itu dan merasakan seluruh isi dadaku naik ke tenggorokan, dan aku menahannya, dan aku menahannya dengan cara yang sudah kupelajari sebelas tahun terakhir, yaitu tidak menahan apa pun kecuali suaraku.
“Yang kelima,” kataku. “Yang lain enggak.”
“Iya.”
“Bapak tau?”
Dan dia memasukkan kunci ke gembok itu dan memutarnya, dan sebelum membuka pintunya, dia berkata:
“Kebiasaan.”
Hari 13. Sisa 17.
- 1 Lantai Dua Puluh Satu
- 2 Laci Kedua dari Bawah
- 3 Ruang Lingkup
- 4 Empat Puluh Kamera
- 5 Dua Puluh Dua Detik
- 6 Empat Puluh Lima Menit
- 7 Kapasitas
- 8 Tiga Jam Dua Belas Menit
- 9 Wawancara Pihak
- 10 Anak Tangga Kelima reading
- 11 Kardus Nomor Empat Belas
- 12 Empat Puluh Satu Menit
- 13 Dua Detik
- 14 Dua Kali, Supaya Rata
- 15 Aku Tanya sebagai Sekar
- 16 Bu Ratna
- 17 Anak Tangga Kedelapan
- 18 Pernyataan Benturan Kepentingan
- 19 Tanpa Janji
- 20 Empat Puluh Sentimeter
- 21 Lantai Sembilan, Jendela Ketiga
- 22 Enam Baris
- 23 Yang Tidak Rata
- 24 Tidak Ada Siapa-Siapa
- 25 Meja Kayu
- 26 Parkiran B2
- 27 Kalau Ini Keluar
- 28 Yang Melaporkan Dirinya Sendiri
- 29 Dua Belas Detik
- 30 Tiga Orang di Atap
- 31 Sekarang Kamu Boleh Bilang Itu Nggak Boleh
- 32 Hari Ketiga Puluh
- 33 Tanpa Prosedur
- 34 Kalimat yang Belum Selesai
- 35 Blok C, Baris Empat
- 36 Tawaran
- 37 Lampu Tiang Ketiga
- 38 Halaman Lima Puluh Tiga
- 39 Yang Pendek
- 40 Yang Kanan Buat Kamu
- 41 [Rute Tamara] Papan Pengumuman
- 42 [Rute Tamara] Tiga Hal yang Tidak Aku Punya
- 43 [Rute Tamara] 02.04
- 44 [Rute Tamara] Aku yang Ngerjain
- 45 [Rute Tamara] Empat Jam
- 46 [Rute Tamara] Di Depan Orang yang Berkuasa
- 47 [Rute Tamara] Delapan Tahun
- 48 [Rute Tamara] Yang Kanan Buat Kamu